Sumpah Pemuda, Masihkah Sumpah Atau Sampah?

Syaiful Bahri Ruray, politisi (Foto Istimewa)

Oleh : Syaiful Bahri Ruray

Kemarin, saya menonton you tube yang dikirim adinda saya Thamrin Ali Ibrahim, Ketua KNPI Maluku Utara, yang isinya berupa gugatan tentang kepedulian generasi milenial terhadap Sumpah Pemuda. Lalu tebersitlah tulisan ini untuk merespon you tube tersebut.

Entah apa jadinya Indonesia jika tanpa pemuda. Hampir seabad lalu, 28 Oktober 1928, para pemuda berbasis berbagai organisasi etnis berkumpul di Kramat Raya, menyatakan tekad dalam sumpahnya. Sumpah tersebut dirumuskan Mohammad Yamin, seorang pemuda Sumatera Barat yang sarjana hukum namun menggeluti sejarah Majapahit. Coretan tersebut diserahkan kepada Soegondo dan Mr. Soenario pada sesi terakhir kongres pemuda untuk dibacakan. Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Ambon, Jong Java, Jong Celebes, Jong Islamieten Bond, juga hadir beberapa pemuda peranakan seperti Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie yang tidak sempat tercatat asal organisasinya, yang menghadiri kongres monumental tersebut.

Orang-orang muda ini berkumpul di sebuah gedung di daerah Kramat Raya 106, Jakara Pusat sekarang, untuk bersepakat bahwa kesatuan harus terbentuk guna mengatasi identitas kedaerahan mereka. Gedung yang sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda itu sendiri, awalnya adalah asrama pelajar milik Sie Kok Liong. Disinilah berkumandang pertama kalinya lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan Dolly Salim, anaknya KH. Agus Salim, dengan di iringi gesekan biola Wage Rudolf Supratman, sang pencipta lagu.

Nasionalisme memang pada awal abad 20 tersebut, menjadi barang mewah yang tengah bergejolak mencari bentuk dalam diri setiap bangsa. Soekarno (1926) saja mengutip Ernest Renan dan Otto Bauer sebagai rujukan bagi identitas sebuah bangsa yang belum terbentuk. Indonesia adalah sebuah imagine communities yang terbentuk karena sebuah kesamaan cita-cita, serta nasib, sejarah dan karakter.

Seandainya tanpa orang muda tersebut, Hindia Belanda adalah negeri jajahan korporasi global pertama di dunia yakni VOC, lalu diberi kekuasaan berdasarkan Hak Oktrooi oleh Kerajaan Belanda untuk membentuk pasukan militer, pemerintahan dan bernegosiasi dengan raja-raja lokal di Nusantara. 17 pengusaha bergabung membentuk konsorsium atas ide seorang pedagang ikan asin awalnya, Johan van Olden Barneveldt, dan terbentuklah VOC.

Awalnya ibukota VOC adalah Maluku, yaitu Ternate, yang sempat ditempati oleh empat orang Gubernur Jenderal yakni Pieter Booth, Gerard Reynst, Laurens Reael dan Jan Pieterzoon Coen. Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jenderal ke empatlah memindahkan ibukota dari Ternate ke Batavia pada 30 Mei 1619. Nama sang nama pendiri VOC pun diabadikan sebagai nama Benteng VOC di Labuha, Bacan, Benteng Barneveldt yang masih tegak hingga sekarang.

Jadi Indonesia dikuasai oleh de heren zeventien, 17 pemilik modal VOC tersebut sejak 1602. Dalam catatan Karel Steenbrink (1993), dua surat diajukan oleh Jan Pieterzoon Coen kepada *Heren Zeventien* untuk memindahkan ibukota dari Ternate, dengan alasan tidak bisa berdagang dengan penduduk lokal karena kurang bisa dipercaya katanya. Namun, Jan Pieterzoon Coen tercatat membantai penduduk Kepulauan Banda sebanyak 13,000 orang penduduk aseli untuk memonopoli pala.

Setelah bangkrutnya VOC karena korupsi (1799), Hindia Belanda diambil alih oleh Kerajaan Belanda. *Divide et impera* dipraktekkan Belanda untuk membenturkan identitas lokal di Nusantara, agar mudah diadu domba dan dikuasai. Indonesia sendiri terdiri dari 1.340 suku yang mendiami 17.503 pulau. Belanda juga membangun oligarki lokal dengan memanfaatkan kekuasaan-kekuasaan feodal, sebagai kaki tangan untuk melaksanakan kekuasaannya.

