Category: Politik

Politisi Avonturir dan Meningkatnya Oportunisme

Bung Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Bung Amas, Sekretaris DPD KNPI Manado

Ahirnya para politis seperti lama sampainya pada tujuan politik mereka. Kondisi itu terbaca, dari jenjang karir atau kiprah para politisi dari mudahnya sampai tumbuh uban masih haus kekuasaan. Mereka terus bertenggar dalam praktek politik rebutan kekuasaan, tidak berniat lagi naik kelas, dan tidak mau turun kelas tentunya. Nafsu berkuasa dari mereka terus membuncah, belum juga klimaks.

Seperti mereka belum punya kamus soal pensiun dihari tua. Tak ada masa pensiuannya, tak ada istilah moratorium untuk mereka politisi tulen dan senior. Lemahnya, mereka hanya mau menyasar kekuasaan. Takut kehilangan strata sosialnya, takut kehilangan harta dan kelaparan, mungkin ya?. Konsekuensinya, makin banyaklah antrian politisi dibelakang mereka. Macet, bahkan matilah regenerasi politik. Kesempatan berprestasi bagi politisi yang baru seperti terkunci.

Tak hanya itu, ada pula fenomena politisi avonturir (petualang) atau umumnya kita kenal sebagai politisi ”kutu loncat”. Di Provinsi Sulawesi Utara, sudah banyak kita saksikan. Dari partai politik tertentu, mungkin merasa kepentingannya tidak terakomodasi, mereka pindah. Bermutasi dari satu partai politik ke partai politik lainnya, bagi mereka biasa. Dari sisi konsistensi ideologisasi partai, ini bermasalah sebetulnya. Sebagai politisi, harus punya identitas dan komitmen, istiqomah.

Berpindah-pindah partai politik menandakan bahwa politisi tersebut hanya memburu jabatan kekuasaan. Tidak mendidik publik politik memang. Fenomena politisi avonturir ini membahayakan demokrasi, mereka tak mau ambil pusing dengan konsensus kolektif. Yang penting mereka aman terlebih dahulu, yang lainnya nanti diatur kemudian. Begitu individualistic cara berfikir dan tindakan mereka.

Walau begitu, dalam perspektif demokrasi kita semua harus menghormati pilihan itu. Tapi berharap lebih soal komitmen kepada mereka, berhentilah, jangan berharap. Mereka cenderung bersekutu, dikelilingi atau berkawan dengan kaum oportunis. Mereka yang oportunis bisa muncul dari mana saja, dari latar belakang profesi apapun. Jangan heran, makala politisi avonturir ini bermalasah hukum, dan tiba-tiba jatuh miskin, kebanyakan kaum oportunis ini menjauh.

Tipikal para penyembah berhala kepentingan pribadi itu tidak menghargai pertemanan dan kekeluargaan. Bagi mereka yang utama adalah kepentingan individu. Spirit antara politisi avonturir dan kalangan oportunisme sangat cocok. Mereka pasti memiliki tujuan yang sama, yakni masing-masing mau cari aman sendiri. Bulsit dengan kepentingan publik. Bagi mereka kepentingan rakyat, menjadi hal kesekian.

Kekuasaan yang diberikan rakyat, dimanfaatkan seperlunya untuk rakyat. Selebihnya, manfaat untuk diri dan keluarga yang diprioritaskan. Menjadi perlu waspadalah kita semua, saling ingat-mengingatkan agar tidak terjerumus. Ketika rakyat lalai, lalu mereka politisi avonturir dan oportunis berkuasa, maka siap-siaplah kita menjadi budak. Rakyat yang dekat dilingkar kekuasaan saja yang menjadi perhatiannya.

Bagi-bagi proyek dan pesta pora memanfaatkan jabatan mereka lakukan dengan bangganya. Seolah-olah mereka mengabaikan dan tidak peduli dengan mata telinga publik. Kekuasaan baik di Nasional maupun Daerah hanya menjadi alat mengumpulkan harta. Karakter seperti itu, disekitaran kita banyak kita saksikan, pemimpin berwatak avontirur dan oportunis. Ketika tiba mereka tamat dalam berkuasa, pasti gelisah dan galau melanda, baru mereka menyadari bahwa rakyat adalah segalanya. Mulai lagi, mereka mendekat, ambil hati rakyat untuk berharap dipilih kembali ketika punya kepentingan publik.

