Tapak Juang HMI Cabang Manado

Bendera HMI (Foto Ist)

Oleh : Dany Rogi, Alumni HMI Manado

Secara umum dari buku-buku ke-HMI-an terutama yang membahas tentang sejarah HMI, bahwa dalam masa pertumbuhannya tidak bisa lepas dari peran perguruan tinggi maupun universitas yang berdiri diseluruh pelosok tanah air. Bagi HMI, perguruan tinggi mempunyai kedudukan yang sangat strtegis mengingat, secara akademis akan mencetak para sarjana, intelekual, calon pemimpin bangsa untuk sekarang terlebih untuk masa depan. Bukan hanya itu saja, berkaitan dengan kegiatan intra maupun ekstra dalam dunia mahasiswa, maka perguruan tinggi menjadi ajang pembentukan kader dikalangan mahasiswa untuk kepentingan masa kini dan masa akan datang.

Masa Pertumbuhan

Tahun 1955 merupakan awal dari masa pertumbuhan dan perkembangan HMI di Indonesia. Tahun tersebut pula merupakan masa-masa awal berdirinya cabang baru HMI di Sulawesi Utara. Berawal dari sebuah daerah beriklim sejuk, yang secara psikologis membuat Muhammad Yamin sangat yakin bahwa daerah ini sangat kondusif dalam proses belajar mengajar.

Dengan demikian, lewat proyek pendidikan nasional, maka Tondano sebagai daerah yang dimaksud merupakan salah satu tempat dari kempat tempat yang akan dibangun Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Pada akhir tahun 1955 atau tepatnya September 1955, resmilah berdiri PTPG Tondano.

PTPG Tondano adalah salah satu perguruan tinggi pertama di Sulawesi bahkan di kawasan Timur Indonesia. Sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Sulawesi tentunya menjadi pusat perhatian bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Tak heran banyak mahasiswa yang selain berasal dari daerah Sulawesi Utara sendiri, juga banyak yang berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Maluku.

Atas inisiatif dari seorang mahasiswa yang berasal dari Ujung Pandang yakni Abdul Gani Wahid, berupaya untuk mengumpulkan semua mahasiswa Islam, mengingat jumlah mahasiswa Islam saat itu sangat sedikit berkisar 20-an orang, yang berasal dari kultur yang berbeda. Perbedaan kultur ini, menjadi pertimbangan penting bagi A. Gani Wahid untuk bagaimana menyatukan berbagai perbedaan ini. Beliau kemudian memprakarsai berbagai pertemuan silaturahim.

Dari inisiatif beliau dan dari pertemuan tersebut, menghasilkan keputusan untuk membentuk sebuah lembaga yang dapat menyatukan semua mahasiswa Islam tanpa membedakan etnis. HMI yang mulai mengembangkan sayapnya seiring dengan pertumbuhan perguruan tinggi dan telah menjadi wacana hangat seluruh pemuda/mahasiswa bahkan masyarakat menjadi pilihan bagi seluruh mahasiswa Islam PTPG Tondano. Apalagi HMI mempunyai landasan pikir yang sama, yang diharapkan oleh A. Gani Wahid dan seluruh mahasiswa Islam saat itu, yaitu bagaimana memahami Islam yang sebenarnya dan bagaimana memperkenalkan Islam kepada masyarakat.

Dari latar belakang inilah, maka secara resmi berdirilah sebuah cabang baru di Tondano dengan nama HMI Cabang Tondano. Tercatat nama-nama seperti, A. Gani Wahid sebagai inisator sekaligus Ketua pertama, Rahim Kandre, A. Azis, Sololipu, Moh. Lawele, Sultan Pakki, Baco Bullu, Tahir Musa, Hairudin Burhanuddin, Jaya Langkara, A. Sarita, Hamid D. Manambung, Jasin Muhammad, Ali Wahab, Ibrahim Mahmud, Nurhayati Patta, Mince Kasim dan Andi Nur, yang kemudian disebut sebagai pemrakarsa berdirinya HMI Cabang Tondano.

