Archive for: Oktober 2020

Pilkada, Narsisisme Etnis dan Diksi Rasis

(Catatan dari Man Gega)

Oleh : Syaiful Bahri Ruray

Syaiful Bahri Ruray (Foto Suluttoday.com)

Guru sejarah saya saat sekolah di SMP Man Gega adalah Ibu Ani Drakel. Beliau masih kakak sepupu dekat saya dari garis ayah. Karena kami sesama cucu Sangaji Gap, namun saya sangat menaruh hormat kapada beliau. Walau sejak kecil saya sering bermain di rumah keluarga Ibu Ani, bahkan menjadi rumah kedua bagi saya. Beliau sudah almarhumah. Dari beliaulah saya mengenal sejarah dunia pertama kali. Bahwa dunia ternyata tidak sebatas Tanjung Waka dan Malbufa.

Beliau mengajarkan tentang kebudayaan Jepang dan memperkenalkan tentang mitologi Omiterasu Omikami dalam pandangan teologi Shinto yang mendewakan matahari. Para kaisar Jepang dipercaya oleh masyarakat Jepang sebagai turunan Dewa Matahari. Ketika Indonesia dijajah Jepang (1942-1945), rakyat Indonesia dipaksakan setiap pagi membungkukkan badan menghadap matahari untuk menghormati Omiterasu Omikami tersebut. Ritual ini menjadi wajib bagi daerah jajahan Jepang termasuk di Sula. Yang melawan bisa berakibat fatal karena dianggap menghina kepercayaan tradisional Jepang tersebut.

Dari Ibu Ani juga, beliau mengajarkan kami tentang Amerika, negara adidaya itu, yang terbentuk dari penaklukkan atas penduduk aseli Indian oleh para pedatang seperti Christopher Colombus dan Hernando Cortez, lalu terjadi perang sipil terbesar dalam sejarahnya. Semua itu terjadi karena ada perbudakaan dan isyu etnis. Dimana kaum negro dirantai dengan paksa dan diculik dari Benua Afrika, dibawa sebagai budak belian ke Amerika untuk dipekerjakan secara paksa oleh majikan kulit putihnya. Mereka dianggap sub-human, bukan manusia sepenuhnya.

Ketika menjadi aktivis mahasiswa, saya ikut rombongan muhibah keliling Jepang pada 1988. Mengunjungi Jepang adalah perjalanan ke luar negeri pertama kali bagi saya. Saya pun teringat pelajaran masa kecil di SMP Man Gega. Kepada orang tua angkat Jepang di desa Yabemachi di pedalaman Kumamoto, Selatan Jepang, saya bercerita tentang Omiterasu Omikami, mereka sempat terkaget-kaget, namun ke esokan harinya saya diajak ke kuil tua Shinto di sebuah bukit terpencil dan berdiskusi dengan seorang pendeta Shinto tentang teologi Shinto.

Lalu dibawa ke sebuah tempat yang dianggap ‘bamok’ (sakral) oleh masyarakat Jepang, karena disitulah dipercayai Omiterasu Omikami pertama kali turun ke bumi. Pendeta Shinto itu rata-rata berperilaku sangat halus dan sopan, namun setiap orang Jepang adalah pendekar. Mereka memiliki 5 jenis bela diri yang wajib dipelajari salah satunya sejak masuk bangku kelas 1 SMP. Setiap kota Jepang ada Budokan Hall, itu adalah pusat pendidikan bela diri tradisional Jepang. Ternyata dari situlah disiplin sosial rakyat Jepang dibentuk.

Mereka modern ditengah kebanggaan akan identitas tradisionalnya. Tradisionalitas tidak tercerabut ditengah budaya semoderen apapun. Saya juga berkunjung ke seorang mantan samurai, eks kapten angkatan darat Jepang yang pernah berdinas di Singapore dalam Perang Dunia II. Ia menjadi petani dan pengurus koperasi petani. Koperasi petani di Jepang sangat maju karena mereka menguasai pasar domestik, dan memiliki industri pengolahan bahan pertaniannya sendiri.

