Pilkada, Narsisisme Etnis dan Diksi Rasis

(Catatan dari Man Gega)

Oleh : Syaiful Bahri Ruray

Syaiful Bahri Ruray (Foto Suluttoday.com)

Guru sejarah saya saat sekolah di SMP Man Gega adalah Ibu Ani Drakel. Beliau masih kakak sepupu dekat saya dari garis ayah. Karena kami sesama cucu Sangaji Gap, namun saya sangat menaruh hormat kapada beliau. Walau sejak kecil saya sering bermain di rumah keluarga Ibu Ani, bahkan menjadi rumah kedua bagi saya. Beliau sudah almarhumah. Dari beliaulah saya mengenal sejarah dunia pertama kali. Bahwa dunia ternyata tidak sebatas Tanjung Waka dan Malbufa.

Beliau mengajarkan tentang kebudayaan Jepang dan memperkenalkan tentang mitologi Omiterasu Omikami dalam pandangan teologi Shinto yang mendewakan matahari. Para kaisar Jepang dipercaya oleh masyarakat Jepang sebagai turunan Dewa Matahari. Ketika Indonesia dijajah Jepang (1942-1945), rakyat Indonesia dipaksakan setiap pagi membungkukkan badan menghadap matahari untuk menghormati Omiterasu Omikami tersebut. Ritual ini menjadi wajib bagi daerah jajahan Jepang termasuk di Sula. Yang melawan bisa berakibat fatal karena dianggap menghina kepercayaan tradisional Jepang tersebut.

Dari Ibu Ani juga, beliau mengajarkan kami tentang Amerika, negara adidaya itu, yang terbentuk dari penaklukkan atas penduduk aseli Indian oleh para pedatang seperti Christopher Colombus dan Hernando Cortez, lalu terjadi perang sipil terbesar dalam sejarahnya. Semua itu terjadi karena ada perbudakaan dan isyu etnis. Dimana kaum negro dirantai dengan paksa dan diculik dari Benua Afrika, dibawa sebagai budak belian ke Amerika untuk dipekerjakan secara paksa oleh majikan kulit putihnya. Mereka dianggap sub-human, bukan manusia sepenuhnya.

Ketika menjadi aktivis mahasiswa, saya ikut rombongan muhibah keliling Jepang pada 1988. Mengunjungi Jepang adalah perjalanan ke luar negeri pertama kali bagi saya. Saya pun teringat pelajaran masa kecil di SMP Man Gega. Kepada orang tua angkat Jepang di desa Yabemachi di pedalaman Kumamoto, Selatan Jepang, saya bercerita tentang Omiterasu Omikami, mereka sempat terkaget-kaget, namun ke esokan harinya saya diajak ke kuil tua Shinto di sebuah bukit terpencil dan berdiskusi dengan seorang pendeta Shinto tentang teologi Shinto.

Lalu dibawa ke sebuah tempat yang dianggap ‘bamok’ (sakral) oleh masyarakat Jepang, karena disitulah dipercayai Omiterasu Omikami pertama kali turun ke bumi. Pendeta Shinto itu rata-rata berperilaku sangat halus dan sopan, namun setiap orang Jepang adalah pendekar. Mereka memiliki 5 jenis bela diri yang wajib dipelajari salah satunya sejak masuk bangku kelas 1 SMP. Setiap kota Jepang ada Budokan Hall, itu adalah pusat pendidikan bela diri tradisional Jepang. Ternyata dari situlah disiplin sosial rakyat Jepang dibentuk.

Mereka modern ditengah kebanggaan akan identitas tradisionalnya. Tradisionalitas tidak tercerabut ditengah budaya semoderen apapun. Saya juga berkunjung ke seorang mantan samurai, eks kapten angkatan darat Jepang yang pernah berdinas di Singapore dalam Perang Dunia II. Ia menjadi petani dan pengurus koperasi petani. Koperasi petani di Jepang sangat maju karena mereka menguasai pasar domestik, dan memiliki industri pengolahan bahan pertaniannya sendiri.

Saya ditunjukkan jenis samurai Jepang, katana (samurai pendek) untuk harakiri, dan samurai panjang untuk bertempur. Masyarakat Jepang memiliki tradisi bushido, tradisi samurai yang membuat mereka menjadi bangsa kuat secara sosial. Sekembalinya ke Tokyo, saya bergegas ke toko buku, membeli buku Bushido, karangan Dr. Inazo Nitobe, untuk dapat lebih memahami kuatnya identitas masyarakat Jepang yang tak pernah luntur ditengah arus modernisasi bangsanya. Di Tokyo saya sempat bersilaturrahmi dengan orang Sula, ibu Farida Andi Atjo dan keluarga yang telah lama menetap di Tokyo.

Sedangkan Amerika, bangsa yang dibentuk dengan isyu etnis dan pembantaian penduduk aseli itu, oleh Ibu Ani, kami murid-muridnya diperkenalkan dengan sebuah nama, Harriet Beecher Stowe, seorang novelis perempuan Amerika yang menulis Uncle Tom’s Cabin pada 1852. Dari buku ini, bangkitlah rasa kemanusiaan anti perbudakan pada Amerika Utara, dan mereka menentang perbudakan pada Amerika Selatan.

