Metapolitik “4+” Menakar Takdir

Bang Reiner bersama beberapa Kepala Daerah (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Sebuah relasi apapun akan menunjukkan tanda-tanda suatu peristiwa yang merekatkan kita dengan yg lain. Kalimat ini yg disarikan dari sebuah buku ahli fisika eko-spiritual, Fritjof Capra (The Web of Life,1996). Dengan itu pula, saya menakar relasi saya sebagai “tanda semesta” yang bisa menunjukkan kualitas dan kualifikasi seorang yang ditakdirkan jadi pemimpin. Meski ada teori yang mengklasifikasikan tiap-tiap pemimpin berdasar model dan karakternya, tidak dgn sendirinya teori itu menggambarkan seluruh kepribadiaannya(personality = topeng).

Dengan kata lain, topeng pemimpin itu dibaca dari seberapa dlm mereka menunjukkan apa yg disebut Martha C. Nussbaum sebagai “competing of capabilities.” Untuk keempat pemimpin plus ini (+SK), saya telah menaruh apresiasi terhadap mereka, baik personal maupun institusional, sebagai sikap untuk mengungkapkan “kompetisi & kapabilitas” mereka masing-masing.

Secara semiotik, mula-mula saya membaca slogan atau tagar yg mereka utarakan: OD(Kepemimpinan adalah Teladan), CEP (Profesional & Spiritual), VAP (Diberkati untuk Memberkati), GSVL (Cerdas & Kota Doa). Narasi-narasi ini begitu “hemat” kosakata dn secara sosio-linguistik mengandung aforisme ajakan ke dalam situasi yang lebih psikologis. Jika disamaratakan tergambar mereka semua didasarkan atas modal spiritualitas masing-masing.

Meski dalam beberapa kesempatan saya pernah berdialog dengan mereka, rata-rata menyimpan potensi spiritualitas yang disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi berbagai tantangan mereka sebagai pemimpin. Tapi, untuk VAP, potensi itu terlampau lugas dan lugu ia kesankan. Saya tak tahu apakah karna dia sdh mengecap pendidikan teologi dan sdh diberi gelar Dr (HC) bidang teologi. Semua itu tak jadi urgen dan penting mengingat masyarakat yg mereka pimpin sangat majemuk, baik internal maupun eksternal.

Karena itu, saya lebih menyukai untuk mengejar kedalaman slogan (Kepemimpinan itu adalah Teladan). Selain lebih universal praksis etiknya, memimpin itu menjadi perintah bagi siapa saja. Setidaknya, memimpin diri sendiri atau keluarga.

Universalisme kepemimpinan sejatinya akan dihadapi oleh siapapun. Tapi, untuk jadi teladan dan diteladani, urusannya tidak sesederhana itu. Keteladanan itu hrs diekspresikan bukan pada semua level dan hierarki. Keteladanan pada keluarga tentu akan brbeda dengan yg diterapkan pada level birokrasi dan kalangan profesional. Bahkan akan lebih menentang diejawantahkan pada pelbagai komunitas yang jamak.

Untuk itu, saya masih menemukan kendala obyektif untuk mengevaluasi secara obyektif dan komprehensif bahwa memimpin dengan keteladanan itu membutuhkan instrumen-instrumen material dan immaterial yang sarat dgn lingkungan yang memadai. Misalnya, apakah hasil-hasil WTP itu bisa disigi dari perspektif keteladanan administrasif atau birokratisasi? Ringkasnya, pada keempat pemimpin plus ini, masyarakat tk membutuhkan sejauh mana slogan itu praksis dan aplikatif karna mereka tak punya alat ukur sistemik, obyektif dan ilmiah.

Mereka vis a vis rakyat hanya butuh kehadiran anda untuk bisa berdialog dari hati ke hati agar psikologi keteladanan itu bisa mereka resapkan langsung persis ketika Sukarno setengah abad silam berdialog di sawah dengan petani bernama: Marhaen. Sejak itu, Sukarno — terlepas tersungkur oleh “konspirasi politik” — menunjukkan keteladanannya pada rakyat belaka. Kelak, muncul istilah “berdikari”, gotong-royong, penyambung lidah rakyat, trisakti, nawaswara, manipol-usdek, dekrit dan lain-lain.

Istilah-istilah ini hendak menunjukkan sebuah keteladanan “arus bawah” untuk menenggang “arus atas (elitis) yang sejauh ini terlampau jauh dari proksimitas dan intimitas seluruh rakyat yang akan memilih mereka kelak. Meski tampak klise, adagium ini masih sangat relevan: Vox Populi Vox Dei. Homo Emeritus, Manusia bakal pensiun. Tapi, Homo Deus, akan terus berjaya hingga akhir dunia.

iklan1
iklan1