Kabar Pilkada Bolsel (2)

Bupati Bolsel (Ist)

Oleh : Pitres Sombowadile

4 TAHUN MASA KERJA BERKAH, BENARKAH???

SAYA membaca di banyak media daring (‘online’) ihwal perayaan 4 tahun masa kepemimpinan bupati/wakil bupati Iskandar Kamaru dan Dedi Abdul Hamid. Kedua pasangan pemimpin ini sayang kadung ditakaburkan sebagai pasangan berKAH).

Atas klem 4 tahun itu saya terpaksa mesti meluruskan. Mudah-mudahan para pendukung pasangan ini ikhlas hendak diluruskan. Jangan terus-terusan berbengkok-bengkok ria. Pertama, tidak benar pasangan BerKAH sudah bekerja pada rentang usia 4 tahun. Sejatinya, Iskandar Kamaru baru dilantik oleh Gubernur Olly Dondokambey pada 1 Oktober 2018. Saya sendiri hadir dalam acara itu. Sedang, Dedi Abdul Hamid dilantik belum setahun lalu, tepatnya pada 23 April 2019. Sayang, saya tidak hadir pada pelantikannya.

Artinya, rentang waktu kerja keduanya baru berusia setahun saja. Atau, kalau hendak dirunut ke masa sejak Iskandar menjadi bupati, usianya paling lama 16 bulan saja. Karena itu, saya tidak mengerti kok kini dirayakan menjadi 4 tahun? Mungkin ada cara hitung aritmatika dan matematika lanjut yang dipinjam dari dunia antah berantah. Apakah mungkin karena kedua pasangan ini hendak mengklem capaian tahun-tahun ke belakangnya, maka usia kerja itu dimelarkan sedemikian itu. Politik memang sungguh aduhai, fakta dapat dimelarkan dan disusutkan sekehendak hati.

Sialnya, banyak kegagalan yang ternyata kalap malah diklem seolah keberhasilan. Misalnya, kegagalan Bolsel menurunkan tingkat kemiskinan secara signifikan. Kegagalan ini menibakan Bolsel menjadi daerah yang tingkat kemiskinannya paling tinggi di antara 15 kabupaten/kota.

Riston (Foto Ist)

Meski demikian, Bolsel masih saja mengklem pihaknya berhasil menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 0,56. Klem ini tentu baik sekadar diumbar di antara orang-orang yang tidak mengikuti secara persis angka-angka kemiskinan keluaran Biro Pusat Statistik (BPS).

Tapi, jelas angka turun itu masih memalukan untuk dipertontonkan, karena angka kemiskinan Bolsel kan tetap saja paling tinggi di Sulut. Lantas untuk apa pada acara syukuran itu, kegagalan dibentang-bentangkan dengan dada nan membusung. Catatan buruk corengan itu masih ditambah dengan angka IPM yang sebenarnya tidak kalah busuknya untuk dipapar-paparkan. Untuk IPM, Bolsel juga masih di urutan sepatu. Lantas untuk apa dibanggakan dan dijadikan alasan untuk meminta kelanjutan masa jabatan.

Sampai di sini, sudah saya jangan menulis lagi, karena kini saatnya rakyat yang menilai, Karena toh mereka yang akan menentukan siapa pemimpin Bolsel berikutnya. Sorry, saya tetap Riston Mokoagow.

iklan1
iklan1