Jurus ‘’Mabuk’’ Sehan Landjar di Pilkada Sulut

CEP dan SSL (Foto Istimewa).jpg

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Sehan Landjar yang akrab disapa Eyang atau Sehan Salim Landjar, SH (SSL), merupakan politisi handal dari Sulawesi Utara. Selain dijuluki singa podium, kelakar politik dan manuvernya ‘minta ampun’, lincah. Tak perlu diragukan lagi rekam jejak politisi senior yang satu ini. Nah, bagaimana dengan move politik yang dilakukan Eyang di Pilkada Serentak 2020?. Tentu banyak pihak menunggu kejutannya.

Untuk skala Pilgub Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Eyang mulai terlihat ‘bermain’ dengan CEP (Christiany Eugenia Paruntu) Bupati Minahasa Selatan (Minsel) dua periode, dan juga Ketua DPD Partai Golkar Sulut, tentu targetnya yaitu berduet di Pilgub Sulut sebagai calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur bukan bermotif lain. Bertepatan dengan posisi Eyang yang juga Bupati Bolaang Mongodow Timur (Boltim) dua periode sekaligus Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN), membuat Eyang begitu diperhitungkan di atas panggung politik.

Eyang memang gesit, dan sempat viral saat pandemic COVID-19. Kurang elok kalau politisi kawakan ini dituduh nebeng momentum. Ada satu istilah yang identik dengan Eyang ketika bercakap politik, ia dikenal sebagai penggagas jurus politik ‘menangkap angina dengan keranjang’. Agresif dan kadang sukar diterka mainannya. Eyang mulai membuka jurus ‘mabuk’. Dapat dianalisa, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana agar tidak tertinggal atau ditinggalkan dalam momentum Pilkada Serentak.

Dirinya harus dapat manfaat dari pesta politik 2020 ini. Terlebih Eyang harus kerja keras untuk mengamankan anaknya Amalia Landjar di Pilkada Boltim. Tergolong politisi penuh ceria gembira memang Eyang dikenal, tapi kebanyakan hitung-hitungan politiknya akurat. Politisi yang merangkak dari bawah dan matang ini rupanya masih punya obsesi mewariskan kepemimpinan di Boltim kepada anaknya.

Terendus Eyang turut menjadi penentu dalam mewarnai peta dan konstalasi politik di Sulut, ada 3 (tiga) skenario pasangan di Pemilihan Gubernur (Pilgub) dan target Kotak Kosong di Boltim, Eyang sebagai pelopornya. Target tersebut jika benar-benar diterapkan Eyang, berarti menambah ‘puji-pujian’ pendukungnya terhadap Eyang. Tapi memang tidak mudah, karena Eyang berada dalam pusaran kepentingan yang bisa membawa resiko dirinya dianggap sebagai penghianat diakhir permainan kelak. Reputasi Eyang bisa jadi dipertanyakan politisi sejawatnya, atau oleh publik.

Sebab diketahui, Eyang bukan ‘ular minya’. Apalagi derajatnya sebagai politisi senior mengharuskan dirinya menempatkan diri sedemikian rupa agar tegak lurus menjadi teladan bagi publik. Bagi yang mengenal Eyang tidak lagi terkejut dengan kata-kata meyakinkan yang dilantunkannya dalam bicara. Baik di rumah-rumah kopi, tempat main catur, meja makan sampai ruang diskusi formal Eyang memang konsisten kalau bicara kepentingan bersama. Namun dalam implementasinya, tergantung kita memandang dan mengukurnya masing-masing.

Selain itu terkuak juga Eyang akan bermain jurus mabuk dengan menerapkan komitmen politik ‘tiga kaki’. Eyang disebut akan maju sebagai calon Wakil Gubernur hanya semata-mata melahirkan pembagian kekuatan politik (competitor) menjadi 3 pasang calon. Rupanya by order, apakah Eyang ‘selingkuh’ kepentingan dengan PDI Perjuangan?. Hanya dirinya dan Tuhan yang tau itu. Kita sekedar merangkaikan informasi dan merelevansikan gerakan politisi pemberani ini.

Menghindari head to head di Pilgub, maka Eyang harus maju mendampingi CEP. Bila head to head, petahana Olly Dondokambey tentu kelabakan menghadapi VAP. Misi yang yang diduga kuat dilakukan Eyang yaitu PDI Perjuangan di Boltim harus berada dalam rangkulannya. Artinya kemenangan awal Pilbup Boltim telah mampu diraih Eyang dengan membangun komitmen politik agar PDI Perjuangan memberikan Surat Keputusan (SK) rekomendasi dukungan kepada anak tersayangnya Amalia.

