Archive for: Juli 2020

KRISIS PEDAGOGI

Ilustrasi belajar work from home yang tidak beres (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Pandemi itu suatu produk kebudayaan destruktif. Ia tak butuh mewadahi suatu rentangan bio-evolusi. Karna itu, pandemi bagi dunia pendidikan (pedagogi) bukan lagi tuntutan bagi ‘masyarakat bebas sekolah’ atau ‘pendidikan bagi kaum tertindas.’ Lebih dari itu, kewajiban dunia pedagogi sekarang ini merupakan iklim dari proses — meminjam ungkapan sejawaran sains Yuval Noah Harari — “di dunia yang dipenuhi informasi yang kemaruk (irrelevan), kejelasan (clarity) adalah kekuatan (power). Dengan kata lain, pedagogi bisa terhindar dari kritik para pedagog sebagai ‘akhir dari pedagogi’ (the end of pedagogy) Reimert.

Apa yang menjadi krisis pedagogi di tengah badai pandemi, selain krisis leadership, kita dihadapkan pada ketimpangan atas teknologi pendidikan yang dibarengi oleh merosotnya kemampuan inovasi dan kreatifitas nyaris seluruh subyek didik. Kebudayaan konstruktif yang dihadirkan oleh dunia pedagogi mendadak tersungkur atas ulah alam pedagogi itu sendiri.

Teknologi pendidikan yang diwakafkan oleh sains lebih dari seperempat abad, tiba-tiba dibenturkan begitu saja oleh ketidakmampuan kita menghadapi krisis alamiah dari suatu proses perubahan yang jauh dari prediksi. Tak heran, krisis-krisis lain ikut serta secara berenteran memenuhi jagat peradaban mutakhir saat ini. Krisis inipun menunjukkan kelemahan konstruk mentalitas bangsa yang selama ini kuyub dan gagap bersembunyi di balik aturan dan undangan-undang institusional.

Walhasil, parodi dan plesetan SD Online hingga Webkul (kulian web/zoom) tumbuh menjadi keniscayaan fasilitas yang menyesatkan mentalitas komunikasi pedagogi. Sejatinya, krisis total pedagogi itu tumbuh beriringan secara kontraproduktif antara kegamangan psiko-mentalitas kita dan inkapabilitas fasilitas teknologi pedagogi kita. Layak krisis teknologi pada umumnya, pedagogi pun diambang sakratul maut akibat covid-19 yang absurd dan brutal.

Indikasi Kecurangan Terkuak, ULP Manado Kembali Dapat Kecaman LSM AMTI

Tommy Turangan SH, Ketua AMTI

MANADO, Suluttoday.com – Pemberitaan yang santer di media massa terkait Unit Layanan Pengadaan (ULP) atau Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) Kota Manado, bahkan telah sampai ke telinga Wali Kota Manado, Dr GS Vicky Lumentut, tapi rupanya Kabag ULP Manado, Marcos Kairupan tetap cuek bebek. Beberapa pertanyaan yang meminta konfirmasi dari media ini, tidak digubris Kairupan.

Menindaklanjuti keluhan pihak-pihak yang merasa dicurangi dari proses tender proyek di ULP Manado, Ketua Umum LSM Aliansi Masyarakat Transparansi Indonesia (AMTI), Tommy Turangan, SH mengecam perbuatan tersebut. Dimana protes yang diajukan sejumlah pihak tidak ditindaklanjuti pihak ULP Manado. Padahal, kata Tommy hal tersebut akan berefek pada nama baik Wali Kota Manado.

”Sudah banyak masukan dan keluhan disampaikan kepada kami, terutama monopoli pemenangan tender proyek di ULP Manado. Kami sudah sampaikan, Pak Wali Kota Manado pun sepertinya sudah mengetahui ini. Sayangnya, Kabag ULP Kota Manado tidak peduli dengan ini. Keluhan yang disampaikan kontraktor yang merasa dicurangi harus direspon Kabag ULP, bukan didiamkan, bahkan terkesan lepas tangan. Harus diingat, hal ini berdampak kepada Pak Wali Kota Manado, jangan Kabag seolah-olah cuci tangan,” ujar Turangan, Senin (27/7/2020) saat diwawancarai Suluttoday.com.

