Lonceng Demokrasi Dibunyikan, PAHAM, MDB-HJP, Manado Hebat Saling Takluk

Rebutan kekuasaan, ilustrasi (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Ritme politik memang sukar diprediksi. Berubahnya tak tergantung ruang dan waktu. Bahkan tiap saat bisa memungkinkan konstalasi politik itu berubah. Di Kota Manado, dalam momentum Pilkada Serentak, 9 Desember 2020 nuansa politik cukup bergairah. Tentu penyebabnya, selain pertarungan Pilwako nantinya akan didominasi kekuatan para politisi senior, juga karena resource politik yang akan bermain. Benturan kepentingan berupa bargaining tentu tidak lepas dari komunikasi-komunikasi politik yang terjalin.

Ada kompromi politik, ada pula konflik kepentingan (konflic of interest). Friksi dalam politik memang selalu ada, ia bagai satu koin mata uang yang kedua sisinya saling melengkapi. Umumnya kita mengenal friksi tersebut dengan istilah dinamika demokrasi. Saat dibuat simulasi, berdasarkan data sementara dari konstalasi Pilwako Manado, mulai teridentifikasi peta kekuatan gerbong politik, baik dari proses menggarap koalisi sampai menentukan rival. Politik memang mengenal yang namanya lompatan yang tak terduga (quantum political leap), hal itu sering kali sulit terdeteksi para ahli, pengamat dan lembaga survey kebanyakan.

Beragam slogan mulai diviralkan, tentu tujuannya sebagai pemberi tanda politik. Brand dan jargon politik diusung, sebagai bagian dari cara ‘menjual’ produk politik. Agar figur yang diperjuangkan dikenal masyarakat, popular, diketahui gagasan-gagasan perjuangannya, dan seterusnya kepentingan memudahkan kemenangan. Kaitan politik elektoral memang harus betul-betul dimanfaatkan para politisi, jangan kalah metode atau strategi. Termasuk membingkai diri agar dikenali publik. Sekarang sebagai pembuka, mulai ramai tarung singkatan dan jargon, diataranya MDB-HJP (Mor Dominus Bastiaan-Hanny Joost Pajouw) yang akrab diidentikkan dengan ‘Manado Diberkati dan Harapan Jadi Pasti’, PAHAM (Paula Amelia-Harley Alfredo Mangindaan).

Begitu pun dari PDI Perjuangan ada simbol atau slogan Hebat. Di Pilwako Manado kita mengenal istilah dengan insial RS (Richard Sualang), maju beRSama untuk Manado. AA (Andrei Angouw). IMBA ‘bale for Manado’ (Jimmy Rimba Rogi) yang dijagokan Partai Golkar. Setelahnya ada nama SSK (Sonya Selviana Kembuan) membawa semangat ‘Harapan Baru Manado’. Tentu para konsultan mereka akan berfikir keras untuk menarik perhatian masyarakat, mengatur kekuatan agar menang dalam pertarungan.

Pertarungan Pilwako Manado kali ini merupakan pertarungan sengit PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partai Demokrat dan Partai Golkar. Mereka secara institusi akan berusaha keras memenangkan kompetisi di Pilwako 2020 ini. Peluangnya hanya dua, bisa saling mengawinkan kepentingan dan bisa juga saling berebut kepentingan. Koalisi dan oposisi akan terjadi, maka cara tempur dilapangan ialah dengan berkompromi kepentingan atau berkonfrontasi. Dalam politik

Jika diperas lagi, maka akan muncul kurang lebih tiga pasangan calon di Pilwako Manado 2020. Berarti dari banyaknya partai politik, ada sebagian yang harus rela bergabung membentuk geng politik. Melakukan tawar-menawar kepentingan di dalam tubuh koalisi politik tertentu, begitu rumus kemenangannya. Tentu semua pengurus dan kader parpol tak mau ketinggal kesempatan dan melepas momentum politik ini lepas tanpa ada ‘keuntungan politik’ yang didapat.

Dari motivasi itu, dapat dipastikan perkawinan (koalisi) akan dibangun. Menang atau kalah itu urusan siasat politik masing-masing pihak yang berkompetisi, selain takdir Tuhan. Selain itu, kesiapan sumber daya perang juga menjadi trigger untuk meraih kemenangan politik. Komponen meraih menang itu tidak mudah, para kompetitor juga harus punya cadangan dan stok amunisi yang cukup agar kemenangan dapat diatur. Seperti kata Sun Tzu, ketika politisi yang memiliki kekuatan lebih dari musuh, tak mengapa menggempur musuhnya. Beda situasinya, jika ia berada pada posisi kekuatan seimbang, maka perlu ada trik pecah-belah kekuatan musuh.

