SELENDANG MERAH KAISAR

Bang Reiner dan Gubernur Sulut (Foto Ist)

Oleh : Reiner Ointoe, Fiksiwan

Setahun silam, mendirgahayukan paruh ketiga kepemimpinan Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE dan Wakilnya Drs. Steven O.C. Kandouw (12 Februari 2019), saya didaulat untuk memberikan testimoni dalam bentuk baca puisi. Bagi saya, ini pengalaman berarti yang kesekian sebagai seorang fiksiwan. Di antara ratusan ASN dan pejabat se-Sulut, puisi yg saya tulis dan bacakan tidak melalui sensor atas itikad saya menerima daulat itu lewat Sekprov Edwin Silangen SE.,MSi dan Kabankeu (ketika itu) Gemmy Kawatu SE, MSi sebagai pihak penyelenggara.

Apresiasi mereka terhadap puisi saya sendiri (judul “Kota-Kotaku”) dan tentu honorarium profesi saya ini terbilang mengejutkan. Betapa tidak, puisi itu sendiri — tentu semua hadirin telah mendengarnya sebagai sebuah kritik atas jalannya pemerintahan di 15 kabupaten-kota se-Sulut – hasil renungan saya lebih dari 20 tahun menyambangi setiap daerah itu. Puisi ini, jika saya mengubahnya ketika itu, judulnya bisa seperti apa yang tertera di foto ini (Selendang Merah Kaisar).

“Pemerintahan Merah” di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakilnya (OD-SK, begitu abrivikasi publik atas julukan mereka) telah menorehkan tinta emas lebih dari 24 karat setelah 10 tahun sebelumnya, Gubernur Dr. S.H. Sarundajang (kini, Dubes Filipina), telah menatanya secara strategis dan substantif. Sehingga, bagi OD-SK, “kami hanya melanjutkan apa yang sudah ditorehkan oleh Gubernur sebelumnya.

Kami tak perlu berpikir terlalu keras, karna dasar-dasar dan fondasi pemerintahan yang telah dijalankan sebelumnya sudah memenuhi sebuah persyaratan untuk kami wujudkan,” begitu ungkapan Gubernur OD ketila memberi sambutan pada HUT ke-75 Dr. S.H. Sarundajang, 16 Januari 2020 silam di Ballroom Hotel Fourpoints.

Mari kita simak saja bersama secara obyektif. Tahun keempat “pemerintahan merah” makin menegaskan dukungan rakyat atas kepemimpinan mereka. Tentu, secara pribadi saya membubuhkan WTP A atas semua kebijakan yang telah ditunai dan diakreditasi oleh respon publik itu sendiri. Meski di sana-sini tak luput dari sinisme dan kritik, OD-SK tetap saja melilitkan “selendang merah” yang sudah saya berikan secara simbolis sebagai dukungan formal atas tahun ketiga pemerintah mereka dengan label baru “Pemimpin itu adalah Teladan” pas memasuki tahun keempat pada hari ini.

Dalam sebuah buku yg ditulisnya, “Politik Sebagai Jalan Keselamatan”, OD telah memaknai pemerintahan itu ibarat menunaikan tugas “Mesias” yang tentu saja ia adopsi secara penuh dari “pemerintahan Kristus.” Dalam soal ini, teologi kepemimpinan ala OD-SK, saya tentu memberi apresiasi yang lebih dalam. Bukan semata karna perspektif subyektif imani. Tapi, lebih karna kepemimpinan itu sejatinya adalah amanah alam semesta.

Barangkali, ini yang mendasari bagaimana adagium “Torang Samua Ciptaan Tuhan” hendak menegaskan secara semiotik bahwa itu makna praksis dari “kepemimpinan itu adalah teladan.” Bukankah dlm semua kitab-kitab suci samawi (Zabur-Taurat-Injil-Quran) Tuhan telah berseru: “Ikutlah perintahKU, maka akan kau dapat.”

“Mintalah, maka akan kuberi.” Kiranya, ini sejumput apresiasi saya atas jalannya tahun keempat pemerintahan OD-SK. Dirgahayu. Makapulu’ sama’. Syukurmoanto. Somahe kaikehage.

iklan1
iklan1