Category: Pendidikan

Silaturahmi ICMI Sulut, Puluhan Ahli Berkumpul Perkuat Sinergitas

Berlangsungnya silaturahmi ICMI Sulut (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Silaturahmi pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Sulawesi Utara (Sulut), Senin (23/12/2019) di hotel Grand Whiz MTC berjalan penuh keakraban. Setelah penetapan pengurus inti dan pengisian komposisi struktur ICMI Sulut, yang dipimpin Prof DR Sangkertadi selaku Ketua, Dr Hamzah Latief sebagai Sekretaris dan Ir Iskandar A. Modjo, Bendahara mulai melakukan konsolidasi kepengurusan.

Selain saling memperkenalkan diri dalam silaturahmi tersebut. Terdapat banyak masukan dan saran yang berkembang yang menjadikan temu muka para cendekia muslim tersebut berjalan dinamis. Misalnya, ada masukan agar ICMI Sulut tidak saja berkutat dalam tataran gagasan dan program. Tapi bagaimana kumpulan orang-orang hebat tersebut melakukan penguatan pada aspek aktualisasi.

“Kalau berani ICMI Sulut langsung menetapkan program bangun Universitas. Saya siap sumbang 10.000 ribu buku,” kata Reiner Oentoe, memberi usulan.

Tidak hanya itu, ada juga usulan seputar menghadirkan halal center Sulut yang diprakarsai ICMI, karena disamping urgensi keumatan, juga para ahli yang tergabung di ICMI Sulut sangat mumpuni. Banyak program yang sudah berkembang sebagai bahan diskusi. Namun sebagian besar menyepakati perlunya penggarapan database sebagai dasar dalam menjalankan program.

Selanjutnya, menurut Suhendro Boroma bahwa soal kekuatan data bisa dijadikan sumber pendapatan baru dari sinergitas beragam program yang bisa menjadikan ICMI Sulut maju, berkembang dan membumi. DR Jaelani Husein, wakil ketua yang bertindak sebagai moderator langsung menggiring wacana ini untuk selanjutnya dimasukkan dalam bahasan program kerja secepatnya.

Para ahli yang hadir dalam pertemuan (Foto Ist)

Untuk diketahui, Silahturahmi yang dihadiri sekitar 50 ahli baik dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Universitas Negeri Manado (Unima), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, dari unsur perbankan, kalangan profesional pers, dan peneliti dari berbagai lembaga pemerintah itu berlangsung hampir 5 jam. Acara itu juga adalah bagian dari persiapan pemantapan formasi kepengurusan untuk segera diserahkan ke pengurus ICMI pusat dalam kaitan percepatan legitimasi organisasi melalui pelantikan yang kemungkinan berlangsung Januari.

Tambahnya lagi, pengurus pun perlu memantapkan dan mempersiap diri untuk persiapan penyusunan program kerja, termasuk jadwal audensi dengan Gubernur Sulut sebelum waktu pelantikan tersebut. Ketua ICMI Sulut Prof DR Sangkertadi mengaku sangat mengapresiasi kehadiran, sambutan dan masukan yang ada.

“Saya sangat optimis, ICMI Sulut banyak melahirkan hal hal besar ke depan,” ujar Sangkertadi yang juga Wakil Rertor Unsrat ini optimis. (*/Redaksi)

NATAL dan MUSLIM MANADO

Taufik Bilfaqih (Foto Ist)

Oleh : Taufik Bilfaqih, Anggota Bawaslu Kota Manado

Di Manado, Natal tidak saja sebagai momen sakral bagi ummat Kristiani. Tidak sekadar menjadi momen terbaik untuk peribadatan. Bahkan bukan hanya momen libur panjang apalagi untuk menyambut pergantian tahun.

Natal, bagi masyarakat disini, telah mendarah daging. Ia membudaya, semacam menjadi kebutuhan akan melanjutkan peradaban hidup. Uniknya, itu tidak hanya bagi para penganutnya, melainkan umat dari golongan lain. Mereka memanfaatkan natal untuk ajang memperat silaturahmi kepada umat yang merayakan hingga turut berperan dalam menyukseskan program-program kegiatan menjelang, saat hingga pasca natal.

Mereka yang dimaksud, sebagian Muslim Manado dengan kesedaran dan keinsafan internal dalam diri untuk terlibat pada perayaan natal. Ibadah di Gereja yang dijaga oleh sebagian pemuda dengan seragam ala muslim, adalah pemandangan yang sudah tak asing dan bahkan biasa-biasa saja. Namun, jauh dari sekadar menjaga gereja dan atau sekadar memberikan ucapan selamat, sebagian Muslim di sini justru terlibat dalam rangkaian peribadatan, kunjung mengunjung rumah, makan bersama hingga aktivitas perayaan lainnya.

