Warkop dan Kemerdekaan Ruang Intelektual

Rusmin Hasan (Foto Ist)

Oleh : Rusmin Hasan, Aktif HMI Cabang Tondano

(Solusi Alternatif Pendididikan Merdeka dan Progresif Diabad 21)

Melihat potret dinamika sosial dekade ini, dunia tengah dihadapi oleh siklus tantangan perkembangan revolusi indutri atau deskruktif digitalisasi abad 21 yang kian marak diperbincangan oleh khalayak publik dalam ruang publik. Misalnya seperti wadah warkop mulai dari jarkot sampai ketempat-tempat umum alternatif habitatnya kaum intelektual. Intelektual adalah sebuah penamaan yang horeik ditengah-tengah kelompok aktivis melenial.

Baik itu akademisi, politisi, pemerhati sosial sampai kekalangan generasi muda pada umunya. Mendengar istilah intelektual, kita kagum dan terkesima. Karena sosok intelektual memiliki kebesaran, ketinggian dan kedalaman ilmu pengetahuan. Karenanya seorang intelektual adalah pribadi yang dihargai dan ditempatkan pada posisi tertinggi dalam relasi dan stratifikasi sosial. Kaum intelektual umumnya hidup dan berhabitat dikampus.

Akan tetapi kian hari ruang belajar kampus tak lagi menjadi tempat ideal baginya, dikarena kekebebasan berekspresi semakin sempit dalam prespektif kajian demokrasi kampus. Kampus sebagai laboratorium kaum Intelektual sudah berali fungsi menjadi penjara baginya sehingga wadah warkop menjadi alternatif belajar yang ideal dan memerdekaan nalar dalam prespektif kaum intelektual atau mahasiswa pada umunya.

Dari dasar berpikir tersebut maka dalam narasi sederhana ini, penulis ingin mengajak kepada kawan-kawan intelektual secara keseleruhan untuk menggunakan wadah warkop sebagai alternatif pendidikan merdeka dan progresif revolusioner untuk mendiskusikan persoalan umat dan bangsa yang kian hari marak dibangsa ini. Salah satu indikasi menurunnya budaya intelektual serta kampus tak jadi habitat ideal dikarenakan perkembangan revolusi industri.

Serta perkambangan zaman seakan merekonstruksi paradigma kaum intelektual untuk mencari alternatif gerakan yang kontekstual dengan realitas zaman maka solusi adalah wadah warkop sebagai tempat memerdekaan akal sejak dalam fikiran dan tindakan serta warkop juga sebagai tempat penguatan solidaritas persahabatan dalam medan perjuangan.

Wadah warkop adalah tempat yang mengajarkan kita banyak hal, baik dari penguatan solidaritas sampai sebagai tempat diskusi bagi kaum intelektual serta khasanah kemajemukaan gagasan tercerahkan kita dapatkan dalam warkop. Dikarenakan diwarkop pula, kita diajarkan untuk tidak ada guru dan pelajar diantara kita. Semua bertindak sebagai objek untuk belajar bersama tanpa ada pembedaan stratifikasi sosial diantara kita. Maka sudah segoyginya kita satukan gagasan besar dalam ruang-ruang publik sehingga ide tak mereduksi kegagalan intelektual.

Narasi besar apabila tidak memiliki dampak terhadap umat dan bangsa, akan hanya orogansi induvidu yang akan memenjarakan dirinya tanpa didasari sehingga dalam narasi sederhana ini, saya ingin sampaikan kepada kawan-kawan pecinta kopi dan buku untuk menjadikan wadah warkop sebagai titik balik generasi era digitalisasi untuk menciptakan sejarahnya serta pengautan demokrasi kita secara ilmiah dan objektif.

iklan1
iklan1