Body Revolution, Yes Thinking Revolution, Ok

Reiner Ointoe (Foto Ist)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan dan penulis buku

Sudah lebih dari sebulan saya memesan buku ini via daring pada distributornya. Buku berbandrol Rp.310.000 (dengan ongkir) ini tergolong langkah, eksklusif dan sangat dekonstrukif pada ilmu kesehatan pada umumnya (medical health).

Membaca keluasan pengetahuan penulisnya pada “medical science” ini menunjukkan bahwa basis pengetahuan kita pada kesehatan justru tertuju pada hubungan antara tubuh dan asupan makanan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup. Merevolusikan tubuh, menurut penulisnya Dr.dr. Tifauzia Tyassuma, harus didasarkan pada pengetahuan kita atas apa-apa yang harus dikonsumsi oleh tubuh.

Tubuh sebagaimana ditilik dari filsafat manusia semata sebuah wadah yang memproses sedemikian rumit dan komplit senyawa kimiawi yang diasup ke dalam tubuh. Tubuh dengan kemampuan alaminya bisa mengatasi unsur senyawa (bio-sel dan molekuler) yang dirasakan berbahaya atau mengancam kelangsungan hidupnya. Dengan kata lain, dalam senyawa kimiawi tubuh ikutserta “ruh” (substansi gaib dan ajaib) yang justru menjadi perekat utama dlm wadah tubuh.

Karena itu, nutrisi sebagai “batu bata tubuh” menjadi elemen penting dan utama dalam merawat segenap kesehatan tubuh. Dalam ilmu tasawuf, salah satu sumber nutrisi adalah “zat hijau” (khidir) yang bisa menghidupkan kembali makhluk hidup yang sudah mati jika bersentuhan dgn zat tersebut. Pengalaman nutrisi “zat hijau” sebagai warna herbalium pada umumnya pernah dialami oleh Nabi Musa ketika membawa makanan ikan yang sudah dimasak terpercik secara tak sengaja dari air yg disedu oleh Musa sehabis mengembara bersama Nabi Khidir.

Itulah alasan mengapa warn hijau diidentikkan dgn kehidupan (biota). Tentu saja, uraian yg demikian luas dan dlm di buku ini bukan untuk menafikan bahwa revolusi tubuh hrs menjadi “main human science” yang sangat dibutuhkan bahkan urgen untuk diagendakan bagi generasi milenials. Meski berdasarkan data yg terpapar masih ada 92 juta generasi berusia di atas 65 tahun di Amerika hari ini.

Berapakah yang juga masih hidup di Indonesia di tengah krisis “stunting nutrition” sedang kita hadapi di antara jutaan bayi-bayi yg baru lahir? Setidaknya, penerapan sains “body revolution” bisa memprediksi durasi kelangsungan usia manusia Indonesia di atas tahun 2050? Dan sains ini bisa menjawab misteri indeks “human development” di antara 250 juta yg hidup hari ini.

iklan1
iklan1