Lahirkan Prahara, RUNTUWENE: Incinerator Bukanlah Ide Cerdas

Theo Runtuwene (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – LSM yang dikenal konsen terhadap kajian lingkungan dan advokasi kini mulai angkat bicara soal pengadaan Incinerator di Kota Manado. Melalui Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah Kota Manado membeli mesin Incinerator, namun sayangnya masih penuh prahara. Pasalnya, bukan hanya proses lelangnya dipertanyakan sejumlah anggota DPRD Manado, pembayaran yang bermasalah ke pihak sub-kontraktor, dan bermunculan polemik lainnya. Kini timbul lagi protes dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

WALHI Sulawesi Utara (Sulut), melalui Direktur Eksekutif, Theo Runtuwene menyebutkan bahwa pengusulan sampai perealisasian alat Incinerator adalah menandakan bukan sebagai ide yang cerdas. Menurutnya, harusnya ada pertimbangan dan kajian yang holistik sebelum proyek tersebut dijalankan. Untuk konteks Kota Manado saat ini, Incinerator bukan menjadi skala prioritas, apalagi disebut emergency.

”Ingat Incinerator bukanlah ide cerdas. Kami WALHI Sulut sudah berkali-kali menawarkan usulan bahwa selesaikan problem sampah di Kota Manado ini dengan konsepsi yang terintegrasi dan utuh, mulai dari hulu sampai hilir. Bukan dengan pengadaan Incinerator yang lebih bersifat proyek tersebut,” ujar Runtuwene, Senin (2/3/2020).

Selain itu, Runtuwene menyebut Incinerator sangat membahayakan masyarakat disekitar alat tersebut beroperasi. Harusnya ada sistem berpola yang diterapkan pemerintah Kota Manado dalam memerami beban sampah. Pemerintah Kota Manado juga diminta Runtuwene untuk kembali membaca Undang-Undang soal Lingkungan Hidup agar tidak salah kapra dalam realisasi program.

”Sistem mengatasi sampah harus berpola. Jangan asal-asalan, seperti tiba saat tiba akal. Pemerintah Kota Manado juga kami harapkan dapat membaca kembali Undang-Undang Lingkungan Hidup, sehingga tidak kontradiktif antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat dalam soal mengatasi sampah ini. Sekarang kami bertanya, Incinerator yang dipakai sekarang suhunya berapa?. Bahayanya ada dioksi yang berada disisa-sisa sampah. Belum lagi harus dilakukan proses pemiliharaan, yang sangat rumit dan biayaannya cukup mahal, dan bahan bakar juga perlu dipikirkan. Bukan menambah beban,” tutur Runtuwene kepada Suluttoday.com.

Runtuwene meningatkan agar pemerintah konsen mengajak masyarakat memilah sampah dari keluarga, mana sampah basah dan mana sampah kering. Cara mengatasi sampah haruslah mencerminkan sebagai masyarakat sadar lingkungan. WALHI Sulut menduga pencemaran tanah, karena ada merkurinya juga bisa mengancam masyarakat. Belum lagi, tambah Runtuwene, Incinerator tidak menyelesaikan problem sampah. (*/Amas)

iklan1
iklan1