Category: Artikel

Agama dan Perannya dalam Masa Pandemi Covid-19

Delmus Puneri Salim, S.Ag.,M.A.,M.Res.,Ph.D (Foto Istimewa)

Oleh : Delmus Puneri Salim, S.Ag.,M.A.,M.Res.,Ph.D, 
Rektor IAIN Manado

Tidaklah mudah mendefinisikan agama. Namun banyak orang sudah mencoba menjelaskannya dari berbagai sudut. Agama adalah pandangan hidup. Agama adalah system kepercayaan dan praktek keagamaan. Agama adalah kekuatan motivasi yang sangat kuat. Agama adalah kedamaian, keselamatan, dan ketundukan atau kepasrahan. Agama adalah pemberi harapan dan ancaman. Agama adalah sesuatu yang dipegang seseorang dalam kesendiriannya. Agama adalah petunjuk hati. Agama adalah sikap terhadap sang Maha Pencipta. Agama adalah kepercayaan terhadap kekuatan transendental. Agama adalah keluhan dan desahan dalam masyarakat. Agama adalah berbagai bentuk kegiatan simbolik yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Berbagai macam sudut pandang definisi agama ini kemudian memunculkan berbagai macam peran agama dalam masyarakat, diantaranya:

Agama memberikan visi masa depan. Agama melihat ke masa depan. Agama menawarkan visi masyarakat yang hendak dicapai. Visi yang bersumber dari ajaran agama ini menjadi panduan dalam kehidupan keseharian umat beragama baik secara individu maupun berkomunitas. Peran agama ini memberikan tantangan kepada umat beragama untuk berfikir, berimajinasi dan menciptakan masyarakat sesuai dengan visi agama yang dipahami.

Peran agama ini menunjukkan agama adalah masa kini, bukan masa lalu dan memberikan visi masa depan. Dalam peran ini, agama mendorong manusia untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan aturan dan norma agama yang diyakini. Agama mendorong umat beragama memperjuangkan kebaikan dan menghindari kemudharatan, termasuk menjadi pribadi yang bermoral, memusuhi ketidakadilan, dan mendorong nilai-nilai budaya yang hendak dicapai di masyarakat. Tidak ada yang sempurna di masyarakat nyata saat ini dan masyarakat yang sesuai visi agamalah yang selalu hendak dicapai. Hanya Sang Pencipta yang Sempurna.

Agama memberikan jalan menuju kebahagiaan. Peran agama adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada individu dan masyarakat dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Agama mengajarkan untuk bersyukur dan menerima kenyataan yang ada. Agama memberikan makna hidup kepada umat beragama untuk mengontrol pikiran dan nafsunya dalam mencapai sesuatu yang bisa saja mendatangkan penderitaan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Agama memberikan nilai-nilai pilosofis dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh dengan persoalan mendasar umat manusia yaitu penderitaan. Setiap umat manusia memiliki penderitaan baik bersifat materi maupun inmateri. Penderitaan yang bersumber dari kekurangan finansial, sandang dan pangan maupun penderitaan dari perasaan iri, dengki dan sakit hati. Agama mengajarkan umat beragama untuk tidak terjebak dalam perasaan kekurangan materi dan inmateri ini tetapi menfokuskan diri pada kesyukuran dan penerimaan situasi yang ada tanpa menafikan usaha yang boleh dilakukan.

Agama mengikat umat beragama kepada Sang Pencipta dan komunitasnya. Agama memberikan ikatan yang mengikat umat beragama dengan Tuhannya dan komunitasnya. Ini sesuai dengan asal usul kata agama yang berasal dari Bahasa Latin yang berarti untuk mengikat. Kata yang juga bisa digunakan dokter untuk mengikat atau menjahit luka. Agama menawarkan sikap dan prilaku yang menyatukan umat beragama dengan Tuhannya. Agama mendorong umat beragama untuk selalu mengikat diri dengan Tuhannya dan komunitasnya dalam kesehariaanya.

