PERLU KEJUJURAN

Anes Supit (Foto Istimewa)

Mungkin ada yang mengira bahwa politik hari ini adalah representasi dari kelanjutan politik masa lalu. Man-teman sama skali tidak, dijungkirbalikkanpun politik hari ini tidak ada hubungan dan seoriginal politik masa lalu. Politik itu bermuka banyak (ungkapan kesopanan), retorika adalah modal terbesar mereka sehingga penyamunpun bisa dianggap rohaniawan padahal dibalik kesopanan dan retorika ada keganasan dan keserakahan yang disembunyikan.

Saya pernah menulis sejarah perkembangan politik diIndonesia sesudah fusi partai 73, bahwa tidak ada lagi partai yang memiliki garis idiologi yang revolusioner semua dikendalikan orba dan tentara, nanti pada 27 juli 1996 (Peristiwa Kudatuli) baru nampak eksistensi mereka yang menamakan diri aliansi prodemokrasi menolak intervensi pemerintah dan tentara dalam mengendalikan politik Indonesia.

Jika anda melihat kebelakang politik era tahun 50 an loncatan kepercayaan rakyat besar sekali pada PKI itu kenapa? karna PKI konsisten, jujur pemimpin partainya bukan terindikasi koruptor, kader-kadernya teruji di perlemen bukan penjilat atau jongos dari oligarki kekuasaan.

PKI satu-satunya partai dijagad raya nusantara ini yang menggunakan systim kritik oto kritik dalam Politbiro, Comite Central pemimpinnya bisa dikritik, baca Kritik Oto Kritik (Sudisman) CC Politbiro PKI. PKI lah partai pertama kali yang menggunakan kata rakyat diera Tan Malaka skarang pahlawan nasional (Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Harry Paouze). Btw, saya menulis ini bukan karena saya PKI atau onderbounya atau ingin membakit-bangkitkan kebesaran PKI tidak, saya hanya mau bicara jujur tentang perjalanan sejarah bangsa ini.

Geliat politik pasca turunnya Pak Harto dari kekuasan telah membuka pintu lebar bagi sistim demokrasi indonesia, tdk bisa dipungkiri para penikmat Orba jaman Pak Harto pontang panting cari slamat para birokrat, kapitalis dan kaum inlander serta kelompok neolib harus menanti waktu yang tepat untuk bisa jadi benalu dan berkuasa lagi, merekalah yang sebenarnya memiliki banyak uang melakukan loby untuk bisa berkuasa lagi.

Jika Pemilu partai A yang menang mereka ada di A jika partai B yang menang mereka ada di B, apalagi jika pemimpin partainya tidak memiliki wawasan ideologi, menang hanya karna politik uang, mengandalkan serangan fajar dan memanfatkan kader2nya melakukan Money Politic, maka inilah lahan subur bagi kaum opurtunis mengendalikan partai. Ada pendapat yang mengatakan begini, bahwa pemimpin yang bodoh lahir dari tangan pemilih yang idiot.

Matinya nurani pemimpin dimasa Pandemi. Daerah ini seperti sedang menggali kuburnya sendiri. Kenapa? karena sudah tidak ada sinegitas antara Kabupaten/Kota dan Provinsi, study kasus dua Kota besar diSulut, suara rakyat sudah dipandang sebagai musuh, banyak opini yang menulis bahwa benturan antar pemimpin dan kepercayaan rakyat pada pemimipin akan berjuntrung pada mosi ketidak percayaan rakyat yang sudah diambang batas. Berkuasanya dinasty dalam pemerintahan dan legislatif serta keberpihakkan kepentingan pada kroni-kroni berpotensi gelombang Tsu-Nami ganti Gakbenar.!

Pelajaran penting yang bisa diambil disini, bahwa jangan sekali-kali memberikan kepercayaan pada pemimpin yang hanya hebat beretorika, hanya berpikir kepentingan proyek dan perutnya sendiri dari pada kepentingan kemaslhatan rakyat.

iklan1
iklan1