HAKIKAT REALITAS

Moksen Sirfefa (Foto Istimewa)

Oleh : Moksen Sirfefa

“Realitas yang ada sesungguhnya tidak ada (fân), dan sebenarnya yang ada (bâq) hanya Tuhan”. (Qs.55:26-27).

Tuhan-lah Realitas Hakiki atau Wujud Mutlak itu dan lainnya tiada (Inothing) sebab Dia-lah hakikat realitas (existence).

Realitas menurut Imam Al-Ghazali (1058-1111) adalah Cahaya. Dalam bukunya _Misykat Cahaya-Cahaya_ (Mizan,1987), ia mengungkapkan bahwa semua yang ada pada dasarnya tak ada. Tidak ada warna merah, biru, putih, kuning, hitam, coklat hijau dan semua warna kecuali karena efek cahaya yang Dia (Tuhan) pinjamkan pada pandangan kita.

Boleh ditambahkan, tidak ada bulan, matahari, bintang-gemintang, bumi, lautan, hewan dan tumbuhan selain kesadaran yang Dia pinjamkan pada kita sehingga kita menyebutkan semua itu ada. Padahal, semua itu tak ada wujudnya. Wujud segala sesuatu laksana bayangan pepohonan diatas air. Ia tidak dapat menghalang perjalanan perahu di atas air tersebut.

Cahaya adalah Realitas yang kita maksudkan di dalam pembahasan ini. Pemilik otoritas bahasan ini adalah Ibn ‘Arabi (1165-1240). Menurutnya, “kenyataan” (reality) atau alam inderawi yang mengitari kita dan lazim kita anggap sebagai “realitas,” sebetulnya adalah mimpi.

Melalui pancaindera, kita mempersepsi sedemikian banyak benda, membedakan yang satu benda dengan lainnya, menyusun sesuai dengan nalar kita, dan kemudian mengukuhkan sesuatu yang solid di sekeliling kita. Lalu kita menyebut bangunan (solid) itu sebagai “kenyataan” dan tidak meragukannya sebagai yang “nyata”. Padahal itu bukan “kenyataan” dalam makna yang sesungguhnya. Itu bukanlah Wujud yang hakiki.

“Di alam fenomenal tempat kita hidup ini, Wujud dalam hakikat metafisiknya tidak dapat dipersepsi sebagaimana realitas fenomenal tidak dapat dipersepsi oleh orang yang sedang tidur dan bermimpi mengenainya.”

Sebuah hadis Nabi terkenal berbunyi : *_“Semua manusia tertidur (di dunia ini); setelah mati baru mereka terbangun”_*. Ibn ‘Arabi menjelaskan : “Dunia ini adalah ilusi; ia tidak memiliki eksistensi hakiki. Dan inilah yang dimaksud dengan imajinasi (khayâl). Karena kau hanya membayangkan (imagine) bahwa ia (yakni, dunia ini) adalah realitas otonom yang berbeda dan mandiri dari Realitas Hakiki, padahal tidaklah demikian. “

Lalu, apakah yang mesti kita lakukan jika apa yang kita anggap sebagai “realitas” itu sesungguhnya adalah mimpi, bukan Wujud Mutlak (Realitas Hakiki), melainkan sesuatu yang ilusif? Apa sebaiknya kita abaikan semua alam ilusif ini dan pergi untuk mencari alam yang sama sekali berbeda, alam yang benar-benar nyata? Jawabnya, tidak. Mimpi, ilusi, atau imajinasi bukan sama sekali tidak bernilai atau palsu; ia sekedar bermakna “pantulan simbolis” ( _hologram_) dari sesuatu yang benar-benar nyata. Dengan kata lain, alam raya (makrokosmos) dan manusia (mikrosmos) yang sebenarnya merupakan representasi makrokosmos adalah pancaran ( _emanation_) dari Wujud Mutlak (Realitas Hakiki) itu.

