Surat Terbuka Guru Honorer di Manado untuk Presiden Jokowi

Masri Hamzah (Foto Istimewa)

SURAT TERBUKA

Kepada Yang Terhormat,
Presiden Republik Indonesia,
Bapak Joko Widodo

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga Bapak berada dalam kondisi yang prima, sehingga tugas-tugas kenegaraan menyangkut hajat hidup seluruh rakyat Indonesia dapat ditunaikan dengan baik. Amin.

Mohon maaf jika sudah mengganggu konsentrasi Bapak di sela-sela tugas penanganan musibah pandemi global covid-19 ini, Pak.

Sejak akhir tahun lalu, ketika pandemi global virus corona merebak dan sejumlah negara di dunia terpapar dengan angka kematian yang tinggi, negara kita masih tenang-tenang saja. Belum kelihatan ada ikthtiar untuk mengantisipasinya. Kita terlalu menganggap remeh situasi. Dan dengan begitu jumawanya, ada pejabat negara ini yang membuat pernyataan kontroversial bahwa Indonesia tidak akan terkena virus corona. Sampai akhirnya Bapak Presiden sendiri lah yang mengumumkan ditemukannya kasus positif covid-19 pertama pada 2 Maret 2020 lalu.

Hingga saat surat ini saya tulis, jumlah penderita yang terpapar sudah 1.414, dengan jumlah kematian 122 orang, dan yang sembuh baru 75 orang. Bahkan tenaga medis yang menangani pasien sudah 81 orang dinyatakan positif, dan 2 orang telah meninggal dunia. Bahkan pejabat teras di lingkaran presiden sekelas menteri positif terpapar covid-19. Hingga pejabat pemerintah daerah dan anggota dewan perwakilan rakyat pun tak luput dari serangannya. Semua orang terkena, tanpa memandang lapisan dan strata sosial. Keadaan yang sungguh menyedihkan.

Menyikapi kondisi yang terus berlangsung cenderung ke arah yang mengkhawatirkan ini, maka beberapa pihak yang berkompeten terutama ahli kesehatan dan tenaga medis telah menyarankan bahkan merekomendasikan agar pemerintah mengambil kebijakan me-lockdown negeri ini sementara waktu. Agar mata rantai penularan virus ini bisa diputuskan secara total.

Dengan berbagai pertimbangan, di antaranya dari aspek ekonomi, pemerintah menolak mengambil langkah strategis untuk melakukan lockdown.

Di sini saya ingin bertanya, adakah pilihan lain yg lebih efektif dan efisien tanpa membuang waktu yang terlalu lama selain me-lockdown, Pak?
Indonesia adalah negara kepulauan dengan titik pintu masuk lewat laut yang begitu banyak begitu juga dengan jumlah bandara yang terdapat di semua wilayah negara yang luas ini. Maka bisa dipastikan potensi penyebaran dari berbagai titik masuk itu sangat terbuka lebar. Dan sekarang jumlah korban yang terpapar positif dan meninggal semakin bertambah dari waktu ke waktu. Apakah keadaan ini harus dibiarkan sampai ada keputusan yang cerdas untuk mengakhiri krisis ini, Pak?

Jika disuruh memilih antara menyelamatkan ekonomi atau nyawa, manakah yang akan dipilih? Kalau ekonomi yang lebih diutamakan daripada nyawa, maka perlu juga dipikirkan, jika nyawa manusia semuanya melayang, siapa yang akan menggerakkan roda perekonomian? Manusia juga kan, Pak? Maka, bagi kami, menyelamatkan nyawa adalah prioritas yang harus lebih diutamakan.

Mungkin ketika Bapak dan para anggota kabinet Bapak sedang rapat memperdebatkan masalah ekonomi, rakyat Indonesia yang terkena virus ini sudah mulai berjatuhan satu demi satu karena masih menunggu hasil keputusan di forum rapat.

Mohon, hindarilah kalkulasi-kalkulasi dan negosiasi-negosiasi politik yang tidak produktif untuk menangani masalah wabah corona ini. Ini adalah masalah kemanusiaan, Pak. Jangan dipermainkan oleh perang opini di wilayah politis. Bukan saatnya lagi berkampanye politik. Virus corona ini sekarang menjadi musuh kita bersama. Harusnya kita saling berempati. Berkolaborasi menangani bersama-sama.

Biarlah urusan penanganan virusnya menjadi bagian tugas paramedis dan para ilmuwan. Tanggungjawab pemerintah adalah memastikan bahwa ketika status lockdown diberlakukan, maka kebutuhan pokok masyarakat terutama menengah ke bawah terpenuhi. Buatlah realokasi pembiayaan APBN khusus penanganan wabah covid-19 ini. Alihkan pos anggaran infrastruktur sementara waktu buat anggaran percepatan penanganan selama masa darurat ini. Suruhlah para taipan dan konglomerat yang sudah banyak meraup keuntungan dari bisnis mereka di negeri ini untuk ikut membantu meringankan beban ekonomi rakyat kecil yang merupakan konsumen terbesarnya. Para pejabat dan anggota DPR agar menyisihkan sebagian gajinya untuk donasi kebutuhan rakyat miskin. Hentikan dulu semua interaksi sosial juga aktivitas ekonomi secara langsung. Kecuali sentra ekonomi khusus untuk pelayanan belanja kebutuhan pokok dan pusat pelayanan medis untuk penanganan pasien selama masa darurat covid-19 ini. Selain itu, semuanya harus diawasi secara ketat.

