“Berbagi”, Bersama Saling Memberi

Faisal Salim, SE (Foto Suluttoday.com)

Mukadimah Penggugah

Temanku, menurut data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi hingga 7 April 2020, tak kurang dari 452.657 orang pekerja kehilangan pekerjaan pascapandemi mendunia: virus Corona, COVID-19. Menurut data kementerian yang sama pun menyebut, 299 ribu orang pekerja terkena dampak Corona. Data itu merujuk fakta jumlah angka pekerja formal dan informal yang tercatat, tentunya. Bagaimana yang tak terdata namun kenyataannya mencari nafkah buat keluarga?

Coba analogikan angka tadi setara dengan ratusan ribu kepala keluarga, yang minimal memiliki tiga tanggungan nyawa: istri dan dua orang anak. Bisa dibayangkan berapa jumlah manusia yang membutuhkan bantuan makanan dan kebutuhan dasar lainnya? Tak kurang dari 1.810.628 jiwa.

Memang, pemerintah mengaku sudah mengalokasikan dana jaring pengaman sosial kondisi khusus untuk menyantuni sekitar dua juta orang. Boleh jadi, termasuk angka dari para pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) tadi. Lagi-lagi, yang tercatat, pastinya.

Per 7 April 2020, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan menyetujui kondisi khusus status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk status Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta hingga 20 April mendatang. Intinya, pascapenyebaran virus Corona yang dikenal dengan nama COVID-19, pemerintah daerah Jakarta bakal melarang warga melakukan aktivitas mobilitas ke mana pun, dilarang berkumpul untuk tujuan apapun, khususnya untuk lintas antarwilayah kota. Sejumlah daerah di Tanah Air pun berencana mengajukan permohonan pemberlakukan status PSBB.

Ada maupun tidak PSBB, persoalan Corona memang bukan bak kisah pahit di layar kaca. Jauh, dan tak terasa apa-apa.

Merujuk informasi resmi dari Kementerian Kesehatan yang diumumkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah kasus terdampak virus COVID-19 sudah mencapai 2.738 kasus hingga 7 April, tersebar se-Indonesia. Sebanyak 221 orang pasien di antaranya meninggal, dan 204 lainnya sembuh. Boleh jadi pula angka itu meliputi orang dalam pengawasan (ODP), pasien dalam perawatan (PDP). Namun, bagaimana dengan orang tanpa gejala (OTD), yang boleh jadi malah carrier (pembawa) virus? Padahal diyakini, bahaya wabah virus Corona belum mencapai puncak, termasuk untuk kasus pandemi di Indonesia.

Menurut data Dinas Kesehatan Manado, Sulawesi Utara, per 7 April pagi terdapat lima orang positif terjangkit Corona. Dan hanya selang beberapa jam kemudian, menjelang petang hari, jumlah korban bertambah hingga menjadi delapan orang. Lonjakannya memuncak dengan pasti.

Di mancanegara sedunia, persoalan senada juga membuat pening kepala. Beberapa daerah di Cina, misalnya, pun kembali menyatakan kembali tertutup (lockdown) gara-gara serangan virus COVID-19 kali kedua. Padahal, belum genap sebulan–19 Maret 2020–Pemerintah Cina sempat ‘berbahagia’ pascapenanganan Corona. Namun belakangan, sebuah kota bernama Ji’an di Provinsi Jiangxi, dinyatakan wabah kedua Corona kembali melanda. Beberapa media asing pun melansir kasus sejenis di provinsi lainnya. Alhasil, Pemerintah Cina kembali menutup akses kegiatan alias memberlakukan lockdown lagi.

Tanpa bermaksud pesimistis, namun, entahlah sampai kapan. Padahal dampak perekonomian sudah menjadi nyata bagi umat manusia di dunia, khususnya di Indonesia.

Selangkah Pasti: Berbagi

Kawanku, kondisi darurat kesehatan berupa pandemi seperti saat ini menjadi momok yang tak terelakkan. Berdampak mengular ke semua lini kehidupan, yang membuat pemerintah sekali pun, seolah memeras peluh lantaran terpaksa berakrobat untuk bertahan. Karena nyata berakibat fatal bagi banyak kepentingan, hingga ke level kebutuhan yang paling dasar sekali pun: makanan.

Bukan muluk, kalau inilah saatnya seluruh umat mulai bergandeng mengulurkan bantuan demi sesama. Supaya semua bisa bertahan bersama, dengan jalan apapun. Saling memberi, berupaya ikut mencukupi, dari kemampuan yang paling minim sekalipun.

Karena keyakinan untuk kembali normal, menjadi penyemangat yang pasti buat semua. Menjalani kehidupan yang ‘seperti biasa’ pasti melecut mimpi bersama, sesama, semua.

Satu Asa

Sahabatku, basis kejujuran atas niat baik menjadi pondasi kebersamaan ini. Pekerjaan rumah yang seharusnya bisa diselesaikan perlahan namun pasti, bisa terwujud dari sebuah langkah kecil tata kelola perwujudan nilai sosial yang [semoga] tinggi.

Upaya yang bakal dikedepankan ini adalah merangkul sebanyak-banyaknya donasi dari mana pun, dengan “mengandalkan” integritas pelaku niat baik ini. Tentu saja diwujudkan dengan strategi yang profesional, dengan hasil transparansi, dan bukti alokasi yang pasti, baik, dan benar.

Pilihan mewujudkan asa ini bisa ditempuh dengan solusi membentuk organisasi berisi orang-orang yang berintegritas melaksanakan tugas yang diemban. Mulai dari sosialisasi donasi dan laporan pertanggungjawaban melalui berbagai media, pelaku verifikasi sasaran bantuan, pengumpul dana donasi, penanggung jawab alokasi keuangan, dan koordinator aksi seluruh aktivitas organisasi.

Opsi Solusi

Saudaraku, sistem manajerial bakal menjadi roda pergerakan upaya yang baik. Niat berbagi diwujudkan dengan alokasi distribusi bantuan bahan pangan kebutuhan dasar bagi pihak yang telah terverifikasi memang membutuhkan. Misal, pembagian paket sebagian dari sembilan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, mi instan, tepung terigu, dan lainnya. Bahkan, pembagian tersebut bisa diselipkan dua-tiga lembar masker anti-penyebaran virus Corona.

Target alokasi bantuan memang beragam. Mulai dari rakyat jelata yang memang membutuhkan bantuan pasokan, tenaga medis yang berjuang di garda depan, semua lini petugas penjaga keamanan, guru formal dan religi seperti ustaz, pendeta misalnya. Merekalah sasaran utama distribusi bantuan dari kelompok ini. Mereka tersebar di banyak tempat, yang harus terverifikasi kebutuhannya, dan kelak dibuktikan telah mendapat bantuannya.

Boleh jadi di saat perdana ini, ustaz atau pendeta-lah yang bakal menjadi sasaran donasi. Mereka adalah ujung tombak yang mengokohkan hati nurani. Mengingatkan kita selalu untuk mengaplikasikan berbakti pada Ilahi yang Maha Kuasa, sembari berbagi kasih bagi sesama. Merekalah pahlawan penguat keimanan.

Mungkin pasca-ini, ada inspirasi lain yang terasa lebih membumi. Kebetulan di kelompok ini, adalah kumpulan manusia-manusia yang punya hati, dengan segudang ilmu dunia. Supaya berbagi, menjadi pasti…

Berbagi For Samua

Penulis : Faisal Salim, SE
(Bakal Calon Wali Kota Manado)
iklan1
iklan1