Ketika Realitas Hakiki atau Wujud Mutlak itu memancarkan dirinya di dalam setiap benda-benda atau di dalam setiap diri manusia, maka “realitas” yang kita imajinasikan atau ilusikan sebagai “realitas” yang sesungguhnya itu sebenarnya adalah “karena Tuhan menjadi” (memanifestasikan salah satu dari Sifat-Sifat-Nya) di dalam benda-benda atau di dalam setiap diri manusia. Manifestasi Tuhan ( _tajalli, emanation_) dari salah satu Sifat-Nya, _Al-Nûr_ (Cahaya) yang terpancar di alam semesta membuat kita bisa melihat, mengerti dan membahasakan segala benda yang kita lihat atau kita rasakan sesuai persepsi kita. Tanpa emanasi Tuhan, manusia tak ada, flora dan fauna tak ada, pengetahuan tak ada, segala sesuatu yang berhubungan dengan makrokosmos dan mikrokosmos. Semua berasal dari apa yang disebut para ahli filsafat-mistik Islam sebagai _al-a’yân al-tsâbita_ ( _pastaka-pastaka_ permanen) yang melalui Realitas Mutlak ( _Cahaya-ma-Cahaya_), mereka bermanifestasi.

Teori Pancaran Cahaya ( _emanation theory, nadhariŷat al-fâ’idh_) ala Al-Ghazali dan Ibn Arabi ini telah lama dikenal di dalam filsafat Yunani abad ke-2, yang dikembangkan oleh Plotinus (204-270 M) yang berpandangan bahwa dunia ini terjadi melalui manifestasi yang berasal dari “prinsip pertama” atau “realitas pertama” atau biasa disebut “Sang Absolut” atau “Tuhan”. Pancaran “realitas pertama” itu mewujud ( _presence_) menjadi realitas-realitas makro dan mikrokosmik.

Teori emanasi (pancaran) ini kemudian dikembangkan oleh Abu Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh atau yang populer dikenal Al-Farabi (870-950). Beliau berpendapat bahwa pancaran “realitas pertama” itu mewujud ( _presence_) menjadi realitas-realitas makro dan mikrokosmik. Dengan kata lain, penciptaan alam semesta ini tiada lain merupakan pancaran dari Kesejatian Asal ( _Galib se Lukudi_).

Pertanyaannya, bisakah Realitas Hakiki dan realitas nisbi atau palsu menyatu (terjadinya kesatuan eksistensial)? Menurut Mehdî Ha’irî Yazdî, kesatuan eksistensi itu bisa terjadi melalui pengalaman mistik ( _mystical experience_). Pengalaman itu diterjemahkan melalui pengetahuan-dengan-kehadiran ( _knowledge-by- presence_) atau yang dikenal dengan ilmu kehadiran ( _al-‘ilm al-hudhûri_).

Penyatuan antara Realitas Hakiki dan realitas nisbi itu dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi dengan doktrin _wahdat al-wujûd_ (kesatuan eksistensi antara Pencipta dan ciptaan-Nya atau kesatuan Khalik dan makhluk).

Realitas itu bisa terjadi atau fenomena alam berupa fenomena besar, kecil, detil, nyata, tak nyata, semua disebut demikian karena adanya penjelmaan Tuhan di dalam semua jenis benda, nama maupun keadaan. Tanpa “kehadiran” atau “pancaran” atau “manifestasi” Tuhan di dalam semua benda, nama, atau keadaan itu, kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya sekaligus semuanya tidak ada ( _fân, nothing_).

Di belakang hari, pikiran-pikiran Ibn ‘Arabi disingkap ulang oleh Syihâb al-Dîn al- “Abu al-Futuh” Yahya Suhrawardi al-Maqtûl (Suhrawardi yang dipenggal oleh penguasa Aleppo, karena ajarannya dianggap sesat). Ia mengembangkan ajaran Tasawuf (mistisisme Islam) berdasarkan pemahaannya tentang surat Cahaya ( _al-Nûr_) bahwa Tuhan adalah Pemberi Cahaya kepada langit dan bumi (Qs. 24:35). Seperti yang dipahami sama oleh Al-Ghazali, bahwa dari Cahaya Pertama (Tuhan) melahirkan cahaya mikro dan makrokosmos.

