Kabar Pilkada Bolsel (1)

Riston bersama Tetty Paruntu, Ketua Golkar Sulut (Foto Ist)

Oleh : Pitres Sombowadile

Kehadiran Riston Mokoagow di Pilkada Bolsel berimplikasi bnyk pada konstelasi persaingan pilkada di negeri perairan selatan Boelang, yaitu:

1. Skenario kotak kosong sbg ciri pilkada yg sangat memalukan (krn calon yg insani diperhadapkan dengan kotak yg bendawi) itu menjadi nihil dpt. diwujudkan, (karena upaya akhir membeli hak pengusungan partai2 demi menghadang munculnya calon alternatif akan potensial pupus).

2. Karena, ketakutan pasangan petahana pepesan kosong yg mengira dirinya berkah itu, skenario kontes pilkada Bolsel harus digeser jadi pilkada yg mempersandingkan dan mempertandingkan beberapa pasangan peserta.

Artinya, penguasa ‘guhanga’ yg kadung mengira dirinya peracik iklim politik Bolsel itu, mesti mendorong kemunculan figur2 tertentu untuk maju sebagai boneka, oh oh bukan boneka, tapi badut.

Soalnya, yg kini sdh jadi pasangan petahana, kan tidak lain hakikinya adalah pasangan boneka dari penguasa ‘guhanga’.

Dalam rangka itu, beberapa org yg dekat dengan ‘guhanga’, misalnya, figur yg sekian waktu menjadi orang yg menyimpan harta kekayaan ‘guhanga’, sontak dicalonkan jadi calon badut.

Tujuannya, jelas terbaca, yaitu, agar suara hasil pencoblosan pilkada terpecah-pecah, dengan keyakinan bahwa pasangan petahana bisa lebih besar raihannya, karena adanya kontribusi dukungan ASN dan pemerintahan desa.

3. Penguasa ‘guhanga’ akhirnya mesti bekerja keras dr Jakarta untuk membantu baik pasangan boneka berkah dan pasangan badut.

Sang penguasa mengatur ritme kerja pencitraan dirinya dan kinerjanya tiap 2 mingguan akan datang ke wilayah Posigadan untuk melemahkan Riston dan memecahkan suara ke pasangan boneka dan badut.

Apakah Riston dapat dikalahkan. Belum tentu. Tergantung pada kesadaran dan ‘iman’ rakyat untuk melawan dan mewujudkan perubahan terhadap tekanan/intimidasi politik.

Perlawanan rakyat dan berpihak pada Riston hanya, efektif jika mereka bersatu secara padu tiada gentar.

Para kandidat juga harus betul membaca, apakah niat maju Anda sedang berada dlm kerangka perekrutan pemimpin secara demokratis, atau sedang terperosok mengekalkan kekuasaan status quo yang gagal.

Ini hanya bacaan semata, selebihnya gunakan indera dan nalar.

iklan1
iklan1