Category: Artikel

Sejarah Kota Manado

Kota Manado tempo lalu (Foto Ist)

Kota Manado tempo lalu (Foto Ist)

PENDAHULUAN

“Yang manakah sejarah Kota Manado itu?” Pertanyaan ini sering terdengar di kalangan masyarakat ilmiah kampus UNIMA dan UNSRAT bahkan masyarakat Kota Manado, pada setiap momen peringatan HUTnya, yang pada tahun 2015 ini diklaim berusia 392 tahun. Seakan-akan orang Manado itu sendiri sudah tidak lagi tahu tentang sejarahnya. Karena hampir setiap even peringatan HUT Kota Manado atau pada momen pemilihan Walikota-Wakil Walikotanya, warga kotanya sering disuguhkan berbagai tulisan harian Koran seperti: Manado Post, Komentar, Kawanua Post, dan Tribune Manado [khususnya tulisan sejumlah akademisi UNSRAT seperti: Ivan R.B Kaunang (2003), Joutje Sendoh (2006), Fendy E. W. Parengkuan (2009), dan Janny D. Kusen (2011)] tentang rekapitulasi sejarah kepemerintahan Kota Manado yang: sepotong-sepotong, kontradiktif, dan membingungkan.

Membingungkan sebab pemaparan historis kepemimpinan Kota Manado mereka telah klaim pada tahun 1623, tetapi anehnya mereka tidak dapat mengungkap secara proporsional para pemimpin “cikal bakal” Kota Manado sejak tahun 1623. Klaim para kuli tinta dan akademisi UNSRAT tersebut juga memunculkan banyak keraguan dan tanda tanya dalam hal regenerasi Pemerintah Kota Manado yang hanya menekankan pada kepewarisan kekuasaan kolonial Belanda sebagai awal terbentuknya suatu pemerintahan Kota Manado, paska Indonesia merdeka pada tahun 1945. Di mana kita tahu bersama bahwa kolonialisme Belanda merupakan suatu manifestasi kekuasaan dan penjarahan asing/pendatang yang telah mengeksploitasi bangsa Indonesia berabad lamanya. Termasuk penjajahan dan penjarahan tanah Benang (Wenang) dan wilayah tanah Malesung lainnya yang amat menyengsarahkan dan menindas rakyat pribumi serta para pemimpinnya yang sudah eksis berabad jauh sebelum kedatangan para kolonialisme tersebut.

Koapaha (1997, 2000, 2004, 2005, 2006, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012 (a,b,c), 2013, 2014 (a,b), 2015) telah banyak meneliti, menulis, dan sangat produktif mempublikasi substansi primus interpares Sejarah Kota Manado dan Sejarah Budaya Sulawesi Utara Plus. Yang mana terbanyak dari mereka sudah merupakan suatu penulisan “state of the art” berdasarkan studi sejumlah literatur/referensi dan observasi lapangan yang sangat komprehensif serta tidak ada bandingannya. Namun sebagian substansinya tergolong kurang selaras atau bersifat mengoreksi substansi publikasi yang diketengahkan oleh Ivan R.B. Kaunang (2003), Joutje Sendoh (2006), dan Fendy E. Parengkuan (2009). Sehingga sudah sepatutnya untuk mengakomodir, menyelaras, dan menyatukan berbagai pandangan dan pemikiran para pakar sejarawan terkait, melalui suatu hajatan seminar dalam rangka Penyusunan Buku Sejarah Kota Manado Plus yang: lebih komprehensif, lebih holistik, dan lebih kondusif. Dalam kerangka historiografy (pelurusan) Sejarah Kota Manado yang sesungguhnya. Termasuk betujuan untuk menggali, memasyarakatkan, dan melestarikan nilai-nilai kepahlawanan beberapa perintis dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, seperti: Mr. A.A. Maramis, Dotu Mandagi dan Bapak Arie Frederik Lasut sebagai putra-putra kusuma bangsa asal Manado yang notabene kurang dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat Kota Manado sekarang dan sekitarnya.

Para kuli tinta di atas menuturkan suatu peralihan kepemerintahan Kota Manado dari pihak kolonial Belanda kepada putra-putri Malesung. Di mana sampai dengan tahun 2015 ini, Kota Manado telah ditampilkan sebagai kota “Ekowisata Budaya Dunia” di bawah kepemimpinan Walikota DR. GS Vicky Lumentut DEA dan Wakil Walikota Dr. Harley A.B. Mangindaan. Namun selalu memunculkan suatu polemik dan kesenjangan informasi, yakni seolah-olah tanah kawasan pantai Barat-Utara dari Malesung tempo dulu, adalah warisan orang Belanda pada tahun 1918-an. Yang mana begitu bertentangan dengan klaim beberapa referensi yang notabene sebagai pejabat pemerintah jaman dahulu yang memimpin daerah/wilayah yang merupakan “cikal bakal” dari Kota Manado, seperti a.l: 1) Jan Hendrik Mononutu yang menjabat sebagai Hukum Kadua Distrik Manado Selatan (juga pada waktu yang bersamaan Mononutu memegang jabatan sebagai Hukum Jaksa Manado) pada tahun 1950, 2) H.R. Ticoalu (anak mantu mantan Kepala Walak Bantik Manado Petrus Arnold Mandagi) yang pada tahun 1951 menjabat sebagai Kepala Administrasi Manado, 3) P.M. Tangkilisan yang juga seorang putra Bantik Singkil yang pada tahun 1951 menjabat sebagai Kepala Daerah Minahasa di mana wilayah dan pemerintahan Administratif Manado ketika itu masih merupakan bagian dari pemerintahan Daerah Minahasa, dan 4) Frederik Intama (asal Banua Adat Bantik Bengkolro) sebagai Ketua DPRD tahun 1953 s/d 1964 yang sangat berperan dalam pemisahan Pemerintahan Kota Besar Manado dari Pemerintah Induknya Minahasa, dan 5) Letkol Yoppy Warouw (keturunan Bahou) yang pada tahun 1950 menjabat sebagai Komandan CPM Sumu (Sulawesi-Maluku Utara).

