Politik dan Kemanusiaan

Bung Amas (Foto Suluttoday.com)

Catatan : Bung Amas, Pegiat Literasi

POTRET yang paling mudah kita temui dalam pergaulan dan respon politisi terhadap rakyat ialah disaat mereka tergerak hatinya membantu masyarakat. Momentum politik berlalu, kini insiden alam melanda Indonesia. Dibeberapa wilayah, Provinsi, Kabupaten/Kota sampai Desa/Kelurahan rakyat menjerit akibat cuaca ekstrim melanda Indonesia.

Konsekuensinya, bencana banjir dan tanah longsor melahirkan korban. Ada rakyat yang kehilangan harta benda, bahkan kehilangan nyawa. Seperti di Kota Manado, belum lama ini. Curah hujan yang relatif tinggi, juga lama membuat genangan air meluap sampai ke rumah-rumah warga. Ada pula korban warga yang tertimbun tanah disebabkan longsor.

Sedih menyelimuti kita semua. Atas nama kemanusiaan, semua tergerak ikut membantu. Orang-orang yang mulia hatinya ikut turun tangan membantu para korban bencana. Baik yang mengatasnamakan pribadi maupun kelompok tiap orang bergerak turut meringankan beban yang diderita korban bencana. Tidak membedakan latar belakang agama, warna politik. Semua dermawan, donatur tergerak hatinya membantu.

Ini peristiwa kemanusiaan. Lepaslah semua interest politik, sentimen, konflik politik, dendam politik, bahkan sampai blok-blok politik yang kental menjadi mencair. Desakan, tarikan dan tuntutannya jelas, nilai kemanusiaan. Pertengkaran disaat Pilkada 2020 tanpa diperintah untuk diakhiri, semua rakyat terlebih politisi menghentikan perseteruan itu.

Satu persatu orang-orang peduli, membantu korban bencana. Kota Manado memang menjadi destinasi, role model kerukunan. Bencana banjir bandang yang pernah melanda Manado menjadi bahan refleksi bersama, bahwa semua orang akan menemui situasi-situasi sulit. Tidak ada kesenangan yang abadi. Seperti itu pula, tidak ada kesengsaraan yang kekal abadi. Semua akan bergerak dinamis.

Bencana banjir di Manado menjadi kontemplasi bersama bagi kita semua. Memori kolektif kita tentu masih segar, dimana bencana banjir meluluhlantahkkan rumah warga. Nyawa pun melayang. Nyaris cita-cita dan optimisme, bergeser menjadi kepingan kenangan. Sedih berkecamuk, tangisan dan keluhan-keluhan menjadi monumen. Banjir bandang 15 Januari 2014 menjadi peristiwa yang menakutkan, traumatik bagi warga Manado.

Berujung tragis, tragedi kemanusiaan ini alhasil mewariskan malapetaka berupa korupsi. Politik harusnya begitu, dikembangkan dan mengalir pada jalurnya. Sudah begitu marwah politik, dimana politik dan kemanusiaan itu menyatu. Bersenyawa, bukan terpolarisasi atau didikotomikan. Politik itu mengandung misi suci tentang kemanusian. Jangan hanya bencana membuat kita sadar, lalu mengedepankan kemanusiaan.

Insiden politik juga harus begitu. Membuat kita semua sadar agar tidak terkecoh dengan kubu-kubuan kepentingan politik. Peristiwa politik yang paling nampak di depan mata kita ialah hadirnya pemimpin politik yang korup. Menyalahgunakan kewenangannya, rakus dan memanfaatkan kekuasaan untuk menindas rakyat lemah. Para koruptor di tangkap karena korup, itu bencana sebetulnya. Harus menjadi refleksi untuk kita agar sadar dan membenahi diri.

Bukan nanti saat bencana alam berupa banjir dan tanah longsor. Praktek korupsi juga bencana. Yang dampaknya meluas dirasakan rakyat. Seharusnya kita terpanggil, sadar, lalu ramai-ramai membantu korban yang akibat ulah koruptor mereka menderita. Rakyat miskin makin melarat, akibat uang milik rakyat dikorup. Kalau mau adil, rakyat miskin wajib kita bantu. Dalam tiap bencana memang selalu melahirkan hikmah. Semoga politik dan kemanusiaan, dapat jalan beriringan. Bukan disaat bencana alam saja. Tapi bisa bertahan lama.

Terkonstruksi dalam tiap kesempatan interaksi sosial bahwa politik dan kemanusiaan terintegrasikan. Terlebih dikala ‘pesta demokrasi’. Politik dan kemanusiaan punya satu rahim yang sama, ia terlahir dari nilai-nilai kemanusiaan. Kebenaran universal, kemudian keduanya bukan lahir nanti saat momentum tertentu. Melainkan bersifat permanen. Politik dan kemanusiaan janganlah dijadikan bersifat insidentil. Melainkan, terobjektifikasi, terinternalisasi, membumi di hati rakyat. Yang kemudian diaktualisasikan dalam langkah-langkah keseharian kita. Berjalan menjadi amalan, kesalehan sosial kita.

iklan1
iklan1