Burung Sampiri Laksana Lestari Alam di Kepulauan Talaud

Jeremia F. Apitalau (Foto Istimewa)

Oleh : Jeremia F. Apitalau 

Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah kepulauan di Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah ini adalah kawasan paling utara di Indonesia timur, berbatasan dengan Davao, Filipina di sebelah utara. Eos histrio atau dikenal dengan nama lain Burung Sampiri, Burung Nuri Talaud adalah salah satu spesies endemik di Kabupaten Kepulauan Talaud.

Yang memiliki warna bulu yang indah dan mencolok dikenal sebagai Red and blue Lory dan hidup dalam kelompok kecil atau berpasangan. Burung Nuri Talaud bersifat monogami.

Burung ini sangat dibanggakan oleh masyarakat Talaud, karena keindahan bulunya Burung Sampiri dijadikan sebagai maskot Kabupaten Kepulauan Talaud. Habitat asli hewan ini ialah hutan primer dan hutan perbukitan hingga perkebunan kelapa. Hewan lebih banyak beraktifitas di siang hari. Malam hari akan berkumpul dipohon untuk beristirahat hal ini menjadi fenomena pohon tidur (roost tree).

Suara kicauan burung Sampiri pendek, kasar, berisik, dan mencolok. Burung ini tidak mengonsumsi serangga atau pakan lainnya. Namun suka mengonsumsi nektar yang ada di pohon berbunga maupun pohon kelapa.

Dibalik keindahan Burung Sampiri terdapat ancaman yang besar, dari tahun ke tahun populasi spesies ini mengalami penurunan yang diakibatkan oleh perburuan liar secara terus menerus, kawasan ekosistem yang tidak mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang dikarenakan oleh aktivitas manusia seperti pertambangan dan penebangan pohon, kemudian dengan berkurangnya lahan karena digunakan untuk perkebunan dan pembangunan. Hal tersebut perlu diminimalisasi untuk mengurangi ancaman terhadap burung sampiri melalui konservasi yang tertata dengan baik.

Faktor Ancaman Kepunahan

Salah satu indikator terjadinya kerusakan alam adalah, apabila beberapa jenis burung yang dulunya pernah ada sudah mulai berkurang bahkan punah. Sehingga hal ini menjadi alasan penting untuk dilakukan konservasi terhadap Burung Sampiri. Spesies ini sangat memiliki peran dan nilai ekologi yang tinggi dalam menjaga keseimbangan ekosistem alami selain menjadi kearifan lokal daerah Kabupaten Kepulauan Talaud.

Peran penting dalam penyebar benih tumbuhan, penambahan nutrisi melalui kotoran mereka, penyerbukan, serta pengendali populasi serangga merupakan hal yang penting untuk keseimbangan ekosistem. Perdagangan Burung Nuri Talaud atau Sampiri masih berlangsung hingga saat ini. Dengan kalkulasi kasar hasil investigasi Yayasan Sampiri, total burung Nuri Talaud yang diperdagangkan di tiga kampung yang menjadi basis penangkapan selama periode 8 tahun terakhir adalah 6.480 ekor, atau rata-rata sekitar 810 ekor per tahun.

Karena status terancam dan penurunan populasi yang terus terjadi, IUCN memasukkan Nuri Talaud (Eos histrio) dalam status konservasi Endangered (Terancam; EN). Sedangkan status perdagangan Internasionalnya adalah Appendix I CITES yang berarti tidak boleh diperdagangkan secara internasional kecuali untuk tujuan khusus (seperti riset). Di Indonesia, burung ini termasuk dalam kategori burung yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999. Sayangnya meskipun masuk pada Daftar Merah IUCN dengan status Endangered, termuat sebagai Appendix I CITES, dan dilindungi di Indonesia, nyatanya perburuan burung ini tetap marak untuk diperjualbelikan. Padahal Nuri Talaud adalah Burung Endemik yang sudah benar-benar langka dan mendekati kepunahan.

Pemerintah telah berusaha menjaga kelestarian hewan-hewan langka tersebut, antara lain dengan menetapkan kawasan hutan konservasi di Kepulauan Sangihe, Talaud. Di Pulau di Pulau Karakelang sekitar 24.669 hektar dijadikan Suaka Margasatwa Karakelang, Hutan Bakau Seluas 260,861 Ha, dengan keanekaragaman hayati dan 9.000 hektar sebagai areal hutan lindung. Namun masih terdapat kendala besar seperti keberadaan hutan lindung tersebut sangat rentan akibat maraknya perambahan hutan, pencurian kayu, perburuan dan perdagangan satwa liar, serta pencemaran lingkungan yang dilakukan dengan pembuangan limbah rumah tangga secara besar-besaran.

Rekomendasi Konservasi

Pulau Karakelang ialah pulau terbesar di Kabupaten Kepulauan Talaud dan merupakan salah satu destinasi wisatayang sangat berpontensi untuk dapat dilakukan pengamatan hingga penelitian burung atau birdwatching di Kawasan Wallacea. Dengan keindahan yang dimiliki oleh Burung Nuri Talaud tentunya ini merupakan salah satu peluang yang dapat ditingkatkan. Spesies ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi oleh keunikan dan keindahannya dapat menarik perhatian pengunjung untuk lebih dekat dan mengenalnya. Tentunya hal ini dapat difokuskan untuk dilakukan partisipasi terhadap konservasinya agar tidak punah.

Desa Rae Selatan, Bengel, Ambela, Ensem, dan Tuabatu yang berada di pulau Karakelang adalah lokasi yang sangat ideal untuk dilakukan birdwatching. Selain itu desa-desa ini berbatasan langsung dengan Hutan Suaka Margasatwa dan Hutan Bakau, desa-desa tersebut juga bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua atau roda empat yang dapat ditempuh selama 1 – 2 jam perjalanan dari Kota Beo.

Birdwatching merupakan salah satu aktivitas yang menyenangkan dan edukatif. Rekreasi/wisata serta penelitian dalam bentuk kegiatan mengamati burung dapat dilakukan di pantai maupun hutan ataupun di sekitar kita. Para pengunjung diberikan informasi-informasi yang edukatif terhadap jenis-jenis burung dan peranan yang dilakukannya untuk menjaga keseimbangan sistem yang ada di alam. Hal ini tentunya dapat dikembangkan untuk lebih meningkatkan kembali kesadaran masyarakat terhadap lingkungan lebih tinggi.

Kesimpulan

Dari beberapa hal yang ada diatas dapat dilihat kembali Burung Nuri Talaud adalah salah satu spesies pendukung yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alami. Oleh adanya banyak ancaman yang disebabkan oleh pembangunan ekonomi tanpa memperhatikan dampak terhadap lingkungan, populasi spesies ini terus menurun yang dapat mengakibatkan kehilangan spesies. Sebagai indikator kelestarian alam di Kabupaten Kepulauan Talaud manusia seharusnya dapat menjaga keberadaan dari spesies ini agar tidak punah.

__________________

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

iklan1
iklan1