HMI Cabang Tondano, merupakan salah satu cabang HMI yang berdiri pada fase pertumbuhan HMI secara nasional, setelah vacum selama 7 tahun dari 1947 sampai 1954, akibat panggilan hati nurani untuk bersama-sama mengusir penjajah asing dan menggagalkan usaha pemberontakan PKI.

Menurut Prof. Yasin Mohammad, bahwa wacana untuk mendirikan HMI di Tondano memang telah dimulai semenjak diresmikannya PTPG bulan September 1955, namun secara organisatoris nanti terbentuk pada tahun 1956 yang diketuai oleh A. Gani Wahid.

Dalam kepengurusan pertama ini, Pengurus HMI Cabang Tondano memfokuskan agenda kerjanya pada perekrutan anggota baru melalui diskusi-diskusi antar mahasiswa Islam. Seperti yang diutarakan oleh Tahir Musa, bahwa semenjak kepengurusan kami, memang belum ada model perekrutan formal seperti sekarang ini, jadi mahasiswa Islam yang hadir dalam diskusi secara otomatis menjadi anggota baru HMI.

Dari sumber sejarah tertulis, yaitu buku kenangan Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) tahun 1987 dan keterangan para pendiri HMI Cabang Tondano yang sempat ditemui, tercatat bahwa setelah A. Gani Wahid memimpin pada tahun pertama, yaitu 1956, disusul Rahim Kandre sebagai ketua di periode 1956 –1957, kemudian Pagaling Nasa periode 1957 – 1958 dan Tahir Musa periode 1958 – 1959.

Tidak banyak memang yang dilakukan oleh pengurus di fase pertumbuhan ini, tetapi mempunyai nilai ideologis yang sangat luar biasa. Jumlah anggota HMI makin hari makin mengalami peningkatan yang signifikan.

Aktivitas organisasi, seperti olahraga dan kesenian antar mahasiswa yang melibatkan masyarakat, pun menjadi salah satu faktor yang menjadikan HMI lekat dengan masyarakat setempat. Perayaan hari-hari besar Islam mulai diperkenalkan kepada masyarakat Tondano yang mayoritasnya non-Islam. Ini sebagai sebuah strategi dakwah untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang Islam yang sebenarnya. Dan tanpa diduga, ada juga dari mahasiswa non-Islam yang ingin menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam. Tercatat Max Rambing dan Rasid Winerungan secara sukarela menjadi anggota HMI, tentunya dengan status sebagai anggota luar biasa.

Masa Pergolakan Fisik

Pada periode 1958 – 1959 yang di nahkodai oleh Tahir Musa, merupakan periode perjuangan fisik HMI Cabang Tondano. Seperti diketahui dalam sejarah, bahwa diakhir tahun 1950-an di Sulawesi terjadi peristiwa perlawanan rakyat terhadap pemerintah pusat.

Permesta bagi masyarakat Sulawesi Utara, memang masih menjadi fenomena yang menyimpan tanda tanya yang begitu besar. Apakah ini sebuah gerakan pemberontakan ataukah gerakan moral untuk mendapatkan keadilan. Ditinjau dari ide perjuangan Permesta, seperti persoalan pemerataan kekayaan dan distribusi pendapatan antara pusat dan daerah, persoalan pendidikan ke luar negeri oleh orang-orang daerah serta isu politis yang ingin membagi dua sulawesi menjadi sulawesi tenggara-selatan dan sulawesi tengah-utara. Cukup menggambarkan bahwa ini adalah murni perjuangan rakyat untuk menuntut keadilan pemerintah pusat.

Rasa ketidakadilan yang diciptakan oleh pemerintah pusat, memang sudah lama dirasakan oleh masyarakat yang ada di daerah-daerah, mengingat sistem demokrasi terpimpin yang jalankan oleh pemerintah, menjadikan pemerintah terkesan otoriter. Faktor lain adalah dengan di ijinkannya PKI yang nota bene telah melakukan usaha pemberontakan untuk terlibat langsung dalam urusan kenegaraan.