Selain itu, keluhan yang muncul juga terkait perusahaan yang tidak mengantongi Surat Keterangan Terampil (SKT), Sertifikat Keahlian Kerja (SKA) yang menjadi syarat bagi perusahaan yang mengikuti tender proyek dan beberapa persyaratan administrasi lainnya, ternyata diabaikan ULP Kota Manado. Upaya menabrak aturan dilakukan, tambah Turangan.

”Ada juga beberapa kejanggalan dalam tender proyek di ULP Kota Manado. Dari syarat-syaratnya juga ada yang sengaja dipaksakan berkasnya. Yang tidak layak, dibuat menjadi layak. Ini bahaya sebeulnya. Ditemukan ada usaha yang bertujuan untuk menabrak aturan secara nyata-nyata. Pihak Pokja di ULP Manado harus bertanggung jawab. Pemeriksaan dan penelitian persyaratan yang tidak selektif melahirkan ada beberapa perusahaan yang belum lengkap tapi dimenangkan saat ikut tender proyek di ULP Kota Manado,” ujar Turangan.

Di tempat terpisah, melalui WhatsApp, Kabag Marcos Kairupan saat dimintai konfirmasi terkait dugaan kecurangan tersebut dan adanya monopoli perusahaan dalam pemenangan proyek di ULP Kota Manado, ia tidak memberikan komentar apa-apa sampai berita ini diterbitkan.

(*/Bung Amas)

RICHARD SUALANG Kunci Kemenangan PDI Perjuangan di Manado

dr. Richard Sualang (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

DARI beberapa unsur pendonor kemenangan suara, posisi dr. Richard Sualang, Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado berada pada bentangan strategis. Ayahnya pelopor, mobilisator dan pendiri PDI Perjuangan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Kader Banteng Moncong Putih yang dikala itu begitu dekat dengan Ibu Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan dikenal sebagai singa podium yang santun. Aliran darah ‘merah’ PDI Perjuangan memang mengalir deras kepada sosok Richard Sualang.

Ayahnya tercinta punya jasa besar, berkontribusi mengembangkan dan membesarkan PDI Perjuangan di bumi Nyiur Melambai ini. Mantan Wakil Gubernur Sulut beberapa periode, potret seorang putra Minahasa yang patriot dan nasionalis. Tapi, Richard rupanya tidak mengharapkan semua itu didapatnya dengan instan. Dia enggan berpangku, melainkan turun memulai bekerja sebagai petugas partai di PDI Perjuangan di Kota Manado, dari Kelurahan, Kecamatan sampai saat ini memimpin PDI Perjuangan Manado.

Kata Soekarno, Bapak Marhaenis, pendiri Republik Indonesia, Presiden Indonesia pertama yang adalah Ayah tercinta Ketum Megawati, bahwa ‘JAS MERAH’ (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah). Atau yang diartikan sejarawan Rushdy Hoesein, ‘JAS MERAH’ dalam judul pidato Bung Karno, sapaan akrab Soekarno, memiliki arti ‘Djangan sekali-kali meninggalkan sedjarah’. Inti dari pesan tersebut memiliki impresi, terselip pelajaran penting tentang menghormati, menghidupkan legacy leluhur atau para pendahulu.

Baik dalam interaksi politik, ekonomi maupun sosial dan budaya. Sejarah mencatat dengan indahnya bagaimana peran seorang Freddy Harry Sualang memajukan PDI Perjuangan disaat jaya-jayanya Orde Baru. Tidak mudah melewati gelombang dan otoritarianisme pemerintah waktu itu. Bagaimana kuatnya pengaruh ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar). Mendiang Freddy H. Sualang begitu teguh pendiriannya, tampi tegar, punya nyali besar, progresif, orator ulung dan optimis bahwa PDI Perjuangan akan besar di Sulut.

