Category: Artikel

KRITIK NALAR PRAKTIS

Reiner Emyot Ointoe (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Richard Dawkins (79), etiolog dan biolog evolusionis pernah mengajukan dua tesis mutakhir berkenaan dengan nalar publik (common reason).

Pertama, hampir setengah abad silam lewat buku ‘Gen Egois’ (The Selfish Gene,1976), Dawkins mewartakan teori memetic yang menentukan arah evolusi gen. Sebagai faktor akar budaya, gen lah yang menentukan takdir makhluk biologi seperti manusia. Ringkasnya, pada nalar gen lah pencetus sesungguhnya kemakhlukan kita hingga hari ini. Evolusi nalar gen (genetic intelligent) penentu kelangsungan biologi kita.

Kedua, melalui “God Delusion” (2006) Dawkins menabalkan bahwa ateisme merupakan keniscayaan dalam sejarah iman (keyakinan). Artinya, nalar iman bisa terus hidup dan tumbuh tanpa harus diyakin oleh kepercayaan pada adanya Tuhan sebagai kekuatan yang maha (Omni potent).

Tesis ateisme ini sebagai nalar iman(logical faith) masih terus di wartakan Dawkins dalam ‘The Magic of Reality’ (2011) dan terakhir sebagai paduan bagi pemula untuk jadi ateis dalam “Outgrowing of God” (2019). Buku ini telah dialihbahasakan oleh Haz Algebra dari penerbit Globalindo Kreatif di Jalan Arie Lasut Singkil Manado.

Dengan merujuk pada filsafat Imannuel Kant (1724-1804) dalam kritik akal budi praktis, tesis ateisme Dawkins bukan lagi suatu tuntutan imperatif kategori nalar praktis. Karna nalar praktis gen telah dibuktikan oleh teori evolusinya meski tak sepi dari kritik ‘nalar murni’ (reine Vernunft) seperti dilakukan oleh John Gray maupun Ian Barbour.

Jika hendak disederhanakan, problem nalar praktis itu sedang diguncang lagi oleh pandemi covid-19 dengan contoh-contoh paling mutakhir. Misalnya, antara nalar murni sains dan nalar praktis agama mendadak dibekukan oleh evolusi bioorganisme virus yang punya nalar genetiknya yang lebih cerdas.

Buktinya, semua keyakinan atas fakta bio-organisme virus corona-19 dengan segala dampak destruktif dan konstruktifnya telah menafikan banyak dalam nalar dan kepercayaan kita apapun sumbernya.

Boleh jadi, tantangan nalar bukan lagi pada pencarian alat bukti, apakah Tuhan ada atau tidak? Tapi, lebih pada apakah kita mampu menghalau keraguan misteri terdalam kita? Siapakah pencipta covid-19? Kapan covid-19 berakhir? Siapakah berikutnya yang didatangi covid-19? Akhirnya, covid-19 telah menjadi nalar praktis yang menyibukkan dan membingungkan ‘nalar kosmik’ kita semua.

SOSIOLOGI KORBAN

Hakikat korban, ilustrasi (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Dalam bahasa Ibrani ‘korban’ memiliki persamaan dalam makna dengan ‘sacrifice’ sebagai tradisi yang memiliki akar kebudayaan ritual. Kata ini kelak diambil alih dalam tradisi religi Islam sebagai ajakan untuk berkorban (wanhar).

Dalam disiplin sosiologi kebudayaan, sosiolog Peter L. Berger (1929-2017) memberikan tafsir aktual bahwa tradisi berkorban (sacrifice) telah beralih dari ritual suci religi ke ritual profan developmentalisme. Dengan merujuk tradisi ‘berkorban’ pada suku Aztek di Mexico, Berger mengritik bahwa ideologi developmentalisme telah menjadikan masyarakat sebagai obyek pembangunanisme demi perubahan sosial.

Sebagaimana diketahui, pencapaian kemajuan manusia hingga dewasa ini telah mengorbankan nilai-nilai manusia di atas hasrat dan ambisi pembangunan semesta. Piramida pengorbanan itu, menurut Berger, telah mengabaikan hakikat keseimbangan ekologi manusia demi kemajuan dan kepentingan sepihak yang tidak adil dan brutal.