Saya ditunjukkan jenis samurai Jepang, katana (samurai pendek) untuk harakiri, dan samurai panjang untuk bertempur. Masyarakat Jepang memiliki tradisi bushido, tradisi samurai yang membuat mereka menjadi bangsa kuat secara sosial. Sekembalinya ke Tokyo, saya bergegas ke toko buku, membeli buku Bushido, karangan Dr. Inazo Nitobe, untuk dapat lebih memahami kuatnya identitas masyarakat Jepang yang tak pernah luntur ditengah arus modernisasi bangsanya. Di Tokyo saya sempat bersilaturrahmi dengan orang Sula, ibu Farida Andi Atjo dan keluarga yang telah lama menetap di Tokyo.

Sedangkan Amerika, bangsa yang dibentuk dengan isyu etnis dan pembantaian penduduk aseli itu, oleh Ibu Ani, kami murid-muridnya diperkenalkan dengan sebuah nama, Harriet Beecher Stowe, seorang novelis perempuan Amerika yang menulis Uncle Tom’s Cabin pada 1852. Dari buku ini, bangkitlah rasa kemanusiaan anti perbudakan pada Amerika Utara, dan mereka menentang perbudakan pada Amerika Selatan.

Lalu pecahlah Perang Sipil (1861-1865). Tapi karena perang itulah terbentuk Amerika Serikat dengan 50 negara bagian yang kita kenal sekarang ini. Revolusi Amerika juga dimulai dari apa yang dikenal sebagai ‘The Boston Tea Party’ dimana pedagang teh membuang semua barang dagangannya ke laut sebagai tanda protes atas pajak kolonial Inggris terhadap mereka. George Washington tampil sebagai pemimpin revolusi. Lalu apakah isyu etnis dan ras itu selesai ?? Ternyata tidak, karena Presiden Abraham Lincoln yang anti perbudakan pun tewas.

John Fitzgerald Kennedy (Presiden AS 1961-1963), yang membebaskan segregasi sosial kulit putih dan kulit berwarna di Amerika, ia pun tewas di Texas oleh tembakan Lee Harvey Oswald. Betapa isyu ras itu telah membawa banyak korban kemanusiaan. Penulis Lothrop Stoddard bahkan menulis tentang bangkitnya kulit berwarna untuk melawan supremasi kulit putih.

Stoddard menulis Rising Tide of Color, Against White World Supremacy (1921), buku ini dibaca Bung Karno dalam penjara kolonial Belanda ketika ia ditahan karena orasi dan tulisan-tulisannya tentang Indonesia Merdeka. Buku Indonesia Menggugat, adalah salah satu pidato pembelaan (pleidoi) Bung Karno didepan persidangan kolonial di Bandung yang sangat monumental.

Gunnar Myrdal, seorang pemenang hadiah nobel, juga menulis An American Dilemma, The Negro Problem and Modern Democracy (1942). Ternyata pemilu Amerika 2020 yang menampilkan petahana Donald Trump melawan Joe Biden, masih saja ada isyu rasisme. Kasus penembakan warga kulit hitam oleh polisi federal Amerika, telah memicu tuntutan akan keadilan dan kesamaderajatan dimata hukum.

Betapa prinsip lama hukum justice (keadilan) dan equality before te law (setiap orang berkedudukan sama dimata hukum), masih menjadi tema yang belum selesai. Fukuyama (2018) menyebut politik identitas dan ujaran kebencian, menjadi tanda keruntuhan demokrasi.

Akan halnya pilkada kita di Sula, jika saja tidak merujuk pada sejarah yang diajarkan guru-guru kita, juga akan terperangkap ada isyu rasisme dan etnisitas yang justeru merusak platform demokrasi. Kita demikian miskin akan narasi- narasi yang bisa mencerahkan rakyat agar dapat memilih kandidat berdasarkan pertimbangan kearifan dan kecerdasan.

Ditengah ancaman pandemi yang belum juga reda, rakyat diperhadapkan pada krisis ekonomi yang melanda setiap rumah tangga penduduk. Halmana menjadi peluang terbuka untuk terjadinya praktek money politics dengan harga obral. Prof. Edward Aspinall (Democracy for Sale, 2019) yang melakukan riset mutakhirnya tentang politik Indonesia, menyatakan bahwa demokrasi kita telah terbeli dengan harga murah.

Kontestasi bukan lagi pada narasi demokrasi berkualitas, malah mengedepankan diksi rasis yang semakin berkibar dimana-mana. Indonesia sebagai sebuah bangsa terbentuk dari 1.340 etnis yang mendiami 17.504 pulau, adalah sebuah khasanah peradaban yang sangat luar bisa. Perbedaan etnis dan bahasa daerah, bisa disatukan dalam sebuah bahasa nasional, dengan sebuah ideologi nasional.