Klaim Ivan B. Kaunang (2003), Joutje Sendoh (2006), dan Fendi E. W. Parengkuan (2009) tentang primus interpares Kota Manado juga bertentangan dengan klaim sejumlah referensi kredibel dan asing lainnya seperti: tulisan DR. Sidney Hickson pada tahun 1889, tulisan Mendagel pada tahun 1914, tulisan Jasper J.E pada tahun 1909, tulisan Suhendro Baroma pada tahun 1992, tulisan DR. Janny D. Kusen pada tahun 2011, dan 2 (dua) surat pernyataan resmi: Sekretaris Provinsi Sulut atas nama Gubernur Drs. S. H. Sarundajang No.180/2201/Sekr tertanggal 21 November 2006 (Mamuaja 2006) dan Pimpinan DPRD Kota Manado Nomor: 19/DPRD/V/2009 tertanggal 13 Mei 2009 (Watung 2009) yang mengetahui dan mengakui status yuridis kepemilikan sebagian besar tanah ulayat Kota Manado atas nama mantan Kepala Walak Bantik Kristen (Yohanes Karinda) di mana pembawa warisnya Linora Torindatu dan Coendraad/Jantje Kalumata (Anonim 1879) serta kedudukan/eksistensi Bantik Stam (Suku Bantik) dalam wilayah Distrik Bantik pada tahun 1870 (Anonim 1870; Anonim 1923; Kaunang (2014). Jadi kalau sebelumnya, Gubernur Sarundajang sempat membuat suatu pernyataan di koran setempat bahwa “tidak ada status tanah adat/ulayat di Kota Manado”, maka klaim tersebut ternyata keliru atau tidak memiliki suatu dasar argumentasi referensi yang jelas.

McGuigan dalam Masun (2011) menyatakan bahwa sekurang kurangnya terdapat 3 (tiga) alasan masalah dalam melaksanakan suatu penelitian dan penulisan sebuah karya ilmiah, yakni: 1) Adanya informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan tentang sesuatu, 2) Adanya hasil hasil penelitian/klaim sebelumnya yang bertentangan, dan 3) Adanya suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskannya melalui penelitian. Bahkan sampai sejauh ini belum ada satupun terkait pelaksanaan penelitian pada level “disertasi” tentang Sejarah Kota Manado yang memenuhi suatu persyaratan kaidah-kaidah dan metodologi ilmiah. Sehingga penulisan sebuah buku tentang Sejarah Kota Manado sebagai suatu pengembangan hasil-hasil seminar terkait, yang turut dilandasi oleh sebuah pernyataan dan penanda-tangan Pakta Integritas Personil Tim Penyusun yang notabene sebagai pakar sejarah terkait, dapat menjamin mutuh dan kualitas dari substansi karya ilmiah buku ini.
Karena banyaknya kesenjangan informasi dan perbedaan versi referensi (baik referensi lokal maupun asing) yang menimbulkan kontroversi, mendorong personil Tim untuk lakukan verifikasi “cross-references” terkait beragam publikasi tentang sejarah Kota Manado selama ini, berdasarkan Surat Keputusan Nomor: 135.a/KEP/LT.2/Bappeda/2015 tertanggal 12 Oktober 2015 tentang Pembentukan Tim Penyusunan Buku Sejarah Kota Manado, sebagai follow-up dari 2 (dua) kali hasil Seminar Sejarah Kota Manado tertanggal 14 Juni 2004 dan tertanggal 13 Agustus 2015.

Manfaat praktis dari penulisan buku ini adalah untuk memenuhi suatu kesenjangan dan kekurangan informasi tentang “Sejarah Kota Manado” yang kondusif bagi semua pihak, terutama bagi para warganya dan kalangan akademisi serta menunjang keberhasilan program pengembangan “Ekowisata Budaya Dunia” Pemerintah Kota. Buku ini juga merupakan suatu langkah positif pendokumentasian Sejarah Kota Manado yang dapat dijadikan sebagai referensi/bahan acuan resmi dalam penyiapan dan pembelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah pemerintah dan swasta sederajat dalam lingkup Kota Manado. (***)

 

Bersambung………

Fenomena Politisi Ala Selebritis di Era Postmodernisme, Menyimak Pilwako Manado

Ilustrasi, pentingnya berpolitik yang baik (Foto Ist)

Ilustrasi, pentingnya berpolitik yang baik (Foto Ist)

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang lambat-laun mulai meninggalkan kearifan lokal, dan tidak melestarikan lagi warisan para leluhur. Kondisi itu terbukti dengan hadirnya beragam realitas baru berupa fasilitas teknologi yang membuat sesuatu yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat menjadi jauh. Kemudian, kenapa perlu diangkap ‘Sensasi’ para politisi ala selebritis dalam ulasan kali ini. Sensasi adalah proses manusia dalam menerima informasi sensoris (energi fisik dari lingkungan) melalui penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal neural yang bermakna. Sensasi (sensation) berasal dari bahasa latin yaitu sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek.

Kenapa kali ini politisi menjadi perbincangan kita, karena agen yang satu ini menjadi objek pembahasan yang menarik, dan dalam tindakannya sebagai subyek sering melakukan hal-hal baru yang begitu menyedot perhatian publik. Politisi ala selebritis, tidak seperti para politisi umumnya, kecenderungan politisi alas selebritis mengabaikan substansi perjuangan, menguatamakan sensasi, kejutan dan menyukai akan hal-hal yang menghebohkan, meski pesan yang disampaikan pada masyarakat tidak sebesar harapan masyarakat itu sendri. Lihat saja artis yang sering menjadi objek eksploitasi media massa, menjadi bagian pengalihan issu dan lain sebagainya, memaknai inovasi hanya sebagai sesuatu yang bersifat simbolik belaka.