Permesta secara ideologis anti PKI, dengan usaha untuk menghentikan penyebaran paham komunis ditambah dengan kondisi negara yang tidak seimbang antara pusat daerah, akhirnya keresahan dan kegelisahan masyarakat Sulawesi Utara mencapai puncaknya ditahun 1950-an akhir.

Kesejukan Tondano pun tidak dapat menahan panasnya gelora massa rakyat semesta untuk meluapkan rasa kekesalannya terhadap pemerintah pusat. Tondano menjadi pusat pergolakan permesta di Sulawesi Utara, kota sejuk ini mulai menunjukkan kondisi stabilitas yang tidak memungkinkan dalam melakukan aktivitas keseharian, terutama mahasiswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. PTPG akhirnya memutuskan untuk memindahkan kegiatan belajar mengajarnya beserta institusinya ke Manado bergabung dengan Universitas Sam Ratulangi.

Hijrahnya PTPG secara otomatis HMI pun ikut hijrah ke Manado, mengingat perguruan tinggi merupakan basis dari Himpunan Mahasiswa Islam. Tahir Musa sebagai ketua umum pada waktu itu, segera mengambil langkah tegas untuk segera menghijrahkan HMI ke Manado seiring dengan pindahnya PTPG. Namun, ada diantara kader-kader HMI yang menginginkan bahwa HMI harus terlibat untuk membantu permesta melawan tirani kekuasaan pemerintah pusat.

Melihat bahwa HMI dan Permesta secara ideologis anti PKI, maka pengurus menegaskan para anggotanya, pertama ; anggota yang kuat dan siap secara fisik maupun psikis dapat ikut bersama permesta, kedua ; anggota yang secara fisik dan mental tidak siap, maka harus melindungi wanita untuk besama-sama hijrah ke Manado.

Tahun 1965 sampai tahun 1968 merupakan tahun-tahun jihad bagi HMI, ditandai dengan konfrontasi langsung dengan PKI/CGMI, dimana PKI mempunyai program utama yaitu ingin membubarkan HMI sampai di pelosok daerah, termasuk Manado.

Persoalan antara HMI dan PKI pada substansinya adalah persoalan ideologis atau keyakinan. Sejarah sosial Indonesia telah mencatat bahwa disaat umur HMI masih tergolong muda, HMI diperhadapkan pada peristiwa besar, yakni penghianatan oleh PKI dengan melakukan pemberontakan yang bertujuan ingin mengambil alih kekuasaan pemerintah yang sah. Hal ini sangat jelas bertentangan dengan semangat awal didirikannya HMI, yaitu mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia. Demi semangat yang menjadi tujuan awal HMI, maka HMI ikut terlibat secara aktif menggagalkan usaha pemberontakan tersebut.

Usaha ini ternyata tidak didukung sepenuhnya oleh pemerintah, dimana PKI setelah digagalkan, tidak disertai dengan pembubaran bahkan pelarangan oleh pemerintah. Akibatnya pertumbuhan dan perkembangan PKI makin pesat ditahun 1950. Dari tahun 1950 sampai tahun 1959 PKI terus melakukan konsolidasi dan rehabilitasi guna menyebarkan paham komunis yang dianutnya.

Perjuangan HMI menentang PKI terus berlanjut dengan terus mensosialisasikan bahwa paham komunis haram hukumnya dan bertentangan dengan ajaran Islam. HMI dalam perjuangannya menghadapi PKI, tidak terbatas pada kalangan internal organisasi tetapi sampai ditingkatan masyarakat dengan membeberkan semua kekjaman PKI yang terjadi di belahan dunia.

Gerakan HMI menentang PKI ternyata membawa implikasi yang luas dan mendalam yaitu dengan mulai bermunculannya berbagai reaksi dan gelombang perlawanan anti komunis dimana-mana oleh berbagai pihak. Akibat sikap HMI tersebut, maka PKI telah menempatkan HMI sebagai musuh utama yang harus dibubarkan.

