Archive for: April 2020

SUALANG: Jaga Situasi Kondusif, Penjual Takjil Diatur Saja

dr. Richard Sualang (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Pemikiran dan solusi konstruktif datang dari anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dr. Richard Sualang terkait jajanan Ramadhan di Manado. Saat diwawancarai terkait insiden lorong Wonasa, dimana terjadi aksi saling lempar antar warga dan Satpol PP Kota Manado, politisi murah senyum ini mengajak semua pihak agar menjaga keamanan bersama.

“Jaga situasi kondusif dibulan Ramadhan, supaya ada ketenangan beribadah dan tetap mengikuti himbauan pemerintah dimasa pandemi ini,” kata Sualang, yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Manado periode 2014-2019 ini, Kamis (30/4/2020).

Icad begitu sapaan akrab legislator Dapil Kota Manado ini mengatakan penataan terhadap lapak bagi penjual Takjil di Kota Manado perlu dilakukan. Masyarakat perlu diberi edukasi terus-menerus agar mengerti, lalu mereka menjalankan protokol kesehatan untuk menghindari Corona Virus (Covid-19).

“Untuk penjual kue atau makanan Takjil ini perlu diatur agar tidak menimbulkan kerumunan,” ujar Sualang yang juga Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kota Manado ini.

(*/Bung Amas)

Mahyudin Damis: Sulut Tak Perlu Terapkan PSBB

Drs. Mahyudin Damis, M.Hum (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Bergulirnya usulan untuk ditetapkannya status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menuai dinamika yang alot. Ada yang pro, ada pula yang kontra agar PSSB tidak diterapkan. Menurut akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Drs. Mahyudin Damis, M.Hum, dari posisi geografis Sulut tidak perlu lagi memberlakukan PSBB.

‘’Menurut saya Sulut menerapkan PSBB, tidak penting. Contohnya Gorontalo sudah melakukan itu, berarti dari Sulsel, Sultra, Sulteng, Sulbar, dan masuk melalui Gorontalo yang sudah memotong posisi Sulut dalam hal menerapkan PSBB. Artinya, dari aspek geografis tidak penting Sulut menerapkan PSBB ini,’’ ujar Damis.

Damis mengatakan pemerintah daerah Sulawesi Utara tentu juga punya kalkukasi yang logis. Akademisi yang dikenal intens berdiskusi dengan aktivis dan kalangan pers itu menilai masyarakat akan menamui problem baru, jika kemudian PSBB diterapkan. Pengajar di Jurusan Antropologi itu secara tegas mengungkapkan penolakannya terhadap pemberlakukan PSBB di Sulut nantinya.

‘’Tidak perlu Sulut menerapkan PSBB, karena dari sisi angka statistik jumlah pasien yang terpapar Covid-19 di Sulut adalah 45 orang ini tidak berbanding dengan jumlah penduduk kita di Sulut yang banyak. Selain itu, aspek ekonomi juga akan menuai permasalahan nantinya jika PSBB diberlakukan. Kita harus meperhitungkan situasi itu. Saya secara pribadi menolak PSBB diberlakukan di Sulut dengan alasan yang rasional. Saya khawatir, kalau PSBB diberlakukan, maka ekonomi kita akan lumpuh,’’ tutur Damis, Kamis (30/4/2020).

Moda transportasi laut, darat dan udara, tambahnya lagi, sudah di setop beroperasi di Sulut. Ini bertanda pencegahan anti penyebaran Covid-19 telah serius dilakukan Pemprov Sulut. Selain itu, akademisi Unsrat ini segaca tegas menolak pemberlakukan PSBB. Masyarakat menurutnya harus terus diajak untuk menerapkan protokol Covid-19 secara baik dan disiplin. Protokol penanganan Covid-19 harus kita laksanakan sebagimana mestinya, lanjut Damis.

Selain itu, Damis menuturkan, mestinya masyarakat Sulut berterima kasih kepada pemerintah Provinsi Gorontalo yang telah meminta PSBB terlebih dahulu dan akhirnya disetujui pemerintah Pusat. Pada konteks tersebut Damis melihat posisi Sulut seolah-olah dilindungi Gorontalo.

(*/Bung Amas)

Peduli Warga Terdampak Covid-19, KNPI Mitra Bagikan Ratusan Paket Sembako

Kegiatan Baksos DPD KNPI Mitra

Ratahan, Suluttoday.com – Dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona atau covid-19, Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), melakukan bakti sosial (Baksos) bersama Badan Intelejen Negara (BIN) Daerah Sulawesi Utara (Sulut) melakukan penyemprotan disinfektan, bagi-bagi masker gratis, pembagian ratusan sembako (beras, telur, mie instan dan minyak goreng) bagi masyarakat kurang mampu dan lansia.

Kegiatan ini dirangkaikan juga dengan sosialisasi pencegahan covid-19 melalui pemasangan baliho. Ketua DPD KNPI Mitra Ruland Sandag mengatakan, kehadiran KNPI melalui kegiatan bakti sosial tak lain adalah wujud komitmen KNPI Mitra untuk membantu pemerintah ditengah situasi pandemic sekarang ini.