Membicarakan artis atau selebriti begitu erat kaitannya dengan media massa, Jean Baudrillard seorang ilmuan sosial hendak mengembangkan teori sosialnya perihal media yang berperan penting dalam renovasi masyarakat posmo. Baudrillard menyentil soal orientasi media yang sering membentuk realitas baru bagi masyarakat, pemberitaan media baginya tak lepas dari kepentingan tertentu, ada semacam agenda setting yang dilakukan media tak lain adalah mengarahkan konsumen pembaca untuk tertuju pada target pemberitaan tersebut.

Disampaikannya bahwa agenda setting mensyaratkan tidak ada yang netral dalam setiap pemberitaan atau ulasan. Semua fakta yang masuk ke dalam redaksional media disajikan sebagai sesuatu dengan preferensi kepentingan media tersebut. Baik untuk hal kepentingan politik dan yang lainnya, simulasi politik yang dilakukan media melalui pengalihan issu di Indonesia ini terbukti efektif mengelabui masyarakat dari peristiwa-peristiwa penting lainnya yang ”diharapkan” tidak diketahui masyarakat. Alhasil proses pengalihan issu terjadi begitu masif. Dimana rekayasa sosial dilakukan media, terutama media besar membuat konstalasi sosial masyarakat menjadi tidak menentu. Mengingat ungkapan Baudrillard, yang mengatakan bahwa kondisi post-realitas adalah kondisi dimana realitas dilampaui oleh realitas buatan atau artifisial. Kondisi ini menjerat dan mengurung manusia di dalam dunia artifisial yang hanya berisikan kedangkalan, disinilah peran media begitu signifikan mengarahkan masyarakat.

Kemudian, apa bedanya dengan politisi yang bukan selebritis atau yang tidak menyukai metode sensasi saat menyampaikan gagasannya kepada masyarakat serta menarik simpati masyarakat untuk mengikuti politisi tersebut. Perbedaannya bukan hanya pada aspek metode kampanye, namun lebihnya pada kerja-kerja kemasyarakatan politisi unggul bukan yang mengedepankan publikasi media massa yang berlebihan, tapi politisi yang berbuat bagi banyak orang, turun bersama rakyat, tidak mendiskriminasi rakyat, dan memposisikan rakyat sebagai kawan (subyek) politik. Yang diunggulkan adalah ide dan konsep, bukan kehebohan atau kegiatan seremonial.

Seharusnya semua pertentangan politik dapat digabungkan (fusi) menjadi suatu kekuatan yang menopang masyarakat demi mencapai kepentingan yang lebih besar. Karena semua politisi membutuhkan legitimasi publik, tapi bukan dengan cara-cara yang tidak mendidik, cara-cara yang mencederai etika politik, menggiring masyarakat sebagai konstituen dengan pengaruh pemberian uang, lalu setelah itu kontribusi masyarakat diabaikan begitu saja. Jika uang dianggap segalanya dalam mengobati kekecewaan rakyat, maka sudah pasti uang dapat menjadi solusi, namun sayangnya itu yang dibutuhkan masyarakat. Masyarakat memerlukan pemerintah yang kebijakannya tidak menyulitkan mereka, bukan sekedar selfie (foto ria), menguatkan pencitraan, dan bukan sekedar memberikan bantuan uang maupun barang kepada masyarakat sebelum terpilih sebagai pemimpin, kemudian ketika terpilih  kepentingan masyarakat dikesampingkan.

Bila ditarik dalam konteks perpolitikan lokal di Kota Manado, masyarakat yang berbeda latar belakang ekonomi, bahasa, berbeda agama, dan strata sosial lainnya bukan menjadi bahan komoditi politik bagi para pasangan calon (Paslon) Wali Kota Manado untuk diarahkan sesuka hati. Politik itu bicara tentang hajat hidup banyak orang, bukan dalam lingkup kepentingan komunitas semata, politik tidak bicara tetang identitas golongan tertentu saja, apalagi mendikotomikan masyarakat pemilih. Tidak zamannya lagi masyarakat dicekoki dan diberi doktrin bahwa yang seagama wajib memilih yang seagama, yang satu suku harus memilih yang satu suku, namun lebih dari itu politik dan demokrasi menghargaai perbedaan itu dalam kondisi yang universal.

Kini saatnya kita mengajarkan masyarakat memilih pemimpinnya yang benar, bukan memberi doktrin, yang akhirnya membuat masyarakat menjadi fanatik buta. Bukan juga sebaliknya memilih pemimpin yang tampil dengan senasi, senang disanjung dan sebagainya yang bersifat sesaat. Mari memilih pemimpin Negarawan, politisi, bukan politisi selebritis yang dimana-mana memasang spanduk, baliho dan iklan bagaikan artis. Pilih pemimpin yang memiliki track record, pernah berbuat bagi masyarakat, bukan sekedar menebar janji kosong. (***)

 

Demokrasi tidak menjamin kesamaan kondisi, demokrasi hanya menjamin kesamaan kesempatan. –Irving Kristol.

 

Penulis: Amas Mahmud, Redpel Suluttoday.com

Belajarlah dari Putin, Siloviki (Eks-KGB) dan Kebangkitan Kekuatan Baru Dunia Global

Baharudin Pitajaly (Foto Ist)

Baharudin Pitajaly (Foto Ist)

Oleh: Baharudin Pitajaly, Pegiat muda NU

Dalam proses perjalan sejarah bangsa di manapun di Dunia ini selalu terjadi intrik politik kekuasaan baik di lakukan oleh elit dalam negeri maupun permainan kekuasan dan sekenario global lewat agen serta instrument lainnya yang sudah sejak lama di susupkan via individu maupun lembaga-lembaga yang di bentuk oleh kekuasan global, Belanda dan AS lah yang sangat piawai dalam memainkan dan mengunakan agennya atas oprasi tertentu untuk kepentingan kendali mereka.