Sebagai tradisi kebudayaan universal, korban atau pengorbanan (sacrifice) diasalkan pada tujuan suci (sakral) melalui persembahan (offering), pertukaran (exchange) dan hadiah (gift). Namun, proses korban itu sering dilakukan dengan cara kekerasan (violence) seperti dalam perang, konflik dan situasi yang sangat memaksa.

Menurut seorang filsuf asal Yahudi, Moses Halbertal (62) dari Uruguay dalam “On Sacrifice” (2012), korban (Ibrani) yang bersumber dari tradisi Yudeo memiliki dua tujuan yang tumpang tindih. Dari tujuan suci (sakral) sebagai penunaian perintah Tuhan, korban harus mewujud pada persembahan dan hadiah yang berimbal. Tapi, dengan tujuan suci ketakjuban atas dasar cinta, korban harus dijatahkan sebagai hadiah.

Pada tujuan sekuler (profan), korban harus memiliki ikatan politik (political bond) sebagai upaya adanya pertukaran(exchange) yang dianggap imbang dan bukan imbalan. Karena itu, terselip keinginan korban yang tak diiringi oleh tekanan yang berujung kekerasan. Posisi ini menyebabkan hadirnya perkembangan sosiologi korban, terutama dalam modernisasi pembangunan seperti yang diamati Berger pada dunia ketiga pada era 70-an.

Arkian, tradisi sosiologi korban sangat mengabaikan tujuan utama dan dasar dari kerangka ‘piramida korban’ dalam mengaktualisasi diri komunalistiknya dalam realisasi apa yang disebut Halbertal dengan “self-transcendence” dan “sacrificial logic” sebagai ‘substitusi’ material dan immaterial hakikat korban dan pengorbanan. Dan ekspresi mitis dan mistisnya: Love (Caritas).

Politik Praktis dan Bisikan Agitasi

Ilustrasi bisikan (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Ruang politik praktis selalu menyajikan kenyataan yang beragam. Tak seindah dalam buku-buku teori politik yang kita baca, sebab implementasi politik sering lebih melampaui hal teoritis. Kadang juga menyimpang dari apa yang dianjurkan dalam bacaan-bacaan literatur politik. Umpamanya laut bebas, politik tergantung pada angin, gesekan batu karang dari dasar laut, hentakan barang dari permukaan laut yang kencang. Namun juga tak memberi pengaruh di laut yang lain. Kecuali tsunami.

Keseriuan demi keseriun juga hinggap. Tak pernah sunyi, panggung politik kita di tanah air selalu ramai dan dipenuhi kisruh kepentingan. Bisikan agitas, saling sikut, banting-bantingan, sleding dan naik dengan menginjak pihak lain dilakukan. Wajah panggung politik kita penuh hianat, saling jegal menjadi biasa. Kemarin menjadi kawan karib tiba-tiba menjadi musuh yang menjengkelkan. Ada pula, hari ini menjadi rival (lawan), kemudian besoknya menjadi teman mesra.

Berjenis mainan saling lambung dalam manuver politik dilakukan. Rebut-rebutan kepentingan bagi para politisi adalah hal biasa. Melakukan tekel antara satu politisi dengan politisi lain juga dilihatnya sebagai dinamika demokrasi yang wajar. Padahal memiriskan, tidak etis lagi. Tapi begitulah tafsir politik kadang melewati batas etika yang distandarkan publik. Politisi saling puji di atas panggung, sederet prestasi, keberhasilan dirangkai menjadi jualan spektakuler. Kekurangan mereka nyaris tak ada dalam gambaran retorika di depan podium yang ditonton masyarakat tersebut.

Setelah itu, lain lagi urusannya. Memuji dan menghujat bagi politisi tertentu bukanlah tanda sayang, kagum atau marah. Melainkan hanya luapan mengisi pidato semata. Lebih parahnya lagi, itu semua dilakukan bukan dengan niat memberi dukungan atau menjatuhkan. Politisi memuji politisi lainnya, bisa bermakna ganda. Kalau benar-benar searah, satu kepentingan itu bertanda dia memberi apresiasi dan menguatkan. Jika berbeda kepentingan, berarti pujian tersebut akan berubah menjadi petaka.

