Akademisi Unsrat Anjurkan Cakada Manado Perhatikan Visi Misi

Drs Mahyudin Damis M.Hum (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pergeseran pemikiran di tingkatan pemilih, utamanya kalangan akar rumput tentang politik begitu kental. Sehingga memberi ruang yang cukup istimewa terhadap praktik pragmatisme politik. Hal ideal soal perjuangan politik kerakyatan, seolah pudar tidak diminta masyarakat. Menanggapi hal itu, Drs. Mahyudin Damis, M.Hum, pengamat politik dan pemerintahan menyampaikan edukasi politik.

“Saatnya visi misi lebih realistis secara logika disampaikan politisi. Para politisi yang mencalonkan diri menjadi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tentu ketika hendak menyusun visi dan misi sesungguhnya mereka sudah memahami dan tamat dengan persoalan serta tantangan birokrasi yang sedang dihadapi oleh warga suatu daerah, misalnya Kota Manado,” ujar Damis, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISPOL) Unsrat Manado ini, Kamis (2/7/2020).

Selain itu di level daerah umumnya, tambah Damis calon Kepala Daerah (Cakada) perlu jeli membaca kecenderungan kebutuhan masyarakat secara dominan. Situasi sosial itu menjadi bahan pertimbangan dan masukan untuk diuraikan melalui gagasan besar dari kandidat Kepala Daerah. Mulai apatisnya masyarakat melirik visi misi calon menurutnya juga dikarenakan ada calon Kepala Daerah yang merancang visi misi terlalu ‘melangit’ tinggih sehingga tak mampu di bumikan saat memimpin.

“Kabupaten/Kota lainnya dan bakan Provinsi Sulawesi Utara. Mereka sudah paham betul ‘isi perutnya’ daerah yang bakal mereka pimpin. Sehingga mudah merealisasikan janji-janji politiknya. Jika mereka belum paham betul, maka dapat dipastikan bahwa visi misi yang dikampanyekan nanti hanyalah sebagai sebuah instrumen pencitraan diri untuk meraih simpati rakyat,.dengan begitu, mereka membuat janji-janji politik yang sangat realistis, berdasarkan kebutuhan rakyat di lapangan. Ini bagian penting dan strategis secara politik,” tutur Damis.

Tidak hanya itu, Damis menyentil bahwa soal kejujuran menyederhanakan realitas sosial dalam visi misi juga penting diperhatikan secara serius. Tak kalah penting ialah format visi misi mesti dibuat berdasarkan kemampuan untuk dapat direalisasikan selama saat periode. Konteks Pilkada yang rentan kecurangan sekaligus kurun waktu yang tidak lama juga menjadi catatan para kandidat Kepala Daerah dalam menyusun visi misinya.

“Apalagi Pilkada kali ini bisa jadi hanya menjabat selama 3 tahun, karena pilkada serentak se-Indonesia yang akan datang. Oleh karena fungsi-fungsi partai politik selama ini belum berjalan sebagaimana mestinya menurut teori politik, maka sebaiknya publik mendorong para calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado memformulasikan janji-janji politiknya sesuai permasalahan-permasalahan yang tengah dihadapi wakil-wakil rakyat yang ada dalam Komisi 1, 2, 3 dan 4 yang kini masih menggantung. Artinya sisi koneksitas dan kerja sama sinergis diperlukan,” kata Damis yang juga pengajar Mata Kuliah Antropologi Politik ini.

Tambahnya lagi, kompetitor Pilkada harus tau apa kepentingan-kepentingan masyarakat yang masih belum terealisasikan pada masin-masing komisi di DPRD itu. Setelah tau apa masalahnya, kemudian mereka harus memberitahukan pula bagaimana cara mengeksekusinya. Itu lebih masuk akal ketimbang sekedar jual kecap manis nomor 1.

(*/Bung Amas)

iklan1
iklan1