Indonesia adalah Negara-bangsa yang selalu saja terseok-seeok di belakang sejarah Dunia dan negara lain meminjam istilah “Gus Im” kenapa situasi seperti ini tidak pernah di pelajari dengan baik oleh para elit di bangsa ini, kencendurngan a-historis elit membawa dampak buruk atas situasi ini selalu terjebak dan mengulangi kesalahan yang sama sebelumnya. hingga tidak mampu keluar dari keterpurukan ekonomi yang di dikte oleh kepentingan bangsa asing.

Awal kehancuran bangsa ini adalah menerima mentah-mentah usulah IMF dan WB sebagi instrument kepentingan Internasional dalam soal resep ekonomi yang di sepakati dan tandatangani Orde Baru zaman pak Harto, resep ekonomi inilah yang menjebak bangsa ini akhirnya terpuruk dan nyaris tidak mampu bangkit kembali, setelah tumbangnya rezim Orba, fase transisi kemudian berganti era-reformasi tidak membawa perubahan yang sangat fundamental atas proses berbangsa dan bernegara, di fase ini para elit kita kembali a-historis dan melakukan kesalahan yang sama, kurang lebih 17 tahun setelah reformsai di jalankan.

Melihat Indonesia yang nyaris tidak bernah berkesudahan di rundung masalah krisis multidimensi seli berganti terjadi, serasa elit tidak pernah peka, awas atas masalah yang di hadapi bangsa ini. belum lama ini kita di buat tidak berdaya atas melemahnya Rupiah dan hampir menembus angka 15.000 per Dolar As. Melemahnya Rupiah terhadap Dolar As tentu membawa dampak ikutan atas PHK besar-besaran yang menimpa Buruh, melemahnya Rupia terhadap dolar As sangat terasa karena mayoritas di bangsa ini adalah masyarakat yang di hidup dalam kalas menengah kebawah, sementara korupsi semakin meraja lela dari pusat hinga daera cara penyelesaiannyapun sifatnya tebang pilih yang justru meninggalkan masalah, selain itu masalah yang kita hadapi sebagai bangsa ini adalah konflik yang mengatasnamakan SARA sering berulang terjadi tanpa penyelesaian yang baik, masalah ini di selesaikan selalu dengan cara simbolik dan mungkin akan terjadi lagi. memang bangsa ini di bikin semakin keropos dan tidak berdaya karena di grogoti dari dalam miris memang, selalu saja elit mepertontonkan kekonyolannya dan sering menujukkan mental inferornya pada bangsa asing dan itu di perlihatkan oleh para elit pimpinan senayan yang katanya terhormat, ketika hadir dalam kampanye salah satu calon presiden AS Donald Trum walaupun itu memalukan dan merendahkan martabat bangsa namun itu sudah menunjukkan pisiko-historis sebagi bangsa terjaja yang bermental Inlader yang perlu kita rubah.

Belajar dari Rusia

Apa yang terjadi pada bangsa ini di tahun 1998 pernah juga di alami oleh negara Rusia pada dekade 1990-an di bawa kekuasan Gorbachev dan Yealtsin yang akhirnya membuat Rusia Colepse dan terjadi krisis ekonomi bahkan korupsi di mana-mana aset negara semuanya di swastanisaikan oleh dua presiden sebelumnya dan menjamurnya oligarki bisnis yang maha dasyat, kesalahan Rusia pada zaman Gorbachev dan Yaltsin persis sama dengan apa yang di lakukan di zaman Orba, antara Rusia dan Indonesia sama-sama di tipu oleh IMF dan WB yang coba memberikan ramuan dan resep ekonimi yang katanya jitu. Dengan mengirim para pakar ekonomi terkenal lulusan kampus-kampus ternama di AS di utus ke negara yang secara ekonomi terlihat bermasa atau hamper bangkrut dengan menerapkan rumus-rumus serta paket kebijakan ekonomi tertentu yang membuat bangsa tersebut menjadi bergantung dan hilang kemandirian ekonomi lalu terpuruk, keuntungan terbesar yang di hasilkan oleh para pakar ekonomi asal lembaga internasional IMF dan WB tersebut tidak di peruntukkan untuk jangka pendek namun sifatnya jangka panjang dengan keuntungan yang di peroleh sebesar-besarnya dan tetapi melakukan control dan hegemoni, dan kerugian yang maha dasyat di alami oleh negara yang katnya di bantu mengatis krisis ekonomi yang di hadapi termasuk Rusia dan zaman itu.

Namun pada dekade 2000-an ke atas Rusia relative lebih cepat bangkit sampai hari ini sebuah kenisyaan terlihat setelah Vladimir Putin menjadi presiden Rusia terlihat perubahan signifikan terjadi, dan Putinlah yang membuat Rusia terlihat luarbiasa hari ini mampu menjadi kekuatan baru Ekonomi global menyangi AS dalam rebut pengaruh dan pertarungan Proxy War hinga bergesar ke perang Asimetris, dunia ahirnya dengan wajah yang berbeda terlihat setelah terjadi pergeseran system global.

Kebangkita Rusia

Kebangkitan Rusia tidak terlepas dari cara dan sepak terjang presiden sekaligus mantan agen KGB Uni Soviet, Vladimir Putin sebagai presiden dan memipin yang Visoner membawa Rusia keluar dan bangkit dari kehancuran ekonomi dengan cara melabrak habis oligarki bisnis di internal Rusia yang telah menjadi benalu atas kekuatan terselubung AS di internal Rusia, tentunya apa yang di lakukan oleh mantan agen Eks-KGB Vladimir Putin tidak sendirian namun di bantu oleh Siloviki komunitas agen inteljen Rusia (Eks-KGB) diera Uni soviet, sebagai peletak dasar dan elemen penting atas perubahan Rusia.

