BACK FROM THE ROOTS

Ilustrasi, perjuangan generasi (Foto Ist)

Oleh : Reiner Ointoe, Fiksiwan

Berapakah jumlah populasi warga dunia yang usia 65 tahun? Data mengejutkan datang dari pengamat generasi M (Millenial Generation) Neil Howe & William Stauss di buku mereka: Millenials Rising, The Next Great Generation (2000) bahwa populasi warga Amerika yg sudah mencapai lebih dari 349 juta jiwa, ada 95 juta generasi yang dilahirkan pada tahun 50-an atau generasi yang dikisahkan seperti dlm lagu Scott McKanzie, “San Fransisco” (flower generation).

Mereka ini, tentu masuk di dalamnya Presiden Donald Trump, sebagai generasi dlm genggaman kekuasaan para tetua (gerontokrasi). Karena itu, amatan Howe & Strauss ikut memicu peneliti dari Youthresearch, Dr. Muhammad Faisal menguraikan hasil penelitian selama 10 tahun bahwa generasi milenial kita dewasa ini harus dianjur-anjurkan untuk hidup dalam kebudayaan yang telah melahirkan mereka.

Buku keduanya, “Generasi Kembali Ke Akar”(2019), yg diterbitkan penerbit buku Kompas dengan sedikit dan historis telah membeberkan apakah sejatinya “akar kebudayaan” — atau meminjam istilah baru “Omniculturalism” dari Moghaddam & Liu — generasi milenials Indonesia hari ini.

Mereka tidak serta merta dilahirkan dari alam belaka. Mereka justru ditumbuhkan oleh akar-akar kebudayaan yg telah diikrarkan sejak Sumpah Pati Gajah Mada pada abad kesebelas nusantara hingga Sumpah Pemuda pada 1928.

Sedikit banyak para generasi nasionalisme awal ini berasal dari generasi yg masih menyerap secara sungguh-sungguh akar-akar kebudayaan mereka yg datang dari rumusan Mpu Tantular dari akar Sansekerta sebagai “bhineka tunggal ika” atau mirip yang diadopsi oleh para bapak bangsa Amerika dari kebudayaan Latin: Pluribus Unum.

Bahkan dengan rincian historis yang agak terbata-bata Dr. Faisal mampu mendeskripsi secara sederhana bagaimana hakikat “generasi kembali ke akar” harus bisa mengartikulasikan ekspresi mereka di tengah perangkap gerontokrasi yang kebablasan.

Betapapun, dengan aksentuasi yanglg terbatas, pemerintahan Presiden Jokowi periode kedua ini dgn apa adanya ikut merespon itu dengan merekrut generasi ini ke dalam sistem kekuasaan yang bercampur aduk antara presidensial vs parlementerian.

Walhasil, sinisme dan kritik harus dituai untuk menguji tesis Dr. Faisal bahwa masadepan generasi yg sedang dilanda oleh memori generasi pager dan telpon umum seperti yang difiksikan secara paripurna oleh fiksiwan Pidi Baiq dlm trilogi “Dilan & Milea.”

Sayang, buku Faisal ini melewatkan beberapa kanon-kanon sastra yg justru bisa dipetik untuk melukiskan secara emotif bagaimana tiap generasi jika dipandu oleh hitungan waktu seperempat abad (tiap 25 tahun) memiliki jejak historis akar kebudayaannya.

Misalnya, bagaimana Syamsul Bachri harus takluk pada kekuasaan gerontokrasi Datuk Maringgi dalam novel Marah Rusli: Siti Nurbaya, Kasih Tak Sampai. Atau, film “Pengantin Remaja” dri Wim Umboh yg melejitkan artis Widyawati dan mendiang Sophan Sophian hingga ke pelaminan, meski dalam film justru tragis bak Romeo-Juliet.

Bahkan buku-buku novel remaja Eddy Iskandar dan Teguh Esa, “Ali Topan Anak Jalanan” hingga Remy Sylado dengan “Orexas”, “Generasi Gegap Gempita (Triplle G) juga ikut melukiskan respon tiap generasi pada zamannya.

Terlepas dari kesenjangan historis itu, kembali ke akar lebih dari sekedar slogan kebudayaan. Apapun deskripsinya, buku ini sudah menunjukkan kelas sebagai panduan yang memadai untuk bangkitnya melek literasi generasi “gadget” dengan industri 4.0. 5.0 yg menyuguhkan seperti potret di tulisan ini, kolaborasi.

Sembari besok sudah menanti tayangan generasi Milea setelah ditinggalkan Dilan terhenyak di kursi tunggu stasiun kereta Gambir. “Di mana kamu. Ketika aku mau. Apa kau juga. Ketika aku rindu.” Rindu bukan kembali ke kamu. Tapi, Kembali ke Akar kebudayaanku sendiri sebagai seorang mantan kekasih. “Yang sudah bikin aku senang.” Karena, “Perpisahan adalah perayaan menanggung rindu” sebagai hutang psikologis.

iklan1
iklan1