FERRY Beri Tanggapan Hasil Survei LSI untuk Pilgub Sulut

Dr Ferry Daud Liando (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Ada beberapa sebab mengapa hasil survei LSI menurut Dr. Ferry Daud Liando, S.IP.,M.Si saat diwawancarai Suluttoday.com, Senin (10/8/2020). Dimana hasil survei tersebut menempatkan Olly Dondokambey, petahana pada posisi puncak meraih elektabilitas tinggi. Pertama, Olly di dukung oleh pdip yg merupakan parpol pemenang pemilu 2019.

”Bisa jadi pemilih di pemilu akan sama dengan sikapnya di Pilkada. Walaupun hal ini Tak selamanya akan terjadi. Kedua, pdip adalah parpol yang memiliki struktir kelembagan yg kuat. Dibanding dengan parpol lain, pdip dinilai yang paling solid. Para pemilih pun adalah para pemilih militan. Ketiga, sebagai pejabat yang masih menjabat, Pak Olly sangat diuntungkan lewat pemberitaan media massa. Ketiga, dukungan 6 bupati/walikota terhadap Olly bisa juga berpengaruh,” ujar Ferry.

Selain itu, keempat, bisa jadi posisi Pak olly makin diperkuat karena telah memiliki kejelasan dgn siapa ia akan berpasanagan. Figur Pak Steven Kandouw tentu memberikan pengaruh. Ibu Tety berada diurutan kedua karena juga telah memikii calon pendamping. Bisa jadi pengaruh Pak sehan juga sehingga ikut mendorong elektabilitas ibu Tetty. Yang menarik posisi ibu Vonny Panambunan yang berada di posisi buntut.

”Ternyata publik kemungkinan tidak akan terpengaruh dengan kebiasaan beliau membagi-bagi uang dimana beliau pergi. Ini pertanda sebagian besar masyarkat Sulut makin dewasa berpolitik. Ciri kedewasaan berpolitik tidak akan terpengaruh dengan hadiah dari calon. Namun demikian hasil survey yang dipublikasi diatas belum tentu akan stabil hingga hari pencoblosan. Masih ada sekitar 4 bulan lagi. Sehingga potensi berubah bisa saja terjadi. Ibu Vonny belum unumkam siapa pendampingnya,” tutur Ferry yang juga Dosen FISPOL Unsrat Manado ini.

Jika pemdampingnya figur besar, tambah Ferry, maka kemungkinan tingkat elektabilitasnya masih bisa naik. Kemudian, informan yang digunakan dalam survei itu tidak menggunakan pendekatan sensus tapi hanya mengunakan sampel sebanyak 800 responden. Angka ini belum tentu bisa mewakili. Apalagi jika fokus dalam penetapan sampel itu tidak merata.

(*/APN)

iklan1
iklan1