“Aupele dan Etika Komunikasi”

Syaiful Bahri Ruray (Foto Istimewa)

Oleh : Syaiful Bahri Ruray

If we are not ashamed to think it,
we should not be ashamed to say it
(Cicero)

Begitu melihat apa yang terjadi di ruang sidang DPRD Morotai, membuat saya tiba-tiba saja mengingat Prof. Bachtiar Aly.MA, guru komunikasi publik saya ketika mulai aktif berpolitik. Saya sempat mengikuti pelatihan di Suli, Ambon, tentang komunikasi politik, dan salah satu pengajarnya adalah Prof. Bachtiar Aly yang lulusan S2 Belanda dan S3 Jerman. Beliau mengawali ceramahnya dengan mengutip kalimat filsuf Cicero: *que ascendit sine labore, descendit sine honore* – barang siapa tak menyiapkan diri sebelum naik podium, maka ia akan turun panggung tanpa kehormatan.

Marcus Tulius Cicero adalah seorang filsuf Romawi kuno yang terkenal karena ajarannya tentang orator dan retorika pertama kali. Marcus Tullius Cicero sendiri hidup pada tahun 106-43 sebelum Kristus ini, adalah peletak dasar ilmu retorika yang kita kenal sekarang ini.

Makna kalimat Cicero yang terpenting adalah menyiapkan diri dalam berkomunikasi dengan baik, akan melahirkan pengertian dan kita terhindar dari konflik karena kesalahpahaman. Sebaliknya, jika kita tak menyiapkan diri, maka kita akan jatuh dengan tidak terhormat. Cicero menekankan kehormatan atau etika sebagai hal yang demikian penting dalam berkomunikasi. Jika pikiran tidak malu untuk menyampaikan sesuatu, maka kita akan mengutarakan sesuatu tersebut tanpa rasa malu – *If we are not ashamed to think it, we should not be ashamed to say it,* ungkap Cicero.

Kehidupan manusia, peradabannya bertumpu pada instrumen utama yakni komunikasi. Relief dan bukti arekologis peradaban manusia dari abad keabad, menunjukkan akan maksud untuk berkomunikasi tersebut. Peradaban menjadi gagal, ketika komunikasi sebagai instrumen peradaban tersebut menjadi buruk, bahkan gagal. Dari relief kapal Halmahera bercadik ganda (Halmahera Double Outriggers) pada relief Candi Borobudur misalnya, kita pun mengetahui bahwa sejak abad ke 9 Masehi, dimana Borobudur dibangun oleh Wangsa Syailendra tersebut, telah ada alat transportasi utama antara Halmahera dan Jawa, bahkan hingga Madagaskar, karena adanya peradaban perdagangan diantara manusia. Dalam riset Peter Bellwood (2019) tentang bukti-bukti arkeologis Maluku Utara, kita dapat mengetahui adanya peradaban setua 40,000 tahun di Maluku Utara, terbentang dari Morotai, Gebe hingga Uattamdi.

Tentu saja, untuk peradaban setua ini, memiliki pola komunikasi antar manusia dalam masyarakat tradisional, baik era pra-sejarah, hingga masa modern, dimana revolusi komunikasi melalui teknologi informasi, telah mendekatkan jarak, waktu dan tempat dalam sekejap.

Dalam sekejap pula, kejadian di Morotai, sebuah beranda Indonesia menuju Pasifik, menjadi viral. Karena komunikasi antara pejabat daerah setempat yang tidak nyambung dengan elite politik parlemen lokal Morotai. Baik rekaman percakapan secara tekstual maupun live-video, demikian cepat menyebar kesegenap penjuru jagad maya. Apa yang terjadi di Morotai, terlepas dari pro-kontra, adalah soal etika komunikasi. Kesalahan memanfaatkan komunikasi sebagai instrumen untuk memperoleh konsensus sebuah kebijakan, menjadi terabaikan dari sisi etika retorika, sebagaimana makna kalimat filsuf Cicero yang di kutip diatas.

Selayaknya percakapan pada tingkat parlemen, haruslah memiliki standarisasi etika yang sepantasnya dipahami oleh setiap pejabat daerah yang memasuki ruangan terhormat tersebut. Karena pejabat publik, baik parlemen maupun aparat teras pemerintahan, dalam 22 tahun reformasi Indonesia, bukanlah lagi sebuah *untouchable institutions*, sebagaimana era sebelumnya yang kita anggap otoritarian. Lembaga supra struktur, bukanlah lagi menara gading yang memonopoli kebenaran tunggal. Sebagaimana Cicero, sang filsuf selama karirnya sebagai pemikir dan negarawan, yang senantiasa melawan tirani hingga akhir hayatnya. Ia juga disebut tewas dengan heroik demi perjuangannya.

Adapun sikap tidak etis dalam berkomunikasi, akan melahirkan tindakan aupele sebagai responnya. Stephen King, penulis Amerika mengatakan: *“if you don’t temper yourself, your temper will control yourself.”*

Dimensi keadaban, adalah kata kunci dalam berkomunikasi. Kemampuan memanfaatkan komunikasi, dalam pandangan Cicero hingga Stephen King tersebut, bukan terletak pada kerasnya suara, namun seberapa besar mengedepankan etika tatkala berkomunikasi. Soal etika memang bukan persoalan sepele. Banyak bangsa menjadi miskin dan hancur justeru karena miskin etika. Gunnar Myrdal, pemenang hadiah nobel ekonomi, sejak 1968, dalam *Asian Drama, An Inqury Into the Poverty of Nations*, membagi negara-negara dunia atas dua bagian.

Negara kuat (tough state) dan negara lemah (soft state). Negara kaya, adalah negara dimana etikanya kuat, sedangkan negara soft state adalah negara miskin, karena lemahnya etika sosial. Etika menjadi kata kunci kemajuan sebuah bangsa. Tidak berlebihan jika etika sosial tersebut diawali dari etika kita dalam berkomunikasi antara sesama.

Dua ilmuan Harvard University, Steven Levitsky dan Daniel Ziblat yang menulis *How Democracies Dies* (2018), mengungkapkan bagaimana demokrasi bisa mati, walau demokrasi telah menjadi pilihan negara-negara bangsa dewasa ini. Disebut contohnya seperti Venezuela, Georgia, Hungaria, Nicaragua, Peru, Filipina, Polandia, Russia, Sri Lanka, Turki dan Ukraina bahkan Amerika, komunikasi pemimpin negara-negara ini dicontohkan akan membunuh demokrasi secara perlahan.

*Toleration or encouragement of violence*- toleransi dalam membiarkan atau mendorong adanya aksi kekerasan, adalah salah satu parameter terbunuhnya demokrasi. Lalu, saya juga melihat live-video, tentang robohnya pagar besi depan kantor Walikota Ternate. Mungkin kini saatnya, kita mengkaji lagi pikiran-pikiran lama filsuf Cicero.

*O Tempora, O Mores*- kalimat kecewa Cicero.

(22 Oktober 2020)

iklan1
iklan1