Cornelis van Vollenhoven membagi 19 wilayah adat di Indonesia (adat rechts kringen) menunjukkan betapa beragamnya Indonesia kita. Bahkan riset hukum adat terbaru menemukan masih banyak wilayah adat di Indonesia, tidak sebatas apa yang diteliti van Vollenhoven tersebut. Dalam sebuah percakapan dengan Prof. Harkristuti Harkrisnowo, tentang the living law Indonesia, beliau menyatakan bahwa penelitian van Vollenhoven tersebut memang belum selesai, karena masih banyak lingkungan adat di Indonesia.

Seandainya tidak ada politik etis, yang di ajukan van Deventer dan van Vollenhoven terhadap pemerintah Belanda, jelas Indonesia akan tereksploitasi lebih lama lagi dari apa yan kita tahu sekarang. Orang muda yang sempat menikmati politik etis tersebutlah, kemudian menjadi pelopor dalam membangun identitas nasional bangsa Indonesia, dengan berlangsungnya Sumpah Pemuda 1928 tersebut.

Orang muda sebagai elite baru tersebut adalah hasil pendidikan kolonial. Namun sejarah berkata lain, produk kolonial tersebut justeru berbalik menjadi nasionalis-nasionalis awal yang menjadi *the founding fathers* bangsa ini. Salah satu momen bersejarah adalah Sumpah Pemuda 1928 tersebut. Dari situlah bergulir nama-nama pemuda yang kemudian turut mewarnai terbentuknya nation state Indonesia.

Seandainya tanpa pemuda, mungkin pula kemerdekaan Indonesia bukan pada 17 Agustus 1945. Karena ulah beberapa orang muda, menculik Bung Karno dan Bung Hatta dari Jakarta ke Rengasdengklok, menempatkan beliau berdua di rumah seorang keturunan China Djiaw Kie Song, yang pro-nasionalisme Indonesia. Pemuda Wikana, Soekarni, Chairul Saleh, Aidit, mereka adalah kelompok Pemuda Menteng 31, bergerak dengan modal nekat menculik Soekarno dan Mohammad Hatta pada jam 03.00 WIB tanggal 16 Agustus 1945.

Orang-orang muda ini sempat berdebat panas dengan kelompok tua seperti Mohammad Hatta, Bung Karno dan Mr. Ahmad Soebardjo untuk mendesak disegerakannya proklamasi. Mereka, para orang muda inilah kemudian mendesak Ibu Fatmawati menjahit sang saka Merah Putih, untuk nanti dikibarkan di Pegangsaan Timur 56, kediaman seorang warga turunan Arab pro-nasionalisme, Faradj bin Said bin Awadh Martak, seorang saudagar Arab pemilik NV. Marba di Batavia.

Rumah Faradj Martak ini dihibahkan untuk perjuangan Indonesia, dan menjadi tempat tinggal Soekarno, hingga terlaksananya detik-detik Proklamasi 1945. Ia juga membeli beberapa gedung Hindia Belanda untuk dijadikan asset perjuangan menjelang kemerdekaan Indonesia. Bahkan ada cerita kecil, Soekarno yang kelelahan, menderita sakit beri-beri dan malaria, warisan lama yang dibawa ketika menjadi Digoelisten di penjara alam Boven Digul tersebut.

Rawa-rawa Boven Digul, menjadi semacam penjara alam yang kejam seperti *Gulag Archipelago* di Siberia dalam era Uni Soviet, jadi ingat buku Alexander Solzhenitsyn, novelis Russia yang kabur ke Amerika. Karena menjelang puncak perjuangan, dan desakan orang-orang muda, Soekarno sempat menderita sakit dan lemas. Oleh Faradj Martak, Bung Karno diberikan 20 botol madu Arab, yang bermanfaat untuk membunuh bakteri masing-masing 1 kilogram. Soekarno pun sembuh dan kuat, tampil prima dalam proklamasi 17 Agustus 1945 karena pengaruh madu Arab tersebut.

Bahwa gerakan orang-orang muda ini, menjadi revolutionary prime mover (penggerak utama revolusi), karena mereka melek informasi dan rajin berdiskusi. Informasi pada era pendudukan Jepang 1942-1945, diperoleh dengan mencuri-curi mendengar siaran radio asing, agar tidak tertangkap Kempetai dan mata-mata Jepang. Siaran radio asing menyatakan Jepang telah kalah Perang Dunia II dengan dibomnya Nagasaki dan Hiroshima oleh pesawat pembom Amerika jenis *B-29 Superfortress* pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Dua bom ini menewaskan 129,000 dan 226,000 penduduk. 32% penduduk kedua kota tersebut tewas seketika. Ini menandai berakhirnya Perang Dunia II.

