PAHAM di Tengah Kontestasi Kepentingan

Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Tidak mudah memutuskan sebuah pilihan yang kedua-duanya menjanjikan. Situasi itu kira-kira dirasakan Prof. Dr. Julyeta Paulena Amelia Runtuwene, MS sang Rektor Universitas Negeri Manado (Unima). Disaat yang bersamaan, Prof Paula begitu istri tercinta Wali Kota Manado 2 periode Dr. GS Vicky Lumentut ini akrab disapa dalam pusaran pilihan yang ‘menggoda’.

Memilih melanjutkan jabatan Rektor tentu lebih mudah. Selain petahana, JPAR (Prof Paula) dinilai berhasil memajukan Unima menjadi Perguruan Tinggi yang diperhitungkan dan JPAR pasti punya nilai lebih dibanding kontestan calon Rektor lainnya. Karyanya telah dirasakan civitas akademika Unima, secara otomatis trustnya terjaga.

Prof Paula memilih maju dalam suksesi Pilwako Manado, Desember 2020 mendatang. Tantangan yang tidak mudah harus diambil sang Guru Besar itu. Hal tersebut tak lain adalah wujud keterpanggilannya untuk mengabdi kepada masyarakat Kota Manado plural ini. Dari perspektif kepemimpinan perempuan yang murah senyum itu tak perlu diragukan lagi.

Komunikasi publik, etika dan prinsip-prinsip kepemimpinan bukan hanya dimengertinya dalam teori. Melainkan lebih dari itu, Prof Paula telah menerapkan dalam aktivitas kesehariannya. Kemajemukan juga terpancar dalam pergaulan sosialnya yang tidak sektarian, tidak anti agama atau suku tertentu. Perempuan berdarah Tomohon itu bukan sosok yang ujuk-ujuk menjadi pemimpin. Tapi, telah melewati antrian panjang ujian dan penggodokan kepemimpinan.

Manado dalam tantangan kedepan membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki wawasan luas. Punya pandangan futuristik, peka terhadap kondisi masyarakat, terlebih yang mengerti seluk-beluk Kota Manado secara geografis, sosio-kultural dan kondisi ekonomi masyarakat. Prof Paula telah beradaptasi dan mengetahui anatomi Kota Manado, sudah pasti karena mengikuti betul kiprah suaminya membangun Manado sebagai Wali Kota.

Tentang kesejarahan Manado juga dikenali betul Prof Paula. Sebab, seperti kata Bung Karno ‘Jas Merah’ (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Bagaimana pun itu konstruksi sejarah hari ini merupakan warisan yang ditinggalkan para pendahulu, sebelum kita. Itulah pentingnya seorang pemimpin memahami sejarah secara lengkap. Bagi pemimpin yang ahistoris, pasti menemui kendala dalam mengkonsolidasikan masyarakatnya dalam mewujudkan kerukunan dan kemajuan.

Berbeda tentunya sepenggal memahami sejarah. Pemimpin yang mengerti akan lebih mudah melakukan akselerasi pembangunan, tidak menabrak kearifan lokal. Pemahaman dasar tersebut bisa menjadi acuan dan pembeda. Jika kita lebih jauh membaca literatur sejarah, para ahli menyarankan menghidupkan sejarah dan menggalinya jauh kebelakang agar kita, terutama pemimpin dapat mengembangkan proyeksi pemikirannya lebih jauh lagi kedepan. Patahan sejarah hanya akan dihasilkan oleh orang-orang yang gagal membaca sejarah secara integral (utuh). Prof Paula beruntung berada dalam posisinya saat ini.

Setelahnya, kenapa harus PAHAM (Paula-Harley Mangindaan)?, ini pilihan yang bukan tanpa pertimbangan. Atau pilihan yang didasarkan atas emosi dan sahwat politik semata. Lebih dari itu adalah keterpaduan kepemimpinan yang apik. Saling mengisi kekosongan kepemimpinan, dimana Harley Mangindaan selain sebagai potret politisi milenial juga representasi dari seseorang yang pernah berpengalaman menjadi Wakil Wali Kota Manado.

Pengalaman memimpin yang dinamis, energik dan sederhana itu akan menambah energi bagi Prof Paula kelak jika menjadi Wali Kota Manado. Untuk menjadi PAHAM, dibutuhkan perpaduan langkah yang selaras. Bukan sekedar tukar tambah kepentingan pribadi, namun bagaimana meletakkan harapan publik untuk mereka realisasikan. Tidak mudah dalam tafsir “paham” secara umum terhadap jualan ide atau gagasan (produk) untuk diterima halayak ramai.

Situasi ini membutuhkan sarana untuk membuat PAHAM banyak pihak. Melakukan edukasi agar semua pihak benar-benar PAHAM. Bukan menjadikan PAHAM sekedar jargon yang miskin narasi intelektualnya. Ada impresi yang dalam ketika publik mendengar kata PAHAM, tidak sekedar berarti mengerti, memahami sesuatu hal. Selain itu, menuju ke level paham setiap orang perlu belajar, mengerti, mengenali apa yang harus mereka pahami. Maka, mereka yang berada dilingkup dan rumah besar PAHAM harus mematangkan kecerdasan. Memperkuat kampanye yang bersifat mendidik publik. Ada gagasan konstruktif yang dipamerka.

Dengan terjunnya JPAR ke panggung politik, bukan berarti dirinya mau melanggengkan kekuasaan suami. Jauh lebih penting adalah menjadikan jabatannya sebagai Wali Kota Manado berikut sebagai ladang pengabdian. Dunia politik praktis memang relatif berbeda iklimnya dengan tradisi intelektual yang dibangun di kampus. Pentas politik memang penuh rintangan, gelombang dan hasut-menghasut. Publik, terlebih mereka yang merasa bagian dari PAHAM berharap JPAR sudah punya benteng menghadapi semua hal itu.

JPAR harus betul-betul menjaga keseimbangan. Untuk meraih simpati publik dalam konteks politik elektoral juga tidak mudah. Ketenangan, penuh perhitungan dan kesantunan yang tercermin dari dirinya itu saja tidak menjamin publik ramai-ramai memilih. Perlu pergerakan massif, pendekatan yang tepat dan jualan program yang menyentuh di jantung hati masyarakat. Kehadiran JPAR di ruang politik kita harapkan makin menambah dialektika gagasan (nilai), sehingga praktek politik pragmatis menjadi teredam.

iklan1
iklan1