Namun demikian, peran agama di atas tidaklah mudah untuk diwujudkan. Umat beragama memiliki polarisasi dalam orientasi beragama. Orientasi duniawi dan orientasi akhirat. Beragama dengan orientasi dunia berarti umat beragama melakukan aktifitas keagamaan memprioritaskan kemaslahatan dunia terlebih dahulu tanpa menafikan kemaslahatan akhirat. Beragama dengan orientasi akhirat adalah umat beragama mengutamakan kebahagiaan akhirat dalam aktifitas keagamaan terlebih dahulu dengan menomorduakan kemaslahatan dunia. Mereka yang ekstrem dengan orientasi dunia dalam beragama akan cenderung mengedepankan agama yang substansial dan esensial ketimbang agama syar’I atau formalitas. Mereka yang ekstrem dengan orientasi akhirat dalam beragama bisa saja menjadi teroris dengan melakukan bom bunuh diri dalam mencapai kebahagiaan akhirat.

Dalam masa pandemi covid-19 ini, orientasi umat beragama juga bisa terpolarisasi seperti di atas. Mereka yang lebih mengutamakan keselamatan dunia sebagai titik focus utama akan memiliki pandangan untuk berusaha semaksimal mungkin dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan melakukan aktifitas keagamaan di rumah. Hal ini dilakukan dalam mengantisipasi kemungkinan penyebaran covid-19 dari kerumunan masa di rumah ibadah. Sedangkan mereka yang berorientasi akhirat bisa saja memiliki pandangan bahwa segala macam penyakit bersumber dari Sang Maha Pencipta yang bisa didapat dimana saja, meski sudah berusaha menghindarinya. Jika suatu virus sudah ditetapkan oleh Yang Maha Esa sebagai sumber penyakit seseorang yang menimbulkan kematiannya, maka itulah ketentuan Sang Maha Pencipta yang tidak bisa dirubah karena semua orang akan menemui ajalnya.

Peran agama dan orientasi beragama ini diperumit dengan beragamnya otoritas keagamaan di masyarakat. Apakah aktifitas keagamaan dan mekanisme pelaksanaannya ditetapkan oleh lembaga keagamaan tertentu, organisasi masyarakat keagamaan tertentu, pemerintah pusat atau daerah, pengurus rumah ibadah, tokoh agama atau individu masing-masing? Pelaku terorisme bisa saja mendapatkan perintah dari kelompok ektremis melalui media tertentu untuk melakukan bom bunuh diri. Pengikut Islam substansial bisa saja tidak melaksanakan ibadah formal dari berbagai pemikiran kelompok liberal agama.

Kita bisa belajar dari suksesnya pelaksanaan program Keluarga Berencana di masa lalu. Kerjasama semua pihak; pemerintah, lembaga agama, organisasi masyarakat keagamaan, dan tokoh agama dalam mensosialisasikan program keluarga berancana telah berhasil mengurangi melonjaknya jumlah penduduk pada saat itu.

Apakah anjuran untuk beribadah di rumah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia akan berhasil atau tidak sangat tergantung dari Kerjasama semua pihak: pemerintah, lembaga agama, organisasi kemasyarakatan keagamaan, dan tokoh-tokoh agama dalam mensosialisasikan anjuran tersebut. Jika masih ada dari pihak-pihak tersebut yang masih memberikan peluang untuk tidak mengikuti anjuran untuk beribadah di rumah maka kesuksesan pemutusan rantai penyebaran Covid-19 akan berkurang.

Meskipun indicator utamanya adalah sangat tergantung dari tinggi atau rendahnya kluster penyebaran virus corona dari kegiatan keagamaan atau dari rumah ibadah ke depan. Sebelumnya, penyebaran virus corona dari kluster kegiatan keagamaan dan rumah ibadah adalah kluster Gowa, Pastor Meetings di Bandung, Umroh, Asrama Bethel, Masjid di Sunter, dan lain-lain. Kita semua berharap agama berperan penting dalam pemutusan mata rantai peyebaran Covid-19 bukan sebaliknya. [**]

PERLU KEJUJURAN

Anes Supit (Foto Istimewa)

Mungkin ada yang mengira bahwa politik hari ini adalah representasi dari kelanjutan politik masa lalu. Man-teman sama skali tidak, dijungkirbalikkanpun politik hari ini tidak ada hubungan dan seoriginal politik masa lalu. Politik itu bermuka banyak (ungkapan kesopanan), retorika adalah modal terbesar mereka sehingga penyamunpun bisa dianggap rohaniawan padahal dibalik kesopanan dan retorika ada keganasan dan keserakahan yang disembunyikan.