Bisa kita bayangkan diluar sana, ada bangsa yang berbahasa satu namun terbelah menjadi beberapa negara, sebutlah Korea, yang terbelah Utara dan Selatan. Juga negara-negara Arab, berbahasa satu, namun tidak berbentuk sebuah negara kesatuan. Liga Arab beranggotakan 22 negara. Revolusi The Arab Spring nya belum juga selesai hingga sekarang. China terbelah antara RRC dan Taiwan, sementara Hongkong tengah bergejolak untuk menentukan identitasnya sendiri, ditengah tekanan keras Beijing. Juga terhadap Tibet dan Muslim Uyghur. Juga Bangkok sementara bergejolak, menuntut reformasi atas kekuasaan sang raja, hal yang selama ini dianggap sakral.

Dua ilmuan politik dari Harvard University, Steven Levitsky dan Daniel Ziblat, menulis How Democracy Dies (2018), mengungkapkan bagiamana demokrasi mengalami kematian karena kekerasan yang ditolerir, termasuk kekerasan naratif. Disebut: toleration or encouragement of violence (toleransi, membiarkan atau mendorong kekerasan adanya aksi kekerasan), akan mencabut nyawa demokrasi menuju sakaratul maut. Jika pilkada kita berlangsung dengan citarasa rasisme dan narsisisme yang kencang, sebenarnya kita tengah memutar balik Indonesia kebelakang, kembali ke era pra Sumpah Pemuda 1928.

Untung saja ada pelajaran berharga dari Ibu Ani Drakel, guru saya di SMA Man Gega.

Laha Alfatihah buat Ibu Ani Drakel…

Man Gega, 20 Oktober 2020.

Fokus Konsolidasi, Garuda One Lantik Pengurus Kelurahan Wanea

Dr. GS Vicky Lumentut menyampaikan sambutan (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Setelah menyisir sejumlah Kelurahan dan Kecamatan di Kota Manado, Garuda One GSVL, Senin (19/10/2020) tancap gas memahamkan warga di Kecamatan Wanea. Tepatnya di Kelurahan Wanea, Garuda One yang dipimpin Ketua Umum Roger Mamesah, melantik pengurus Garuda One Kelurahan Wanea, Kecamatan Wanea Kota Manado.

Setelah proses pembacaan Surat Keputusan yang dipimpin Wakil Ketua Garuda One, Romel Najoan proses pelantikan berjalan dengan tertib yang disaksikan Ketua Dewan Pembina Garuda One Dr. GS Vicky Lumentut. Selanjutnya, penyerahan pata diserahkan Sekretaris Garuda One, Kefas Sanger. Dihadapan pengurus Garuda One Kelurahan Wanea, Vicky Lumentut dalam sambutannya mengingatkan agar para tim relawan PAHAM (Paula Harley Manado) terus kompak.

”Banyak selamat untuk kawan-kawan, Bapak dan Ibu pengurus Garuda One Kelurahan Wanea. Tentu anda merupakan orang-orang terpilih yang bersedia menyumbangkan waktu, tenaga untuk berjuang dibarisan terdepan bersama PAHAM. Silahkan bekerja sesuai program dan sasaran yang diberikan Garuda One Kota Manado, kompak serta bekerja dengan penuh kesantunan,” ujar GSVL sapaan akrab Vicky Lumentut yang juga Ketua DPD Partai NasDem Kota Manado ini.

Pengurus Garuda One Kelurahan Wanea disaat mendengarkan arahan (Foto Suluttoday.com)

Tidak hanya itu, GSVL yang juga Wali Kota Manado 2 periode ini mengajak Garuda One terus menjadi pelopor dalam kampanye-kampanye damai dan mencerahkan pemilih. Sosialisasi program (visi dan misi) dari calon Wali Kota Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene (JPAR) dan calon Wakil Wali Kota Manado, Dr. Harley Alfredo Benfica Mangindaan menjadi langkah prioritas yang harus dilakukan Garuda One tingkat Kelurahan.

