Archive for: Juli 2020

SOSIOLOGI KORBAN

Hakikat korban, ilustrasi (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Dalam bahasa Ibrani ‘korban’ memiliki persamaan dalam makna dengan ‘sacrifice’ sebagai tradisi yang memiliki akar kebudayaan ritual. Kata ini kelak diambil alih dalam tradisi religi Islam sebagai ajakan untuk berkorban (wanhar).

Dalam disiplin sosiologi kebudayaan, sosiolog Peter L. Berger (1929-2017) memberikan tafsir aktual bahwa tradisi berkorban (sacrifice) telah beralih dari ritual suci religi ke ritual profan developmentalisme. Dengan merujuk tradisi ‘berkorban’ pada suku Aztek di Mexico, Berger mengritik bahwa ideologi developmentalisme telah menjadikan masyarakat sebagai obyek pembangunanisme demi perubahan sosial.

Sebagaimana diketahui, pencapaian kemajuan manusia hingga dewasa ini telah mengorbankan nilai-nilai manusia di atas hasrat dan ambisi pembangunan semesta. Piramida pengorbanan itu, menurut Berger, telah mengabaikan hakikat keseimbangan ekologi manusia demi kemajuan dan kepentingan sepihak yang tidak adil dan brutal.

Sebagai tradisi kebudayaan universal, korban atau pengorbanan (sacrifice) diasalkan pada tujuan suci (sakral) melalui persembahan (offering), pertukaran (exchange) dan hadiah (gift). Namun, proses korban itu sering dilakukan dengan cara kekerasan (violence) seperti dalam perang, konflik dan situasi yang sangat memaksa.

Menurut seorang filsuf asal Yahudi, Moses Halbertal (62) dari Uruguay dalam “On Sacrifice” (2012), korban (Ibrani) yang bersumber dari tradisi Yudeo memiliki dua tujuan yang tumpang tindih. Dari tujuan suci (sakral) sebagai penunaian perintah Tuhan, korban harus mewujud pada persembahan dan hadiah yang berimbal. Tapi, dengan tujuan suci ketakjuban atas dasar cinta, korban harus dijatahkan sebagai hadiah.

Pada tujuan sekuler (profan), korban harus memiliki ikatan politik (political bond) sebagai upaya adanya pertukaran(exchange) yang dianggap imbang dan bukan imbalan. Karena itu, terselip keinginan korban yang tak diiringi oleh tekanan yang berujung kekerasan. Posisi ini menyebabkan hadirnya perkembangan sosiologi korban, terutama dalam modernisasi pembangunan seperti yang diamati Berger pada dunia ketiga pada era 70-an.

Arkian, tradisi sosiologi korban sangat mengabaikan tujuan utama dan dasar dari kerangka ‘piramida korban’ dalam mengaktualisasi diri komunalistiknya dalam realisasi apa yang disebut Halbertal dengan “self-transcendence” dan “sacrificial logic” sebagai ‘substitusi’ material dan immaterial hakikat korban dan pengorbanan. Dan ekspresi mitis dan mistisnya: Love (Caritas).

MOR-HJP Bersama Umat Islam di Hari Raya Idul Adha 1441 H

MOR-HJP saat menyerahkan hewan qurban (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Kepedulian yang tinggi terhadap umat Islam Kota Manado ditunjukkan Mor Dominus Bastiaan, SE dan Hanny Joost Pajouw kedua politisi santun ini, Jumat (31/7/2020) bertempatan dengan Hari Raya Idul Adha 1441 H, rela menggunakan waktunya untuk bertemu umat Islam Manado. Mor yang juga Wakil Wali Kota Manado itu kali ini memberikan bantuan hewan qurban kepada umat Islam yang merayakan Hari Raya, bersama HJP sapaan akrab Hanny.

Kebaikan dan perhatian MOR-HJP itu mendapat apresiasi umat Islam seperti disampaikan Imam Masjid Sis Al-Djufrie, Switno Karim SPd, atas bantuan sapi kurban dari Calon Walikota Mor Dominus Bastiaan (MOR) sebagai bentuk kepedulian terhadap umat Muslim yang berhari raya.

”Alhamdulillah alladzi bi niā€™matihi tatimmus shalihat,” kata Imam saat menerima bantuan sapi kurban di depan Masjid Sis Al Djufrie, Kelurahan Malendeng, Kecamatan Pall Dua, Jumat (31/7/2020).

