Fenomena Video Viral dan Mentalitas Kita

Potongan video yang viral (Foto Istimewa)

Catatan Bung Amas, Pegiat Literasi

MENAHAN diri, itu kata kuncinya. Dikala semua orang ramai membincangkan, bahkan membully insiden yang diduga melibatkan oknum Wakil Ketua DPRD Sulawesi Utara (Sulut) berinsial JK. Media ramai-ramai memberitakan. Di beranda Medsos terlebih Facebook juga viral. Share video dan konten berita heboh, gosip, seolah menjadi ‘selera kita’. Perlu kita memproteksi diri. Berita yang sebetulnya lebih berdampak privat. Diramaikan menjadi pergunjingan publik. Menyedihkan ya. Itu bukan mentalitas kita, tetapi era post-truth memang kejam.

Urusan personal, bukan untuk publik. Alhasil, semua orang mulai menghakimi. Menyampaikan ibah, prihatin dan empatinya terhadap kejadian tersebut. Sumpah serapah, hinaan dan caci maki mengemuka. Siapa sih yang bebas dari aib di dunia ini?. Rasanya, tidak ada. Semua manusia, tentu pernah punya problem. Pelanggaran, kejahatan secara umum pasti kita lakukan. Hanya belum terpublikasi saja.

Begitu memiriskan lagi. Para pakar, akademisi diseret bicara, berkomentar di media massa soal ini. Meski tidak menyentuh substansi persoalan, dan teknis spesifiknya. Dampak komentar itu akan dibaca publik. Mengundang anti-pati terhadap oknum pelaku atau siapapun itu yang dalam konteks ini sebagai aktor. Hendaknya, pakar dan ilmuan menahan diri.

Tidak perlu sibuk, bicara soal itu. Batasan etiknya tentu ada. Menurutku, soal kode etik pejabatan publik memang telah diatur. Tanpa si pakar dan ahli akademisi bicara, rasanya Badan Kehormatan (BK) DPRD Sulut akan bergegas. Menginventarisir kasus tersebut. Tidak perlulah membesar-besarkan persoalan. Belum lagi framing pemberitaan yang agak miring, menyudutkan aktor (pelaku).

Ujungnya, masyarakat yang tak tahu-menahu soal ini ikut mencaci-maki. Merendahkan martabat orang lain. Menghakimi, ini pelajaran yang bisa saja menimpa kita semua. Kita masih manusia biasa. Biarkan perkara ini diselesaikan mereka secara internal kekeluargaan. Publik jangan dimobilisasi mengambil kesimpulan terlebih dahulu. Kesimpulan yang prematur, terburu-buru itu berbahaya.

Peristiwa mengagetkan itu menjadi refleksi. Jangan dijadikan bahan olok-olokan. Kita mewaspadai itu, karena dalam momentum seperti ini banyak peselancar. Banyak penumpang gelap yang mempolitisirnya. Biarkan menjadi ranah keluarga untuk mencari solusi. Para ilmuan berhentilah bicara soal aib orang. Urusan privasi dan publik harus dipisahkan.

Area sensitif, ketika sorotannya soal privasi. Harga diri, martabat, kewibawaan, dan nama baik memang tak ada nilai tukarnya. Ketika semua luluh-lantah, semua orang pasti akan memperjuangkannya mati-matian. Mereka akan membela, memperbaiki harga dirinya yang tercemar. Begitu seterusnya. Wajar kita saling mengingatkan, tetapi karena ini sudah terkontaminasi dengan kepentingan politik. Maka, menahan dirilah wahai para ilmuan.

Menyedihkan (pathetic) rasanya ketika seseorang yang tertimpa musibah diserang. Disudutkan, disalahkan terus. Tentu kita sebagai manusia bernurani terharu melihatnya. Insiden yang melibatkan JK juga berpotensi dilakukan siapa saja. Ariflah kita menyikapi ini. Ketika kelak terjadi pada diri kita, atau keluarga, orang-orang yang kita sayangi kasihi. Bagaimana respon dan agresifnya kita?. Kejujuran kita diuji.

Apakah kita akan berlaku adil?, lantang bicara. Berbicara tegas ataukah memilih diam. Menghindar dari deretan pertanyaan awak media?. Memang tidak mudah. Jangan disederhanakan. Kasihan, mereka yang jadi korbannya. Bahtera rumah tangga mereka yang masih bisa tertolong, terselamatkan, namun karena cercaan publik. Akhirnya, makin runyam. Hentikan semua pelibatan stateman yang membuat situasi sulit, menjadi makin sulit.

Bersimpatilah pada situasi pelik ini. Bukan mengusulkan, berkomentar, memperkeruh suasana. Langkah, bijak lain dan paling minimal ialah mengambil sikap diam. Pasif saja, jangan mendemonstrasikan ilmu untuk merugikan, memojokkan orang lain. Sebab, pernyataan-pernyataan akademis dapat membuat posisi jabatan publik figur itu diruntuhkan. Banggakah, kalian ketika JK di PAW?. Janganlah begitu.

Tidak elok menghakimi. Memberi sanksi, menyerang seseorang yang telah lemah. Berhentilah, ikut ramai-ramai membuat ‘bully gaya baru’. Pernyataan di media massa, meski normatif tetapi itu seperti saja bernada membully. Mengakibatkan orang yang dikomentari itu terjatuh lebih dalam lagi. Kita semua bukan orang-orang suci. Seperti itu pula yang membully. Mengata-ngatain di medsos.

Fenomena video viral dan mentalitas kita memang selaras?. Vedio yang ramai-ramai dibicarakan itu dalam konteks kepentingan publik tak ada pengaruhnya. Itu soal urusan pribadi seseorang. Membicarakan video yang menyeret aib tersebut lantas membuat kita menjadi Malaikat, Tuhan atau orang suci?, kan tidak. Kebiasaan kita sibuk dengan urusan orang lain, harusnya ditekan. Benarkah kita sakit mental, jika tak ikut-ikut mendiskreditkan?. Atau sebaliknya.

Jauhkan diri kita dari sikap menghakimi. Nyinyir, mencibir atau menyumpahi orang lain. Memberi stigma buruk pada seseorang. Ingatlah hari esok, bahwa kita masih punya kesempatan berbuat salah. Ambil hikmah dari kejadian yang dilakukan orang lain. Bukan kita ikut meramaikan dengan merendahkan mereka. Berdoa agar kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan serupa. Menghakimi orang yang berbuat ‘amoral’, tidak berarti kita menang. Bersikap buas atau brutal mengutuk, berarti kita benar-benar bebas dari sikap tercela?. Jangan sampai kita seperti menepuk air di dulang, terbercik di muka sendiri.

iklan1
iklan1