Komunitas Siloviki dengan jebolan agen-agen terbaik yang di latih kusus oleh para pakar dan disainer Inteljjen dalam tubuh (KGB) atau lembaga Inteljen asal Uni soviet dulu. dengan kemampuan terbaik yang di miliki sebagai lembaga Inteljen Negara Uni Soviet dan telah terbukti dalam kerja-kerja spionase pada zamannya. tetapi kemudian di bubarkan oleh mantan Presiden sebelumnya, Gorbachev karena di pengaruhi AS dan menganti nama dengan FSB, pergantian nama lembaga Inteljen Rusia tentu sangat berimlikasi atas konstalasi internal dan komposisi struktur hinga bias orentasi. Siloviki atau komunitas Eks-KGB inilah menjadi dasar kebangktan Rusia Bersama Vladimir Putin dan mampu mengantar Putin sebagai Presiden Rusia setelah Gorbachev dan Yaltsin.

Membangun Rusia dengan cara kerja komunitas Siloviki tentunya tidak mendapat tantangan yang berarti oleh para pemimpin dan elit di Rusia yang pro-AS sebelumnya karena tidak dengan cara-cara Hard landing tetapi lebih memilih cara-cara soft landing yaitu cara-cara halus seperti penetrasi dan inviltrasi yang menjadi pelajaran sekaligus kemampuan semasa aktif sebagai angen KGB yang sering melakukan silent oprasi dan spionase di negara-negara yang di anggap membahayakan nagara Rusia, silent oprasi dan kerja spionase yang di lakuan oleh jebolan-jebolah Eks-KGB kini mampu menguasai beberapa posisi strategis di Rusia termasuk menyusup kedalam istnah Negara yang di kenal dengan sebutan Kremlin.

Kekuatan baru Ekonomi Global

Kebangkititan Rusia hari ini sebagai kekutan baru ekonomi Global menyangi AS menjadi penting di perhatikan karena bersamaan terjadi pergeseran system dunia bisa di lihat dalam geopolitik. dunia hari ini tidak lagi kutub tunggal tetapi multikutub yang di tunjukan oleh kebangkitan kekuatan baru ekonomi global Rusia, atas kekuatan dominan dan sangat hegemonic sebelumnya seperti AS yang selalu mengangap dirinya sebagai neraga adidaya dan Super powar, namun sebaliknya kebangkitan Rusia menjadi pengimbang atas kekuatan dominan tersebut.

Selain Rusia dan AS sebagai kekuatan ekonomi Global, di kawasan Asia RRC menjelma menjadi kekuatan baru dan ikut meramaikan percaturan politik Global dan perang Asimetris yang hari ini terlihat, memahami peta percaturan Internasional dalam konteks geopoltik startegi menjadi keharusan Khusnya Indonesia dalam interaksi global dan bisa memaikan peranan besar di panggung internasional, geopolitik Indonesia yang di untungkan secara geografis letak dan posisi indonesia tentu menjadai incaran banyak pihak dan menarik perhatian para petarung dan kekuatan Global lain baik Rusia, AS, dan RRC. dengan geoposisi silang yang di miliki bangsa ini semestinya menjadi keuntungan tersendiri secara ekonomi sekaligus menjadi kekuatan baru yang tidak di miliki oleh negara manapun termasuk kekayaan SDA yang melimpah di laut dan darat, dan sangat mungkin membawa kita bangkit menjadi kekuatan baru ekonomi global bersama RRC, sekurang-kurangnya dalam lingkup kawasan ASIA, ataukah kemudian harus terpuruk dan tertinggal di belakang sejarah dunia lain karena tidak mampu membaca momentum terjadinya patahan di dunia global dalam kacamata geopolitik di satu sisi, dan sisi lain kita hanya pasrah atas keadan hanya menjadi tempat dan arena peraturangan dan Perang Asimetris oleh Rusia, RRC, dan AS. ini harus menjadi agenda mendesak dan prioritas yang di fikirkan bersama.

Mengahiri Tulisan Ini

Kealpaan, cendrung a-historisnya elit hari ini adalah mengabaikan geopoltik sebagai ilmu dan carapandang dan mampu memanfaatkan momentum atas kenyataan terjadinya patahan Global yang dapat untuk keluar dari tekanan asing dan bangkit menjadi pemain baru di kancah politik global. Memahami geopolitik dalam konteks system dunia global bukan hal baru atau bahkan ilmu baru karena ilmu ini sudah di praktekkan pada zaman Bung karno, Syahrir, dan Tan Malaka. untuk kemerdekaan bangsa ini. Maka dari itu kebangkitan bangsa dan perubahan sebagai keniscayan hanya di Mungkin jika para elitnya awas dan mau mengunakan geopolitik sebagai cara melihat fakta dunia Golobal hingga mampu bergeliat keluar ketika ada momentum internasional yang terjadi, dan memanfaatka semua potensi yang di miliki hinga kita mampu menciptakan kembali kejayan yang pernah di lakukan oleh Bung Karno cs atau lebih kebelakang ada Sriwijaya maupun Majapahi yang mampu mempresentasikan posisinya menjadi sentrum regional Asean. (***)

Jadilah Pemenang di Antara Sekian Petarung

Baharudin Pitajaly (Foto Ist)

Baharudin Pitajaly (Foto Ist)

Percayalah bahwa takdir hidup di tentukan oleh diri kita masing-masing, dan kita bukan terlahir dari sesuatu yang telah diberi dan terbentuk begitu saja mengikuti rencana perjalanan yang telah di tentukan oleh tangan “Gaib” atau tanpa daya menarik bintang-bintang kearah tertentu kemudian mendatangkan kebahagian bagi sebagin orang dan kemalangan bagi yang lain.