Pada masa ini, HMI Cabang Manado dipimpin oleh Kamaruddin (1962 – 1965) setelah dijabat oleh P. Parawangsa. Secara organisatoris, HMI pada waktu itu memang mengalami krisis kepemimpinan, dimana para kader HMI yang ada, semuanya tidak bersedia untuk menjadi ketua HMI. Bahkan disisi yang lain, akibat krisis tersebut ada beberapa alumni HMI yang menginginkan untuk dibubarkan saja HMI.

Melihat kondisi yang kritis tersebut, maka pengurus mengadakan rapat cabang di Persatuan Islam Manado (PIM) yang berkedudukan di lorong kapal sandar. Dalam rapat tersebut menghasilkan sebuah keputusan yang sifatnya “memaksa” bahwa HMI harus segera melakukan regenerasi kepengurusan. Akhirnya M.A. Timbang (1965 – 1968) diminta kesediaannya untuk melanjutkan roda organisasi HMI Cabang Manado.

Dua masa pergolakan fisik yang dilalui HMI Cabang Manado, meninggalkan suka sekaligus duka yang teramat mendalam. Pada masa pergolakan Permesta, HMI Cabang Tondano harus rela melepas kepergian kader terbaiknya, Hamid D. Manabung dan pada masa penumpasan PKI 1966, HMI Cabang Manado kembali harus melepas kader terbaiknya, Yusuf Hasiru.

Masa Konsolidasi

Pada periode ini dapat juga disebut sebagai periode konsolidasi, dimana setelah melewati masa perjuangan fisik, yang walaupun secara organisatoris HMI tidak terlibat langsung dalam pergolakan permesta. Tahun-tahun ini bagi HMI adalah tahun hijrah dengan maksud untuk mendapatkan suasana yang lebih kondusif sebagai pendukung cita-cita organisasi. Sadar akan amanat yang dipikul oleh organisasi ini, maka eksistensi organisasi menjadi syarat utama pencapaian tujuan. Demikian sebuah keputusan yang sangat berani dan futuristik telah diambil pengurus untuk menyelamatkan eksistensi organisasi.

Bergabungnya PTPG dengan salah satu universitas negeri di Manado, dalam hal ini Universitas Sam Ratulangi, maka PTPG berubah menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). HMI Cabang Tondano kemudian berubah menjadi HMI Cabang Manado. Bagi pengurus ini adalah sebuah hal yang wajar dan konstitusional, mengingat HMI tidak lagi berada di Tondano tetapi di Manado. Sebagai organisasi yang berbasis mahasiswa, barangkali sudah sangat jelas dalam pergantian nama tersebut, dimana syarat berdirinya HMI harus ada perguruan tinggi, universitas atau akademi. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa tahun 1959 merupakan tahun vacum bagi HMI Cabang Tondano dan tahun awal bagi berdirinya HMI Cabang Manado.

Di awal berdirinya HMI Cabang Manado, kemudian secara organisatoris Tahir Musa meletakkan jabatan ketua dan digantikan oleh La Ute (1959 – 1960) selanjutnya di pegang kembali oleh Tahir Musa (1960 – 1961) kemudian dilanjutkan oleh P. Parawangsa (1961 – 1962).

HMI memang cukup mendapat tempat di wilayah yang baru ini, karena di dorong oleh makin membludaknya mahasiswa akibat makin semaraknya perguruan tinggi baru di Manado. Disebut sebagai fase konsolidasi, karena apa yang telah dibangun HMI di Tondano, telah mengalami perubahan yang sangat besar terutama struktur kepengurusan. Banyak diantara anggota HMI yang karena panggilan hati nurani ikut berjuang bersama permesta dengan rela mengorbankan kuliahnya. Selain itu juga, banyak kader HMI yang harus balik ke kampung halamannya masing-masing.

