Catatan S2 Memperingati HUT 397 Manado

Syarifudin Saafa (Foto Istimewa)

Oleh : Syarifudin Saafa, Ketua DPW PKS Sulawesi Utara

Manado telah banyak kemajuan melampaui Kabupaten/Kota lainnya di Sulawesi Utara. Bahkan bila dibandingkan dengan kab/kota lainnya di kawasan timur Indonesia setelah Kota Makassar pun demikian ada sejumlah persoalan klasik yang belum mendapatkan solusi di usianya ke 397 tahun. Beberapa diantaranya adalah pertama, infrastruktur yang tidak ramah Air. Sebagai sebuah kota yang telah berusia hampir 4 abad, seharusnya persoalan dasar sebuah kota berupa infrastruktur sudah tuntas. Realitasnya hari ini adalah persoalan infrastruktur itu khususnya infrastruktur drainase dan jalan masih membutuhkan alokasi sumber daya yang besar ke depan.

Saat ini infrastruktur kota belum ramah air. Hujan sejenak terjadi genangan dimana-mana. Dan tidak jarang genangan air yang deras dan bervolume besar itu menyebabkan banjir mini yang memasuki rumah rumah warga tanpa permisi. Keadaan ini berdampak pada banyak aspek dan mempengaruhi banyak hal. Mulai dari rasa nyaman dan aman masyarakat, menyebabkan keterpurukan ekonomi, kerusakan infrastruktur lainnya, serta dampak ikutan lainnya.

Dan tidak jarang genangan air yang deras dan bervolume besar itu menyebabkan banjir mini yang memasuki rumah rumah warga tanpa permisi. Keadaan ini berdampak pada banyak aspek dan mempengaruhi banyak hal. Mulai dari rasa nyaman dan aman masyarakat, menyebabkan keterpurukan ekonomi, kerusakan infrastruktur lainnya, serta dampak ikutan lainnya.

Kedua, Pengelolaan Sungai dan dampak ikutannya. Tuhan Yang Maha Kuasa menganugerahkan 5 sungai besar yang membelah kota Manado. Sudah pasti ada hikmah besar dibalik itu semua. Bahwa sungai-sungai itu dimaksudkan untuk membawah berkah kehidupan masyarakat. Bukan sebaliknya. Sekali lagi bukan sebaliknya. Dimana setiap tahun selalu menjadi momok menakutkan bagi warga kota terkhusus mereka yang tinggal disekitaran bantaran sungai. Keadaan ini menyebabkan rasa aman dan nyaman warga terganggu secara massif. Kehidupan sosial dan ekonomi sangat terganggu.

Bayangkan, pasca banjir warga yang mendiami sekitaran bantaran sungai membeli perabot, perbaikan rumah, dan lain sebagainya ketika terjadi luapan air sungai (banjir) menyebabkan kerusakan atau kehilangan kembali apa yang telah diperbaiki dan dibeli tersebut. Ini sama saja dengan gali lubang tutup lubang. Dan akan melanggengkan kemiskinan kota.

Pengelolaan sungai yang belum baik adalah PR kota ini. Kita membutuhkan cara pandang baru dalam memandang lingkungan terkhusus sungai yang membelah kota ini. Ada begitu banyak ide kreatif yang dapat kita hidangkan dalam pemanfaatan sungai yang pada gilirannya memberikan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat. Pada konteks ini pula, dibutuhkan sinergisitas antara pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kota serta pemerintah Kabupaten yang bersinggungan dengannya.

Ketiga, Persoalan Sampah Kota Pemerintah telah bekerja keras mengatasi masalah sampah kota yang bervolume sangat tinggi. Kerja keras itu wajib kita apresiasi. Pun demikian, ada yang harus diperbaiki. Bahwa selama ini, cara penanganan sampah kota masih berputar pada memindahkan sampah. Penanganan sampah rumah tangga, dan sampah dunia usaha termasuk sampah dari instansi pemerintah baru sebatas dipindahkan.

Pola semacam itu selamanya tidak menyelesaikan masalah. Bahkan berdampak buruk bagi lingkungan. Kita membutuhkan pengembangan pola penanganan sampah. Kita jangan berpola pindah saja. Tetapi harus dikelola secara baik dengan melibatkan teknologi modern yang ramah lingkungan dan berefek ekonomis bagi masyarakat serta terkelola secara profesional. Kita butuh cara baru. Dan itu bisa kita lakukan.

Keempat, Penanganan Pasar Pasar sebagai tempat saling berinteraksi aksinya masyarakat lintas latar belakang (suku, agama, ras dan budaya) masih memprihatinkan. Keprihatinan terhadap pengelolaan pasar dimaksud terkait dengan aspek infrastruktur pasar, manajemen pasar, kesejahteraan pedagang, profesialisme dan kesehatan perusahaan PD Pasar, dan rekayasa lalulintas dan selainnya. Infrastruktur pasar cukup memprihatinkan. Apalagi bila kita bandingkan dengan pasar semacamnya di kota – kota lainnya di Indonesia. Masih jauh. Dan butuh sentuhan khusus. Apalagi berbicara tentang kesejahteraan pedagang.

Masih jauh. Padahal mereka berjualan sudah berbilang puluhan tahun. Namun nampaknya tidak ada yang berubah dari kehidupan mereka. Realitas itu hadir bukan karena kemalasan para pedagang. Mereka sangat rajin. Mereka ke pasar dini hari dan ada yang pulang malam hari. Manajemen PD Pasar juga demikian. Terlalu gemuk. Karyawannya terlalu banyak.

Sehingga nampak seperti perusahan yang over obesitas. Jangankan diajak lari, bertahan berdiri saja serasa tak mampu menahan beban di atasnya. Ini harus dirubah. Hingga kini belum sama sekali nampak pengembangan dari PD Pasar. Padahal ada organ direksi pengembangan usaha. Apalagi kita bicara kontribusi kepada PAD. Sama sekali tidak relevan. Karenanya perlu dirubah. Agar pedagang sejahtera, dan perusahaan sehat dan maju.

Kelima, Persoalan Kemacetan dan dampak ikutannya Macet adalah wajah harian sebuah kota yang maju. Dan realitas itu telah hadir di tengah-tengah warga kota. Keadaan ini membutuhkan antisipasi. Salah satunya dengan menciptakan alternatif. Alternatif yang dimaksud adalah transportasi air. Dimana kondisi geografis kota sangat mendukung.

Diperlukan kebijakan khusus. Penyediaan alat transportasi air modern dan infrastruktur terminal yang memadai maka akan sangat membantu upaya mengatasi persoalan kemacetan yang suka tidak suka pasti akan menjadi problem ke depan secara serius Pada sisi yang lain, dampak ikutannya adalah terciptanya kegiatan ekonomi baru khususnya adanya lapangan kerja baru.

iklan1
iklan1