Agama dan Ruang Publik

Siklus ruang publik (Foto Ist)

Oleh : Reiner Ointoe, Fiksiwan

Sosiolog agama, mendiang Peter L. Berger (1929-2017) imigran Amerika asal Austria pernah menulis dua buku terkait relasi sosial agama-agama di tengah publik majemuk atau heterogen: “Sacred Canopy” (Langit Suci,1967) dan “Rumors of Angels” (Kabar Angin dari Langit, 1970).

Dari kedua buku itu, Berger yang sangat populer sebagai sosiolog, terutama lewat bukunya: Tafsir Sosial atas Kenyataan (The Social Construction of Reality: The Treatise in the Sociology of Knowledge, 1966), hendak menegaskan eksistensi agama-agama dalam fenomena sosial yang terus berubah.

Agama yang selama ini dipertentangkan, baik di internal maupun eksternal pemeluknya, sejatinya harus mengedepankan ekspresi subyektif keyakinan tiap pemeluk berhadap-hadapan dengan pemeluk-pemeluknya sendiri yang kurang taat bahkan para pemeluk agama yang lain pula.

Dikotomi internal dan eksternal para pemeluk agama-agama nyaris tak pernah sepi dari perseteruan yang bermoduskan “tugas suci” syiar (korversi) yang semestinya “tak perlu menggiring domba sesat tetangga” ke dalam kandang “langit suci”nya berdasarkan “kabar angin dari langit” yg sudah dijalani lebih dari duaribu tahun.

Di antara beberapa kasus terkait hubungan agama dan ruang publik sering terbentur pada praktik-praktik “kebebasan beragama” dlm arti seluas mungkin. Kebebasan beragama itu, khusus di ruang publik — tak hanya ada tidak atau perlu tidaknya — bukan hanya sebatas berdiri atau berfungsinya fasilitas seperti gedung gereja dan mesjid bagi tiap pemeluk agama.

Kebebasan beragama secara fundamental sudah berlaku ketika secara sukarela kita meyakini ada suatu kekuatan adidaya yg harus ditakluki. Dengan demikian, agama dan ruang publik harus menjadi wadah interaktif yang bersifat terbuka dan bisa menerima bagaimana “iman subyektif” itu akan diapresiasi sebagai bagian dari “iman sosial”.

Penghormatan timbal balik ini seharusnya menjadi pangkal peneguh ekspresi kebebasan beragama di ruang publik manapun. Membatasi kebebasan ekspresi orang beragama dengan sendirinya akan mematahkan jalinan relasional yang terbuka dan “fair” antar dan intra pemeluk agama apapun. Sementara hadirnya artefak-materiakistik agama seperti tempat ibadah sama sekali bukan alat penyebar keyakinan agama kita atas agama orang lain pula. Fasilitas itu tak akan mampu memberi pengaruh ekstrim dan kuat bagi penyelenggaraan prosesi bahkan ritual agama apapun.

Apa yang salah dari kekristenan jika gereja ortodoks Hagia Sofia berubah jadi mesjid tanpa menghapus seluruh asesori, ikonoklasme dan simbol-simbol kekristenan sebelumnya. Bahkan mesjid Alhamra Cordova (Spanyol) dari era dinasti “new-muawiyah” pada abad ke-13 kembali ke pangkuan kekristenan lewat penaklukan Ratu Isabella dan Kaisar Franco. Dinamika relasi sosial dan sejarah pada agama-agama tampaknya hanya sebatas perseteruan politis dan bukan sepenuhnya teologis.

Karena itu, sejarah sosial kita telah memberi saham dan jaminan sejarah relasi kerukunan antar kaum beragama sebagai konstruksi interkoneksi yang perlu dirawat bersama sampai kapanpun. Akhirnya, doktrin “di luar gereja tak ada kebenaran lain” sejajar dengan “bagiku agamaku bagimu agamamu” (lakum dinukum waliadin) dan bisa mewujudkan fondasi relasional yang kokoh dan tak tergoyah apapun yang akan kita tambahkan di ruang publik seperti kafe, mall atau bioskop yang membuka seluas mungkin siapapun hendak mengekspresi kebebasan beragama apapun. (**)

iklan1
iklan1