Tentu, yang dimaksud terlibat dalam rangkaian peribadatan bukan berarti ikut beribadah ala umat Kristiani, melainkan sekadar menghadiri prosesi ceremoni kegiatan natal. Meski demikian, Muslim Manado yang dimaksud, bukanlah kelompok tertentu. Yakni golongan yang memakai dalil “Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum”; barangsiapa yang berusaha sekuat tenaga menyerupai suatu kaum maka ia termasuk diantara mereka*. Kalimat ini mejadi senjata bagi kalangan muslim tertentu untuk tidak mentolerir golongan muslim yang suka bergaul dengan ummat lain. Bahkan, mereka tidak segan-segan melabeli kafir.

Di Manado, kelompok Muslim ini tidak nyaring, meski sesekali bissing. Keberadaan mereka patut dihargai. Sebab, demikianlah ragam orang dalam bersikap. Tak perlu disalahkan. Semua kelompok bahkan pribadi, punya hak berkeyakinan dan berpendapat. Selama semua itu tidak dibarengi dengan tindakan paksaan, kekerasan bahkan cenderung menghakimi orang lain.

Natal adalah kesempatan untuk memberikan pesan Islam yang damai kepada ummat Kristiani. Natal, merupakan momen bagi Muslim Manado yang berpikir terbuka, sebagai ajang menggambarkan betapa Islam adalah agama yang universal dan senantiasa menjaga semangat solidaritas dan soliditas antar umat manusia. Natal, secara hakikat adalah perayaan bagi ummat Kristen, tapi momen seperti ini menjadi Muslim di Manado menyampaikan bahwa, Kita tak bersaudara dalam aqidah, namun dipersaudarakan dalam ikatan kemanusiaan. [**]

Demikian, pesan Natal. Baku-baku bae. Baku-baku Sayang. Baku-baku jaga.

Selamat Natal buat seluruh yang menikmatinya. Berkah hidup, damailah negeri.

Salam Takdzim untuk semua…

*terkait dalil ini, begitu banyak tafsirnya. Bisa ditinjau dari sisi bahasa, filosofi hingga subtansinya. Silahkan mondok (langsung ke mursyid, boleh juga ke mbah yai Google).

Semoga Allah memudahkan hidup Kita semua dari kebelengguan hidup.

ICMI dan Kuburan Intelektualisme

Reiner Emyot Ointoe (Foto Ist)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Budayawan dan tokoh ICMI Sulut

Menjelang datangnya ajal rezim Orde Baru (1998), aktivis kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang di paruh tengah tahun 90-an menggelar hajat diskusi soal peranan intelektual kampus vis a vis intelektual muslim — ketika itu pengaruh gerakan intelektual pelecut Revolusi Islam di Iran dgn tokohnya Ali Shariati (1933-1977) lagi gencar dengan gerakannya “raushanfikr” — sedang dilanda malaise yang beredar di sekitar pusat-pusat kegiatan intelektual: Kampus Perguruan Tinggi Negeri.

Terutama, berlakunya kontrol ketat dan keras rezim Orde Baru pada “kebebasan mimbar akademis” dan berlakunya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kehidupan Kampus) era Mendikbud Daud Jusuf dan berlanjut pada Nugroho Notosusanto dengan “Wawasan Almamater”. Walhasil, kampus sebagai pusat aktivitas kecendekiawanan dipaku dlm kotak birokrasi kampus. Karna itu, inisiatif aktivis cendekiawan kampus Unibraw mengundang Menristek Prof. Dr. Ir. B.J. Habibie (kelak, Presiden RI ketiga) ke kampus untuk bicara “kebebasan kaum cendekiawan.”

Ringkas cerita, sejak itu tercetus pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia(ICMI) yg kelak akan memberi ruang “formal” bagi ide-ide cendekiawan untuk bisa diwujudnyatakan. Akhirnya, ICMI awal setelah memilih BJ. Habibie menjadi ketuanya yg pertama, justru mempercepat runtuhnya rezim pengendali cendekiawan. Dengan demikian, refleksi atas bangkitnya kembali ICMI secara organisasional seperti merehabilitasi “kuburan intelektual” yg nyaris lebih dari 20 tahun tenggelam dlm gempita politik sejak Ketuanya menjadi Presiden RI ketiga tidak lebih dari 543 hari kekuasaannya.

Meski dia telah meletakkan fondasi bagi kebebasan cendekiawan dan demokrasi, ICMI sebagai organ yg pernah dipimpinnya tenggelam bersama “kejatuhannya.” Karna itu, membangkitkan kembali gerakan cendekiawan muslim seperti ICMI bisa dianggap sebagai klenengan yang mengenaskan. Meski demikian, saya masih menaruh harapan agar “kuburan” ini yg harus diaktifkan adalah spiritnya, ruh intelektualnya yg tidak fana.