”Ayo kita hidupkan proses demokrasi dengan saling mencerdaskan. Kita tunjukkan program unggulan PAHAM. Jangan saling menjatuhkan, tetap santun bergerak, bekerja seperti yang selama ini dilakukan Garuda One di Kelurahan maupun di Kecamatan lainnya di Manado. Dengan ketekunan, kerja berjenjang dan terukur maka kemenangan akan bersama kita. Paslon PAHAM pasti menang. Saya tegaskan lagi, perkuat sosialisasi program yang ditetapkan JPAR-Ai Mangindaan,” kata GSVL menutup.

Romel Najoan saat membaca SK pelantikan (Foto Suluttoday.com)

Sementara itu, usai pelantikan, Romel Najoan saat diwawancarai terpisah mengatakan optimis dengan kerja yang terukur dan mulai terlihat peningkatan arus dukungan terhadap PAHAM mengalami progres. Meski begitu, Garuda One akan terus melakukan konsolidasi rutin demi merebut kemenangan. Romel mengharapkan agar seluruh komponen relawan Garuda One GSVL for PAHAM tetap solid bekerja dan berkoordinasi.

Kefas Sanger ketika penyerahan pataka Garuda One (Foto Suluttoday.com)

”Sudah terlihat bahwa kemenangan Pilwako Manado 2020 berada dipihak kita. PAHAM adalah pemenangnya, peta politik sudah terlihat, jelas. Kami dari relawan Garuda One tiap saat turun melantik pengurus di Kelurahan dan juga menggelar sosialisasi program PAHAM, terbaca ada kemajuan pesat bahwa calon Nomor Urut 4 di Pilwako Manado ini bagai magnet di tengah masyarakat. Kadang kita memberi batas atas kehadiran masyarakat saat kegiatan-kegiatan yang kami laksanakan. Antusiasnya masyarakat begitu meningkat saat Bunda JPAR, Bang Ai Mangindaan atau Pak GSVL selaku Pembina Garuda One turun bersama kami,” tutur Romel tegas.

(*/Amas)

Bersama Bunda Paula, Giring Nidji: Dukung Orang Baik, PAHAM

Giring Nidji dan Bunda Paula Runtuwene (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Bertempat di Kelurahan Karame Kecamatan Singkil Kota Manado, Plt Ketua Umum Partai Solidaritas Nasional (PSI), Giring ‘Nidji’ Ganesha bersama Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene (JPAR), calon Wali Kota Manado, dalam silaturahmi politik dan sosialisasi program PAHAM (Paula Harley Manado) menyampaikan Partai PSI mendukung penuh Julyeta Paulina Amelia Runtuwene (JPAR) dan Harley Mangindaan (AiM) sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado.

Menurut eks vokalis Nidji tersebut, pengalaman Julyeta Paulina Amelia Runtuwene (JPAR) di bidang akademisi dan Harley Mangindaan (AiM) yang sudah pernah menjabat sebagai wakil wali kota merupakan satu perpaduan paripurna sebagai pemimpin Kota Manado.

”Kalau ada orang baik seperti Mama (JPAR) dan Bang Ai kita harus dukung 100 persen. Mereka berdua adalah orang baik yang tulus melayani masyarakat dan begitu peduli dengan generasi muda,” kata Giring saat berorasi di Karame, Minggu (18/10/2020).

Tak hanya itu, Giring menyebutkan bahwa mendukung orang baik seperti JPAR-AiM, PSI tidak sepeser pun meminta mahar (uang) seperti partai-partai lain.

”Karena itu Mama nantinya tidak perlu bingung pikir bagaimana cara ganti uangnya (mahar), yang harus Mama mikirin adalah merangkul masyarakat Kota Manado dan merangkul masyarakat Kota Manado seperti halnya Mama kita sendiri. Inilah komitmen kita PSI, partainya anak muda,” ujar Giring.

Suasana pelantikan Relawan Mata Julyeta (Foto Suluttoday.com)

Pada kesempatan tersebut turut didampingi Ketua DPW PSI Sulut Melky Pangemanan, Ketua PSI Manado Stevi Mait dan Wakil Ketua DPW Sulut PSI Jurani Rurubua yang anggota DPRD Manado. Turut hadir dalam acara tersebut Imam mesjid al maghfirah karame, ibu pendeta gereja maranatha karame, tokoh masyarakat kelurahan karame Ustad Umar Maliki dan Faisal Salim Ketua BM PAN (Barisan Muda Partai Amanat Nasional) Kota Manado.

