MOR DOMINUS BASTIAAN Dalam Siklus Kepemimpinan

Mor Dominus Bastiaan (Foto Istimewa)

PEMIMPIN yang dikenal kalem, murah senyum dan akrab dengan masyarakat, dialah Mor Dominus Bastiaan, Wakil Wali Kota Manado. Selasa 17 Maret 2020 hari ini, sosok politisi humble itu genap berusia 46 Tahun. Usia yang terbilang produktif, bukan lagi milenial, namun tidak tergolong kolonial. Di usia 46 Tahun menandakan MDB singkatan dari nama panjang Mor, tidak sedikit mengoleksi pengalaman sebagai politisi. Jatuh bangun, tentu dirasakannya.

Pria yang lahir di Manado tanggal 17 Maret 1974 itu memiliki karir politik berkilau. Pernah terpilih sebagai anggota DPRD Kota Manado masa periode 2004-2009. Kemudian periode berikutnya, 2009-2014 ia kembali diberi amanah sebagai wakil rakyat dan menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Manado. Menariknya, saat kiprahnya menanjak, di Pemilu 2014 Mor milih tidak bertarung sebagai Caleg. Menariknya, Mor dipinang GS Vicky Lumentut, menjadi calon Wakil Wali Kota Manado dan akhirnya terpilih.

Kondisi tersebut bukan berarti semua impian atau cita-cita Mor membangun Kota Manado terpenuhi seluruhnya. Sembari membaca eskalasi politik jelang Pilkada Serentak 2020, dimana Kota Manado juga akan menggelar hajatan Pilwako, tentu kehadiran Mor untuk tampil di bursa Calon Wali Kota Manado dinantikan. Menginjak usia 46 Tahun tentu Mor diharapkan publik untuk makin arif dalam menyikapi dinamika politik. Warga tentu berharap politisi blak-blakan ini tampil menjadi pemimpin yang tegas.

Di tengah ekspektasi dan realitasi sosial di Kota Manado, Mor yang juga Bendahara DPD Partai Demokrat Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini memiliki narasi besar membangun ‘Kota Tinutuan’ ini agar makin berkembang. Jika kita tengok beberapa spanduk yang terpasang, Mor Bastiaan rupanya merindukan suasana Kota Manado menjadi benar-benar rukun. Predikat Manado sebagai Kota Paling Toleran yang disematkan Setara Institut menurut Mor perlu dihidupkan, dibumikan, menjadi gaya hidup masyarakat. Kerukunan bukan sekedar dipertontonkan.

Apalagi dipentaskan hanya sekedar pameran kebudayaan yang berkepentingan politik. Namun lebih dari itu, rukun dan damai, saling menjaga, toleran serta saling menghormati menjadi cerminan dari kesantunan yang terlahir dari kesadaran kolektif masyarakat. Semua menghidupkan sikap toleran, bukan slogan semata. Tidak sekedar dalam bentuk himbauan, atau tontonan melalui iven festival terbuka, melainkan harus paten terpatri dalam kebudayaan masyarakat. Terbangun tradisi positif yang diciptakan melalui perilaku saling mengasihi, itulah toleransi sesungguhnya. Mor Bastiaan berharap Manado di berhati, sehingga damai dan sejahtera menyertai warganya.

Memacu prestasi menurut Mor bukan sekedar mengejar penghargaan dan pujian. Melainkan membangun kebiasaan baik, disiplin dan kerja keras penuh integritas yang ditunjukkan bagi seorang politisi. Pemimpin yang disebutnya harus menjadi pelayan publik. Tidak rakus, tidak melakukan praktek tercela, pikun terhadap aspirasi masyarakat atau berperilaku koruptif. Mereka yang berani, tegas dan santun, siap menerima segala konsekuensi sebagai pemimpin yang berpihak pada kepentingan keberagaman. Bukan berpihak dan diskriminasi terhadap masyarakat.