“Tidak hanya KNPI, saya yakin siapa pun kita sudah pasti punya keiinginan yang sama untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus corona di daerah ini,” kata Sandag disela Baksos.

Sandag menegaskan, dalam upaya memerangi covid-19 rasa persatuan dan kesadaranlah yang mampu mengakhiri semua persoalan yang berhubungan dengan darurat kesehatan masyarakat akibat virus ini.

“Terima kasih kepada Bupati James Sumendap, selaku penasehat KNPI Mitra yang terus memberikan suport dan dukungan yang nyata. Apa yang kami lakukan selama ini bagian dari teladan yang telah ditunjukan senior James Sumendap,” ucap Sandag sembari menyampaikan ucapan yang sama kepada penasehat KNPI Mitra Tonny Hendrik Lasut, BIN, para pejabat, serta seluruh donatur yang sudah ikut membantu.

Penyemprotan disinfektan serta pembagian masker dimulai dari Kecamatan Touluaan, Pasan dan berakhir di Kecamatan Ratahan. Sasarannya yakni pasar, pertokoan, perkantoran, perbankan, polsek hingga Mapolres Mitra. “Sedangkan pembagian sembako dilakukan secara simbolis kemudian akan dibagikan oleh para pengurus di 18 desa yang tersebar di Kecamatan Touluaan Selatan, Touluaan, Silian Raya, Tombatu Timur, Pasan, Ratahan dan Ratatotok,” jelas Sandag.

Sandag pun berharap, masyarakat dapat mengikuti anjuran pemerintah dengan cuci tangan di air mengalir memakai sabun, tetap menggunakan masker bila bepergian, diam di rumah dan menerapkan sosial distancing (jaga jarak) agar tidak terpapar covid-19. “Nantinya kedepan kami akan melakukan kegiatan yang sama,” tukas Sandag sembari mengucapkan terima kasih serta apresiasi kepada teman-teman DPD KNPI Mitra yang sudah bersama-sama terlibat dalam kegiatan baksos sehingga boleh berjalan sukses.

(Hengly Langoy)

Srikandi SSK Tancap Gas Turun Beri Diri Berantas Covid-19 di Manado

Akrab bersama masyarakat, SSK (Foto Istimewa)

MANADO, Sulutoday.com – Tak pernah meninggalkan medan pelayanan pada masyarakat. Itulah potret Sonya Selviana Kembuan (SSK). Belum lama ini, politisi berlatar belakang pengusaha ini turun melakukan penyemprotan Disinfektan untuk memerangi meluasnya wabah Corona Virus (Covid-1). Dimana sebelumnya SSK turun membagikan bantuan kepada masyarakat Manado yang terdampak Covid-19.

Tanpa menggunakan dana hibah, SSK berani mengambil resiko demi melayani masyarakat. SKK disejumlah Kecamatan turun membagikan memberi diri di tengah masyarakat yang begitu membutuhkan bantuan. Melalui Satgas Covid-19, SSK turun door to door ke rumah warga.

“Satgas Covid-19 SSK (wanita tangguh) sedang melakukan penyemprotan Disinfektan e rumah-rumah warga. Melihat banyaknya masyarakat terkena dampak secara ekonomi dari menyebarnya Covid-19 di Manado menjadikanya terpanggil untuk ikut andil dalam aksi sosial memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” kata Nina Rumondor, selaku koordinator Srikandi SSK.

Rumondor dengan menggendong tangki melakukan penyemprotan-penyemprotan bersama tim B Satgas Covid-19 SSK menyisir tempat-tempat ibadah serta rumah-rumah masyarakat. Ditambahkannya, SSK yang merupakan kandidat Wali Kota Manado ini tak pernah membedakan masyarakat saat menyalurkan bantuan atau memberi diri dalam kerja kemanusiaan.

Penuh semangat Srikandi SSK melakukan penyemprotan Disinfektan (Foto Istimewa)

“Saya bertanya padanya kenapa mau ikut tergabung menjadi Relawan penyemprotan salah satu cita-cita Nina Rumondor di tim Satgas Covid-19 SSK. Masa depan Manado adalah milik mereka yang menyiapkan serta melakukan kerja-kerja kongkrit hari ini Corona Musuh kita bersama Kalo bukan kita siapa lagi,” ujar Rumondor.

Lanjut ditambahkannya bahwa Corona sangat berdampak terhadap semua lini kehidupan ekonomi mandek anak-anak tidak lagi bisa belajar. Dalam perjuangan, teruji keikhlasan. Selain itu, kegitan penyemptan Disinfektan ini dilakukan di Kecamatan Wanea dan Kecamatan Malalayang Kota Manado.

(*/Bung Amas)

Era yang Berisik dan Narsistik

Katamsi Ginano (Foto Istimewa)

Charles Babbage (1791-1871), pelopor dan peletak dasar teknologi komputasi, pasti tak pernah membayangkan di abad 21 manusia nyaris bergantung pada komputer. Para ilmuwan (yang bekerja dengan militer Amerika) di ARPA (Advanced Research Project Agency) yang lalu menapak jejak Babbage pada 1969, tak menduga pula ARPANET yang berevolusi hingga menjadi Internet yang kita kenal saat ini, bakal total mengubah peradaban. Dari hardware sebesar Gudang beras, teknologi komputer dengan cepat melesat hingga ada dalam genggaman.