Saya pernah menulis sejarah perkembangan politik diIndonesia sesudah fusi partai 73, bahwa tidak ada lagi partai yang memiliki garis idiologi yang revolusioner semua dikendalikan orba dan tentara, nanti pada 27 juli 1996 (Peristiwa Kudatuli) baru nampak eksistensi mereka yang menamakan diri aliansi prodemokrasi menolak intervensi pemerintah dan tentara dalam mengendalikan politik Indonesia.

Jika anda melihat kebelakang politik era tahun 50 an loncatan kepercayaan rakyat besar sekali pada PKI itu kenapa? karna PKI konsisten, jujur pemimpin partainya bukan terindikasi koruptor, kader-kadernya teruji di perlemen bukan penjilat atau jongos dari oligarki kekuasaan.

PKI satu-satunya partai dijagad raya nusantara ini yang menggunakan systim kritik oto kritik dalam Politbiro, Comite Central pemimpinnya bisa dikritik, baca Kritik Oto Kritik (Sudisman) CC Politbiro PKI. PKI lah partai pertama kali yang menggunakan kata rakyat diera Tan Malaka skarang pahlawan nasional (Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Harry Paouze). Btw, saya menulis ini bukan karena saya PKI atau onderbounya atau ingin membakit-bangkitkan kebesaran PKI tidak, saya hanya mau bicara jujur tentang perjalanan sejarah bangsa ini.

Geliat politik pasca turunnya Pak Harto dari kekuasan telah membuka pintu lebar bagi sistim demokrasi indonesia, tdk bisa dipungkiri para penikmat Orba jaman Pak Harto pontang panting cari slamat para birokrat, kapitalis dan kaum inlander serta kelompok neolib harus menanti waktu yang tepat untuk bisa jadi benalu dan berkuasa lagi, merekalah yang sebenarnya memiliki banyak uang melakukan loby untuk bisa berkuasa lagi.

Jika Pemilu partai A yang menang mereka ada di A jika partai B yang menang mereka ada di B, apalagi jika pemimpin partainya tidak memiliki wawasan ideologi, menang hanya karna politik uang, mengandalkan serangan fajar dan memanfatkan kader2nya melakukan Money Politic, maka inilah lahan subur bagi kaum opurtunis mengendalikan partai. Ada pendapat yang mengatakan begini, bahwa pemimpin yang bodoh lahir dari tangan pemilih yang idiot.

Matinya nurani pemimpin dimasa Pandemi. Daerah ini seperti sedang menggali kuburnya sendiri. Kenapa? karena sudah tidak ada sinegitas antara Kabupaten/Kota dan Provinsi, study kasus dua Kota besar diSulut, suara rakyat sudah dipandang sebagai musuh, banyak opini yang menulis bahwa benturan antar pemimpin dan kepercayaan rakyat pada pemimipin akan berjuntrung pada mosi ketidak percayaan rakyat yang sudah diambang batas. Berkuasanya dinasty dalam pemerintahan dan legislatif serta keberpihakkan kepentingan pada kroni-kroni berpotensi gelombang Tsu-Nami ganti Gakbenar.!

Pelajaran penting yang bisa diambil disini, bahwa jangan sekali-kali memberikan kepercayaan pada pemimpin yang hanya hebat beretorika, hanya berpikir kepentingan proyek dan perutnya sendiri dari pada kepentingan kemaslhatan rakyat.

Herd Immunity dan Resikonya Pada Penderita COVID-19

Dr. Ricky C. Sondakh, M.Kes (Foto Istimewa)

Penulis : Dr. Ricky C. Sondakh, M.Kes
(Dosen FKM Unsrat Manado)

Beberapa waktu lalu Presiden R.I Bpk Joko widodo mengatakan bahwa kita harus “berdamai” dengan Covid-19. Sebagai seorang akademisi di bidang kesehatan saya menduga ada keinginan dari pemerintah untuk menerapkan apa yang disebut “HERD IMMUNITY”. Istilah ini bukan sesuatu yang baru di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya di bidang Epidemiologi karena Istilah ini sudah dikenal sejak tahun 1923. “Herd Immunity” menurut Paul Fine, Ken Eames, David Heymann, dalam sebuah artikel yang berjudul “Herd Immunity”; A Rough Guide dalam Clinical Infectious Diseases, Volume 52, Issue 7, 1 April 2011, Pages 911–916, Istilah “kekebalan kelompok atau kawanan” banyak digunakan tetapi memiliki berbagai pengertian. Beberapa penulis menggunakannya untuk menggambarkan proporsi kekebalan di antara individu dalam suatu populasi/penduduk.

