Soal Pinjaman PEN, Wali Kota Vicky Lumentut Menunggu Sikap DPRD Manado

Dr. GS Vicky Lumentut (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dinamika di DPRD Manado akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian masyarakat. Hingga Jumat (16/10/2020) kemarin, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Manado belum juga membahas KUA PPAS Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2020.

Seperti diketahui, bahwa belum tercapainya pembahasan antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dengan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Manado disebabkan keingginan sebagian personil banggar untuk mengeluarkan anggaran PEN 300 Milyar dari draft KUA PPAS APBD Perubahan.

Terkait dengan masuknya anggaran PEN dalam postur APBD Perubahan Kota Manado Tahun 2020, Wali Kota Manado, Dr. GS Vicky Lumentut saat berdiskusi dengan Komunitas Siap Bersatu Pria/Kaum Bapa GMIM yang terdiri dari pimpinan dan anggota P/KB Jemaat dan Wilayah di kawasan Malalayang pada Sabtu 17/10 menjelaskan posisi awal hingga proses pengembalian pinjaman dana PEN.

“Saya telah berdiskusi dengan pihak manajemen PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), salah satu BUMN pada Kementrian Keuangan yang mendapat mandat mengelola stimulus pinjaman investasi daerah pada sekitar pertengahan tahun. Pihak PT SMI saat berdiskusi menjelaskan dananya PEN yang mereka kelola terbatas, tidak semua kabupaten kota bisa dapat. Saya ajukan permintaan kalau Manado bisa dapat, mereka minta segera masukkan,” ujar Wali Kota Manado yang pernah memimpin APEKSI tersebut.

Ditambahkannya lagi, dirinya menjelaskan harus bicara dengan DPRD lagi. Tapi PT SMI menjelaskan, kali ini kebijakan nasional Pak Presiden karena situasi yang mendesak, pemulihan ekonomi tanpa ada persetujuan DPRD bisa diambil, tinggal kabupaten/kota atau provinsi laporkan saja yang diminta bantuan/pinjaman. Tidak perlu ada persetujuan lebih dahulu dapat diajukan, nanti mereka setuju, nanti laporkan ke DPRD.

“Saya kemudian mengajukan jumlah 300 M dengan 258 Milyar untuk menyeimbangkan postur APBD yang sempat pincang dan yang hilang terpangkas akibat refocusing dan relokasi anggaran. Kemudian sisanya diperuntukkan bagi dana-dana yang harus kita cari untuk lansia, THL, dan lain-lain. Itulah yang kami masukkan ke APBD Perubahan. Ketika dimasukkan ke DPRD, dana ini masih diproses di Jakarta administrasinya,” tutur Vicky Lumentut yang juga Ketua Partai NasDem Kota Manado itu.

Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2020 yang telah diperbarui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2020, tambah Vicky Lumentut, posisi Pemerintah hanya memberitahukan ke DPRD paling lambat 5 (lima) hari setelah pengajuan permohonan ke PT SMI.

“Berdasarkan regulasi, baik dalam Peraturan Pemerintah maupun ketentuan teknis dalam Peraturan Menteri Keuangan atau PMK, koordinasi dengan DPRD tidak harus dengan persetujuan. Cukup dilaporkan. Tapi niat baik saya dan menghargai kelembagaan DPRD, usulan tersebut dimasukkan dalam APBD Perubahan dan laporkan, supaya mereka (anggota DPRD) tahu. Mungkin karena proses ini bersamaan dengan kontestasi politik, banyak yang ikut memberi sudut pandang politis. Padahal Provinsi Sulut juga ikut mengajukan 1.2 Trilyun dana PEN,” kata Wali Kota murah senyum itu.

Tak hanya itu, Wali Kota Manado visioner itu mengaku tidak tahu bagaimana Anggota di DPRD Manado seperti mengulur waktu, diputar-putar, digoreng-goreng, dipikirnya ada sesuatu yang akan diambil Wali Kota disitu, padahal upaya ke SMI merupakan terobosan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah Kota Manado terhadap program dan kegiatan. Wali Kota mendoronh dan telah mencontohkan sikap transparan dalam prosedur yang dilaluinya.

“Anda buka dan cari tahu isinya. Tapi pihak DPRD bersikeras kalau tidak mau bahas kalau PEN tidak dikeluarkan. Nah kalau saya keluarkan itu, berarti THL yang 60M tidak ada dana. Lansia juga yang mau dibutuhkan akan ada masalah, termasuk dana duka, dan insentif rohaniwan. Sampai kemarin, mereka masih terus meminta supaya PEN itu dicabut dari rancangan. Saya bilang boleh, tapi karena saya sampaikan resmi, maka respons sikapnya jangan hanya mengajukan pendapat pribadi, harus dijawab secara resmi kelembagaan kalau benar dana ini ditolak dalam penerimaan daerah pada APBD Perubahan 2020. Sikap resmi DPRD bahwa dana ini ditolak, saya tunggu supaya saya bisa dipertanggungjawabkan,” tutur Vicky Lumentut.

Administrasi Pemerintahan kita harus dibangun secara baik, lanjut Vicky Lumentut, dan harus dalam kerangka formal, jangan verbal.

“Saya masih menunggu karena sampai hari ini belum ada sikap resmi penolakan secara tertulis. Tetapi dalam praktiknya dengan belum dibahas ada indikasi penolakan. Kita tunggu saja sikap kelembagaan DPRD Kota Manado,” kata GSVL, Wali Kota Manado 2 periode itu.

Khusus kepada para THL yang bekerja di 53 Perangkat Daerah, Wali Kota GSVL menyampaikan permohonan maaf karena pembayaran honor masih tertunda.

“Saya mohon maaf kepada THL kalau pembayaran honor mereka masih tertunda karena kita belum dapatkan legitimasi untuk menyalurkan itu. Sampaikan salam dan hormat saya untuk mereka, titip juga pesan dan mohon dukungan doanya karena sampai hari ini saya masih berjuang untuk itu;” jelas GSVL menutup.

(*/Amas)

iklan1
iklan1