Teka-Teki Kebudayaan

Bang Reiner dan ilustrasi teka-teki kebudayaan (Foto Ist)

Oleh : Reiner Ointoe, Fiksiwan

Kenapa orang India sangat menghormati sapi sebagai reinkarnasi dewa dan orang Minahasa gemar menyantap ular dan kelelawar(paniki) sebagai konsumsi paling legit? Bahkan orang Dayak piawai mengayau dan orang Toraja memuja kematian dengan membikin mayat bisa berjalan dan kuburan dibikin terbuka di sela-sela cadas geografi yang tinggi.

Beberapa tabiat berkebudayaan pada semua komunitas itu menyimpulkan apa yang disebut antropolog kontroversi asal Amerika, Marvin Harris (1927-2001), sebagai pengaruh faktor produksi dan demografi. Pertama kali mengenal Marvin Harris, saya peroleh dari seorang antropolog lulusan paska sarjana UI, Drs. Berny Albert Kusen MA (kini, pengajar Fisip Antropologi Unsrat) dan murid langsung mendiang empu antropologi, Prof. Dr. Koentjaraningrat MA.

Ketika saya bertandan ke rumahnya Mener Kusen sekitar tahun 80-an ketika ia baru saja meraih gelar master antropologi, saya menemukan tiga buku tentang antropologi, salah satunya karya Marvin Harris, “Cultural Materialism” dlm bentuk buku fotokopi. Kecuali dua buku lainnya, “Escape from Freedom” dari filsuf psikososial, Erich Fromm dan “Sakura dan Samurai” (The Chrysanthemum and The Sword) karya Ruth Benedict.

Dari buku Marvin Harris ihwal “Materialisme Kultural” ini pengetahuan saya terhadap teori kebudayaan memperoleh perspektif yang terbilang baru. Karna sebelumnya, ketika masih semester satu, matakuliah pengantar antropologi yang diampu mendiang Drs. Nico Soputan MA hanya memberikan teori-teori antropologi klasik seperti dari Clyde Kluckhohn, Malinowski, Frazer, Benedict, Mead dan lain-lain. Dari matakuliah ini ketertarikan saya pada kebudayaan berasal dan — puji Tuhan — ujian lisan saya pada Mener Soputan diganjar dengan angka 96 (A).

Padahal, bacaan saya pada buku-buku antropologi baru berkisar pada Teori-Teori Antropologi dari Koentjaraningrat dan agak maju sedikit ketika menemukan buku klasik antropologi, “Study of Man” Ralph Linton dan “Evolution of Culture” Leslie White yang saya pinjam dari perpustakaan daerah di gedung lama kompleks Koni Sario (kini, pindah di gedung dekat Percetakan Negara atau depan Lapangan Sparta Tikala dan tentu telah hancur lebur diterjang banjir bandang Januari 2014).

Di perpustakaan ini pula saya menjadi pelanggan utama terhadap buku-buku daras ilmu sosial, filsafat dan kebudayaan tentunya. Ringkas riwayat, dari perspektif Harris pada “teka-teki kebudayaan” itu diretaskan untuk menjawab tabiat atau tradisi masyarakat atas “faktor produksi dan demografinya” sendiri.

Apa yang menjadi tabiat berkebudayaan pada komunitas manapun telah mentransformasikan apa yang diuraikan dalam buku satu-satunya dari Marvin Harris yang terbit pada 1974 dan baru diterbit-terjemahkan oleh Marjin Kiri pada Mei 2019 silam dan saya membelinya pada pameran buku “Jakarta International Literary Festival” pada 20 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Mulai dari tabiat “sapi suci” pada orang India hingga “perburuan gila-gilaan pada tukang sihir” pada kebudayaan manapun, terutama di Eropa pada abad pertengahan. Belum lagi soal “potlach” (permainan) yang menjadi ulasan utama antropolog Belanda, Johan Huizinga dlm bukunya yang sangat fenomenal, “Homo Ludens”, jauh mendahului antropologi Hararian melalui buku “Sapiens” dan “Homo Deus.”

Sebetulnya, Harris tidak sedang membuka “aib” kebudayaan kita sebagai sekedar “teka-teki” (riddles). Tapi, sejatinya ia sedang meretas satu-satu apa “ide-ide” yang melatarinya persis apa yang setengah abad kemudian diuraikan oleh culturalist Terry Eagleton dlm bukunya: The Ideas of Culture (2001?) sebagai hadiah dari studi master komunikasi budaya, Basri Amin di Hawai lebih dari sepuluh tahun lampau.

 

————————————————

Tulisan disadur dari Akun Facebook REO

iklan1
iklan1