Dalam jejak karirnya, beliau merupakan seorang politisi Parkindo. Setelahnya menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dimana waktu itu Parkindo dan 4 (empat) partai lain seperti Partai Katholik, Partai IPKI, Partai Murba dan PNI melakukan fusi atau penggabungan yang dideklarasi 10 Januari 1974. Tanpa money politic dan dukungan kekuasaan, mendiang Freddy menjadi Anggota DPRD Minahasa dalam Pemilu 1987 dan 1992.

Sejak 1998 beliau menjabat Ketua DPD PDI Perjuangan, sampai tahun 2010 dibawah kepemimpinan Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. Mendiang Freddy Sualang dikenal sangat menghormati senior partainya. Tidak mudah melewati konflik di PDI Perjuangan Sulut, dimana Freddy Sualang saat itu berada dalam faksi PDI Perjuangan, bersama Megawati. Lalu berlawanan dengan kawan-kawannya di kelompok Surjadi, PDI.

Nilai-nilai keteladanan itu diikuti anaknya tersayang Richard Sualang. Kisah loyalitas Freddy Sualang juga digambarkan Drs. Markus Wauran, Anggota DPR RI pada era 1980-an. Menurut Markus Wauran, sosok Freddy begitu menghormati guru politiknya yakni Sabam Sirait. Sikap setia dan tidak menghianati komitmen ditunjukkan mendiang Freddy dalam pergaulannya. Ia tak rayu atas rayuan, tak akan goyah atas godaan, tidak pernah mau karena kepentingan sesaat beliau mengabaikan komitmen kebersamaan. Itulah sepenggal pelajaran yang tentu tengah tertanam, terpatri kuat dalam ingatan dan darah daging Richard Sualang yang juga Penatua (Pnt).

Seperti yang dilakukan Richard sebagai politisi muda, dirinya tampil penuh energi positif. Pandangan nasionalisme diucapkan dan dicontohkannya dalam tindakan konkrit. Takhirnya kita banyak menjumpai warga di Manado para aktivis muslim yang begitu sayang, peduli dan menghormati keluarga Sualang. Termasuk Richard Sualang yang kini menjabat Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Beberapa perjumpaan penulis dengan masyarakat pedagang, kalangan buruh, warga yang hidupnya biasa-biasa, mereka mengakui akan mendukung Richard Sualang. Mereka yang beragama Islam, mengaku tidak akan melupakan kebaikan-kebaikan mendiang Freddy Sualang.

Tidak mudah menjadi politisi yang dicintai semua kalangan masyarakat. Menjadi politisi rendah hati, menghargai orang lain juga tidak mudah. Butuh adaptasi kebiasaan yang lama, bisa bersifat turun-temurun. Richard terlahir dari DNA itu, selain keluarga yang pernah menjadi penguasa di Sulut. Dirinya berkesempatan diajarkan langsung Ayahnya untuk menghormati senior, menghormati dan membantu orang lain. Siapapun itu, tanpa membedakan agama.

Richard di pusaran Pilwako Manado 2020 merupakan kunci kemenangan PDI Perjuangan. Bila elit PDI Perjuangan terburu-buru, tidak cermat membaca situasi politik di lapangan dan kesejarahan daerah ini secara utuh, maka akan salah merekomendasikan kadernya melalui Surat Keputusan (SK) nantinya dalam hajatan pertarungan Pilwako Manado. Tantangan bagi PDI Perjuangan di Manado adalah belum pernah menjadi Kepala Daerah beberapa tahun terakhir.

Itu sebabnya, semacam ‘pagar’, mitos dan barang baru yang harus mampu diterobos dengan menggunakan energi yang cukup kuat. Bila saja elit PDI Perjuangan lebih menilai uang (finansial) sebagai pembeda untuk diusung ke pertarungan Pilwako Manado, maka resikonya PDI Perjuangan akan kalah di Kota Manado. Seperti membaca risalah sejarah, para elit parpol di pusat harus membacanya secara tuntas. Jangan sepenggal-sepenggal, dimana tak ada sejarahnya selain ‘etnis Minahasa, Gorontalo, Nustar,’ yang memimpin Kota Manado.