Selain konsolidasi struktural, pengurus cabang terus melakukan perubahan besar terhadap program kerja dan terutama khittah perjuangan organisasi. Sosialisasi organisasi dan rekruitment kader terus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi organisasi, walaupun dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kondisi ini merembes sampai ke daerah-daerah. HMI Cabang Manado yang masih dalam tahap pertumbuhan berusaha secara maksimal dalam tingkatan konsolidasi khittah perjuangan menghadapi saingan-saingannya yang baru, yaitu bagaimana tetap mempertahankan identitas organisasi dan sekaligus menyiapkan langkah taktis kooperatif dalam mencapai tujuan organisasi.

Acara diskusi pun digelar hampir setiap harinya untuk menumbuhkan sence of belonging kader terhadap organisasi dan khittah perjuangan. Selain itu pengurus juga mulai menginventaris kuantitas anggota dan membentuk struktur terkecil dalam Himpunan, yaitu komisariat UNSRAT dan komisariat IKIP.

Selain konsolidasi secara internal, HMI juga melakukan konsolidasi secara eksternal, yaitu dengan membentuk kelompok-kelompok kerja per asrama. Kader-kader HMI yang juga anggota paguyuban diminta untuk lebih berusaha memainkan perannya ditingkatan organisasi paguyuban dimana ia berada, seperti asrama Huyula Gorontalo, asrama Gumbasa ………, asrama Nukila laki ……….., asrama Bogani Bolaang Mongondow dan asrama Ternate, dengan maksud sebagai langkah taktis untuk menggalang massa dan juga basis anggota HMI.

Sebagai payung organisasi ditingkatan daerah, pengurus cabang senantiasa berperan ekstra dengan setiap minggunya mengadakan rapat guna tetap menjaga semangat kader dalam mengemban amanat organisasi. Dan dalam periode ini pula, pengurus HMI pertama kali mengadakan latihan kader formal yang telah disepakati secara konstitusional dan telah menjadi latihan formal setiap cabang yang ada. Latihan kader ini dilaksanakan dari rumah ke rumah.

HMI yang intens sebagai garda mahasiswa terdepan penghadang penyebaran ajaran komunis, mengadakan pawai untuk menyambut kedatangan Ahmad Yani dalam kampanye menentang program PKI yang ingin membentuk angkatan kelima, yaitu mempersenjatai pemuda dan petani.

Pada tahun 1966, banyak sekali peristiwa yang membutuhkan keterlibatan langsung dengan HMI, yaitu dimulainya penumpasan pemberontakan PKI yang telah melakukan upaya pengambil alihan secara paksa kedudukan pemerintah dengan menculik dan membunuh para petinggi angkatan darat pada 30 September 1965. Upaya ini oleh HMI diawali dengan pembentukan KAMI dari tingkat nasional sampai lokal, dan di Manado Abdul Gafur sebagai utusan PB HMI mendeklarasikan berdirinya KAMI. Dalam penumpasan ini, juga HMI dari PB sampai Cabang bekerja sama dengan pihak TNI dalam hal ini KODAM, juga kepolisian, kejati dan AU, yaitu dengan membentuk pasukan siaga terdiri dari 1 pleton yang dipimpin oleh Muhidin. Pada tahun yang sama juga sebelum upaya penumpasan PKI, HMI Cabang Manado sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kongres di Solo dan konferensi Kohati di Ujung Pandang.

Setelah upaya tersebut mencapai hasil yang gemilang, secara organisatori selanjtnya HMI bergabung dengan organisasi non afiliasi untuk membentuk sekretariat bersama Golkar. Adapaun organisasi-organisasi yang terlibat selain HMI, antara lain Kosgoro, MKGR, SOKSI, Muhamadiyah, dsb.

Sukses menggempur PKI dan penyebaran pahamnya, HMI terus melangkah seiring dengan tuntutan jaman. Setelah pendirian sekber Golkar, M.A. Timbang diminta untuk memimpin Parmusi. Secara organisatoris, maka jabatan ketua umum selanjutnya (1968 – 1969) diserahkan kepada Soeleman melalui aturan organisasi yang baku.