Selain mengucap syukur, Imam Masjid juga mendoakan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota MOR-HJP yang turut serta berkurban bersama umat Muslim di Kota Manado.

”Melalui imam masjid menerima dan berterima kasih atas sedekah yang diberikan oleh Pak MOR. Mudah-mudahan selalu sehat dan melaksanakan tugasnya sebagai Wakil Walikota,” tutur Imam Switno memanjatkan doa.

MOR-HJP ketika berada di Masjid Raya Manado (Foto Suluttoday.com)

Tak hanya itu, Imam juga mendoakan agar pemberian hewan kurban dapat menjadi alasan didepan hadirat Allah SWT sehingga dijauhkan dari segala sakit penyakit. insyaallah, doanya. Selain itu, di depan masjid MOR didampingi HJP, Noortje Henny Van Bone, dan Anggota DPRD Manado besutan Partai Demokrat, menyerahkan sapi kurban sembari memegang tali secara simbolis. MOR pada kesempatan tersebut mengatakan, ini adalah sukacita bersama seluruh warga Kota Manado.

”Khususnya bagi yang beragama Islam. Walaupun ditengah pandemi, perayaan Idul Adha ini boleh berjalan dengan baik,” ujar Mor.

Untuk diketahui, MOR dan HJP juga menyerahkan hewan qurban di Masjid Raya Ahmad Yani Kota Manado. Bersama masyarakat, bersilaturahmi salam-salaman meski dalam situasi menjaga protokol kesehatan COVID-19, MOR-HJP yang juga akan maju di Pilwako Manado 2020 ini mendapat sambutan luar biasa dari jamaah masjid Raya Ahmad Yani.

(*/Bung Amas)

Politik Praktis dan Bisikan Agitasi

Ilustrasi bisikan (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Ruang politik praktis selalu menyajikan kenyataan yang beragam. Tak seindah dalam buku-buku teori politik yang kita baca, sebab implementasi politik sering lebih melampaui hal teoritis. Kadang juga menyimpang dari apa yang dianjurkan dalam bacaan-bacaan literatur politik. Umpamanya laut bebas, politik tergantung pada angin, gesekan batu karang dari dasar laut, hentakan barang dari permukaan laut yang kencang. Namun juga tak memberi pengaruh di laut yang lain. Kecuali tsunami.

Keseriuan demi keseriun juga hinggap. Tak pernah sunyi, panggung politik kita di tanah air selalu ramai dan dipenuhi kisruh kepentingan. Bisikan agitas, saling sikut, banting-bantingan, sleding dan naik dengan menginjak pihak lain dilakukan. Wajah panggung politik kita penuh hianat, saling jegal menjadi biasa. Kemarin menjadi kawan karib tiba-tiba menjadi musuh yang menjengkelkan. Ada pula, hari ini menjadi rival (lawan), kemudian besoknya menjadi teman mesra.

Berjenis mainan saling lambung dalam manuver politik dilakukan. Rebut-rebutan kepentingan bagi para politisi adalah hal biasa. Melakukan tekel antara satu politisi dengan politisi lain juga dilihatnya sebagai dinamika demokrasi yang wajar. Padahal memiriskan, tidak etis lagi. Tapi begitulah tafsir politik kadang melewati batas etika yang distandarkan publik. Politisi saling puji di atas panggung, sederet prestasi, keberhasilan dirangkai menjadi jualan spektakuler. Kekurangan mereka nyaris tak ada dalam gambaran retorika di depan podium yang ditonton masyarakat tersebut.

Setelah itu, lain lagi urusannya. Memuji dan menghujat bagi politisi tertentu bukanlah tanda sayang, kagum atau marah. Melainkan hanya luapan mengisi pidato semata. Lebih parahnya lagi, itu semua dilakukan bukan dengan niat memberi dukungan atau menjatuhkan. Politisi memuji politisi lainnya, bisa bermakna ganda. Kalau benar-benar searah, satu kepentingan itu bertanda dia memberi apresiasi dan menguatkan. Jika berbeda kepentingan, berarti pujian tersebut akan berubah menjadi petaka.