Tidak hanya itu, Mor begitu rutin menyampaikan tentang optimisme dan perbuatan baik. Baginya, semua optimisme, niat baik dan usaha untuk kebaikan bersama akan berbuah baik. Selain itu, pemimpin juga merupakan duta yang menjadi teladan, pelopor, inspirasi dan pilar pembangunan. Masyarakat yang masih mengalami beban ketergantungan (dependency ratio) secara ekonomi, harus diberikan kebijakan yang berpihak membantu ekonomi mereka agar tidak terpuruk. Itulah termasuk visi besar yang rupanya akan diperjuangkan Mor, ketika nanti menjadi Wali Kota Manado. Tidak main-main memang memikul beban dan tanggung jawab sebagai pemimpin.

Publik tentu berharap di usia 46 Tahun yang juga menjadi nomor keberuntungan Valentino Rossi, pembalap terkenal dunia, bukan hal kebetulan semata. Tapi keberuntungan tersebut bisa didapati Mor disaat Pilwako Manado 2020. Seorang juara dunia empat kelas yang berbeda diraih Rossi, sebuah capaian yang luar biasa. Mor juga dalam beberapa percakapan dan sambutan resmi menyampaikan tentang pentingnya menciptakan kesamaan (equality) di tengah masyarakat.

Mor juga prihatin dan cemas melihat kekerasan, serta kemiskinan yang terbuka di masyarakat. Dalam buku Kekerasan dan Kapitalisme yang ditulis Jamil Salmi menyebut bahwa akumulasi modal berbanding lurus dengan akumulasi kekerasan. Perbudakan, rasisme, perang, kelaparan dan kejahatan yang terungkap. Jamil menyodorkan hasil analisis bahwa kekerasan yang merebak sekarang bukanlah akibat dari kecelakaan sejarah, penyimpangan yang tidak terduga, atau kebetulan belaka.

Artinya bahwa kekerasan merupakan buah langsung dari sistem kapitalisme. Soal siklus kekerasan dan memangkas atau membenahi pangkalnya cukup diketahui Mor, ia memiliki konsep konsolidasi yang berbasis integrasi. Kedepan di Kota Manado kemajuan dan perolehan yang didapati pemerintah saat ini, dapat terus dimajukan. Kemudian, hal-hal program yang belum direalisasikan, dapat diseriusi. Keberpihakan kebijakan kepada masyarakat marginal kiranya penting dilakukan.

Terkait bidang sosial dan ekonomi, pemerintah daerah Kota Manado tentu telah punya indikator keberhasilannya. Ada peta jalan sebagai acuan pemerintah dalam melakukan kerja perbaikan kesejahteraan, solidaritas masyarakat. Sehingga menjauhkan masyarakat dari kondisi yang rawan dan sensitif atas terlahirnya konflik sosial. Menjawab itu semua, maka sumber daya manusia yang unggul menjadi komponen pentingnya. Jangan pernah menciptakan diparitas lagi di masyarakat.

Kita berharap Mor Bastiaan menjadi figur yang lebih peka terhadap kepentingan masyarakat. Lahir dari gelombang keluhan dan kerinduan masyarakat. Mor hadir memberi warna dalam siklus kepemimpinan di Kota Manado yang perkembangannya menanjak, membaik dan maju dalam menggenjot pembangunan. Kehadiran pemimpin yang dirindukan di Kota Manado pada Pilkada Serentak 2020 secara politik tidak mudah kita takar. Keunggulan dan kerja konkrit dari Mor saat ini yang akan menjadi obat, vitamin, magnet dan bargaining bagi pemilih untuk memilih dirinya.

Mor secara serius membingkai kerinduannya atas persatuan pada ungkapan atau diksi ”mari torang baku-baku bae”. Kalimat yang berarti ajakan untuk masyarakat mengedepankan sikap solidaritas, hidup bersama senasib sepenanggungan. Semangat yang dibalut atas sikap yang baik, jauh dari pertengkaran dan konflik. Saling kecam serta menjegal antara satu dengan yang lain, hal itulah yang dihindari Mor. Guna mewujudkan peradaban demokrasi yang berkualitas, kuncinya yaitu hidup rukun dan damai melalui ”mari torang baku-baku bae”.

 

—————————————————————

Oleh : Bung Amas, Jurnalis dan Alumni FISPOL Unsrat
iklan1
iklan1