Politisi picik seperti itu namanya. Tak tanggung-tangguh, mimbar di rumah ibadah menjadi lahan dan panggung strategis bagi mereka berkampanye. Unjuk kesolehan dipertontonkan, targetnya apa, agar meraih simpati publik, dan dipilih menjadi pemimpin lagi, meski rakus. Mereka tidak menggunakan perasannya saat mengelola kekuasaan, memposisikan diri seperti tuan-tuan besar. Rakyat harus diberi pengetahuan agar tak lagi tertipu.

Edukasi politik harus dilakukan politisi yang populis dan progresif. Mita yang berada distruktur luar partai politik juga punya tanggung jawab moral mengingatkan rakyat agar tidak salah memilih. Pameran kebohongan perlu segera diakhiri, jangan rakyat dijadikan alas kaki. Kemudian, memuliakan rakyat yaitu dengan program-program yang pro rakyat. Berikan kemudahan kepada rakyat, bukan nanti tiba tahun politik baru rakyat pura-pura diperhatikan.

Proses pembodohan dalam praktek politik yang berjalan sistematis harus disudahi. Dipangkas habis. Jangan ada kompromi bagi politisi avonturir, dan kaum oportunis yang kerjanya seperti lindah. Menghisap darah rakyat lalu disisi lain, merekayasa diri menjadi pembela rakyat. Politik bukan arena menampilkan kepalsuan. Kenali para penganut avonturir dan kaum oportunis, gunanya apa? Tentu untuk menghindari mereka.

Nah, untuk diketahui, ciri khas oportunisme adalah suatu aliran pemikiran yang menghendaki pemakaian kesempatan menguntungkan dengan sebaik-baiknya demi kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Tersebarlah para politisi penjilat. Dapat dikroscek kecenderungan orang-orang oportunis ini, mereka hanya menuhankan dan takut kepada penguasa, pengusaha atau siapa saja yang memberi mereka manfaat.

Memang begitu, salah satu trik menghalau demokrasi adalah dengan memberi ruang kepada politisi avonturir dan kaum penjilat oportunis ini tumbuh subur. Dalam pikiran kaum avonturir yang penting kepentingan mereka terpenuhi. Tak mengenal siapa tuannya. Bagi yang memberi manfaat, disitulah mereka akan bersama-sama.

Hal yang mirip dengan watak oportunisme. Semua berdasarkan atas asas manfaat, tidak lebih. Kalau misalkan ditemukan ada lebih untuk mereka berikan kepada rakyat, anggaplah itu bonus. Namun secara umum dalam jejak mereka dikenal anti demokrasi. Mereka tidak terbiasa dengan perundingan, musyawarah mufakat, hanya mau dengan hal-hal praktis pragmatis. Rakyat segera menganali dan tinggalkan mereka, jangan menjadi korban untuk kesekian kalinya.

Mereka saat ini bisa berada sebagai penguasa, politisi, antek-antek penguasa dan dalam posisi peran sosial lainnya. Ketika politisi avontirur dan kelompok oportunis bersatu dalam kompromi kepentingan, maka berhati-hatilah bagi mereka yang menjadi oposisi. Memang begitu tidak elok, akomodasi kepentingannya tersumbat, tidak terdistribusi lancar dan adil kepada rakyat.

Kaum oportunisme ini terus mengalami eskalasi. Dari tiap periode proses politik mereka berkembang, penyebabnya karena kaderisasi melalui praktek-praktek mafia atau broker politik juga berjalan efektif. Belum lagi efeknya ke bawa, melalui perilaku yang menular ke rakyat. Pemilih (konstituen) diperbiasakan dengan politik pragmatis, cara ”menjilat” demi mendapatkan sesuatu diajarkan politisi kepada rakyat. Bahkans ecara transparan, begitu menyedihkan memang.

Maju di Pilwako, MDT Sodorkan Konsep Manado Daerah Terdepan

Marten Daniel Tumbelaka (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Sosok pemimpin muda yang dikenal energik, tapi santun yang satu ini punya ragam gagasan konstruktif tentang Manado. Dialah Marten Daniel Tumbelaka (MDT), dalam satu kesempatan belum lama ini, Tumbelaka menyampaikan soal konsepnya membangun Kota Manado.

“Niat saya maju menjadi calon Wali Kota Manado bukan tanpa konsep. Melainkan, saya sudah siapkan master plan membangun Manado menjadi daerah Terdepan. Jadi gagasan pembangunan berkelanjutan kita siapkan, seluruhnya,” ujar MDT kepada wartawan belum lama ini.