Pesta dan acara perayaan kebahagiaan, bisa disisip menjadi momentum meratapi nasib lantaran sedih. Bahagia boleh berubah menjadu duka dalam hitungan singkat, dan cara-cara itu biasa dilakukan para politisi handal. Itu sebabnya, sebagian masyarakat kita nyaris kebingungan mendeteksi, menyimpulkan keberpihakan politisi dalam tiap momentum politik. Sering juga merubah-rubah seragam parpolnya, hari ini biru, besok merah, besoknya lagi kuning dan seterusnya. Dunia para politisi memang keras.

Bukan dunianya para binatang, tapi karaktek dan cara sebagian politisi menyerupai cara-cara kebinatangan. Contohnya saja mereka ‘melegalkan’ saling menghujat, saling membunuh bila politisi yang berseberangan dengannya menganggu kepentingannya. Menebar fitnah, padahal apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Bisikan maut dalam politik memang kejam. Dinding juga bisa bertelinga kalau dalam politik. Dalam hitungan tertentu para pendukung bisa menjadi pembenci.

Para pembenci menjadi pendukung, itulah pengaruhnya bisikan. Hari ini tertawa bersama, duduk manis bersama disatu panggung, besok menjadi berbeda. Saling marah-marahan, duduk saling membelakangi, berbeda panggung lagi. Agitasi atau hasutan menjadi alat efektif bagi politisi yang senang berantem untuk memuluskan kepentingannya. Politisi model ini tidak mau melihat situasi politik berjalan baik-baik saja. Kemauannya yaitu melahirkan gelombang dan konflik di panggung politik.

Hati-hati pula banyak berhamburan para pembisik. Kau menceritakan kebaikan, bisa mereka karang menjadi keburukan. Kau berbuat baik, boleh berubah seolah-olah kau berbuat jahat. Para pembisik ini tidak mau politisi yang tidak bersama-sama dirinya itu hidup tenang. Bekerjalah dia melakukan agitasi, menyampaikan hal buruk dengan harapan mendapatkan berkah politik. Menjual informasi hanya untuk menghancurkan orang lain, kemudian dirinya meraih apa yang dicita-citakan.

Atas bisikan tertentu mengakibatkan adanya salah kapra. Fenomena bisikan penuh propaganda banyak ditemui dalam lingkaran kekuasaan. Sesama tim pemimpin tertentu yang menang kontestasi politik saling melemahkan. Rebut simpati, mencari perhatian yang tidak lagi sehat sehingga saling bentrok. Alhasil, orang-orang dekat tumbang satu persatu karena saling menjatuhkan. Pemimpin yang harusnya mereka dikawal, tidak terkawal. Energi mereka habis dengan gontok-gontokan yang tidak produktif. Apalagi ketika pemimpin itu sensi, mudah percaya pada bisikan sesat dan menyesatkan. Maka terjadilah pica kongsi. Keretakan terjadi dari dalam tim sendiri, akhirnya menggerus soliditas dan mendatangkan bencana.

KRISIS PEDAGOGI

Ilustrasi belajar work from home yang tidak beres (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Pandemi itu suatu produk kebudayaan destruktif. Ia tak butuh mewadahi suatu rentangan bio-evolusi. Karna itu, pandemi bagi dunia pendidikan (pedagogi) bukan lagi tuntutan bagi ‘masyarakat bebas sekolah’ atau ‘pendidikan bagi kaum tertindas.’ Lebih dari itu, kewajiban dunia pedagogi sekarang ini merupakan iklim dari proses — meminjam ungkapan sejawaran sains Yuval Noah Harari — “di dunia yang dipenuhi informasi yang kemaruk (irrelevan), kejelasan (clarity) adalah kekuatan (power). Dengan kata lain, pedagogi bisa terhindar dari kritik para pedagog sebagai ‘akhir dari pedagogi’ (the end of pedagogy) Reimert.

Apa yang menjadi krisis pedagogi di tengah badai pandemi, selain krisis leadership, kita dihadapkan pada ketimpangan atas teknologi pendidikan yang dibarengi oleh merosotnya kemampuan inovasi dan kreatifitas nyaris seluruh subyek didik. Kebudayaan konstruktif yang dihadirkan oleh dunia pedagogi mendadak tersungkur atas ulah alam pedagogi itu sendiri.

Teknologi pendidikan yang diwakafkan oleh sains lebih dari seperempat abad, tiba-tiba dibenturkan begitu saja oleh ketidakmampuan kita menghadapi krisis alamiah dari suatu proses perubahan yang jauh dari prediksi. Tak heran, krisis-krisis lain ikut serta secara berenteran memenuhi jagat peradaban mutakhir saat ini. Krisis inipun menunjukkan kelemahan konstruk mentalitas bangsa yang selama ini kuyub dan gagap bersembunyi di balik aturan dan undangan-undang institusional.

