SOSIOLOGI KORBAN

Hakikat korban, ilustrasi (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Dalam bahasa Ibrani ‘korban’ memiliki persamaan dalam makna dengan ‘sacrifice’ sebagai tradisi yang memiliki akar kebudayaan ritual. Kata ini kelak diambil alih dalam tradisi religi Islam sebagai ajakan untuk berkorban (wanhar).

Dalam disiplin sosiologi kebudayaan, sosiolog Peter L. Berger (1929-2017) memberikan tafsir aktual bahwa tradisi berkorban (sacrifice) telah beralih dari ritual suci religi ke ritual profan developmentalisme. Dengan merujuk tradisi ‘berkorban’ pada suku Aztek di Mexico, Berger mengritik bahwa ideologi developmentalisme telah menjadikan masyarakat sebagai obyek pembangunanisme demi perubahan sosial.

Sebagaimana diketahui, pencapaian kemajuan manusia hingga dewasa ini telah mengorbankan nilai-nilai manusia di atas hasrat dan ambisi pembangunan semesta. Piramida pengorbanan itu, menurut Berger, telah mengabaikan hakikat keseimbangan ekologi manusia demi kemajuan dan kepentingan sepihak yang tidak adil dan brutal.

Sebagai tradisi kebudayaan universal, korban atau pengorbanan (sacrifice) diasalkan pada tujuan suci (sakral) melalui persembahan (offering), pertukaran (exchange) dan hadiah (gift). Namun, proses korban itu sering dilakukan dengan cara kekerasan (violence) seperti dalam perang, konflik dan situasi yang sangat memaksa.

Menurut seorang filsuf asal Yahudi, Moses Halbertal (62) dari Uruguay dalam “On Sacrifice” (2012), korban (Ibrani) yang bersumber dari tradisi Yudeo memiliki dua tujuan yang tumpang tindih. Dari tujuan suci (sakral) sebagai penunaian perintah Tuhan, korban harus mewujud pada persembahan dan hadiah yang berimbal. Tapi, dengan tujuan suci ketakjuban atas dasar cinta, korban harus dijatahkan sebagai hadiah.

Pada tujuan sekuler (profan), korban harus memiliki ikatan politik (political bond) sebagai upaya adanya pertukaran(exchange) yang dianggap imbang dan bukan imbalan. Karena itu, terselip keinginan korban yang tak diiringi oleh tekanan yang berujung kekerasan. Posisi ini menyebabkan hadirnya perkembangan sosiologi korban, terutama dalam modernisasi pembangunan seperti yang diamati Berger pada dunia ketiga pada era 70-an.

Arkian, tradisi sosiologi korban sangat mengabaikan tujuan utama dan dasar dari kerangka ‘piramida korban’ dalam mengaktualisasi diri komunalistiknya dalam realisasi apa yang disebut Halbertal dengan “self-transcendence” dan “sacrificial logic” sebagai ‘substitusi’ material dan immaterial hakikat korban dan pengorbanan. Dan ekspresi mitis dan mistisnya: Love (Caritas).

iklan1
iklan1