Menanti Debat Terbuka Calon Gubernur & Wakil Gubernur Sulawesi Utara

Dr. Arhanuddin Salim, M.PdI (Foto Istimewa)

Oleh : Dr. Arhanuddin Salim, M.PdI, Dosen IAIN Manado

KPU Provinsi Sulawesi Utara, Minggu (1/11/2020) mengundang berbagai akademisi dan tokoh masyarakat Sulawesi Utara untuk mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Sesi 3 tentang persiapan rancangan pokok-pokok pikiran untuk persiapan draf materi pertanyaan debat terbuka calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara. FGD tersebut secara khusus merumuskan tiga isu utama yang menjadi bahan masukan untuk team perumus draf materi pertanyaan debat nantinya.

Isu tersebut adalah kesehatan masyarakat, penanganan Covid-19 dan bencana alam, serta pengembangan infrastruktur daerah. Di forum FGD tersebut disampaikan akan ada tiga sesi debat Paslon calon Gubernur/Wakil Gubernur yang akan dilaksanakan nantinya, mulai 5, 11, dan 17 November 2020 dengan model forum yang sangat minimal, hanya dihadiri Paslon, empat orang perwakilan team kampaye masing-masing Paslon, Komisioner KPU dan Bawaslu.

Disiarkan secara live lewat stasiun tv, chanel youtobe, dan media online lainnya. Acara debat ini tentu terarah dengan mengikuti prosedur protocol kesehatan dan pencegahan penularan Covid-19. Hakikat berdebat dalam kontestasi politik Debat dalam pilkada, sejatinya adalah pertarungan ide dan gagasan untuk meyakinkan calon pemilih. Kemampuan Paslon men-delivery gagasan secara aktif, aktraktif, dan retoris sangat mempengaruhi berkualitas atau tidaknya dinamika perdebatan. Pertanyaannya apakah debat penting?, bagi mekanisme tahapan pilkada secara teknis, itu mungkin penting.

Tapi, secara substansial saya agak meragukan pentingnya debat ini untuk meyakinkan para pemilik suara menentukan pilihan mereka dibilik suara nantinya. Boleh jadi, debat terbuka para Paslon ini hanya sebentuk dagelan politik untuk melengkapi seremonial pesta demokrasi tanpa makna. Dengan model memberi pertanyaan secara langsung kepada Paslon, tanpa ada pendalaman materi debat yang filosofis, saya kira debat ini akan hambar, tak lebih heboh dari kegiatan cerdas-cermat siswa sekolah menengah atas.

Selama ini, debat-debat terbuka, baik dalam tahapan pemilu, maupun pilkada hanya sekedar lalu saja. Kita tidak pernah ingat lagi, apa substansi materi debat yang dipertontonkan oleh Persiden Jokowi dan penantangnya Prabowo Subianto dari priode 2014 dan 2019 kemarin. Semua hilang bak ditelan bumi, layaknya sinetron takdir ilahi, yang tak mampu mempengaruhi desakan nafsu kita untuk tetap berbuat maksiat, meskipun sudah dipertontonkan pedihnya azab kubur bagi pelaku maksiat.

Lalu apa yang kita harapkan dari debat terbuka calon Gubernur/Wakil Gubernur nanti? Yang kita harapkan sebenarnya adalah paling tidak, kita bisa melihat secara live gestur, gaya bertutur, sikap dan senyum manis para Paslon, yang tentu akan sangat sulit kita temui lima tahun ke depan ketika mereka menjabat. Lalu, kemudian kita afirmasi sebagai bentuk dorongan psikologis untuk menentukan pilihan secara rasional di bilik-bilik suara pada 9 Desember 2020 nanti.

Akankah ada hal menarik yang bisa menggugah atau menguncang nalar politik kita sebagai warga Sulawesi Utara di dalam forum debat nanti, semoga, kita tunggu saja. Debat, medium komunikasi gagasan Kita semua berharap, di dalam debat terbuka nantinya ada semacam oase ditengah kekeringan dan apatisme sikap politik warga Sulawesi Utara untuk bisa berpartisipasi di dalam menggunakan hak pilih mereka.

Akan ada adu program dan visi pembangunan Sulawesi Utara lima tahun ke depan, yang bisa membangkitkan semangat hidup kita sebagai warga Sulawesi Utara, bukan malah mempertontonkan ego sectoral, kepongahan personality, dan retorika kamuflase yang semu. Dengan adanya teknologi digital dewasa ini, masyarakat kita real time mengakses informasi dari sudut-sudut kamar mewah mereka, sampai digelapan ruang-ruang sunyi pengunungan yang terpencil. Semua tentu menanti para Paslon ini berbicara soal visi masa depan Sulawesi Utara.

Bagaimana para calon pemimpin ini berpikir soal-soal yang krusial yang dihadapi oleh penduduk Sulawesi Utara. Persoalan penanganan sampah dan kebersihan di Kabupaten/Kota, ini tentu bukan hal yang remeh-temeh, seperti layaknya kita dengan mudahnya bisa membuang sampah sekehendak hati kita. Komitmen para Paslon perlu diuji, terkait soal penanganan sampah ini. Tentu tidak hanya diucapkan dengan gaya retorika meyakinkan, tapi tentu masyarakat butuh bukti ketika mereka menjabat lima tahun ke depan.

Debat terbuka ini juga bisa diartikan sebagai pertaruhan harga diri, setiap Paslon. Tentu juga termasuk di dalamnya menjadi pertaruhan harga diri para pendukung mereka, baik itu partai politik dan komunitas team pemenangan. Oleh karena itu, saya kira team pemenangan setiap paslon perlu mempersiapkan bekal yang cukup bagi Paslon jagoannya masing-masing. Tanpa persiapan yang matan, boleh jadi suguhan debat yang tidak menarik-pikat bagi para penonton, akan merugikan raupan suara electoral nantinya.

Untuk menggambarkan suasana debat nantinya, mekanisme relasi penonton-aktor sangat pas dijadikan alat analisis untuk melihat hubungan antara Paslon dan calon pemilih. Para penonton mempunyai selera yang harus dipenuhi oleh para aktor; seturut kemudian aktor dituntut berperan total dan maksimal memperagakan gerak mimik-muka dengan penuh keyakinan dan bertambah laku. (Wadipalapa, 2019). Posisi tawar menawar seperti ini lumrah dalam parade politik electoral seperti logika jual beli biasa.

Pada akhirnya kita berharap, agar apa yang ditampilkan, dinarasikan, di dalam debat nantinya, para Paslon memang betul-betul tulus dan ikhlas, meski tentu tidak bisa dipungkiri ada retorika politik pemenangan yang disiapkan masing-masing Paslon. Wallahu A’lam.

iklan1
iklan1