HUGUA Membaca kembali biografi Hugua yang di tulis Ayu Arman dengan bahasa sederhana dengan gaya menulis novel seolah saya menemukan kembali seorang pemimpin visioner, dan figur politik yang punya kemampuan luar biasa mengelola kekuasaan di Wakatobi sebagai seorang Bupati. Terlahir dari keluarga yang terbatas secara ekonomi tidak membuat Hugua menajadi lemah tak berdaya. Namun Hugua kecil terlihat begitu lincah dan sangat kreatif di usia yang begitu belia. Hugua terbilang anak yang selalu mau belajar dan mencari hal-hal baru, dan itu nampak setelah dia sangat antusias mempelajari bahasa inggris hanya dengan mendengar radio BBC Australia. Hugua dibesarkan dari keluarga sederhana yang menggantungkan hidupnya di laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ayahnya seorang pelaut ulung untuk berniga dan seduh mengelilingi Indonesia bahkan sampai ke luar negeri seperti Papua Nugini, Malaysa, Singapura, dan Filipina. Hugua yang lahidr pada tanggal 13 Desember 1961 di pulau kecil Tomia desa Usuku dalam kondisi wilayah yang gersang dataranya tinggi gugusan karang dengan tubir yang terjal kondisi alam yang tandus dan batuan cadas seakan Tuhan sedang menempah warganya agar tidak mudah menyerah mejalani hidup yang keras. Setelah ibunya meningal tiga tahun kemudian ayahya kemudian memutuskan untuk menikah lagi dan beralih profesi berkebun cengkeh di pengunungan Taliabo, salah satu daerah yang sekarang telah menjadi kabupaten baru di Maluku Utara.

Mengenal Hugua di masa kecil dengan kondisi lingkungan yang keras dan hidup dengan sang nenek sebagi tulang punggung keluarga tentu memberikan pelajaran yang sangat berharga dan membentuk karakter Hugua di kemudian hari. Mengenal Hugua dengan pribadi yang begitu sederhana, bersahaja ramah penuh karakter dan pekerja keras membuat saya teringat pada seorang pemimpin asal Amerika Selatan tepatnya di Bolivia yang terlahir dari petani Koka yaitu Evo Morales. Selintas tidak ada yang beda antara dua orang figur politisi dan pemimpin yang visioner ini, namun porsi yang di berikan sebagai mandat memimpin tentu berbeda. Hugua hanya sorang Bupati di Kabupaten Wakatobi (Propinsi Sulawesi Tenggara), daerah yang luas 559,5 km² dan jumlah penduduknya ± 94.846 jiwa (data tahun 2012). Namun di bawah kekuasaan yang dipimpin oleh Hugua mampu menghadirkan event-event yang bertaraf Lokal, Nasional bahkan Internasional, seperti Sail Wakatobi dll, dan mampu merubah “image” orang terhadap Wakatobi yang dikenal sebagai daerah gersang, kini menjadi destinasi pariwisata yang sering dikunjungi baik oleh turis Lokal maupun Mancanegara. Hugua memang tidak pernah terlahir dari rahim partai politik manapun, namun Hugua sangat mengidolakan Soekarno.

Ide dan gagasan Marhaen itulah yang kemudian digunakan oleh Hugua sebagai Ideologi politik setelah menjadi Bupati Wakatobi dan diimplementasikan secara langsung. Maklum, Hugua sebelum menjadi Bupati, aktifitasnya adalah seorang pekerja sosial di salah satu Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dalam aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan dan visinya pada konservasi lingkungan hidup di Wakatobi. Lembaga pemberdayaan masyarakat lokal tersebutlah yang kemudian menghatar Hugua menjadi begitu terkenal dan termahsyur baik Nasional mapun Internasional dan lembaga itu pulalah yang mengantar Hugua menjadi seorang Bupati bersama Partai PDI Perjuangan. Sebaliknya dengan Evo Morales mantan Presiden Bolivia pada 2006, sebelum menjadi peresiden Evo terlibat dalam gerakan “kiri” sebagai pemimpin sayap kiri gerakan “cocalero” Bolivia –sebuah federasi kendur dari campesino penanam daun koka yang melawan upaya-upaya pemerintah Amerika Serikat untuk membasmi koka di Provinsi Chapare di Bolivia Tenggara. Morales juga adalah pemimpin partai politik Gerakan untuk Sosialisme (Movimiento al Socialismo, dengan singkatannya dalam bahasa Spanyol MAS, yang berarti “lebih”), yang terlibat dalam “Perang Gas” bersama-sama dengan banyak kelompok lainnya yang biasanya dirujuk sebagai “gerakan sosial”.

Terlahir dari keluarga petani Koka, Eva Morales kemudian menajadi Presiden pada 2006 di Bolivia dengan wilayah kekuasan dengan luas mencapai 1.099.000 km² dan jumlah penduduknya ± 10,67 juta (2013) dan sangat kompleks tatakelolanya. Mungkin inilah perbedaan antara Hugua dan Evo Morales, lebih dan kurang menurut saya nyaris sama dan bisa kita liat dari cara mereka berdua memimpin dengan karakternya masing-masing. Melihat kondisi elit politik hari ini membuat saya berkesimpulan bahawa ada yang berbeda dan bahkan sangat ahistoris karena elit hari ini tidak pernah lagi mau belajar hal-hal baru agar lebih produktif dalam mengelola kekuasaan. Elit hari ini tanpa sandaran Histori dan Ideologi Melihat laku para elit yang dasarnya tidak pernah tumbuh dari bawah dan merasakan apa yang sesunguhnya terjadi dalam kenyataan sosial membuat elit kita makin jauh dan kadang lupa apa yang harus dikerjakan untuk rakyat. Karena pada umumnya elit di bangsa ini tidak lahir dari kelompok Vanguard atau pelopor. Dalam konteks sistem ekomoni dunia yang sangat kapitalis selalu tumpang tindih dengan kepentingan elite lokal.