Sejatinya, organ intelektual ini menghidupkan kembali cadangan imunnya: ide-ide/gagasan dan daya kritis. Tanpa ini, kebangkitan kaum cendekiawan apapun dan dari manapun hanya akan dipandang sebagai artefak kencana atau pualam bagi semangatnya yg luput dari jatiwahananya: rasionalitas. [**]

Jelang Muswil KAHMI Sulut, Sejumlah Nama Calon Ketua Presidium Mengkristal

Panitia Muswil sedang menyiapkan atribut (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulawesi Utara (Sulut) dipastikan memanas. Pasalnya, agenda akbar pemilihan Ketua dan Presiden Kahmi secara keseluruhan akan digelar dalam forum Muswil. Muswil sesuai jadwal dilaksanakan di Molibagu, Kabupaten Bolaang Mangondouw Selatan (Bolsel) Provinsi Sulut.

Dimulai Sabtu sampai Minggu, 13-24 November 2019, kini dinamikanya mulai terasa. Dimana sejumlah nama telah mencuat, dinilai sangat berpeluang menjadi Ketua Presidum.

Menurut Ketua Sterring Committee, Suardi Hamzah bahwa agenda Muswil di Kabupaten Bolsel kali ini cukup berbeda. Walau digelar di ujung selatan Sulut, namun kompetisi dan pertarungan begitu terasa antara sesama Alumni HMI.

”Amanat ini tidak mudah, dimana kita berusaha keras mewujudkan tuntutan ribuan alumni HMI Manado, Minahasa dan Bolmong raya supaya pengurus Presidium melahirkan kepengurusan yang lebih kuat integritasnya. Ini tergolong tantangan yang perlu kita seriusi menjawabnya satu per satu,” ujar Suardi.

Kanda Idun, sapaan akrab Suardi yang juga Sekretaris Presidium Kahmi Sulut juga membocorkan nama-nama calon Ketua Presidium Kahmi Sulut. Dari group media sosial alumni HMI, beberapa nama dinilai layak bertarung dalam Muswil kali ini. Ada yang telah menyampaikan kesiapan memberi diri membangun Kahmi.

Diantara nama-nama yang santer adalah Bupati Bolsel Iskandar Kamaru, pakar otak Dr Taufiq Pasiaak, cendekiawan dan jurnalis ternama Suhendro Boroma, incumbent ketua presidium dan akademisi Fakultas Hukum Unsrat Dr Abdurrahman Konoras, Sekretaris Kahmi Sulut Suardi Hamzah.
Ada pula politisi dan pengusaha kapal ekspedisi antar pulau Gunawan Pontoh, Sekda Bolmong Utara Asripan Nani, Ketua Presidum Kahmi Kotamobagu Lucky Makalalag, Ketua Kahmi Boltim Robbi Mamonto dan tiga presidium Kahmi Manado Baso Affandi, Fadillah Polontalo dan Idam Malewa.
Berdasarkan AD/ART, kata Suardi Hamzah jumlah presidium Kahmi wilayah yang dipilih hanya tujuh orang. Mereka akan dipilih oleh masing-masing majelis daerah (MD). Satu MD mengutus tiga delegasi. Namun, hak suara hanya satu orang.
”Mekanisme sesuai ketentuan yakni satu voters akan memilih tujuh nama dalam satu paket. Dari forum Muswil ini akan menentukan tujuh Presidium berdasarkan rangking suara tertinggi pertama sampai ketuju. Seperti inilah ketentuan pemilihannya,” ujar Kanda menutup.

Ucapan selamat dan sukses Muswil Kahmi Sulut (FOTO Ist)

Di tepat terpisah, Sekretaris Majelis Daerah (MD) Kahmi Manado, Mazhabullah Ali saat diwawancarai Suluttoday.com terkait siapa yang dijagokan MD Kahmi Manado, kata Ichal sapaan akrab Mazhabullah pihaknya tengah melakukan konsolidasi. Bagi Ichal kemajuan Kahmi Sulut akan ditentukan oleh sosok Ketua Presidium yang komit melakukan perubahan.

”Sampai saat ini kami sudah beberapa kali berkomunikasi dengan majelis daerah Kahmi lain. Tentunya, kita mau menyamakan visi. Ada beberapa figur yang kita nilai layak diperjuangkan di Muswil Kahmi Sulut tentunya. Kriteria mengusung Presidium Kahmi Sulut bersifat pajet, sehingga perlu kolaborasi dan koalisi kekuatan dengan MD lainnya,” tutur Ichal tegas.(*/Redaksi)

Bersama KNPI dan Sejarawan, BEM UTSU Gelar Dialog Refleksi Hari Pahlawan

Sekretaris DPD KNPI Manado, Bung Amas Mahmud saat memberikan pemaparan (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pelaksanaan Dialog refleksi Hari Pahlawan dilaksanakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU), Selasa (12/11/2019) bertempat di Tepi Laut Megamas Manado berlangsung sukses. Kegiatan yang menghadirkan KNPI Manado, Sejarawan dan Akademisi itu dihadiri aktivis mahasiswa UTSU.