Pengetahuan langsung melalui visi iluminasi hanya bisa didefinisikan seseorang melalui kesadaran diri. Sangat privat sekali, bahkan bahwa tak akan mampu mewakili apa yang dialami. Pada saat kesadaran jiwa tercapai, jiwa kemudian mampu memahami secara langsung esensi-esensi yang unsur-unsurnya kemudian dapat diterjemahkan dengan menggunakan bukti dan demonstrasi untuk mengembangkan jenis diskursif pengetahuan tentang pandangan asli tentang realitas. Dengan begitu, cahaya tidak membutuhkan definisi apapun, karena semua yang diperlukan adalah cahaya yang harus dialami, karena tidak ada yang lebih jelas daripada cahaya ( _Illumination_) itu sendiri. Tak ada huruf, tak ada suara ( _Lâ harfun walâ shawthun_).

Aliran iluminasionisme ( _isyrâqiŷah_) ini di belakang hari dikembangkan oleh Nashîruddîn al-Thûsî dan Shadr al-Dîn al-Syirâzî (Mulla Shadrâ). Menurut Shadrâ, apapun yang ada (realitas) yang tidak membutuhkan definisi atau penjelasan adalah jelas. Karena tidak ada yang lebih jelas daripada cahaya, sehingga sentralitas konsep cahaya untuk epistemologi dan ontologi iluminasinya adalah pengalaman intuitif langsung ( _zawq_) yang dapat mengarah pada pengetahuan tentang realitas (hakikat).

Secara tak terbantahkan, ajaran-ajaran esoterik Ibn ‘Arabi dipengaruhi oleh Al-Hallaj (Abu Abdullah Husain bin Mansur al-Hallaj (858, sumber lain 866 M dan wafat 922 M), melalui konsepnya, _al-Hulûl_ (kesatuan eksistensial antara hamba dan Tuhan). Namun berbeda dari pendahulunya itu, Ibn ‘Arabi beranggapan bahwa Tuhan sebagai Esensi Mutlak, sebelum memanifestasi (ber- _tajalli_) dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidak mungkin dikenal atau mengenal Diri-Nya. Sebab bagaimana mungkin disebut Tuhan kalau tidak ada yang mempertuhankan-Nya? Ibn ‘Arabi mendasarkan padangannya ini pada hadits Qudsi, *_“Aku adalah khazanah tersembunyi, Aku ingin agar Aku dikenal, maka Aku ciptakan makhluk.”_*

Bertolak dari hadits ini, Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa tatkala Allah hendal melihat Esensi-Nya yang universal, mutlak, melalui nama-nama-Nya, Dia ciptakan kosmos. Laksana penglihatan dalam cermin, ketika Allah baru menciptakan kosmos, yang tidak mempunyai ruh, penglihatan awal keagungan-Nya belum memberikan kejelasan. Maka, diciptakanlah Adam, yang mempunyai ruh, demi “menjernihkan” penglihatan-Nya. Dengan demikian, Ibn ‘Arabi memosisikan Realitas Tunggal ke dalam dua aspek: _al-Haqq_ dan _al-Khalq._ Aspek pertama merupakan Esensi yang merupakan Tuhan sendiri (Tuhan yang transenden). Sedangkan aspek kedua sebagai fenomena yang memanifestasikan aspek pertama, yang merupakan bayang-bayang Tuhan atau makhluk (Tuhan imanen). Jadi, keduanya pada dasarnya adalah satu, hanya saja dalam penalaran akal, keduanya tampak dua. Dalam istilah lain, Ibnu ‘Arabi berpendapat bahwa _al-Khalq_ itu _ma’qûl_ (dapat dipikirkan lewat penalaran akal) sedang _al-Haqq_ bersifat _mahsûs_ (dirasakan secara intuitif) dan _masyhûd_ (disaksikan secara batin). _Al-Khalq,_ eksistensinya tampak pada dunia pikir (rasio; _al-ma’qûl_), sedang _al-Haqq_ eksistensi-Nya hanya tampak dan dirasakan melalui intuisi (hissî) dan rasa batin (zawq). Dua intrumen manusia inilah (akal dan hati/nalar dan intuisi) yang akan “menghadirkan” Tuhan di dalam kepribadian manusia secara utuh.

 

—————–

Ciputat, 19 Maret 2020.

iklan1
iklan1