Pesta dan acara perayaan kebahagiaan, bisa disisip menjadi momentum meratapi nasib lantaran sedih. Bahagia boleh berubah menjadu duka dalam hitungan singkat, dan cara-cara itu biasa dilakukan para politisi handal. Itu sebabnya, sebagian masyarakat kita nyaris kebingungan mendeteksi, menyimpulkan keberpihakan politisi dalam tiap momentum politik. Sering juga merubah-rubah seragam parpolnya, hari ini biru, besok merah, besoknya lagi kuning dan seterusnya. Dunia para politisi memang keras.

Bukan dunianya para binatang, tapi karaktek dan cara sebagian politisi menyerupai cara-cara kebinatangan. Contohnya saja mereka ‘melegalkan’ saling menghujat, saling membunuh bila politisi yang berseberangan dengannya menganggu kepentingannya. Menebar fitnah, padahal apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Bisikan maut dalam politik memang kejam. Dinding juga bisa bertelinga kalau dalam politik. Dalam hitungan tertentu para pendukung bisa menjadi pembenci.

Para pembenci menjadi pendukung, itulah pengaruhnya bisikan. Hari ini tertawa bersama, duduk manis bersama disatu panggung, besok menjadi berbeda. Saling marah-marahan, duduk saling membelakangi, berbeda panggung lagi. Agitasi atau hasutan menjadi alat efektif bagi politisi yang senang berantem untuk memuluskan kepentingannya. Politisi model ini tidak mau melihat situasi politik berjalan baik-baik saja. Kemauannya yaitu melahirkan gelombang dan konflik di panggung politik.

Hati-hati pula banyak berhamburan para pembisik. Kau menceritakan kebaikan, bisa mereka karang menjadi keburukan. Kau berbuat baik, boleh berubah seolah-olah kau berbuat jahat. Para pembisik ini tidak mau politisi yang tidak bersama-sama dirinya itu hidup tenang. Bekerjalah dia melakukan agitasi, menyampaikan hal buruk dengan harapan mendapatkan berkah politik. Menjual informasi hanya untuk menghancurkan orang lain, kemudian dirinya meraih apa yang dicita-citakan.

Atas bisikan tertentu mengakibatkan adanya salah kapra. Fenomena bisikan penuh propaganda banyak ditemui dalam lingkaran kekuasaan. Sesama tim pemimpin tertentu yang menang kontestasi politik saling melemahkan. Rebut simpati, mencari perhatian yang tidak lagi sehat sehingga saling bentrok. Alhasil, orang-orang dekat tumbang satu persatu karena saling menjatuhkan. Pemimpin yang harusnya mereka dikawal, tidak terkawal. Energi mereka habis dengan gontok-gontokan yang tidak produktif. Apalagi ketika pemimpin itu sensi, mudah percaya pada bisikan sesat dan menyesatkan. Maka terjadilah pica kongsi. Keretakan terjadi dari dalam tim sendiri, akhirnya menggerus soliditas dan mendatangkan bencana.

DAUD: Ulyas Taha Layak Wakili Umat Islam di Pilwako Manado

Ulyas Taha dan Muksin Daud (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Pembicaraan soal hajatan Pilkada Serentak 2020 terus mengalir deras. Untuk di Kota Manado sendiri, warga dan umumnya pengamat pemerhati sosial politik mulai mengajukan siapa jagoannya untuk tampil di Pilwako Manado. Kamis (30/7/2020), Muksin Daud warga Kota Manado yang juga menghidupkan diskusi-diskusi ‘warung kopi’ dan pegiat sosial menyebutkan bahwa sosok Drs. H. Ulyas Taha, M.Si, Ketua Wilayah Nahdlatul ‘Ulama (NU) Sulawesi Utara (Sulut) layak diusung sebagai calon Wakil Wali Kota Manado.

”Dari segi pengalaman kepemimpinan Pak Haji Ulyas Taha telah teruji. Itu sebabnya banyak pihak, terutama kalangan umat Islam Kota Manado, dan kami sendiri mendorong beliau untuk maju sebagai calon Wakil Wali Kota Manado. Ini bukan tanpa alasan, tapi telah melalui pertimbangan, data dan hasil survey bahwa popularitas dan juga elektabilitas Pak Ulyas meningkat. Haji Ulyas Taha layak wakili umat Islam Manado di kancah Pilwako Manado,” ujar Ucin Daud, sapaan akrab pria yang digambarkan Reiner Emyot Ointoe penulis buku UCIN(istik) Ledakan Kebenaran dan Semesta Literasi sebagai ‘pengubung’ (konektor) dalam interaksi sosial ini.