Saya tidak bisa membayangkan, bila kondisi ini terus dibiarkan, akan terjadi suasana sebagaimana yang diungkapkan oleh penyair almarhum W.S. Rendra dalam sajaknya, Doa Orang Lapar:

Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

O, Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

O, Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

Kutipan Surat Terbuka (Foto Suluttoday.com)

O, Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca

O, Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam

O, Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

Saat menulis surat ini hati saya menangis, karena telinga saya masih mendengarkan rekaman pernyataan juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19 yang meminta “yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya”. Luar biasa! Di tengah krisis wabah yang mencekam ini, ternyata penularan penyakit masih dihubungkan dengan status sosial. Kami yang miskin pun dianggap sebagai sumber penularan penyakit bagi yang kaya. Miris sekali. Pernyataan seperti ini tidak elok disampaikan oleh pejabat negara.

Saya tidak bisa menyuarakan keprihatinan ini lewat demo atau aksi unjuk rasa. Karena hal itu pasti tidak dapat dilakukan di mana pengumpulan massa saat ini dilarang. Justru hanya akan menambah peluang penyebaran virus. Selain tentu saja mengurus aksi demo itu banyak ribetnya – mengurus surat izin, mendistribusikan logistik peserta demo, harus berhadapan dengan aparat — dan lebih banyak aksinya berakhir dengan rusuh. Sementara diam tanpa aksi di tengah situasi seperti ini adalah sikap yang tidak humanistik. Maka yang bisa saya lakukan hanyalah dengan menulis surat ini, Pak.

Sekali lagi, para pakar sudah menyampaikan pendapat dan pikiran mereka kepada pemerintah. Jika semua suara dari para pakar seluruh bidang terkait penanganan virus corona ini tidak didengar lagi oleh pemerintah agar melakukan lockdown untuk sementara waktu, lalu suara siapa lagi yang bisa didengarkan? Apakah harus menunggu Nabi Isa turun dari langit? Para petugas medis sudah banyak menjadi korban saat berjuang menyelamatkan nyawa mereka yang terkena virus corona. Jangan sampai kami juga para guru akan menjadi korban berikutnya. Jika para guru juga telah menjadi korban, siapa lagi yang akan menyiapkan generasi bangsa ini di masa depan? Kami akan merasa gagal, karena tidak bisa ikut memenuhi amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau istilah Lockdown terlalu seram, maka gantilah dengan padanan kata “Karantina Wilayah“. Tapi pada intinya lakukanlah upaya pemutusan mata rantai penyebaran covid-19 ini secara tuntas dan total. Dan ini hanya untuk sementara waktu, hanya sementara saja, Pak. Demi kemaslahatan yang lebih besar, yakni keselamatan rakyat. Kami berharap Bapak dapat mengikuti saran para pakar tersebut dan mengeluarkan maklumat yang tegas agar bisa menyelamatkan jutaan nyawa rakyat Indonesia yang Bapak pimpin.

Semoga surat ini bisa menggugah nurani Bapak yang berada nun di Istana negara sana.
Terima kasih jika Bapak sudi membaca surat ini. Mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan.
Semoga Allah Yang Maha Kuasa senantiasa melindungi dan memberkati Bapak.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Manado, 31 Maret 2020
Masri Hamzah,
(Guru honorer mewakili perasaan rakyat miskin)

#SaveIndonesia
#SaveParamedis
#LawanCovid-19
#CegahVirusCorona
#StayHome
#StaySafe
#SocialDistancing
#KarantinaWilayah
#LockdownSegera

Referensi:

https://nasional.kompas.com/read/2020/03/02/11265921/breaking-news-jokowi-umumkan-dua-orang-di-indonesia-positif-corona

https://www.suara.com/news/2020/03/02/125104/baru-sehari-terawan-bantah-corona-di-indonesia-2-warga-dinyatakan-positif

https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/18/195246965/indonesia-negatif-virus-corona-menkes-terawan-kami-berutang-pada-tuhan

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200315070648-4-144929/menhub-budi-karya-positif-corona-sempat-ratas-dengan-istana

https://www.suara.com/health/2020/03/20/165644/wali-kota-bogor-bima-arya-positif-corona-5-pejabat-ini-yang-juga-positif?page=all

https://www.riauonline.co.id/nasional/read/2020/03/25/bupati-cantik-positif-corona-ini-daftar-kepala-daerah-yang-terinfeksi-covid-19

https://bangka.tribunnews.com/2020/03/28/anggota-dpr-ri-imam-suroso-meninggal-dunia-3-hari-dirawat-berstatus-pdp-virus-corona

https://www.tribunnews.com/nasional/2020/03/29/presiden-harus-evaluasi-kinerja-jubir-achmad-yurianto-atas-pernyataan-si-kaya-si-miskin

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52082427

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52074437

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52022140

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200327124707-20-487457/viral-guru-besar-fk-ui-minta-jokowi-terapkan-local-lockdown

https://news.detik.com/berita/d-4946827/darurat-corona-ri-perlu-terapkan-kondisi-seperti-lockdown/1

https://news.detik.com/berita/d-4946827/darurat-corona-ri-perlu-terapkan-kondisi-seperti-lockdown/2

https://www.merdeka.com/peristiwa/komnas-ham-desak-pemerintah-berlakukan-karantina-wilayah-untuk-cegah-corona.html

https://news.detik.com/internasional/d-4946313/lockdown-diterapkan-di-wuhan-who-akui-keberhasilan-china-atasi-corona

https://news.detik.com/internasional/d-4946688/2-pekan-lockdown-italia-klaim-berhasil-turunkan-penularan-corona

iklan1
iklan1