Promotor Tinju yang dikenal gemar diskusi dan murah senyum itu menyenbutkan pembangunan sebuah daerah butuh kehadiran figur pemimpin yang punya narasi. Selain itu, pembangunan Kota Manado bersifat terintegrasi. Baginya mengelola Kota Manado yang majemuk harus dengan konsep yang holistik.

“Kita bersyukur Manado ini dianugerahi kekayaan alam dan warga yang rukun-rukun. Ini kemewahan sekaligus menjadi andalan kita untuk mengeskplorasi sumber daya alam menjadi destinasi wisata yang betul-betul bertaraf Internasional. Saya mengakui pluralitas warga Manado harus disatukan, dan dimajukan dengan tanpa adanya saling mendiskriminasi. Manado jadi rumah besar kita semua,” kata MDT, Kamis (16/1/2020).

MDT ketika mendaftar di DPC Hanura Manado (Foto Suluttoday.com)

Tidak hanya itu, tokoh muda yang mempunyai pendukung luas di seluruh Kelurahan se-Kota Manado itu menganjurkan agar sektor keamanan menjadi perhatian prioritas pemerintah Kota Manado kelak. Baginya, membuat pariwisata Manado makin mendunia, langkah mendasarnya yaitu menjamin keamanan, membenahi infrastruktur.

“Menurut saya keamanan itu menjadi hal fundamental, penyanggah sekaligus penggerak pembangunan Kota. Dan di Manado sangat tepat kita satukan semua konsep tersebut, karena kultur kita adalah torang samua basudara, dan torang samua ciptaan Tuhan. Dari semangat persaudaraan itu, maka masyarakat akan mudah menyatukan persepsinya dalam mendorong partisipasi pembangunan. Asalkan, pemimpinnya kuat dan konsisten membela hak-hak masyarakat. Saya melihat keadilan bagi masyarakat ekonomi lemah di Manado belum benar-benar berjalan. Dengan kondisi tersebut saya tergerak dan terpanggil, hadir memberi solusi tentang keadilan. Mewujudkan distribusi kesejahteraan, keamanan, pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dan pelayanan publik yang prima akan saya berikan,” tutur MDT, sambil menambahkan siap menjadi garda depan pembangunan di Kota Manado. (*/Am)

Koalisi Keumatan Makin Kokoh, 2020 Harus Menang

Konsolidasi koalisi keumatan (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Setelah menggelar deklarasi, Koalisi Keumatan yang terdiri dari PAN, PKS dan PPP, kini ketambahan personil. PBB secara resmi bergabung dengan Koalisi Keumatan untuk Pilwako Manado 2020. Hal tersebut disampaikan Ketua poros Koalisi Keumatan, Boby Daud.

“Alhamdulillah, kita konsen melakukan konsolidasi keumatan. Dan PBB juga telah resmi bergabung dengan kami. Ada beberapa proyeksi dan target komunikasi politik yang sedang kita bangun. Dalam konsolidasi, ada progres atau kemajuan yang dicapai. Targetnya Pilwako 2020 ini kita harus menang,” kata Boby, Kamis (16/1/2020) yang juga Ketua DPD PAN Manado dan anggota DPRD Manado 2 periode ini.

Legislator yang dikenal vokal dan merakyat itu menyebutkan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan beberapa partai politik untuk hajatan Pilwako Manado. Sementara itu, Sekretaris Koalisi Keumatan, Abu Hasan Sjafi’i menyampaikan selain capaian, Koalisi Keumatan juga mulai mengatur jadwal untuk melakukan pertemuan dengan bakal calon Wali Kota dan bakal calon Wakil Wali Kota Manado.

“Tentu kita berusaha agar calon Wali Kota atau calon Wakil Wali Kota Manado yang diusung koalisi ini adalah dari muslim. Kita juga mengatur skedul untuk pertemuan dengan bakal calon Wali Kota dan bakal calon Wakil Wali Kota Manado, untuk kita konkritkan gerakan politik keumatan,” kata Syafi’i tegas.

Poros Koalisi Keumatan siap berjuang bersama (FOTO Suluttoday.com)

Di tempat terpisah Ketua DPC PPP Manado, Madzhabullah Ali menilai format yang sedang dijalankan Koalisi Keumatan sudah tepat. Lanjut Ichal sapaan akrab Ali, ikhtiar politik yang dilakukan Koalisi Keumatan mengalami progres yang baik.