Dialog dengan temana ”Semangat Pemuda dan Mahasiswa Dalam Mewjudkan Perjuangan Para Pahlawan”, menurut Ketua BEM UTSU, Robert Katopo perlu dilakukan guna mengingat kembali perjuangan dan kegigihan para pahlawan dikala itu. Disampaikannya pula penting pemuda dan mahasiswa mengambil spirit juang para pahlawan yang telah memerdekakan Indonesia dari penjajahan.

Sementara itu, Amas Mahmud selaku pemanting menilai mulai menurunnya semangat perjuangan pemuda dipengaruhi masuknya pengaruh globalisasi. Kompetisi teknologi, informasi dan pengetahuan idealnya memicu pemuda untuk terus berbenah jangan berdiam diri. Selain itu, jebolan FISIP Unsrat itu menegaskan perlunya legacy sejarah terdahulu menjadi kompas, sekaligus kiblat pergerakan pemuda saat ini agar pemuda tidak ahistoris.

”Tak boleh menjadi pemuda dan mahasiswa yang terbawa arus deras modernitas. Kita sebagai agen strategis yang diharapkan rakyat harus mampu mempertahankan identitas, bahwa pemuda dan mahasiswa menjadi pelopor perubahan. Bukan beban peradaban, atau perusak tatanan hidup masyarakat. Di erah keterbukaan dan akselerasi teknologi ini pemuda sejatinya intens belajar meningkatkan kapasitas diri. Menjadi agen aktif pembangunan, jangan diam karena akan ditinggalkan. Selain itu, kita perlu mewariskan semangat dari para Pahlawan,” ujar Amas sambil menambahkan Hari Pahlawan perlu direfleksikan tidak sekedar seremonial semata.

Foto bersama usai dialog (FOTO Suluttoday.com)

Penegasan juga disampaikan Bode Grey Talumewo yang menintik beratkan pada evaluasi kesejarahan. Diingatkannya pemuda dan mahasiswa jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tidak hanya itu, ia meyakini tiap zaman ada generasinya dan tiap generasi ada eranya masing-masing. Yang utama adalah kesiapan diri menjemput perubahan.

”Tentu pemuda dan mahasiswa jangan sekali saja melupakan sejarah. Bukan sebagai pengingat saja, sejarah adalah catatan penting dalam kehidupan kemanusiaan kita. Itu sebabnya evaluasi perjalanan sejarah sebagai motivasi dan pengetahuan yang positif perlu diaktualisasikan. Dalam konteks sejarah, tiap zaman ada generasinya dan tiap generasi ada pada tiap zamannya masing-masing, itu untuk teruslah meningkatkan kapasitas diri. Jadilah pemuda dan mahasiswa yang unggul,” tutur Talumewo.

Beberapa catatan kritis juga disampaikan Drs Marthen Tombeng, M.M yang menyebutkan pentingnya mahasiswa mengerti tentang tanggung jawab dan amanah yang diberikan orang tua untuk berproses di kampus. Jebolan GMKI itu mendorong mahasiswa agar menyiapkan diri dengan belajar, aktif, dan tidak malas-malasan dalam aktivitas kemahasiswaan.

Berlangsungnya tanya jawab (FOTO Suluttoday.com)

”Sebagai mahasiswa tentu jangan melupakan tanggung jawab, tugas utama dan amanah yang diberikan orang tua. Pada konteks ini adalah harus mengerjakan tugas-tugas akademisnya, mengaktualisasikan apa yang dideapatkan di kampu ditengah masyarakat. Tantangan mahasiswa di luar kampus memang kompleks, itu sebabnya harus disiplin serta giat meningkatkan kompetensinya. Tidak boleh menjadi mahasiswa yang gagap dalam berinteraksi, mantapkan kualitas. Ketika mahasiswa mau berjuang demi kepentingan masyarakat, ia harus selesai dengan dirinya sendiri,” tutur Tombeng.

Suasana diskusi, tanya jawab pun berlangsung dinamis dan alot. Kemudian para narasumber yang berkesempatan hadir adalah Amas Mahmud, SIP (Sekretaris DPD KNPI Manado), Drs Marthen Tombeng, M.M (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UTSU) dan Bode Grey Talumewo, S.S (Sejarawan Minahasa). Sedang moderator yakni Alfrianto Zainal, ST. (*/Redaksi)

iklan1