Mengendalikan atau memobilisasi birokrasi bukan hal mudah. Hal ini memang menjadi barang mewah bagi para politisi, terutama modal mainannya petahana. Padahal disisi lain, birokrat itu sebagian besarnya masuk kategori pemilih rasional. Bukan kelompok massa mengambang (floating mass), artinya dari segi kemandirian menjatuhkan pilihan kepada figur yang mereka pilih begitu bebas bergantung pada mereka. Hanya saja ruang intrevensi terhadap mereka sering dilakukan, terutama birokrat karir yang memiliki jabatan struktural.

Terekam sampai detik ini, belum ada parpol yang mengeluarkan Surat Keputusan (SK) dukungan untuk calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado. Isu yang berkeliaran di media massa juga menjadi bagian penting untuk para dilirik DPP parpol. Karena mengejar survey popularitas dan elektabilitas, mestinya para kandidat ramai-ramai bekerja memberi diri pada masyarakat. Sebab bagi lembaga survey benaran, yang dikonfirmasi adalah pada masyarakat. Kecuali lembaga survey abal-abal yang mengarang hasil surveynya.

Dari kecenderungan itu, mengharuskan kandidat bergegas menawarkan program, memperkenalkan ide-idenya kepada masyarakat. Berkontribusi merupakan salah satu sarana efektif agar publik figur itu diingat dan dikenal masyarakat. Semua skenario politik, anggap saja masih tahapan simulasi. Semua tahapan pembicaraan politik untuk Pilwako Manado kali ini belum final, masih bergulir. Sehingga menjadi penting mereka yang berkepentingan cermat membaca situasi yang ada.

Peluang menang ada di pundak MDBHJP, juga berada dan bersama PAHAM. Seperti itu pula peluang yang setara berada pada RS-AA, SSK dan IMBA. Terlebih situasi sekarang KPU belum membuka pendaftaran bagi parpol secara resmi untuk mendaftarkan calonnya masing-masing. Perebutan kepentingan yang dilakukan tentu untuk kepentingan bersama masyarakat. Jadi fatal, manakala dari para calon kurang jeli membaca kekuatan pasangannya untuk akad. Taaruf politik jangan dilewatkan para politisi, harus dioptimalkan agar tidak ‘cerai’ diperjalanan. Atau agar tidak kalah dalam pertarungan, tapi saling melengkapi kekuatan kelak.

Dalam politik kita juga mengenal percakapan tentang presis dan probabilitas terjadinya error. Berdasarkan pengalaman banyak pihak yang telah merancang matang strateginya, namun sering kali gagal dalam implementasinya. Para konseptor, konsultan dan tim kerja dalam Pilkada juga kadang menemukan kekalahan karena bekerja hanya dengan tujuan menggugurkan kewajibannya, tapi tidak menyatu, tidak punya rasa yang sama dengan kandidat yang diusungnya. Visi yang diperjuangkan kandidat tidak dimengerti orang-orang sekitar, juga memicu kegagalan dalam kerja politik.

Sebagai cermin politik, kompetisi di Pilwako Manado ini sering dipakai diksinya sebagai tarung kewibawaan dan harga diri politik. PDI Perjuangan santer disebut-sebut akan bertarung habis-habis untuk memenangkan Pilwako Manado. Dimana sebelumnya PDI Perjuangan telah memengkan Pilgub, tapi Manado jatuh di tangan Partai Demokrat saat itu. Target ‘Manado Hebat’ (istilah yang identik dengan PDI Perjuangan) harus diraih, tapi posisi bertahan GS Vicky Lumentut yang kini telah bergabung di Partai NasDem juga pengaruhnya tak bisa dikucilkan. GS Vicky Lumentut tentu akan mempertahankan ‘prestasi’ politiknya itu.

Begitu pula dengan Wakil Wali Kota Manado saat ini, Mor Dominus Bastiaan, kader terbaik dan loyal di Partai Demokrat. Juga pasti tidak tinggal diam, secara kelembagaan tiap parpol pasti punya obsesi untuk terus berkuasa. Artinya, keberadaan Mor tak boleh dinafikkan akan mendulang kekuatan dukungan luas di masyarakat. Varian kekuatan ini akan saling beririsan, muaranya sudah pasti pada perebutan kemenangan di Manado. Adu kuat diperlihatkan untuk menang di Pilwako Manado 2020.

iklan1
iklan1