Hukum Moore yang dicetuskan salah satu pendiri Intel, Gordon Earle Moore (kini berusia 91 tahun), menegaskan kecepatan pertumbuhan teknologi komputer (melalui pertumbuhan kecepatan mikroprosesor) mengikuti rumus eksponensial. Pendek kata, setiap hari teknologi komputasi dan ikutannya lahir dan akhirnya menciptakan ketergantungan pada manusia modern.

Hardware yang kian canggih diikuti sama pesatnya dengan perkembangan software. Dan memang, apalagi yang tidak bisa diprogram di era kini? Senyampang mempercakapkan komputer dan Internet, ingatan saya langsung berlabuh pada pendiri dan direktur Media Lab Massachusetts Institute of Technology, Nicholas Negroponte. Bukunya, Being Digital (1995)—yang diperkenalkan seorang kawan akrab pada 1996—, bagai paku yang menancap di benak.

Bahwa, demikian kira-kira jika kita menyarikan buku ini: Dengan komputer dan Internet, dunia menjadi digital. Ada dalam genggaman dan bersama kita setiap waktu, di setiap tempat. Nujum Negroponte pada 1995 adalah senyata-nyata keseharian manusia milenial. Telepon selular yang sekarang pintar minta ampun, benar-benar menjadikan dunia berada dalam genggaman. Meringkus waktu dan jarak. Dan mengubah kita dari homo sapiens ke homo digitalis.

Bahkan di polosok yang kita sebut udik pun, sepanjang ada signal selular, orang yang punya telepon pintar paling minim leluasa mengakses WA. SMS? Jadul dan cuma jadi kenangan buat aki-aki dan nini-nini. Yang keren dan modern, ya, bergabung di media sosial jagad Internet: facebook, Twitter, Instagram, dan Anda bisa menyebutkan deretan panjang lainnya—dengan WA termasuk di dalamnya. Saya, yang lahir dan tumbuh di era analog, harus mengakui terguncang dengan zaman media sosial.

Saking terguncangnya, saya gagap dengan facebook dan kawan-kawan. Dan supaya tidak ikut meheng setiap saat update status, berkicau, atau memperbaharui foto, saya cukup puas ber-WA. Termasuk ikut atau terpaksa rela diseret bergabung dengan WA group. Dari ber-WA saja, saya tahu: homo digitalis sungguh berisik di dunia maya, pula narsis, terutama jika ada dalam kumpulan. Grup WA praktis adalah representasi mini dari yang lebih gergasi seperti facebook dan twitter.

Semua yang bergabung nyaris merasa dirinya jagoan, yang terpintar, kelas pahlawan, dan segala yang dilakukan mesti di-share demi icon jempol atau meme kagum anggota majelis WA yang lain. Lalu Covid-19 tiba-tiba menyeruak dan mendorong keriuhan serta narsisme di WA (sebab, sekali lagi, saya hanya ber-WA ditambah untuk hal-hal tertentu Telegram) ke titik yang membuat saya ingin muntah. Segala hal, mulai yang masuk akal hingga menghancurkan logika, dipertukarkan dengan tempo sangat tinggi. Gambar-gambar dan video lalu-lalang. Dari himbauan hingga hoax yang diproduksi pikiran dan laku sampah.

Dan yang sungguh menjijikkan, di hampir semua grup WA saya terpaksa hanya mengusap dada dibombardir foto-foto para narsistik yang dengan wajah gembira menyerahkan bantuan (biasanya sembako atau sekadar masker; dengan penerima yang menunjukkan tampang campuran sedih, merasa kalah, atau terpaksa—lapar dan ketindakmampuan sering mendorong manusia pada kompromi harga diri. Saya yakin Babbage, ilmuwan-ilmuwan di ARPA, Negroponte, dan para jenius yang menghadirkan kehidupan digital, sejak mula meniatkan ikhtiar mereka demi memuliakan manusia, kehidupan, dan jagad yang ditempatinya.

Kita, para homo digital, kini mereduksi ketinggian capaian peradaban itu menjadi sekadar adu jago dan media narsisitik. Covid-19 yang laju penyebarannya kini melambat di Indonesia (tapi masih jauh dari berhenti) memberikan satu pelajaran lagi: Jangan-jangan evolusi manusia sedang berbalik kembali ke era nenek moyangnya, monyet yang berjalan tegak, dengan tools berbeda.

Dulu kala di zaman peradaban baru dimulai dengan batu dan kayu, kini dengan komputer berkemampuan dasyat, software canggih, dan jaringan koneksi super cepat. Yang berbeda hanya tools. Perilaku? Monyet tetaplah monyet, sekalipun evolusi sudah merontokkan hampir seluruh bulu dan cangkang otak sudah lebih besar di banding nenek moyangnya. (***)

Penulis, Katamsi Ginano, Aktivis dan Tokoh Masyarakat
iklan1