Soal Penyelidikan Proyek Incinerator Rp 11,5 Miliar, Kajari Manado Sampaikan Hal Ini

Kajari Manado, Maryono, SH.,MH (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Bergulirnya kasus hukum dugaan kerugian uang negara terkait pelaksanaan proyek pengadaan mesin Incinerator di pemerintahan Kota Manado sedang ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Manado. Proyek yang berbandrol Rp 11,5 Miliar yang ditata dalam APBD Perubahan Kota Manado tahun anggaran 2019 itu berbuntut ke ranah hukum.

Menurut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Manado, Maryono, SH.,MH, proyek yang dilaksanakan Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado tersebut sesuai aduan masyarakat diduga terdapat kerugian uang Negara. Maryono menyebut sejumlah alat Incinerator yang tidak lain adalah tungku pembakaran untuk mengolah limbah padat, yang mengkonversi materi padat (sampah) menjadi materi gas, dan abu tersebut sedang ditangani pihaknya.

”4 Incinerator umum dan 1 khusus untuk medik sedang ditangani. Kejaksanaan Negeri Manado belum banyak memberikan banyak informasi. Kami mengakui ada pengaduan kepada kami. Dan masih dalam tahap penyelidikan, tahap lidik dan akan kami sampaikan waktunya. Untuk lebih jauhnya kami akan sampaikan ke umum,” ujar Maryono.

Saat diwawancarai di ruang kerjanya tersebut, Senin (22/6/2020), Maryono, SH.,MH, menambahkan bahwa pihaknya akan mengumumkan kelak pada waktunya siapa saja yang terlibat dan dinilai atas tindakannya menyebabkan kerugian uang Negara. Maryono mengakui meski pandemi Covid-19, dirinya tengah memacu jajarannya yang menangani kasus tersebut untuk segera ditindaklanjuti secara baik dan benar adanya.

”Pada waktunya perkembangan perkara ini akan kami sampaikan,” kata Maryono, Senin (22/6/2020).

Di tempat terpisah, pemilik PT Dodika Prabsco Resik Abadi, Corry Sanger, yang merupakan pihak penyedia barang (mesin) Incinerator mendorong agar proses hukum yang tengah ditangani Kejaksaan Negeri Manado berjalan lancar. Corry mengaku dirinya sedang berada dalam situasi menuntut keadilan. Kontraktor perempuan ini asal Sulawesi Utara ini, pada Suluttoday.com, Selasa (23/6/2020) menyebut dirinya sangat siap bila dimintai keterangan dari Kejaksaan Negeri Manado.

”Saya juga mengikuti perkembangannya. Kami dari pihak Dodika Incinerator yang sampai saat ini belum dilunasi pembayaran pengerjaan proyeknya, dana perawatan alat juga belum kami dapatkan, tentu akan mendukung proses hukum yang berjalan. Saya menuntut keadilan. Bahkan saya sangat siap jika dipanggil Kejaksaan Negeri Manado,” tutur Corry melalui sambungan telpon.

Corry Sanger, saat uji bakar mesin Incinerator dihadiri Wali Kota Manado, Wakil Wali Kota dan Sekda Manado (Foto Suluttoday.com)

Tidak hanya itu, Corry juga mengaku telah menyiapkan kuasa hukum untuk menempuh jalur hukum. Bagi Corry dirinya tidak terima jika kerja hasil keringannya tidak dibayarkan DLH Manado, PT Antakara Naratama dan CV Jaya Sakti. Sehingga demi mengejar keadilan di depan hukum, dirinya akan meloprkan masalah ini ke Mabes Pori dan Kejaksaan Agung RI.

”Tentu dong saya tidak tinggal diam bila dizolimi begini. Saya minta hasil kerja saya dibayarkan, itu saja. Jangan kemudian didiamkan, anggaran sebesar Rp. 2,6 Miliar tidak dilunasi kepada kami. Biaya pemeliharaan alat, kemudian untuk tranning para operator juga belum kami lakukan, duitnya belum diberikan. Saya sudah siap melaporkan hal ini ke Mabes Polri dan Kejagung RI. Akhirnya apa, alat Incinerator sekarang seperti tidak ada yang mengurusnya. Saya belum dibayar lunas. Kalau ada pihak yang menyebut sudah ada penyerahan barang, silahkan buktikan surat-suratnya. Sepengetahuan saya, secara prosedur harus ada penyerahan dari PT Dodika ke PT Atakara, barulah PT Atakara menyerahkan kepada DLH Manado. Tapi, ini tidak terjadi begitu,” tutur Corry menutup.

(*/Bung Amas)

iklan1
iklan1