Yang lain menggunakannya dengan mengacu pada ambang batas tertentu dari individu yang kebal yang mengarah pada terjadinya penurunan orang yang terinfeksi pada suatu populasi. Yang lain menggunakannya untuk merujuk pada pola kekebalan yang terbentuk yang dapat melindungi populasi/penduduk dari terjadinya infeksi baru. Implikasi umum dari istilah ini adalah bahwa risiko infeksi di antara individu yang rentan dalam suatu populasi berkurang oleh keberadaan dan kedekatan individu yang telah imun/kebal (ini kadang-kadang disebut sebagai “perlindungan tidak langsung” atau “efek kawanan”).

Gordis L. dalam Epidemiologi E-Book tahun 2013, mengemukakan bahwa Herd Immunity adalah suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui mereka yang terinfeksi sebelumnya dan telah sembuh atau karena vaksinasi, sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi. Semakin besar proporsi individu yang kebal dalam suatu populasi, semakin kecil kemungkinan individu yang tidak kebal akan bersentuhan dengan individu yang terinfeksi. Hal ini akan membantu melindungi individu yang tidak kebal dari infeksi.

Para ahli Epidemiologi memperkirakan bahwa untuk menghentikan penyebaran penyakit Covid-19 ini membutuhkan 40-70% individu dalam suatu populasi yang Imun atau kebal. Dari perspektif pengertian Herd Immunity ada beberapa hal yang menjadi prasyarat boleh tidaknya diterapkan pada populasi/penduduk suatu negara atau wilayah adalah harus sudah tersedia Vaksin. Ahli biostatistik dari University of Florida Natalie Dean yang memperoleh gelar Ph.D dari Harvard University mengatakan satu-satunya cara aman mendapatkan Herd Immunity adalah dengan Vaksin. Sementara itu cara lain seperti membiarkan dengan sengaja suatu populasi tertular untuk mendapatkan kekebalan terlalu berisiko. SARS Cov-2 ini adalah virus yang belum banyak diketahui dan untuk membuat vaksinnya dibutuhkan kurang lebih 18 bulan dan itupun berbeda untuk setiap strain dari virus tersebut.

Di Indonesia berbeda dari tiga tipe utama yang diketahui beredar di dunia. Hal ini diketahui setelah peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman melakukan whole genome sequencing (WGS) alias analisis genetik pada tiga sampel virus dari pasien positif. Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan perbedaan tipe ini terjadi karena virus Corona bermutasi. Informasi dari Pusat Data Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID), ada tiga tipe COVID-19 yang ada di dunia. Ada tipe S, tipe G, dan tipe V.

Di luar tiga tipe itu, ada yang disebut sebagai tipe lain yang belum teridentifikasi dan ternyata whole genome sequences yang dikirim Indonesia ke GISAID termasuk kategori yang lainnya artinya berbeda dari tiga tipe yang beredar di dunia saat ini. Oleh karena itu pemikiran atau upaya melakukan Herd Immunity tidak boleh atau tidak tepat dilakukan disaat belum adanya vaksin dan masih bermutasinya SARS Cov-2 ini apalagi Health care System Capacity atau kapasitas sistem kesehatan kita belum memadai karena belum merata, sampai ketersediaan APD yang masih minim.

Dengan membuat banyak orang terinfeksi, kemungkinan meningkatnya angka kematian juga tinggi. Misalnya kita mengambil 70 persen dari total populasi untuk sengaja diinfeksi. Dari jumlah tersebut tidak semuanya berusia muda. Ada juga orang tua atau orang dengan komorbid atau mengidap penyakit degeneratif seperti diabetes, ginjal, jantung, Ca dll. Mereka-mereka ini masuk dalam golongan yang rentan. Jika kasus kematian akibat Covid-19 0,5-1 % maka dari 70 persen populasi itu ada 0,35-0,7 persen akan mati.