“Apa yang menjadi planning Koalisi Keumatan sedang kami jalankan. Ikhtiar politik tersebut mengalami progres. Semua simpul-simpul dan potensi politik kami lakukan pendekatan, mari kita sama-sama saling menguatkan. Kita optimis empat partai politik ini akan mendapat duet koalisi yang kuat. Kita tidak memandang siapa kandidatnya dari parpol mana pun, asalkan figur muslim,” tutur Ical yang diaminkan Ketua PBB Manado, Rahmad. (*/Am)

Akhirnya Gubenur Olly Siap Lantik Elly Lasut

Gubernur Olly Dondokambey (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Ikut hadir dalam sidang ekspos polemik Bupati dan Wakil Bupati Talaud, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Rabu (15/1/2020) memberikan tanggapan positif soal putusan.

Seusai sidang ekspos, Olly Dondokambey menyatakan kalau Bupati Talaud terpilih Elly Engelbert Lasut (E2L) tidak ada masalah. Menurut Olly, sidang ekspos tersebut berjalan baik dan sudah membuat semuanya menjadi jelas. Makanya, dia menyatakan siap melantik Elly Lasut dan Mochtar Parapaga jika diperintah.

“Iya, saya sebagai bawahannya Mendagri tentu patuh. Kalau sudah ada keputusan dari Mendagri terkait ekspos ini, dan saya diperintahkan untuk melantik, maka saya akan melantik mereka berdua,” ujar Olly yang juga Bendahara Umum PDI Perjuangan ini.

Saat ditanya apakah polemik pelantikan ini sudah selesai, dengan lantang Olly menyatakan sudah selesai dan final setelah adanya hasil dari ekspos kasus ini.

“Ekspos ini dilakukan Kemendagri karena ada masalah. Jadi ini yang terakhir, apapun hasilnya kita tunggu saja dan kita wajib menerimanya,” tutur Olly.

Gubernur yang murah senyum itu menyebutkan Elly tidak bermasalah lagi. Dia pun siap melantik keduanya jika sudah diperintahkan Mendagri. (*/Am)

Kepemimpinan Adalah Teladan, Sebuah Perspektif Humanis

Bung Amas (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

Dalam buku literatur kepemimpinan secara teoritis menawarkan bermacam cara. Bagaimana trik menjadi pemimpin yang ideal, pemimpin idola, dan pemimpin teladan yang diharapkan rakyat. Jika kita merujuk pada teori perencanaan yang diajukan George R. Terry, maka akan ditemukan Planning, Organizing, Actuating dan Controlling atau yang akrab kita sebut POAC. Berarti seorang pemimpin harus punya modal, diantaranya mengerti tentang cara merencanakan, mengorganisir, menjalankan, dan mampu mengendalikan apa yang dilaksanakan.

Kalau menyimak pemahaman dasar itu, cukup mudah. Namun, kebanyakan pemimpin-pemimpin kita mengalami kesulitan dalam tataran implementasi. Bagaimana tidak, karena dalam praket kepemimpinan acap kali diperhadapkan dengan irisan kepentingan yang plural. Keberagaman kepentingan inilah yang menyebabkan pemimpin gagal mengelola kekuasaan. Sehingga akhirnya pemimpin itu menjadi kehilangan legitimasi dan mendapatkan yang namanya distrust.

Kemudian, kenapa tema besar dalam tulisan ini adalah ”pemimpin itu teladan”?. Berarti ada pertanyaan yang nanti berkembang, bahwa jangan-jangan ada pemimpin kita saat ini yang tidak menjadi teladan.  Padahal betapa mulianya pemimpin, mereka sebagai panutan atau role model. Beberapa spanduk berukuran besar dipasang di depan jalan umum yang bertuliskan ”Kepemimpinan Adalah Teladan”, menggelitik saya ikut sumbang pikiran. Saya setuju tentang narasi besar itu.

Perlu di bumikan, jangan sekedar menjadi pajangan. Bukan pula gaya-gayaan, melainkan dapat dijalankan ungkapan tersebut oleh mereka yang kini menjadi pemimpin kita. Selanjutnya, roda kepemimpinan itu bergantian, tidak berhenti pada satu generasi saja. Artinya, dalam rangka edukasi publik, maka perlu para pemimpin itu merawat akal sehat publik dengan tindakannya. Pemimpin harus hadir sekaligus menjadi inspirasi bagi rakyat. Spanduk yang disebarkan di beberapa lokasi strategis di Manado itu, menurut saya adalah upaya literasi politik. Perlu kita beri apresiasi, sosialisasi untuk membangun kesadaran publik yang baik telah dilakukan.

