Marak Penipuan, Kasus Penjualan Tanah di Ring Road 3 Hasilkan Tersangka

Conny Lolyta Rumondor (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Berproses hukum cukup lama, semenjak laporan dilayangkan ke Polda Sulawesi Utara (Sulut), Februari 2019, Conny Lolyta Rumondor selaku pelapor kasus dugaan penipuan penjualan tanah di Ring Road 3 Manado, Selasa (11/8/2020) akhirnya bernafas legah. Pasalnya laporan yang atas kerugian tanah miliknya tersebut baru mengalami progress yang signifikan sesuai harapannya.

Kepada Suluttoday.com, Rabu (12/8/2020) saat diwawancarai menyampaikan kegembiraannya. Menurut mantan Anggota DPRD Kota Manado itu, dirinya melaporkan Helen Rosa Fransiska Pijoh. Laporan tersebut berproses di Polda Sulut, yang sampai saat ini telah menetapkan Tersangka.

‘’Sesuai hasil gelar perkara, 6 Agustus 2020 saya mendapatkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dari Direktorat Reserse Kriminal Umum yang menyebutkan bahwa oknum yang saya polisikan tersebut ditetapkan dengan status tersangka. Puji Tuhan, akhirnya kebenaran tak dapat dikalahkan, saya tentu gembira dengan surat ini,’’ ujar Conny tegas.

Dikatakan Conny, laporan dugaan penipuan tanah miliknya berawal dari tanggal 10 April 2018 Perkim Pemrpov Sulawesi Utara salah membayar ganti rugi tanah yang kena pemanfaatan jalan Ring Road 3. Dirinya juga berharap agar pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) lebih selektif dalam menerbitkan sertifikat kepemilikan tanah.

‘’Kepemilikan sah atas tanah itu saya. Saya laporakan ke KPK dan Polda Sulut. Sampai hari ini saya kawal ekstra, alhasil sudah ada tersangkanya. Pihak BPN diharapkan lebih teliti memeriksa hak milik yang sah atas sertifikat yang diajukan untuk jual beli dan atau pelepasan hak harus dilakukan pengecekan dulu di atas buku tanah. Iya, sebelum terbitkan, harus mengecek benar-benar terlebih dahulu. Jangan sampai hal ini berdampak pada kerugian dialami orang lain, uang Negara juga rugi,” kata Conny.

Potongan SP2HP (Foto Suluttoday.com)

Selain itu, maraknya sengketa tanah memang diduga kuat karena beraksinya para mafia tanah yang saling klaim. Ada sertifikat kepemilikan tanah yang ganda, menuai masalah dan seterusnya menjadi problem dalam urusan agrarian yang kian menjadi benang kusut di daerah Sulawesi Utara dan bahkan Indonesia umumnya. Conny juga mengatakan mantan Kepala BPN Manado telah membuat pelepasan, ironisnya tidak melihat buku tanah, kalau sertifikat yang diajukan itu adalah hasil penipuan (rekayasa). Itu sertifikat yang sudah lama dibatalkan lewat PK PTUN tahun 1998 silam. Conny juga menyampaikan terima kasih kepada Kapolda Royke Lumowa atas kerja cepatnya, sembari mengharapkan agar Kapolda baru lebih agresif lagi bekerja.

”Saya juga menyampaikan terima kasih kepada Kapolda Pak Royke Lumowa yang sudah bentuk Timsus. Sudah lanjutkan ini laporan ini. Tentu trima kasih pula saya sampaikan ke Timsus yang sudah kerja cepat dan tepat selama 1 bulan langsung ada Tersangka. Saya juga berharap Kapolda Sulut yang baru nanti lebih keras lagi tangani kasus-kasus tanah dan koruptor di Sulawesi Utara. Kita harus tindak para koruptor, Polda menjadi pelopornya. Jangan sampai hanya koruptor kecil yang ditindak. Lalu koruptor kelas kakap (besar) dilindungi atau dibiarkan,” tutur Conny menutup.

Sekedar diketahui, kasus ini juga berproses di Pengadilan Negeri (PN) Manado, dan oknu terlapor disini bertindak sebagai Penggugat. Hasilnya, gugatan tersebut ditolak PN Manado pada 19 Agustus 2019. Dalam rekonvensi disebutkan salah satunya menyatakan tidak sah Uang Ganti Kerugian yang diminta oleh Tergugat-tergugat rekonvensi sebesar Rp. 6.069.386.994 (enam milyar enam puluh sembilan juta tiga ratus delapan puluh enam ribu sembilan ratus sembilan puluh empat rupiah). Dana tersebut dikembalikan untuk dititipkan ke PN Manado. Kemudian, menyatakan putusan ini dapat dijalankan lebih dahulu, walaupun ada verzet banding ataupu kasasi.

(*/Bung Amas)

iklan1
iklan1