Walhasil, parodi dan plesetan SD Online hingga Webkul (kulian web/zoom) tumbuh menjadi keniscayaan fasilitas yang menyesatkan mentalitas komunikasi pedagogi. Sejatinya, krisis total pedagogi itu tumbuh beriringan secara kontraproduktif antara kegamangan psiko-mentalitas kita dan inkapabilitas fasilitas teknologi pedagogi kita. Layak krisis teknologi pada umumnya, pedagogi pun diambang sakratul maut akibat covid-19 yang absurd dan brutal.

RICHARD SUALANG Kunci Kemenangan PDI Perjuangan di Manado

dr. Richard Sualang (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

DARI beberapa unsur pendonor kemenangan suara, posisi dr. Richard Sualang, Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado berada pada bentangan strategis. Ayahnya pelopor, mobilisator dan pendiri PDI Perjuangan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Kader Banteng Moncong Putih yang dikala itu begitu dekat dengan Ibu Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan dikenal sebagai singa podium yang santun. Aliran darah ‘merah’ PDI Perjuangan memang mengalir deras kepada sosok Richard Sualang.

Ayahnya tercinta punya jasa besar, berkontribusi mengembangkan dan membesarkan PDI Perjuangan di bumi Nyiur Melambai ini. Mantan Wakil Gubernur Sulut beberapa periode, potret seorang putra Minahasa yang patriot dan nasionalis. Tapi, Richard rupanya tidak mengharapkan semua itu didapatnya dengan instan. Dia enggan berpangku, melainkan turun memulai bekerja sebagai petugas partai di PDI Perjuangan di Kota Manado, dari Kelurahan, Kecamatan sampai saat ini memimpin PDI Perjuangan Manado.

Kata Soekarno, Bapak Marhaenis, pendiri Republik Indonesia, Presiden Indonesia pertama yang adalah Ayah tercinta Ketum Megawati, bahwa ‘JAS MERAH’ (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah). Atau yang diartikan sejarawan Rushdy Hoesein, ‘JAS MERAH’ dalam judul pidato Bung Karno, sapaan akrab Soekarno, memiliki arti ‘Djangan sekali-kali meninggalkan sedjarah’. Inti dari pesan tersebut memiliki impresi, terselip pelajaran penting tentang menghormati, menghidupkan legacy leluhur atau para pendahulu.

Baik dalam interaksi politik, ekonomi maupun sosial dan budaya. Sejarah mencatat dengan indahnya bagaimana peran seorang Freddy Harry Sualang memajukan PDI Perjuangan disaat jaya-jayanya Orde Baru. Tidak mudah melewati gelombang dan otoritarianisme pemerintah waktu itu. Bagaimana kuatnya pengaruh ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar). Mendiang Freddy H. Sualang begitu teguh pendiriannya, tampi tegar, punya nyali besar, progresif, orator ulung dan optimis bahwa PDI Perjuangan akan besar di Sulut.

Dalam jejak karirnya, beliau merupakan seorang politisi Parkindo. Setelahnya menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dimana waktu itu Parkindo dan 4 (empat) partai lain seperti Partai Katholik, Partai IPKI, Partai Murba dan PNI melakukan fusi atau penggabungan yang dideklarasi 10 Januari 1974. Tanpa money politic dan dukungan kekuasaan, mendiang Freddy menjadi Anggota DPRD Minahasa dalam Pemilu 1987 dan 1992.

Sejak 1998 beliau menjabat Ketua DPD PDI Perjuangan, sampai tahun 2010 dibawah kepemimpinan Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. Mendiang Freddy Sualang dikenal sangat menghormati senior partainya. Tidak mudah melewati konflik di PDI Perjuangan Sulut, dimana Freddy Sualang saat itu berada dalam faksi PDI Perjuangan, bersama Megawati. Lalu berlawanan dengan kawan-kawannya di kelompok Surjadi, PDI.