Apalagi mereka yang terindikasi warga naturalisasi. Yakinlah, akan ada bencana politik yang melahirkan isu maha dahsyat ketika PDI Perjuangan salah memberikan SK. Kesederhaan Richard Sualang begitu membuat banyak simpati berdatangan kepadanya, dan juga kepada PDI Perjuangan di daerah ini. Potret politisi idola yang satu ini tidak sombong seperti politisi-politisi lainnya. Santun dan rendah hati, seperti itulah Richard Sualang yang terekam diingatan warga Kota Manado.

Di internal mesin partai PDI Perjuangan pun, terdengar percakapan malu-malu dan sembunyi-sembunyi, mereka kebanyakan menginginkan Richard Sualang sebagai calon Wali Kota Manado. Selain itu, Richard Sualang punya gagasan yang kuat dan otentik. Masyarakat Manado juga tau betul, mengenali Richard sebagai kader PDI Perjuangan tulen, tanpa berpindah ke lain hati. Bila politisi lain sibuk ganti ‘warna’ Richard tetap fokus membesarkan PDI Perjuangan. Richard juga berpegang teguh pada prinsip gotong royong dalam membesarkan PDI Perjuangan, alhasil di DPRD Kota Manado saat Richard menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Manado telah berhasil merebut posisi Ketua DPRD Kota Manado.

Ketua PKS Manado: Kamis, SSK-SS Terima SK di DPP

SSK-SS (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Peta politik di Pilwako Manado 2020 akan semakin kencang tensinya. Pasalnya dari sejumlah nama bakal calon Wali Kota dan bakal calon Wakil Wali Kota Manado satu persatu mulai menerima Surat Keputusan (SK) dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai politik masing-masing. Konsekuensinya, jika terlambat maka ada bakal calon yang terancam kehilangan kesempatan mendapatkan dukungan untuk syarat pencalonan.

Minggu (26/7/2020), Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Manado, Abu Hasan Syafi’i, ST pada Suluttoday.com menyampaikan bahwa pihaknya ditengah konsolidasi yang intens mulai mengalami progres. Dimana pada Kamis (30/7/2020) DPP PKS akan menyerahkan SK kepada pasangan calon Wali Kota Manado, Ir. Sonya Selviana Kembuan (SSK) dan Syarifudin Saafa, ST.,MM (SS).

”Insya Allah hari Kamis, Minggu depan DPP PKS menyerahkan SK kepada SSK-SS sebagai pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado. Capaian komunikasi yang dilakukan massif dalam beberapa bulan terakhir ini kita harapkan dapat terus berjalan dengan baik,” kata Hasan sapaan akrab Syafi’i.

Ketika ditanya kenapa PKS melirik sosok SSK, Hasan mengatakan telah melalui berbagai dialektika pertemuan dan kerja-kerja sosial guna mengasah serta menguji komitmen yang mulai terjalin cukup lama. Hasan menilai SSK merupakan potret politisi yang konsisten, berpihak pada kepentingan semua golongan masyarakat. Pandangan yang majemuk dan komunikasi SSK dinilai layak untuk didukung menjadi calon Wali Kota Manado.

SSK, Benny Mokalu dan SS (Foto Istimewa)

”Tentu kita punya kalkukasi dan penilaian terhadap Ibu SSK. Yang pasti bukan tanpa pertimbangan panjang. Figur seperti beliau dibutuhkan masyarakat Kota Manado, apalagi kemarin saat Koalisi Keumatan menggagas kegiatan sosial saat memerangi COVID-19, Ibu SSK tampil sebagai motor penggerak. Terlebih cara berpolitiknya yang mengedepankan etika akomodasi kepentingan, kesetaraan dan mengedepankan kemanusiaan yang kami nilai sangat berkaitan erat dengan visi besar PKS. Kemudian sejak awal Ibu SSK memang sudah berkomitmen mengambil figur muslim sebagai pasangan calon Wakil Wali Kota yang mendampingi dirinya,” ujar Hasan.

