MOR, RS/AA, JPAR dan IMBA dalam Pusaran Pilwako Manado

MOR, RS, AA, JPAR dan IMBA (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di musim pandemi, 9 Desember 2020 akan berlangsung tensi politik yang sedikit berbeda. Selain anjuran pemerintah untuk tetap melakukan social distancing dan menghindari kerumunan, penyelenggara Pilkada pun bergerak tidak seramai dahulu. Kini segala tahapan dilakukan atas prinsip menjunjung tinggi protokol COVID-19. Pada entitas lain, loby-loby politik dan bargaining kepentingan tetaplah tumbuh.

Agenda demokrasi memang tidak pernah sunyi dalam konteksnya barter kepentingan dan adu kuat. Di Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado sejumlah nama mulai terpublikasi di media massa. Diantaranya, ada Mor Dominus Bastiaan (MOR), Jelyeta Paulina Amelia Runtuwene (JPAR), Jimmy Rimba Rogi (IMBA) dan Richard Sualang (RS)/Andrei Angouw (AA). Masing-masing mereka tampil sebagai kontestan calon Wali Kota Manado, jika skema koalisi berjalan normal tak ada kejutan politik, maka pasangan calon Wali Kota Manado memungkinkan 4 (empat) pasang calon.

Walau pun dari sisi kekuatan bila dibedah, bisa menjadi relatif, debatebel dan saling klaim. Mor dikabarkan berpasangan dengan HJP (Hanny Joost Pajouw), meski belum memegang SK (Surat Keputusan) dari partai politik, MOR-HJP sudah optimis mendapatkan dukungan dari Partai Demokrat. Tentu bukan tanpa alasan, mereka para politisi senior dan ada pula akademisi senior yang rekam jejaknya patut diperhitungkan.

JPAR yang santer dibicarakan telah berduet dengan Harley AB Mangindaan (HABM) mulai membentuk poros koalisi. JPAR-HABM mengidentifikasi diri secara politik bahwa akan didukung Partai NasDem sebagai saldo awal koalisi. Beberapa parpol lain sedang mereka garap. IMBA yang adalah mantan Wali Kota Manado ini dipasang-pasangkan dengan sejumlah bakal calon Wakil Wali Kota Manado, ada nama Boby Daud, dr. Makmun Djafara dari PAN. Ada pula nama Lily Binti dan Ruby Rumpesak yang digadang mendampingi IMBA.

Selanjutnya faksi politik yang diprediksi kuat adalah Andrei. Politisi pengusaha ini dinilai layak berpasangan dengan Richard Sualang, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Manado yang juga Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Andrei juga disebut-sebut sedang digodong bersama Asiano Gemmy Kawatu, birokrat senior yang kini menjabat posisi Asisten Administrasi Umum Pemprov Sulut. Politik memang punya logikanya sendiri, kadang dipandang tidak logis untuk kepentingan representasi kepentingan, tapi dalam kacamata politik dinilai sepadan dan layak, maka jadi logislah semua itu.

Relatifisme dalam politik memang begitu terbuka. Kemungkinan peta politik berubah atas hal-hal tertentu juga sering kita jumpai dalam pertempuran politik. Sebut saja salah satu contohnya, sosok Richard Sualang dinilai pantas menjadi calon Wali Kota Manado, tapi dalam kacamata perkawinan kepentingan bila tidak selaras, tidak seiring sejalan, maka kepantasan hanya akan menjadi harapan yang bercokol dalam pikiran.

Praktek di lapangan mengatakan lain. Itulah unik dan menjadi seni dalam politik, tidak semua hal ideal dalam amatan kita, ideal pula dalam kacamata politik. Politik juga soal dominasi dan daya tawar, politisi harus memiliki itu. Tidak sekedar kemampuan basis dukungan yang luas, ketersukaan publik, kepercayaan orang banyak terhadapnya. Lebih dari itu, politisi diminta untuk mampu mengkompromikan kepentingannya dengan kepentingan para pemburu kepentingan lainnya. Harus ada nilai jual, bukan sekedar modal sosial.

Diperkirakan terkait perang isu di Pilwako Manado kali ini juga ramai. Rebutan simpati dari konstituen pasti dilakukan masing-masing paslon kandidat Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado. Jualan isu potensial adalah masih soal isu-isu klasik, seperti politik identitas. Kampanye politik materialisme, isu sektarian juga akan diselundupkan dalam kampanye-kampanye informal. Rumah ibadah tidak tergadai, tapi akan menjadi komoditi politik yang strategis.