Tidak main-main Eyang coba mengikuti gaya berpolitik Bupati Minahasa Tenggara (Mitra) James Sumendap yang melawan ‘Kotak Kosong’. Berarti CEP benarkah terjebak dan termakan strategi jitu dari Eyang?. Bisa benar, bisa juga tidak. Beredar kabar Eyang sempat menebar ‘terror’ kepada DPP PAN, jika keinginannya tidak diikuti, maka Eyang akan mundur dari PAN. Politisi vokal yang satu ini mau melakukan barter kepentingan. Sederhananya DPD PAN di Kabupaten/Kota yang ada di Sulut harus tertib mengikuti kemauannya.

Terutama aktivis parpol dan aktivis pergerakan masyarakat, tentu mengetahui kedekatan Eyang dengan James Sumendap. Keakraban mereka akan bermuara pada penyamaan sikap dalam membangun komunikasi-komunikasi politik. Skema Amalia Landjar melawan Kotak Kosong bisa terjadi di Boltim. Santer juga terdengar isu Eyang mendapat mahar politik dari CEP, karena Eyang dianggap punya popularitas, telah viral belum lama ini sehingga menjadi rebutan para politisi.

Eyang dianggap mampu menarik lumbung suara BMR (Bolaang Mongondow Raya). Padahal, kalau dilacak tidak sepenuhnya akurat anggapan tersebut. Dapat dikatakan politisi PAN yang satu ini mulai berhasil memainkan perannya di Pilkada Sulut, secara apik dan santun Eyang bermain lihai. Target melahirkan 3 paslon di Pilgub Sulut tengah dimainkannya, hal itu tentu tidak gratis secara politik. Eyang sudah tentu mendapat berkah dan manfaat.

Ketum DPP PAN, CEP dan SSL (Foto Istimewa)

Terlebih permainan Eyang penuh resiko yang besar. Beberapa sumber akurat orang dekat Eyang menyebutkan bahwa Eyang maju di Pilgub untuk kalah. Atau dalam istilah Aktivis Muslim Sulut (AMS) disebut ‘kalah tapi untung (menang)’. Benarkah CEP, Golkar dan DPP PAN terkecoh dengan jurus mabuk Eyang?. Kita nantikan saja realitas politik setelah ini. Tidak dapat disangkal, Eyang maksimal memanfaatkan keviralan tersebut. Sampai-sampai CEP mengaguminya, siap menjadikan Eyang sebagai calon Gubernur mendampinginya.

Tentu keberhasilan penetrasi politik yang mulai nampak dilakukan Eyang melahirkan kepuasan tersendiri bagi dirinya. Eyang, begitu santai, murah senyum tapi ‘berbahaya’. Terpotret pula gelagat politik Bupati Boltim 2 periode itu semata-mata berjuang untuk kepentingan dirinya dan keluarga, barulah kepentingan banyak pihak diperjuangkan. Tipikal politisi yang melanggengkan dan menjadi budak dari politik dinasti. Putra pertama Eyang yakni Fuad Landjar juga kini menjadi Ketua DPRD Kabupaten Boltim periode 2019 – 2024, dan juga istrinya bernama Nursiwin Dunggio, menjadi Anggota DPRD Provinsi Sulut periode 2019 – 2024. Tidak mudah peran yang dimainkan Eyang.

Dan akhirnya semua bisa berpotensi terjebak dan terkecoh dengan jurus mabuk yang dipentaskan Eyang. Politisi senior yang piawai berpolitik ini punya kelebihan membaca tanda-tanda kemenangan dalam politik. Eyang mengerti betul betapa beratnya melawan petahana Olly DondokambeySteven Kandouw (ODSK), sehingga pada kontestasi kali ini Eyang pasrah. Kemudian siap berada dalam barisan menangkan ODSK. Manuver Eyang perlu dibaca secara komprehensif, boleh saja ini bagian dari cara Eyang memperkuat ODSK, agar ODSK menang di Pilgub Sulut, Eyang harus bersama CEP. Dalam peran itulah Eyang diuntungkan secara berlimpah. Kompensasi politik untuk anaknya tercinta tidak murahan, anak Eyang (Amalia) harus mendapat dukungan dari PDI Perjuangan di Pilkada Boltim 2020, itu upayanya. Pantaslah gerak politik Eyang dicurigai saat ini.

iklan1
iklan1