HMI Cabang Manado dalam beberapa event penting juga berhasil mengundang, Buya Hamka, Kasman Singodimejo, Mawardi, Maemunah Muis, Nurcholis Madjid (Ketua Umum PB HMI) dan ketua badko Intim Husen Anus. Kaderisasi ditingkatan HMI juga berhasil dengan baik yang dibuktikan dengan lahirnya kader-kader potensial yang matang, seperti Aris Patangari, Samsudin Syailela, Harasa Pakaya, M. Utiah, yang kemudian berhasil menjadi anggota DPRD Sulut.

Ditengah situasi daerah yang kelihatan kondusif dari kacamata masyarakat umum, ternyata dilihat sebaliknya oleh organisasi-organisasi mahasiswa waktu itu. HMI melihat bahwa telah terjadi diskriminasi terhadap umat Islam. Umat Islam dijadikan warga kelas dua. HMI kemudian berjuang untuk mengangkat derajat umat Islam dari tirani rezim penguasa, dalam hal ini Worang pada waktu itu.

Melihat tindakan pemerintah yang telah keluar dari jalur konstitusional, HMI kemudian mempelopori demonstrasi besar-besaran terhadap Gubernur. Dukungan dari berbagai pihak pun mulai mengalir, antara lain dari Panglima Kodam, Kapolda, Kejati dan AU. Suasana yang mencekam tersebut, akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah pusat dengan mengirimkan tim pencari fakta, akan tetapi masalah ini tidak pernah selesai. Tercatat, selain M.A. Timbang juga dipecat bapak Lawele perwakilan dari Muhamadiyah.

Perbedaan pendapat tentang pmbinaan umat di Sulut antara HMI dengan Gubernur Worang terus berlanjut sampai tahun 1972, dimana periode pertama kepeminpinan Gubernur selesai. Merasa tidak kuta lagi di gempur oleh HMI, Gubernur kemudian mengundang perwakilan-perwakilan umat Islam termasuk HMI sebagai langkah kooperatif untuk mengadakan pertemuan di kantor Gubernur. Maksud pertemuan tersebut adalah pengakuan serta janji Gubernur mengenai :
1. Kebenaran perjuangan HMI
2. Perlakuan secara adil dalam kepemerintahan tanpa memandang golongan, suku, ras bahkan agama.
3. Membantu segala perlengkapan masjid/mushola serta akan memberikan bantuan materi kepada masyarakat muslim
4. Menyediakan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan umat Islam, termasuk perijinan acara-acara yang bersifat keagamaan.
Kesemuanya ini dilakukan oleh pemerintah untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah dibuatnya, dan ini merupakan jaminan pemerintah dalam mengangkat derajat umat Islam untuk sama-sama sejajar dalam segala bidang kehidupan.

Dalam perjuangan mengemban amanat organisasi, sebagai anak umat-anak bangsa dalam kontinuitas kontribusi terhadap pembangunan kedaerahan, HMI juga senantiasa melakukan pembaharuan ditingkatan internal organisasi, agar senantiasa selaras dengan jaman. Walaupun terjadi sedikit keterlambatan dalam proses regenerasi kepengurusan dimasa kepemimpinan Samsudin Sailela selama 5 tahun (1969 – 1974), akibat situasi daerah yang memerlukan perhatian besar.

“Nila setitik dapat merusak susu sebelanga”. Pepatah ini barangkali berlaku bagi pemerintah orde lama dalam usaha membangun bangsa ini menuju sebuah tatanan bangsa yang bermartabat. Pemberontakan PKI adalah sepenggal sejarah hitam yang telah mengotori album perjalanan bangsa ini disaat-saat indah menikmati indahnya alam kemerdekaan tanpa penindasan. Kemenangan seluruh rakyat Indonesia, yang didalamnya termasuk mahasiswa telah membawa kembali Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Album baru kini dipersiapkan untuk mulai kembali menulis cita-cita masa depan.