Pilihan yang paling rasional saat ini untuk memutus rantai penularan Covid-19 adalah dengan melakukan Social distancing dengan menjaga jarak secara fisik, menghindari kerumunan/keramaian, membatasi migrasi/pergerakan penduduk dari satu daerah ke daerah lain karena salah satu ciri penyebaran Covid-19 ini adalah mengikuti pola migrasi penduduk sampai curvanya menjadi datar. Semoga pemerintah tidak ceroboh melakukan pelonggaran social distancing dengan membuka akses pergerakan/migrasi penduduk melalui transportasi baik udara, laut dan darat agar jangan sampai malahan terjadi peningkatan tajam orang yang terinfeksi yang akan membuat sistem pelayanan kita over capacity atau kelebihan beban sehingga tingkat mortalitas atau kematian meningkat.

Jika pandemi Covid-19 ini ditangani secara salah maka bukannya akan terjadi Herd Immunity tetapi kurva infeksi akan naik seperti yang terjadi di Italia dan Amerika serta beberapa negara eropa lainnya yang kelabakan menangani pasien/penderita Covid-19, bukan karena ketidakmampuan dalam teknologi kesehatan/kedokteran tetapi karena ketidak mampuan menangani secara serentak ribuan bahkan ratusan ribu orang yang terinfeksi dalam waktu yang bersamaan.

Kita semua berharap dalam istilah Epidemiologi terjadi “flattening the curve” atau “perataan kurva” atau perlambatan penyebaran virus sehingga sedikit orang yang perlu mendapatkan pengobatan pada jangka waktu tertentu. Hal ini sangat jelas mengapa begitu banyak negara menerapkan pedoman Social distancing atau “jarak sosial”. Terima kasih.

Mahasiswa, Pemuda Milenial dan Dunia Pendidikan Produktif

Farlan Lengkong, S.IP.,MAP (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Farlan Lengkong, S.IP.,MAP, Ketua DPD GMNI Sulut

Wabah covid-19 telah menjadi sebuah tragedi bumi yang melumpuhkan segala bidang yang ada di dunia ini, salah satunya adalah dunia pendidikan. Khususnya di Indonesia saya melihat begitu merosotnya tingkat belajar siswa maupun mahasiswa karena pengaruh wabah covid-19, tentunya efek ini akan berdampak pada keterlambatan produktivitas dunia pendidikan kita di Indonesia.

Saya pikir salah satu solusi untuk tetap menjaga stabilitas dunia pendidikan kita adalah bagaimana peranan mahasiswa dan pemuda milenial untuk turut terlibat dalam situasi ini. Yang pertama mengenai mahasiswa sebagai kaum intelektual atau pemikir muda bisa berperan sebagai agen di lingkungan atau di kampungnya atau juga keluarga terdekatnya untuk turut mensosialisasikan dan memberi pemahaman himbauan pemerintah maupun segala bentuk pencegahan yang harus masyarakat patuhi dalam menghadapi pademi ini yang pada kenyataanya masih banyak rakyat kita yang masih belum memahami betul mekanisme pencegahan memutus mata rantai covid19 ini.

Selain daripada itu juga sebagai mahasiswa yang dirumahkan bisa terus memperkaya daya intelektualitasnya dengan budayakan membaca, baik teori maupun fakta-fakta empiris sehingga bisa menjadi pedoman penulisan karya ilmiahnya, bahkan bisa lebih bagus lagi kita telah menulis atau menyelesaikan karya ilmiah kita misalnya proposal ilmiah, skripsi dan sebagainya.

Lewat media aplikasi online misalnya Zoom juga kita bisa saling berdiskusi dan mengajak teman kita sesama mahasiswa untuk membahas materi-materi perkuliahan sehingga dengan keterbatasan ini kita masih tetap produktif untuk memenuhi kebutuhan akademik yang harus dipenuhi dalam perkuliahan. Yang kedua mengenai pemuda milenial yang disini saya kategorikan pemuda yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi tapi paham akan teknologi berdasarkan autodidak.

Kita juga sebagai pemuda milenial bisa berperan sebagai agen seperti mahasiswa yang saya maksudkan. Inisiatif gerakan yang bisa dilakukan selain melakukan sosialisasi secara masif di media sosial kita juga bisa terus membaca link-link yang bermanfaat untuk kebutuhan masa depan kita, dengan memanfaatkan teknologi kita juga bisa saling mengajak dan berdiskusi lewat media online bersama kerabat kita sesama pemuda milenial misalnya ada yang mau ke dunia bisnis bisa memperdalam ilmu bisnisnya ataupun bidang lainnya.