Bunda Paula, sapaan akrab Julyeta Runtuwene pun mengukuhkan relawan Mata Julyeta di kecamatan Singkil kelurahan Karame dan kegiatan tersebut selain dihadiri, Ketum PSI Giring ‘Nidji’ Ganesha pun ikut mensosialisasikan visi dan misi pembangunan PAHAM.

(*/Amas)

Soal Pinjaman PEN, Wali Kota Vicky Lumentut Menunggu Sikap DPRD Manado

Dr. GS Vicky Lumentut (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dinamika di DPRD Manado akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian masyarakat. Hingga Jumat (16/10/2020) kemarin, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Manado belum juga membahas KUA PPAS Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2020.

Seperti diketahui, bahwa belum tercapainya pembahasan antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dengan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Manado disebabkan keingginan sebagian personil banggar untuk mengeluarkan anggaran PEN 300 Milyar dari draft KUA PPAS APBD Perubahan.

Terkait dengan masuknya anggaran PEN dalam postur APBD Perubahan Kota Manado Tahun 2020, Wali Kota Manado, Dr. GS Vicky Lumentut saat berdiskusi dengan Komunitas Siap Bersatu Pria/Kaum Bapa GMIM yang terdiri dari pimpinan dan anggota P/KB Jemaat dan Wilayah di kawasan Malalayang pada Sabtu 17/10 menjelaskan posisi awal hingga proses pengembalian pinjaman dana PEN.

“Saya telah berdiskusi dengan pihak manajemen PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), salah satu BUMN pada Kementrian Keuangan yang mendapat mandat mengelola stimulus pinjaman investasi daerah pada sekitar pertengahan tahun. Pihak PT SMI saat berdiskusi menjelaskan dananya PEN yang mereka kelola terbatas, tidak semua kabupaten kota bisa dapat. Saya ajukan permintaan kalau Manado bisa dapat, mereka minta segera masukkan,” ujar Wali Kota Manado yang pernah memimpin APEKSI tersebut.

Ditambahkannya lagi, dirinya menjelaskan harus bicara dengan DPRD lagi. Tapi PT SMI menjelaskan, kali ini kebijakan nasional Pak Presiden karena situasi yang mendesak, pemulihan ekonomi tanpa ada persetujuan DPRD bisa diambil, tinggal kabupaten/kota atau provinsi laporkan saja yang diminta bantuan/pinjaman. Tidak perlu ada persetujuan lebih dahulu dapat diajukan, nanti mereka setuju, nanti laporkan ke DPRD.

“Saya kemudian mengajukan jumlah 300 M dengan 258 Milyar untuk menyeimbangkan postur APBD yang sempat pincang dan yang hilang terpangkas akibat refocusing dan relokasi anggaran. Kemudian sisanya diperuntukkan bagi dana-dana yang harus kita cari untuk lansia, THL, dan lain-lain. Itulah yang kami masukkan ke APBD Perubahan. Ketika dimasukkan ke DPRD, dana ini masih diproses di Jakarta administrasinya,” tutur Vicky Lumentut yang juga Ketua Partai NasDem Kota Manado itu.

Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2020 yang telah diperbarui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2020, tambah Vicky Lumentut, posisi Pemerintah hanya memberitahukan ke DPRD paling lambat 5 (lima) hari setelah pengajuan permohonan ke PT SMI.

“Berdasarkan regulasi, baik dalam Peraturan Pemerintah maupun ketentuan teknis dalam Peraturan Menteri Keuangan atau PMK, koordinasi dengan DPRD tidak harus dengan persetujuan. Cukup dilaporkan. Tapi niat baik saya dan menghargai kelembagaan DPRD, usulan tersebut dimasukkan dalam APBD Perubahan dan laporkan, supaya mereka (anggota DPRD) tahu. Mungkin karena proses ini bersamaan dengan kontestasi politik, banyak yang ikut memberi sudut pandang politis. Padahal Provinsi Sulut juga ikut mengajukan 1.2 Trilyun dana PEN,” kata Wali Kota murah senyum itu.

Tak hanya itu, Wali Kota Manado visioner itu mengaku tidak tahu bagaimana Anggota di DPRD Manado seperti mengulur waktu, diputar-putar, digoreng-goreng, dipikirnya ada sesuatu yang akan diambil Wali Kota disitu, padahal upaya ke SMI merupakan terobosan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah Kota Manado terhadap program dan kegiatan. Wali Kota mendoronh dan telah mencontohkan sikap transparan dalam prosedur yang dilaluinya.