Untuk diketahui, melalui Troy Pomalingo, orang dekat SSK saat dimintai komentar terkait siapa saja yang akan dilibatkan sebagai tim pemenangan SSK-SS, dikatakannya bahwa ada nama Irjen (Pur) Benny Mokalu, mantan Kapolda Bali yang siap turun menjadi Ketua Tim pemenang SSK-SS dalam Pilwako Manado 2020. Benny Mokalu juga saat ini menjabat sebagai Komisaris Independen PT MNC Kapital Indonesia Tbk.

(*/Bung Amas)

Jean Sumilat: Kami Hanya Agen Suara Rakyat Kota Manado

Ir. Jean Sumilat, Anggota DPRD Kota Manado (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Mendorong sinergitas kerja kelembagaan diperlukan adanya kesadaran bersama. Tidak hanya satu pihak, baik itu masyarakat, pihak eksekutif maupun legislatif. Bangunan kebersamaan perlu dilestarikan atau dijalankan secara bersama-sama. Ir. Jean Sumilat, Anggota DPRD Kota Manado yang merasa singkronisasi kerja belum terjalin dengan baik di Manado. Hal itu disampaikannya, Minggu (26/7/2020), politisi PDI Perjuangan  itu mengatakan harus saling menghargai antara eksekutif dan legislatif.

”Tidak dihargainya hanya dengn selembar undangan. Kami ini hanya agen suara rakyat Kota Manado, mereka memberi kepercayaan kepada kami khususnya Komisi 3 DPRD Kota Manado untuk melihat, kerja, terhadap realita dan masalah yang ada. Kami tidak mau hanya duduk, mendengar, dan tidur. Setelahnya menerima gaji buta seperti imej yang melekat pada kami,” kata Jean, legislator Dapil Sario-Malalayang ini.

Politisi vokal yang juga senior ‘Benang Biru’ itu mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja maksimal menjalankan amanah yang dipercayakan masyarakat di pundak mereka. Tidak hanya itu, secara tegas Jean membeberkan sejumlah kelemahan kerja instansi terkait di pemerintahan Kota Manado untuk segera diperbaiki. Bagi Jean pelayanan masyarakat harus dilaksanakan secara prima.

”Setidaknya kami adalah baik jika bisa hidup jadi berkat, tapi jika belum bisa, paling tidak jangan sampai kita jadi batu sandungan bagi masyarakat. Dengan mata terbuka, melihat realita yang ada, dimana TPA Sumompo pengelolaan sampah sudah open dumping, bau, air lindi kemana-mana kejalan, anak sungai, dana opersional sudah tidak ada seperti solar, sewa alat berat eskavator dan lain-lain. Why?,” ujar Jean tegas.

Anggota Komisi 3 DPRD Manado ini menambahkan, sejak tahun 2007 rumah Pandu Cerdas, sampai hari ini belum dialiri air, listrik, terus sampai kapan?. Jean menyebut apa yang harus dilakukan. Legislator yang dikenal dekat dengan istri Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, SE itu menuturkan pentingnya menghilangkan mind set tentang adanya warna politik.

”Memang ada perbedaan warna yang berbeda, tetapi sinergitas harus ada (pemerintah, swasta, masyarakat ) dan ingat kami dipilih, bukan ditunjuk sesuai like and dislike, pemberian upeti, kami bukan dakocan, kami diberi tanggungjawab, beban. Menangis dan tertawa bersama rakyat, tolong diteruskan bagi yang dekat , yang punya wewenang utk menghargai waktu dan kesempatan dalam tugas dan fungsi. Hargai sehelai upaya-upaya positif yang dilakukan lembaga DPRD Kota Manado, terlebih Komisi 3 yang telah melayangkan undangan, tapi seperti diabaikan pihak eksekutif terkait,” tutur Jean yang juga Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Malalayang ini.

(*/Bung Amas)

iklan1