Menurut Emanuel, elit lokal sebetulnya tidak pernah berpikir dalam konteks politik modern, tetapi hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri dan sesaat, karena itu tepat disebut elit bukan vanguard. Kelompok vanguard tidak pernah mucul karena dalam sistem pendidikan Belanda, elit selalu saja diambil dari anak camat, atau anak “pamog praja”, rakyat biasa tidak diberikan ruang pada zaman Kolonial Belanda, itulah sebabnya terlihat hingga hari ini struktur mental elit yang tidak pernah berubah dan cendrung picik. Sruktur mental elit dengan watak yang picik dan cenderung berpikir kepentingan sendiri terus menjamur di mana-mana dan berjalan tanpa sandaran History dan Ideologi hingga kadang terlihat kacau dalam mengelola kekuasan, tidak mau belajar atas hal-hal baru tetapi yang diinginkan hanya menjaga kepentingan sendiri. Tentu kerakter seperti ini berbeda dengan Hugua maupun Evo Morales.

Saya tidak berlebihan kemudian menyamakan kedua tokoh tersebut yang sangat mengenal betul historisnya dan punya sandaran ideologi yang diyakini, sekurang-kurangnya dijadikan sebagai “manifesto” politiknya, disinilah penting mengenal Hugua dan Evo Morales. Struktur logonomik “Honocoroko” Fakta kemudian membuktikan bahwa elit hari ini cenderung bahkan menjaga dan saling menyelamatkan dan memelihara kenikmatan hidup di kalangan mereka, dan sudah menjadi ideologi dominan yang terus berlaluku, di sadari atau tidak, dan inilah yang di sebut Honocroko, mereka selalu membangun versi yang bisa membenarkan rezim berkuasa sekaligus membangun solidaritas dengan musuhnya. Untuk menjaga kepentingan masing-masing dalam hal ideology, sepertinya mereka berbeda atau bermusuhan, tetapi dalam logonomiknya sama bahwa mereka tidak ada tanggung jawab pemimpin terhadap yang di bawah. Ideologi dominan tersebut sangat dipertahankan sampai hari ini dan polanya tetap tidak berubah dari waktu-kewaktu, serasa makin mustahil menemukan kembali elit sekelas Hugua dan Evo Morales.

Memimpin bukan berarti menjaga kenikmatan sesama elit dalam idologi yang domonan namun berbuat dan melayani rakyat, itulah yang utama. Kesimpulan Dalam momentum Pilkada yang tinggal beberapa bulan kedepan apakah mungkin mencari dan menemukan orang seperti Hugua dan Evo Morales sebagai sebuah laku? Tentu jawabannya mungkin kecuali kita merubah sistem kaderisasi dan pola perekrutan politik pada setiap partai, agar menjadi benar bahwa partai adalah instrumen menuju perubahan sebagai keniscayaan yang menjadi harapan dan cita-cita bersama segenap kita. Ketika partai sehat dalam sistem kaderisasi dan perekrutan, dipastikan Hugua dan Evo Morales baru akan hadir dan tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin besar yang tugasnya melayani, dirindukan dan dicintai rakyat.

Elit dan pemimpin yang tumbuh dari kesadaran historis dan kesadaran berideologi, elit dan pemimpin yang besar bukan karena uang atau nama besar keluarganya. Ataukah kemudian dengan sehatnya sistem kaderisasi dan pola rekrutmen akan memuculkan Vanguard atau pelopor-pelopor baru yang memiliki kemampuan secara kualitatif dan cangih mengelola kekuasaan, karena semua kita adalah pemimpin atau kepeloporan tersebut yang di sebut dengan elit. Dan saya tidak kemudian menafikan bahwa banyak di antara kita seperti Hugua mapun Evo Morales, tetapi karena buruknya setem kaderisasi dan pola perekrutan politik, karakter-karter tersebut menjadi terisolasi karena ruang.

Semoga saya dan anda semua kelak menajadi pemimpin yang baik. ”Setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya”. Salam Demokrasi. (***)

 

Catatan: Baharudin Pitajaly, Koordinator Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sulawesi Utara.

Pendzoliman Hak Berdemokrasi, Elly Engelbert Lasut “the choosen one”

Elly Engelbert Lasut dan David Bobihoe Akib saat melaporkan KPU Sulut ke Bawaslu (Foto Suluttoday.com)

Elly Engelbert Lasut dan David Bobihoe Akib saat melaporkan KPU Sulut ke Bawaslu (Foto Suluttoday.com)

Dia yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan

Demikian kebenaran yang termaktub dalam hati rakyat Sulawesi Utara hari ini. Dan kebenaran inilah yang mengancam sejumlah besar lawan politik Elly Engelbert Lasut hari ini. Sebagai akibatnya, kita melihat bagaimana Elly terus menerus dikorbankan bagi kepentingan politik mereka. Elly, pada akhirnya, menjadi monster yang paling menakutkan bagi lawan-lawan politiknya. Sekuat apapun mereka, setinggi apapun popularitas mereka, sehebat apapun strategi mereka, nama Elly selalu muncul sebagai ancaman bagi kemenangan mereka, atawa jaminan bagi kekalahan mereka, dalam kontestasi politik. Melawan Elly, pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka.

Lima tahun yang lalu, Elly adalah nama yang menggentarkan lawan-lawan politiknya di Sulawesi Utara ketika, bersama Henny Wulur, dia maju sebagai calon gubernur Sulut. Kita kemudian tahu bahwa Elly tidak pernah dikalahkan di medan perang demokrasi. Skenario politik, dalam sebuah alur yang disusun berdasarkan jaringan canggih penghancuran karir politik dengan menggunakan hukum, diterapkan secara halus. Dalam bahasa hukum, Elly ditahan, disidang, dan dipenjarakan. Dalam bahasa politik, Elly dijegal. Dalam bahasa rakyat kecil, Elly dikorbankan.