Nilai-nilai keteladanan itu diikuti anaknya tersayang Richard Sualang. Kisah loyalitas Freddy Sualang juga digambarkan Drs. Markus Wauran, Anggota DPR RI pada era 1980-an. Menurut Markus Wauran, sosok Freddy begitu menghormati guru politiknya yakni Sabam Sirait. Sikap setia dan tidak menghianati komitmen ditunjukkan mendiang Freddy dalam pergaulannya. Ia tak rayu atas rayuan, tak akan goyah atas godaan, tidak pernah mau karena kepentingan sesaat beliau mengabaikan komitmen kebersamaan. Itulah sepenggal pelajaran yang tentu tengah tertanam, terpatri kuat dalam ingatan dan darah daging Richard Sualang yang juga Penatua (Pnt).

Seperti yang dilakukan Richard sebagai politisi muda, dirinya tampil penuh energi positif. Pandangan nasionalisme diucapkan dan dicontohkannya dalam tindakan konkrit. Takhirnya kita banyak menjumpai warga di Manado para aktivis muslim yang begitu sayang, peduli dan menghormati keluarga Sualang. Termasuk Richard Sualang yang kini menjabat Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Beberapa perjumpaan penulis dengan masyarakat pedagang, kalangan buruh, warga yang hidupnya biasa-biasa, mereka mengakui akan mendukung Richard Sualang. Mereka yang beragama Islam, mengaku tidak akan melupakan kebaikan-kebaikan mendiang Freddy Sualang.

Tidak mudah menjadi politisi yang dicintai semua kalangan masyarakat. Menjadi politisi rendah hati, menghargai orang lain juga tidak mudah. Butuh adaptasi kebiasaan yang lama, bisa bersifat turun-temurun. Richard terlahir dari DNA itu, selain keluarga yang pernah menjadi penguasa di Sulut. Dirinya berkesempatan diajarkan langsung Ayahnya untuk menghormati senior, menghormati dan membantu orang lain. Siapapun itu, tanpa membedakan agama.

Richard di pusaran Pilwako Manado 2020 merupakan kunci kemenangan PDI Perjuangan. Bila elit PDI Perjuangan terburu-buru, tidak cermat membaca situasi politik di lapangan dan kesejarahan daerah ini secara utuh, maka akan salah merekomendasikan kadernya melalui Surat Keputusan (SK) nantinya dalam hajatan pertarungan Pilwako Manado. Tantangan bagi PDI Perjuangan di Manado adalah belum pernah menjadi Kepala Daerah beberapa tahun terakhir.

Itu sebabnya, semacam ‘pagar’, mitos dan barang baru yang harus mampu diterobos dengan menggunakan energi yang cukup kuat. Bila saja elit PDI Perjuangan lebih menilai uang (finansial) sebagai pembeda untuk diusung ke pertarungan Pilwako Manado, maka resikonya PDI Perjuangan akan kalah di Kota Manado. Seperti membaca risalah sejarah, para elit parpol di pusat harus membacanya secara tuntas. Jangan sepenggal-sepenggal, dimana tak ada sejarahnya selain ‘etnis Minahasa, Gorontalo, Nustar,’ yang memimpin Kota Manado.

Apalagi mereka yang terindikasi warga naturalisasi. Yakinlah, akan ada bencana politik yang melahirkan isu maha dahsyat ketika PDI Perjuangan salah memberikan SK. Kesederhaan Richard Sualang begitu membuat banyak simpati berdatangan kepadanya, dan juga kepada PDI Perjuangan di daerah ini. Potret politisi idola yang satu ini tidak sombong seperti politisi-politisi lainnya. Santun dan rendah hati, seperti itulah Richard Sualang yang terekam diingatan warga Kota Manado.

Di internal mesin partai PDI Perjuangan pun, terdengar percakapan malu-malu dan sembunyi-sembunyi, mereka kebanyakan menginginkan Richard Sualang sebagai calon Wali Kota Manado. Selain itu, Richard Sualang punya gagasan yang kuat dan otentik. Masyarakat Manado juga tau betul, mengenali Richard sebagai kader PDI Perjuangan tulen, tanpa berpindah ke lain hati. Bila politisi lain sibuk ganti ‘warna’ Richard tetap fokus membesarkan PDI Perjuangan. Richard juga berpegang teguh pada prinsip gotong royong dalam membesarkan PDI Perjuangan, alhasil di DPRD Kota Manado saat Richard menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Manado telah berhasil merebut posisi Ketua DPRD Kota Manado.

iklan1