HMI Cabang Manado terus melakukan konsolidasi internal, mulai dari pergantian struktural dari Samsudin Sailela, kemudian digantikan oleh Sahrir Tahir (1974 –1976) dan seterusnya oleh Ek. Suryono Nurhamidin (1976 – 1978). Sekali lagi ini merupakan satu frame dalam sejarah HMI Cabang Manado yang sedang diuji oleh kehendak jaman. Dikatakan serius, karena konsekuensi logis yang harus dipikul adalah identitas organisasi sebagai organisasi kader. Pengkaderan yang harus dilaksanakan, terhalang oleh kebijakan kampus yang melarang organisasi ekstra melakukan aktivitasnya dikampus. Terpaksa kaderisasi terasa stagnan bahkan tidak berjalan sama sekali.

Semangat perjuangan untuk mencapai tujuan membuat HMI tidak larut dalam kehendak jaman. HMI secara natural sudah terseleksi oleh alam Indonesia dan peristiwa 1974 bukanlah sebuah peristiwa baru yang memerlukan pertanggungjawaban eksistensi organisasi. Hikmah yang dapat dipetik HMI dari peristiwa tersebut adalah dengan mengkonsentrasikan diri untuk menata manajemen organisasi, salah satunya pengkaderan.

Dari kongres ke-13 yang dilaksanakan di Ujung Pandang pada 5 – 13 Februari 1979, melahirkan sebuah langkah antisipatif terhadap kelesuan gerakan mahasiswa. HMI kemudian melakukan penyempurnaan format pengkaderan dengan menyiapkan sistem evaluasi pengkaderan. Selain itu, HMI juga dituntut untuk lebih aktif memainkan peranannya dalam fungsi perguruan tinggi, yaitu memberikan pelayanan intelektual kepada mahasiswa Islam terhadap kebutuhan agama dan perkembangan ilmu pengetahuan moderen. Dengan demikian, menjadikan HMI sebagai organisasi penengah antara mahasiswa dan perguruan tinggi dalam upaya pengembangan potensi mahasiswa. Sehingga terciptanya kehidupan beragama di kampus .

Secara struktural HMI Cabang Manado dipimpin oleh Ade Adam Noch (1978 – 1980), yang betul-betul memainkan peranannya ditingkatan perguruan tinggi. Berbagai upaya taktis maupun strategis dimainkan oleh HMI, sehingga HMI kembali menjadi patron dalam perkembangan gerakan mahasiswa yang sudah lama membeku. Kader-kader HMI yang potensial secara perlahan-lahan mulai menjadi teladan ditingkatan kampus, tentunya melalui segudang prestasi yang di kantongi oleh kader-kader HMI.

Perlu dicatat juga bahwa setelah HMI mempolopori untuk dibentuknya sebuah wadah bagi organisasi-organisasi mahasiswa—kelompok cipayung, kemudian ini membawa pengaruh positif terhadap HMI sendiri, dimana HMI dijadikan panutan dalam proses pembinaan kader. Terlihat dalam setiap kajian/diskusi yang dilakukan, HMI selalu mendominasi setiap perkembangan pemikiran moderen. Ini semua tentu tidak bisa lepas dari usaha serius dalam perubahan konsep pengkaderan yang sesuai dengan kebutuhan jaman, khususnya kebutuhan mahasiswa.

Dibawah kepemimpinan Ade Adam Noch inilah, kurva popularitas HMI mulai menanjak. HMI terus memberikan kontribusinya terhadap kebijakan kampus dan kebijakan daerah. Langkah HMI terus mendapat simpati dari masyarakat. Dan tak lupa pula untuk disebutkan bahwa HMI menjadi satu-satunya organisasi mahasiswa Islam yang dekat hubungannya dengan organisasi-organisasi Islam lainnya, seperti Muhamadiyah, NU, PSI, PPP dan sebagainya termasuk organisasi pemuda ditingkatan masyarakat serta organisasi paguyuban.

iklan1
iklan1