Menerima atau tidak, kita sudah memasuki Pilkada yang mentradisikan media daring (virtual) sebagai sarana komunikasi publik. Kita mulai masuk di rimba gelap pertarungan isu di media sosial, sampai di ruang-ruang terbuka. Kampanye hitam (black campaign), hoax dan pembunuhan karakter (character assassination) menjadi santapan publik yang akan disodorkan masing-masing tim pemenang untuk melemahkan lawan tandingnya. MOR, JPAR, IMBA dan RS/AA merupakan potret generasi terbaik di yang akan bertarung dalam ruang demokrasi di Manado.

Dalam level kandidat, tentu isu-isu produktif yang dibangun dan dipelihara. Tema politik penuh kerukunan, kebersamaan, persaudaraan dan kemajuan yang dibicarakan. Sama-sama membawa gagasan besar (grand narasi) dalam pembangunan, tak mungkin mereka melepaskan ‘peluru hampa’ dalam pertarungan Pilwako Manado. Artinya, sumber daya telah disiapkan, visi dan misi mereka tentu berkualitas. Tidak asal-asalan, apalagi abal-abal.

Turun pada level tim pemenang yang menerapkan marketing politik, biasanya segala cara dan strategi politik dipakai. MOR, JPAR, IMBA dan RS/AA, merupakan pemimpin yang berfikir ke masa depan, orang-orang berhasil yang kini kita menjadikan mereka sebagai panutan dalam politik. Tidak mudah berada dalam capaian tersebut. Kita menahan diri dulu, menanti apa gerangan kejutan yang diberikan mereka dalam penentuan koalisi. Selamat menggelorakan demokrasi dengan isu-isu dan tema yang konstruktif.

Politik itu bicara soal keterwakilan. Tentu keterwakilan kepentingan kelompok, serta masyarakat pada umumnya. Deretan nama-nama itu akan memberi legacy tentang kelayakan mereka sebagai pemimpin rakyat, bukan pemimpin golongan agama tertentu. Memang politik representasi telah mengakar dalam pandangan hidup masyarakat kita, sehingga untuk kepentingan elektoral sukar rasanya dihindari jika ada masyarakat yang menentukan pilihannya berdasaran emosi tertentu.

Demokrasi kita telah memberi ruang itu, ruang kebebasan memilih. Masyarakat bebas menentukan calon pemimpinnya disaat Pemilu atau Pilkada. Kembali ke masyarakat apakah mereka mau mengedepankan kepentingan jangka pendek maupun yang jangka panjang. Karena proses sayembara memilih pemimpin untuk situasi Kota Manado saat ini adalah melalui instrument partai politik. Bagi jalur independen (non parpol) sudah selesai waktunya dalam proses pendaftaran. Sehingga parpol punya peran begitu besar dalam menyajikan pilihan-pilihan calon pemimpin kepada masyarakat.

Deretan nama lain yang muncul dan santer dibicarakan masyarakat untuk meramaikan bursa calon Wali Kota Manado, belakangan yakni Sonya Selviana Kembuan (SSK), Johanis Victor Mailangkay (JVM), Rio Permana Mandagi (RPM). Belum terhitung line up bakal calon Wakil Wali Kota Manado yang cukup banyak menampilkan politisi-politisi ternama di Manado. Panggung politik di tahun 2020 ini kita berharap lebih berkualitas lagi dibanding tahun tahun sebelumnya. Kita kompak mendorong edukasi politik dibangun, agar masyarakat tidak tersesat, tidak dibohongi para politisi yang tidak punya niat mulia membangun daerah dengan praktek politik penuh hasutan dan destruktif.

Pada segmentasi lain konstalasi politik di Manado dipastikan makin kompetitif dan penuh warna manakala IMBA berpeluang lolos menjadi kontestan di Pilwako Manado. Figur yang masih punya massa pendukung militan ini akan memaksimalkan kekuatan guna meraih kemenangan. Memang tantangan IMBA hanya satu, yakni peluang akan terjegal karena statusnya yang dalam tafsir hukum masih ada pro kontra.

iklan1
iklan1