Skenario yang sama, dalam alur yang agak berbeda, kembali diterapkan lima tahun kemudian atau, tepatnya, pada hari-hari ini. Pencalonan Elly sebagai gubernur, kali ini dengan menggandeng figur dari kubu Muslim, David Bobihoe, kembali diletakkan di bawah kilatan pedang algojo hukum. Kali ini, hukum yang digunakan adalah peraturan KPU mengenai syarat pencalonan gubernur. Pencalonan Elly-David digugurkan oleh KPUD Sulut. Artinya, Elly sekali lagi berada dalam ancaman untuk disingkirkan dari medan demokrasi. Politik sekali lagi dipecundangi atas nama aturan dan hukum.

Tanpa niat untuk menyepelekan aturan dan hukum, mereka yang memiliki kritisisme politik tidak akan begitu saja percaya bahwa apa yang sekarang terjadi pada Elly, sebagaimana yang dia alami lima tahun sebelumnya, adalah murni persoalan aturan dan hukum. Kita boleh bertanya, dengan kritisisme yang cukup, kenapa Elly selalu disingkirkan dari medan pertarungan demokratis? Kita boleh curiga untuk banyak alasan.

Elly jelas bukan lawan yang enteng dalam perhitungan kita atas kontestasi politik hari ini dan, juga, lima tahun yang lalu. Dia selalu muncul sebagai kekuatan yang mengancam bagi lawan-lawan politiknya, seyakin apapun mereka pada kekuatan mereka sendiri. Bahkan bagi warga yang paling awam sekalipun, Elly tidak pernah hadir dalam kontestasi politik tanpa meninggalkan kesan menarik bagi mereka.

Berbeda dari kebanyakan politisi di Sulawesi Utara hari ini, Elly adalah figur yang muncul dari mimpi masyarakat Sulawesi Utara sendiri. Mimpi yang paling ditakuti oleh para politisi “utusan pusat kekuasaan” yang sesungguhnya tidak cukup kuat pijakannya di bumi nyiur melambai sendiri. Mimpi warga Sulut untuk memiliki pemimpin yang keringatnya benar-benar berbau Sulawesi Utara. Mimpi yang hanya bisa diwujudkan oleh seorang politisi yang keluar dari kantong rakyat Sulawesi Utara sendiri, bukan politisi yang keluar dari kantong para selebriti politik di pusat-pusat kekuasaan yang jauh di sana. Dan Elly Engelbert Lasut memenuhi semua kriteria itu.

Elly adalah anak kandung Sulawesi Utara. Politisi yang dibesarkan oleh kenangan dan harapan warga Sulawesi Utara tanpa kegenitan untuk membesarkan nama dan mencari popularitas di panggung-panggung selebritas dari luar Sulawesi Utara. Sementara kebanyakan lawan politiknya berjuang menggelembungkan popularitas mereka di ruang-ruang ber-AC di Jakarta, Elly bersedia melukai tangannya sendiri demi menyentuh rakyat Sulawesi Utara. Maka, ketika Elly mencalonkan dirinya sebagai pemimpin warga Sulut, semua orang tahu (termasuk lawan-lawannya) bahwa Elly adalah satu-satunya tokoh politik hari ini yang “terpilih” untuk mewakili Sulawesi Utara dalam arti yang paling politis dari kata itu.

Apalagi hari ini, pada pemilihan kepala daerah di tahun 2015 ini. Peta politik Indonesia sedang didesain ulang. Naiknya Jokowi ke tampuk kekuasaan nasional setahun yang lewat adalah momentum bagi kebanyakan politisi untuk menulis ulang popularitas politik mereka dengan bertumpu bukan hanya pada kesan kedekatan dengan rakyat tapi juga pada kecakapan memimpin yang bersifat manajerial. Bagaimanapun juga, semata popularitas terbukti tidak mampu menahan jatuhnya rupiah atau kemerosotan ekonomi pada umumnya. Dalam hal satu ini, kita membutuhkan kecakapan manajerial.

Persoalannya, budaya politik kita belum terbiasa dengan model popularitas yang diimbangi dengan kecakapan manajerial seperti itu. Di satu pihak, politisi kita masih terbiasa dengan model popularitas yang dikatrol oleh kekuatan elit partai atau selebrasi media dan, di pihak lain, mereka tidak memiliki kecakapan manajerial. Apakah Elly memenuhi kriteria kepemimpinan seperti ini? Kita boleh curiga bahwa pada titik inilah sesungguhnya ketakutan yang merebak pada figur Elly itu datang. Berbeda dari lawan-lawannya saat ini, Elly dan pasangannya, adalah kandidat pemimpin yang pernah menjadi pemimpin. Bertugas di posisi eksekutif dan secara nyata berurusan dengan persoalan-persoalan manajerial yang kita maksudkan.

Sekarang, mari kita kembali pada ketakutan itu. Dengan ketokohannya, Elly memenuhi semua kriteria yang kita butuhkan untuk menjadi pemimpin Sulut saat ini. Sistem persebaran informasi di kalangan masyarakat Sulawesi Utara jelas bisa menyampaikan informasi seperti itu hingga ke kalangan terbawah masyarakat. Amatan yang lebih membumi, tanpa membutuhkan detail rumit survey dan penelitian akan menempatkan Elly pada posisi yang jelas mengancam kenyamanan lawan-lawannya untuk memegang kekuasaan.
Ringkasnya, Elly adalah “the choosen one” alias “yang terpilih”.

Dia telah dipilih jauh sebelum pemilihan itu sendiri dilaksanakan. Kita tahu itu, masyarakat tahu itu, dan lawan-lawan Elly juga tahu itu. Dan mereka tahu betul bahwa yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Dia hanya bisa disingkirkan dari pemilihan. Adapun skenario strategis bagi penyingkiran itu tidak perlu disusun baru. Mereka hanya perlu mengulang skenario yang sama yang pernah diterapkan dengan sangat berhasil pada lima tahun yang lalu. Dan kita tidak boleh membiarkannya. Bukan atas nama Elly Engelbert Lasut tapi atas nama demokrasi di bumi nyiur melambai yang sama kita cintai ini. (***)

Manado 2015

Penulis: RJP

iklan1