Seperti kata Ki Hajar Dewantara bahwa pemimpin itu perlu bersikap bijaksana dan profetik. Ketika di depan ia memberi contoh, di tengah memberi semangat. Lalu, bila ia berada di belakang, maka pemimpin tersebut harus mampu memberi pengaruh. Di pentas Pilkada Serentak 2020, warga Sulawesi Utara tentu merindukan pemimpin paripurna. Setidaknya, pemimpin yang tidak munafik, jika berani berjanji, akan ia tunaikan janji tersebut.

Tapak langkap pembangunan yang dibuat Gubernur Olly Dondokambey, dan para Gubernur-Gubernur terdahulu meninggalkan jejak yang luar biasa. Konsep pembangunan berkelanjutan, mengajarkan kita generasi hari ini untuk bersyukur, mengakui, memberi apresiasi dan menaruh hormat kepada mereka. Atas kontribusi, karya dan kesungguhan mengabdi, membuat Sulawesi Utara sampai saat ini mengalami kemajuan pesat. Dalam seleksi kepemimpinan daerah di Pilkada Serentak 2020, rakyat perlu pula merefleksikan pilihan-pilihan politiknya.

Karena pemimpin tidak sekadar menciptakan pengikut. Melainkan menciptakan lebih banyak pemimpin. Kerinduan untuk terlahirnya regenerasi kepemimpinan yang hebat dan berkualitas itulah yang dinanti, sehingga rakyat patut diingatkan agar selektif. Berpijak pada pesan yang ada dalam spanduk ”Kepemimpinan Adalah Teladan”, berarti diperlukan revolusi kesadaran, kejujuran dan keberanian dalam memilih di Pilkada 23 September 2020 kelak. Semua rakyat diberikan penghargaan yang sama atas nama demokrasi, di TPS nanti tiap mereka yang wajib pilih punya satu suara per orang.

Tak membedakan, baik Guru Besar, buruh, politisi, broker, birokret, petani, rakyat termarginal, keluarga pejabat. Kalangan borjuis dan miskin papah, pun punya hak suara yang sama dalam berdemokrasi. Maka dengan itu, jangan disia-siakan hak memilih tersebut. Ketika kita membaca probabilitas kemunculan pemimpin teladan, umumnya mereka terlahir dari bawah. Tidak instan, sosok pemimpin teladan itu mereka yang biasanya terbentuk dari kesulitan-kesulitan hidup.

Pemimpin teladan yaitu mereka yang juga sudah tuntas sejak dari dirinya. Tidak terpenjara pada penguasaan, kontrol dan intervensi orang lain. Yang ditakutinya hanyalah Allah SWT. Mereka tumbuh dengan kemandirian, kejernihan pikirannya, keikhlasan, memahami adab, tidak gila dengan pujian dan penghargaan. Pemimpin teladan itu tak mau banyak mengobral janji, ia sadar diri. Tau apa yang menjadi kemampuannya, bicara sekedarnya, kemudian lebih banyak bekerja.

Seperti itu pula, pemimpin teladan itu mereka takut mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tidak berlaku zalim kepada orang lain, tidak pendendam. Menjauh dari korupsi tentunya, ia tumbuh subur dengan tradisi saling menghargai. Mengerti sosiokultural rakyat, tidak jumawa. Pemimpin yang berkarakter, dalam ucapan dan perbuatannya melahirkan pelajaran yang ditiru rakyat. Mereka bertindak mengintegrasikan rakyat, punya kepekaan sosial. Bukan mendiskriminasi rakyat atau menjadi sumber konflik di tengah rakyat. Pemimpin teladan itu, ketika ia tiada rakyat mengingatnya. Mendoakannya tiap saat. Pemimpin teladan berarti ia yang selalu menjadi problem solving.

Dalam perspektif humanis, pemimpin teladan yakni mereka yang menghargai hak-hak dasar rakyat. Mereka yang memiliki komitmen terhadap perjuangan kemanusiaan. Menegakkan keadilan, memerangi kemungkaran, membawa rakyat pada kesejahteraan. Tidak membudayakan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), potret pemimpin yang bertindak atas keputusan-keputusan rasional. Mendahulukan kepentingan kolektif, mengabaikan kepentingan personal dirinya dalam urusan kepemimpinan publik. Dan menjadi pemimpin yang ramah, bukan pemarah.

iklan1