WARKOP DAN CINTA

(Refleksi Filsafat Cinta, Humanisme serta Gerakan)

Rusmin Hasan (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Rusmin Hasan
Aktivis HMI Cabang Tondano

Diskursus dimasa era digital menjadi sala satu yang sangat menarik, ketika dilekatkan pada wacana warung kopi dan cinta. Dikarenakan warkop bukan hanya sekadar tempat, Akan tetapi menyimpan makna filosofis, penyatuan Cinta, humanisme dan gerakan sebagai wahana membangun episentrum kaum intelektual untuk mendestribusikan gagasan-gagasan progresif untuk penyatuan ide untuk perubahan bangsa. Meminjam bahasa dari Najib Mahmud dalam bukunya: KARNEK CAFFE.

Ia mengatakan bahwa Warkop adalah tempatnya aktivis melenial untuk menciptakan revolusi bangsa ini, tak kala pentingnya juga, apabila diisi dengan wacana Cinta, Humanise serta gerakan sebagai episentrum aktivis melenial memahami realitas sosial dan melebur bersama barisan rakyat kecil.
Zaman sekarang ini, kita dihadapkan pada tantangan Era revolusi Industri, sehingga membutuhkan format gerakan baru yang harus dibangun oleh generasi melenial, sehingga identitas intelektual tak mereduksi kegagalan paradigma kritis. Ruang-ruangan publik harus diisi dengan dialektika baik itu, Warkop, asrama, sekretariat aktivis melenial sehingga aktivis melenial mampu beradaptasi dengan tantangan zaman yang kompleksitas dengan jargon-jarkon isu yang dimainkan negara untuk mematikan daya kritis, serta kreatif kita.

Hanya dengan cinta kita akan memahami hakikat perjuangan, dikarenakan cinta pula sebagai titik balik peradaban generasi untuk melebur dengan rakyat kecil, sebagaimana ulasan Bung Karno dalam bukunya “SARINAH”. Bahwa aku belajar mencintai rakyat kecil dengan esensi Cinta yang diajarkan oleh Ibu Pengasuhnya. Sebab hakikat hidup dan kehidupan adalah Cinta olehnya itu, untuk memahami esensi perjuangan Progresif Revolusioner maka selamilah makna filosofis dari kata Cinta tersebut.

Punjak tertinggi dari kearifan, kebijaksaan seorang intelektual berada pada subtansi relasi antara Cinta, Humanisme serta Nilai Kemanusiaan untuk mendidik rakyat kecil, bukan tunduk pada penguasa. Seorang manusia tidak dikatakan intelektual cendekia apabila yang tidak dapat tampil sebagai garda terdepan dalam melihat ketimpangan sosial, ekspolitasi rakyat kecil serta kebodohan umat manusia.

Narasi sederhana ini, penulis persembahakan kepada kawan-kawan aktivis melenial untuk memahami warkop sebagai sentral episentrumen masa depan indonesia serta Cinta sebagai wahana membangun spirit generasi melenial untuk melindungi rakyat kecil serta tampil sebagai agen-agen perubahan buat Umat dan Bangsa. Dalam menyilami drama dinamika sosial memahami peta revolusi bangsa ini.

iklan1
iklan1