Lelaki yang juga kesehariannya sebagai penggusaha jam tangan, aksesoris dan pedagang kecil-kecilan itu menyebut keberadaan Ulyas di tengah masyarakat Kota Manado yang majemuk begitu terterima. Terutama di internal umat Islam, tidak hanya itu latar belakang Ulyas yang merupakan putra asli Gorontalo, mantan aktivis mahasiswa, pernah di KNPI dan sejumlah organisasi yang pernah mendidiknya membuat Ulyas punya daya pikat tersendiri untuk dipilih masyarakat.

”Kalau PDI Perjuangan mau menang, sosok Ulyas Taha sangat tepat diambil sebagai calon Wakil Wali Kota Manado yang mendampingi Wali Kota usungan PDI Perjuangan. Mari kita lihat rekam jejak Pak Ulyas yang merupakan tokoh umat yang berwawasan nasionalis religius ini, tidak punya catatan buruk berkonflik dengan masyarakat. Beliau sangat kami hormati sebagai aktivis muslim di Manado. Kekuatan Haji Ulyas yang kuat karena beliau latar belakangnya sebagai putra Gorontalo, kader NU, pernah sejak mahasiswa menjadi aktivis pergerakan mahasiswa. Semua itu menjadi keunggulan bagi beliau, dan ini nilai jual yang secara faktual beliau sangat disukai masyarakat. Kalau Haji Ulyas calon Wakil Wali Kota, saya yakin umat Islam Kota Manado akan bersatu dan siap memenangkan beliau,” kata Ucin saat diwawancarai di kawasan Jalan Roda Manado.

Bung Ucin juga memprediksi jika ada calon Wali Kota Manado yang merebut perwakilan umat Islam sebagai Wakilnya, maka paslon tersebut akan menang. Pria yang dikenal blak-blakan saat bicara itu mengatakan tidak dapat dihindari isu terkait politik representasi atau keterwakilan akan mencuat dan rajin dibicarakan masyarakat saat Pilwako Manado 9 Desember 2020 mendatang. Hal itu pula yang membuat dirinya begitu percaya diri memperjuangkan dan merekomendasikan Ulyas Taha sebagai calon Wakil Wali Kota Manado.

(*/Bung Amas)

BUNG RICHARD: Peristiwa Kudatuli Menjadi Tonggak Sejarah

Richard Sualang (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado, dr. Richard Sualang dalam perayaan Peristiwa Kudatuli, 27 Juli 1996 menggambarkan betapa momentum itu sangat bersejarah bagi partai berlambang Banteng Moncong Putih. Tidak hanya itu, Richard menyebut catatan dalam lembar kesejarahan Indonesia juga tertulis rapi.

Peristiwa 27 Juli 1996, disebut sebagai Peristiwa Kudatuli yang merupakan akronim dari kerusuhan dua puluh tuju Juli atau Peristiwa Sabtu Kelabu dikatakannya karena memang kejadian tersebut terjadi pada hari Sabtu. Sejak itu pula mentalitas, spirit dan daya juang kader-kader PDI Perjuangan makin kokoh. Bertambah kecintaannya terhadap partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum saat ini.

”Ini adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi, Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan. Begitu berkesan dan menjadi titik tolak bagi kebangkitan PDI Perjuangan,” kata Richard, saat diwawancarai Suluttoday.com, Selasa (28/7/2020).

Tambah Richard yang juga Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara dan pernah beberapa periode menjadi anggota DPRD Kota Manado, Wakil Ketua DPRD Kota Manado itu mengatakan bahwa Peristiwa Kudatuli menandai lahirnya kebebasan berdemokrasi di Indonesia. Semacam gerbang pembuka atas terkungkungnya nafas dan kran kebebasan di Indonesia.

”Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah dimulainya gerakan reformasi di tanah air. Doa kami bagi para pejuang partai yang gugur dalam peristiwa tersebut. Merdeka,” ujar Bung Richard begitu Richard Sualang akrab disapa.

(*/Bung Amas)

iklan1