Playing Victim, Hoax dan Lelucon yang Tidak Lucu serta “Dosa Politik”

Abid Takalamingan (Foto Istimewa)

Oleh : Abid Takalamingan, S.Sos,MH, Ketua BAZNAS Sulawesi Utara

Salah satu cara seseorang menghadapi sebuah peristiwa atau masalah adalah dengan mengambil peran sebagai, baik secara sadar maupun tidak. Hal inilah yang disebut dengan playing victim. Menurut pakar, cara ini biasa dilakukan oleh mereka yang merasa takut atau tidak berani menghadapi dan mengakui keberadaan amarah dalam dirinya.

Di politik cara ini biasa digunakan, terutama dengan maksud untuk memainkan emosi masyarakat (konstituen) agar orang kasihan terhadap dirinya dan akhirnya terlibat secara emosional untuk melakukan pembelaan terhadap si korban. Kalau playing Victim memiliki dasar rasional yang kuat biasanya cara ini akan berhasil tapi jika tidak maka playing Victim akan kelihatan seperti lelucon dan akhirnya makin “blunder”.

Dalam kasus pilwako Manado playing Victim sepertinya coba dimainkan oleh kelompok tertentu. Dalam catatan saya paling tidak itu dapat dilihat pada dua hal yang terjadi jelang pencoblosan atau jelang memasuki masa tenang.

Yang pertama ; tuduhan bahwa ada aktor atau pihak-pihak yang melakukan penyebaran kebohongan tentang calon boneka sehingga isu itu coba digoreng tapi tak jadi sajian yang enak dimata publik karena aktor atau pihak yang dimaksud tak bisa diidentifikasi dan mmg tdk bisa karena tidak ada (hoax).

Potongan postingan Abid di Facebook (Foto Suluttoday.com)

Kedua ; menyebarnya beberapa spanduk dengan teks yang sama atas nama seorang tokoh, ini juga jadi lucu karena tak ada logika yang bisa menghubungkannya, dimana rakyat tak merasa melakukan akhirnya “blunder”.

Lepas dari sebuah strategy mempengaruhi bahkan bermaksud mengalihkan opini untuk menaikan elektabilitas plying Victim yang tidak dibangun dengan dasar ilmu dan pemahaman yang kuat akhirnya menjadi sekedar sebuah lelucon yang tidak lucu. Selebihnya menurut hemat saya ini adalah politik kotor menghalalkan segala cara demi tercapai suatu maksud dan tujuan demi keuntungan kelompok sekalipun harus berdusta.

Saya tak lagi bicara soal dosa karena dalam fiqh siyasah wilayah hitam putih terlalu sempit dibandingkan wilayah abu-abu atau ijtihadiah. Tapi silahkan berkesimpulan masing-masing dalam kasus playing Victim dalam pilwako Manado. Apakah ini dosa dalam politik?. Wallahu’alam.

iklan1
iklan1