Lalu pecahlah Perang Sipil (1861-1865). Tapi karena perang itulah terbentuk Amerika Serikat dengan 50 negara bagian yang kita kenal sekarang ini. Revolusi Amerika juga dimulai dari apa yang dikenal sebagai ‘The Boston Tea Party’ dimana pedagang teh membuang semua barang dagangannya ke laut sebagai tanda protes atas pajak kolonial Inggris terhadap mereka. George Washington tampil sebagai pemimpin revolusi. Lalu apakah isyu etnis dan ras itu selesai ?? Ternyata tidak, karena Presiden Abraham Lincoln yang anti perbudakan pun tewas.

John Fitzgerald Kennedy (Presiden AS 1961-1963), yang membebaskan segregasi sosial kulit putih dan kulit berwarna di Amerika, ia pun tewas di Texas oleh tembakan Lee Harvey Oswald. Betapa isyu ras itu telah membawa banyak korban kemanusiaan. Penulis Lothrop Stoddard bahkan menulis tentang bangkitnya kulit berwarna untuk melawan supremasi kulit putih.

Stoddard menulis Rising Tide of Color, Against White World Supremacy (1921), buku ini dibaca Bung Karno dalam penjara kolonial Belanda ketika ia ditahan karena orasi dan tulisan-tulisannya tentang Indonesia Merdeka. Buku Indonesia Menggugat, adalah salah satu pidato pembelaan (pleidoi) Bung Karno didepan persidangan kolonial di Bandung yang sangat monumental.

Gunnar Myrdal, seorang pemenang hadiah nobel, juga menulis An American Dilemma, The Negro Problem and Modern Democracy (1942). Ternyata pemilu Amerika 2020 yang menampilkan petahana Donald Trump melawan Joe Biden, masih saja ada isyu rasisme. Kasus penembakan warga kulit hitam oleh polisi federal Amerika, telah memicu tuntutan akan keadilan dan kesamaderajatan dimata hukum.

Betapa prinsip lama hukum justice (keadilan) dan equality before te law (setiap orang berkedudukan sama dimata hukum), masih menjadi tema yang belum selesai. Fukuyama (2018) menyebut politik identitas dan ujaran kebencian, menjadi tanda keruntuhan demokrasi.

Akan halnya pilkada kita di Sula, jika saja tidak merujuk pada sejarah yang diajarkan guru-guru kita, juga akan terperangkap ada isyu rasisme dan etnisitas yang justeru merusak platform demokrasi. Kita demikian miskin akan narasi- narasi yang bisa mencerahkan rakyat agar dapat memilih kandidat berdasarkan pertimbangan kearifan dan kecerdasan.

Ditengah ancaman pandemi yang belum juga reda, rakyat diperhadapkan pada krisis ekonomi yang melanda setiap rumah tangga penduduk. Halmana menjadi peluang terbuka untuk terjadinya praktek money politics dengan harga obral. Prof. Edward Aspinall (Democracy for Sale, 2019) yang melakukan riset mutakhirnya tentang politik Indonesia, menyatakan bahwa demokrasi kita telah terbeli dengan harga murah.

Kontestasi bukan lagi pada narasi demokrasi berkualitas, malah mengedepankan diksi rasis yang semakin berkibar dimana-mana. Indonesia sebagai sebuah bangsa terbentuk dari 1.340 etnis yang mendiami 17.504 pulau, adalah sebuah khasanah peradaban yang sangat luar bisa. Perbedaan etnis dan bahasa daerah, bisa disatukan dalam sebuah bahasa nasional, dengan sebuah ideologi nasional.

Bisa kita bayangkan diluar sana, ada bangsa yang berbahasa satu namun terbelah menjadi beberapa negara, sebutlah Korea, yang terbelah Utara dan Selatan. Juga negara-negara Arab, berbahasa satu, namun tidak berbentuk sebuah negara kesatuan. Liga Arab beranggotakan 22 negara. Revolusi The Arab Spring nya belum juga selesai hingga sekarang. China terbelah antara RRC dan Taiwan, sementara Hongkong tengah bergejolak untuk menentukan identitasnya sendiri, ditengah tekanan keras Beijing. Juga terhadap Tibet dan Muslim Uyghur. Juga Bangkok sementara bergejolak, menuntut reformasi atas kekuasaan sang raja, hal yang selama ini dianggap sakral.

Dua ilmuan politik dari Harvard University, Steven Levitsky dan Daniel Ziblat, menulis How Democracy Dies (2018), mengungkapkan bagiamana demokrasi mengalami kematian karena kekerasan yang ditolerir, termasuk kekerasan naratif. Disebut: toleration or encouragement of violence (toleransi, membiarkan atau mendorong kekerasan adanya aksi kekerasan), akan mencabut nyawa demokrasi menuju sakaratul maut. Jika pilkada kita berlangsung dengan citarasa rasisme dan narsisisme yang kencang, sebenarnya kita tengah memutar balik Indonesia kebelakang, kembali ke era pra Sumpah Pemuda 1928.

Untung saja ada pelajaran berharga dari Ibu Ani Drakel, guru saya di SMA Man Gega.

Laha Alfatihah buat Ibu Ani Drakel…

Man Gega, 20 Oktober 2020.

iklan1
iklan1