Nilai penting kita sebagai mahasiswa dan pemuda milenial disitu adalah tetap mau bergerak dan berinisiatif secara terus-menerus sehingga secara langsung kita telah mempraktekan pendidikan lingkungan yang tetap produktif walaupun ditengah keterbatasan situasi ini, sehingga kita secara tidak langsung juga telah mencegah kemerosotan dunia pendidikan di Indonesia yang memaksa kita dengan keterbatasan situasi ini untuk terus produktif.

Dengan inisiatif tersebut saya pikir akan menjadi faktor perangsang bagi mahasiswa dan pemuda milenial lainnya yang masih pasif untuk melakukan hal yang sama sehingga semakin banyak pemuda milenial yang punya inisiatif maka akan semakin produktif. Senada dengan itu, maka kita telah membantu negeri ini khususnya dalam bidang pendidikan agar tetap produktif dan stabil, sehingga efek dari pademi covid19 tidak akan terlalu berpengaruh buruk terhadap kemajuan bangsa kita kedepan, karena salah satu faktor kemajuan bangsa terletak pada dunia pendidikan.

Membaca Nalar “Hulodu” yang Sedang Viral

Nizam Halla (Foto Istimewa)

Oleh : Nizam Halla, Sekretaris eLPERISAI

Kata “hulodu” atau dungu dalam KBBI bisa di artikan sangat tumpul otaknya, tidak cerdas; bebal, atau bodoh. RG misalnya, memakai kosa kata tersebut untuk menggambarkan seseorang yang menjawab pertanyaan tanpa berpikir dan bertindak sistimatis. Bisa dikata RG adalah ikon naratif diksi ini. Dalam ciutannya RG malah menyebut, “dungu adalah kata terhormat untuk memantik nalar kaum delusionis-fanatis”. Belakangan kosa kata ini kembali ramai di gunakan oleh para tokoh yg mengktirisi kebijakan penguasa.

Bupati Boltim, Sehan Landjar, geram pada tumpang tindihnya aturan antar kementrian hingga menyebut mensos dengan kata “bodoh” atau KG yang menyebut seremonial PSBB yang dilakukan di tengah keramaian oleh gubernur gorontalo adalah “kluster hulodu”. Setidaknya “menurut seorang kawan” tulis beliau. Menyoal diksi yg di gunakan KG dalam tulisan PSBB “hulodu”, sontak mendapat tangapan berfariasi dari berbagai pihak di gorontalo, entah oleh para “pakar gestur”, politisi, hingga sosiolog.

Namun terlepas dari kontroversi yang menyertai tulisan tersebut, sebetulnya “sangkaan” mereka hanya mengkonfirmasi ketidakpahamannya pada narasi yang di bangun KG dalam konten tersebut. Beberapa tulisan “counter balik” terkesan nyinyir dan cenderung emosional menanggapi tulisan yg sebetulnya lumrah dalam kaidah-kaidah kritik.

Kosa kata “hulodu” (bodoh) sebetulnya pernah di gunakan oleh para pejabat tinggi negeri ini, sebut saja yasonna laoly (mantan kemenkumham) , yang menyebut seorang artis sekaligus aktivis dian sastro sebagai “orang bodoh” saat mengkritik sejumlah pasal “kontroversi” dalam RKUHP, apakah dian sastro yang jebolan fakultas sastra UI itu bodoh dalam kaidah umum.? Tentu maksud pak yasona tidak seperti itu.

Terlepas dari bagaimana pakar linguistik mendefinisikan kata ini, namun sebagian masyarakat tidak memahami kata Dungu/Bodoh/Hulodu seperti apa yang dibawa oleh kaum intelektual, bagi mereka terlepas dari apapun pengertiannya dan pesan apa yg dibawa, sebagian masyarakat masih menggangap bahwa makna peyoratif dalam kata tersebut belum bergeser pada arti sesungguhnya.

Jika tulisan KG di anggap sebagai bentuk “perundungan” maka benarlah apa yg di katakan RG, bahwa dungu (hulodu) adalah cara berpikir dan bertindak yg tidak sistimatis. Maka sesungguhnya diksi dipakai oleh KG adalah cara “efektif” memantik nalar kaum delusi-fanatis. [**]

iklan1