Pemuda GMIM: Gereja Harus Dinamis, Jangan Statis

Peserta diskusi (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Dalam rangka kesiapan pemuda gereja menghadapi situasi setelah Covid-19 berlalu. Komisi Pelayanan Pemuda Sinode GMIM melalui bidang penelitian dan pengembangan (LitBang) kembali melakukan diskusi virtual. Diskusi yang dilaksanakan, Sabtu (16/5/2020) ini mengambil tema: Pemuda Gereja “The New Normal After Covid-19” (kajian teologi, politik, sosial dan ekonomi).

Menurut Edwin Kambey, S.IP, M.Hub.Int, selaku moderator saat diwawancarai Suluttoday.com, Minggu (17/5/2020) mengatakan bahwa kegiatan ini menghadirkan narasumber diantaranya, Pdt Petra Rembang, M.Th, Ir. Jenny Karouw, M.Si, DR Ferry Daud Liando, Pnt Billy Lombok, SH, Pnt Hezky Pitoy, SH.,MH.

”Diskusi ini berjalan menarik karena diikuti sekitar puluhan peserta dari berbagai kalangan. Diskusi membahas mulai tentang dinamika dan tantangan pelayanan sekarang dan nanti, bagaimana kebijakan yang sudah dan nanti diambil pemerintah, hingga membicarakan peran dan langkah strategis pemuda gereja menghadapi kehidupan the new normal nanti setelah Covid-19 berlalu seperti apa,” kata Kambey yang juga jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini.

Tema diskusi dari Pemuda Sinode GMIM (Foto Istimewa)

Kambey juga menuturkan soal hasil diskusi yang dirangkum Ketua Bidang Litbang Komisi Pelayanan Pemuda Sinode GMIM, Pnt Rovan Kaligis, SH, menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi sebagai berikut:

1) Gereja harus dinamis jangan statis, concern dalam pengembangan pelayanan dan penanganan kesejahteraan warga jemaat saat ini dan setelah pandemi Covid-19. 2) Gereja concern dalam pengembangan kualitas pelayanan dalam rangka menjawab kebutuhan – kebutuhan pelayanan dijemaat sekarang dan nanti.

3) Gereja perlu makin serius mengintegrasikan teologi dan teknologi secara kuat untuk pengembangan pelayanan. 4) Pemuda Gereja harus menjadi laboratorium kader dan ide untuk mempersiapkan “the new normal” setelah Covid-19 nanti. 5) Warga gereja harus terus merawat kearifan lokal (budaya mapalus, saling baku-baku bae, baku baku-baku bantu, dan lain-lain).

Suasana pemaparan materi dari narasumber (Foto Istimewa)

6) Gereja memperlengkapi warga jemaat untuk menunjang program-program pemerintah. 7) Warga gereja harus mengoptimalkan program – program pemerintah (bantuan/pelatihan) untuk pengembangan kapasitas diri. Gereja memfasilitasi pemuda gereja untuk ambil bagian dalam program pemerintah. 9) Perlu adanya tambahan program pemerintah khususnya untuk pengembangan kapasitas pemuda gereja. Sosialisasinya dalam bentuk konten kreatif supaya bisa menyasar pemuda.

10) Adanya perhatian pemerintah untuk pengembangan dan penelitian alat kesehatan penangangan Covid-19. 11) Gereja dan pemerintah memfasilitasi pemuda gereja yang terdampak Covid-19 untuk mencari pekerjaan baru. 12) Gereja dan pemerintah fokus dalam pemulihan kembali psikologis dan sosial jemaat dan masyarakat. 13) Diberikan ruang untuk pemuda gereja menjadi pengawal dan pengawas program – program gereja dan pemerintah.

(*/Bung Amas)

iklan1
iklan1