“Anda buka dan cari tahu isinya. Tapi pihak DPRD bersikeras kalau tidak mau bahas kalau PEN tidak dikeluarkan. Nah kalau saya keluarkan itu, berarti THL yang 60M tidak ada dana. Lansia juga yang mau dibutuhkan akan ada masalah, termasuk dana duka, dan insentif rohaniwan. Sampai kemarin, mereka masih terus meminta supaya PEN itu dicabut dari rancangan. Saya bilang boleh, tapi karena saya sampaikan resmi, maka respons sikapnya jangan hanya mengajukan pendapat pribadi, harus dijawab secara resmi kelembagaan kalau benar dana ini ditolak dalam penerimaan daerah pada APBD Perubahan 2020. Sikap resmi DPRD bahwa dana ini ditolak, saya tunggu supaya saya bisa dipertanggungjawabkan,” tutur Vicky Lumentut.

Administrasi Pemerintahan kita harus dibangun secara baik, lanjut Vicky Lumentut, dan harus dalam kerangka formal, jangan verbal.

“Saya masih menunggu karena sampai hari ini belum ada sikap resmi penolakan secara tertulis. Tetapi dalam praktiknya dengan belum dibahas ada indikasi penolakan. Kita tunggu saja sikap kelembagaan DPRD Kota Manado,” kata GSVL, Wali Kota Manado 2 periode itu.

Khusus kepada para THL yang bekerja di 53 Perangkat Daerah, Wali Kota GSVL menyampaikan permohonan maaf karena pembayaran honor masih tertunda.

“Saya mohon maaf kepada THL kalau pembayaran honor mereka masih tertunda karena kita belum dapatkan legitimasi untuk menyalurkan itu. Sampaikan salam dan hormat saya untuk mereka, titip juga pesan dan mohon dukungan doanya karena sampai hari ini saya masih berjuang untuk itu;” jelas GSVL menutup.

(*/Amas)

Melky Pangemanan: Kita Bekerja untuk PAHAM, PSI Makin Berjaya

Melky Pangemanan ketika menerima massa aksi di DPRD Sulut (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Secara tegas, Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulawesi Utara (Sulut), Melky Pangemanan menyampaikan bahwa daya tarik dua figur calon Walik Kota Manado Prof Dr Julyeta Paula Runtuwene dan Wakil Wali Kota DR Harley Mangindaan begitu kuat. PAHAM (Paula Harley Manado) dapat melenggang mulus di Pilkada serentak 2020, 9 Desember nanti.

Menariknya, pada saat kegiatan Yang Muda Paham 4 Menangkan Manado di Gratia Cafe & Bakery Malalayang, Sabtu (17/10/2020) malam, Pangemanan pun merasa yakin Paula-Harley Manado (PAHAM) mampu membesarkan PSI kedepan.

”Jika masyarakat Kota Manado percayakan tanggungjawab kepada PAHAM sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado, PSI berikut tidak hanya mewakilkan satu anggota DRPD Manado saja, tapi saya yakin bisa meloloskan satu Fraksi di DPRD Manado,” ujar Pangemanan yang juga  yang juga Anggota DPRD Provinsi Sulut ini.

PSI bersama milenial siap menangkan PAHAM (Foto Istimewa)

Mantan Ketua Senat mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado itu menjelaskan bahwa suara PSI di picaleg lalu begitu besar, dan menajdi satu satunya partai dengan jumlah terbanyak kedua yang dicoblos masyarakat.

”Tandanya kita harus kerja keras menangkan PAHAM. Karena kepercayaan masyarakat terhadap PSI begitu besar. Untuk itu kita akan kawal PAHAM dan mulai sekarang kita melengkapi kekuatan dua figur PAHAM ini. Kita bungkus satu Fraksi mulai dari sekarang dan kita bekerja untuk PAHAM, dan PSI makin berjaya,” tutur Pangemanan.

Selain itu, seperti sayung bersambut, Paslon Paula-Harley Manado pun menyatakan dukungan akan partai anak-anak muda ini untuk bisa memperoleh satu fraksi di dprd Manado, agar bisa menang kawal visi dan misi program pembangunan PAHAM.

(*/Amas)

iklan1