Lalu oleh orang-orang muda kita, serius mendiskusikan, memilih waktu dan menetapkan inilah momentum bagi mereka untuk bergerak. Karena Jepang telah bertekukt lutut. Jika tidak memanfaatkan momentum tersebut, benih Indonesia yang telah lama tersemai sejak 1906-1908 hingga 1928, mungkin tidak bakalan lahir.

Singkat cerita, gerakan orang mudalah yang menghasilkan Indonesia sebagai sebuah *nation state* yang kita kenal hari ini. Saya tak bisa membayangkan tanpa kontribusi mereka, mungkin saja Indonesia adalah kumpulan 19 negara berbasis etnis, sebagaimana teori lama van Vollenhoven tentang adat rechts kringen. Bahkan bisa jadi lebih dari itu, karena kurang lebih ada 73 kerajaan lokal yang masih eksis hingga awal kemerdekaan Indonesia. Bahkan setelah 17 Agutus 1945, kita masih mengenal terbentuknya BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), semacam Badan Musyawarah Daerah pada 15-18 Juli 1948 di Bandung atas gagasan Ida Anak Agung Gede Agung (Raja Gianyar, Bali), dimana Sultan Hamid II (Sultan Pontianak) terpilih sebagai ketuanya.

Saya baru saja menerima sebuah buku dari Amsterdam yang ditulis Klaas Stutje (2016). Stutje melakukan riset tentang bagaimana orang-orang muda Indonesia, membangkitkan nasionalisme dan anti-kolonialisme sejak mereka menjadi mahasiswa di Eropa pada era 1917-1931. Ia mencatat pemuda Sam Ratulangi yang terilhami pergerakan Syarikat Islam H.O.S Cokroaminoto, sejak ia belajar di Universitas Zurich. Lalu Arnold Mononutu menjadi aktivis di Paris. Arnold Mononutu sendiri adalah nama yang melekat dalam ingatan kolektif pemuda Maluku Utara, karena ia adalah seorang pelopor nasionalisme di Maluku Utara.

Lalu Muhammad Hatta yang lantang berbicara tentang Indonesia pada sebuah forum kongres anti imperialisme di Brussels, pada 1927. Juga Mr. Achmad Soebardjo yang berbicara dari Berlin. Di Eropa, mereka orang-orang muda inilah kemudian mendirikan *Indonesisch Vereniging* (Perhimpunan Indonesia). Nah, apakah kita sekarang benar-benar telah melaksanakan cita-cita kemerdekaan mereka, generasi Sumpah Pemuda tersebut ?? Bahwa betapa banyak hal belum terwujud. Memang mengisi kemerdekaan adalah pekerjaan tersulit.

Ditengah bangkitnya politik identitas dan politik kebencian, sebagaimaa diungkapkan Fukuyama (2018), dunia menurutnya tengah mengalami fenomena kebangkrutan demokrasi ( *democrasi decay*). Dua ilmuan Harvard University, Steven Levitsky dan Daniel Ziblat juga menulis *How Democracy Dies* (2018), menggambarkan bagaimana demokrasi dapat mati karena tindakan otoritarian oleh rezim berkuasa yang justeru terpilih secara demokratis. John Perkins (2004) menggambarkan *corporatocracy and greed* tengah melanda dunia kita. Robert D. Kaplan (2018), juga menandai dunia masih bergejolak dengan perebutan hegemoni global ke segenap penjuru.

Indonesia, seakan menghadapi realitas global ini, bagaikan mengulangi takdir masa lalunya. Bukan sesuatu yang tidak mungkin, *l’histoire se repete*, sejarah sering berulang. Bahwa kesalahan mengelola Indonesia hari ini, sebenarnya adalah sebuah bentuk nyata pengkhianatan terhadap cita-cita pergerakan orang-orang muda, *the founding fathers* Indonesia.

Apakah orang-orang muda zaman now, butuh Sumpah Pemuda baru, untuk merevitalisasi kontekstualitas dan aktualisasi gagasan generasi terdahulu?? Ataukah sumpah tersebut telah menjadi sampah. Mungkin kita lebih percaya terhadap apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte bahwa sejarah adalah kebohongan yang disepakati. Peter Baehr dan Melvin Richter (2004), dua ilmuan Lingnan University Hongkong dan New York University yang menulis Dictatorship in History and Theory; Bonapartism, Caesarism and Totalitarians, memang menyebut Bonapartisme sebagai sebuah bentuk kediktatoran.

iklan1
iklan1