Category: Politik

Estetika Demokrasi & Humanisme Yang Direduksi

Amas Mahmud (FOTO Suluttoday.com)

CITRA demokrasi memang sering kali tak dapat disangkal, dilekatkan pada konsep bernegara yang ‘paripurna’. Dibanding konsep bernegara lainnya, demokrasi dinilai lebih efektif, tepat, akomodatif, ideal, dan diyakini mampu mengagregasi kepentingan publik tanpa diskriminasi. Demokrasi menghormati hak-hak mayoritas dan minoritas.

Dalam pengambilan keputusan, memang demokrasi sebagai suatu instrument tidak mampu juga memberikan garansi tentang keadilan. Artinya, adil menurut seseorang yang jika ditarik situasinya ke ruang publik, maka belum tentu juga adil menurut orang lain. Hal ini sering melahirkan perdebatan, baik secara substansi sampai perdebatan teknis.

Bagi saya, disitulah letak demokrasi yang sisi kemanusiaannya diuji. Demokrasi dalam sentilan kali ini memang perlu diperiksa konsepnya, diperdebatkan. Dari kehidupan berdiskursus tak boleh juga dibatasi arus kritik terhadapnya. Lebih sederhana lagi, bila konteksnya pemilihan pemimpin, demokrasi yang mengunggulkan suara mayoritas sebagai bagian representatif dari model pengambilan keputusan, juga mendatangkan bencana.

Padahal sering kita abaikan, jalan demokrasi yang lurus ialah musyawarah mufakat, baru kemudian voting. Seolah-olah kita terbatasi tabir demokrasi, akhirnya demokrasi dijerat menjadi alat ampuh ‘pengkondisian’ pengambilan keputusan demokrasi hanyalah voting, bahkan kadang formalitas. Banyak indikasi, kini kekuatan voting itu dapat direduksi, bukan lagi rahasia umum, orang yang menang dalam proses voting sering memanfaatkan jalan-jalan tidak legal.

Bisa jadi, karena berobsesi menang, seseorang bisa lompat pagar, lompat jendela, abaikan aturan, masuk melalui panggung belakang untuk meraih suara dukungan sebesar-besarnya. Operasionalisasi misi jahat melalui politik uang, intimidasi dan intervensi, yang menurunkan martabat dan kedaulatan rakyat mulai brutal dilakukan. Rakyat kemudian, ‘dipaksa’ untuk memilih bukan karena rasionalitasnya.

Kita membaca referensi demokrasi relatif banyak tawaran tentang potret menguatkan dan menjaga kesehatan demokrasi agar tetap produktif, tidak menjadi abnormal atau pincang dalam mobilitasnya. Disitu pula kita mendapati estetika demokrasi yang menghargai norma, pranata sosial, yang disandarkan pada etika, moral, dan nilai-nilai kemanusiaan. Apakah humanisme demokrasi juga sedang jalan lurus?.

Kompetisi demokrasi yang kencang juga menghasilkan tatanan nilai demokrasi yang jauh dari humanisme, dan retak. Sementara kebutuhan kita rakyat Indonesia keseluruhan yakni menjaga humanisme demokrasi. Dimana nilai-nilai kemanusiaan dalam demokrasi berupa keadilan, kesetaraan (egaliter), kesejahteraan, kebenaran, melawan kekerasan, mengutuk diskriminasi, hak-hak dasar yang tercantum dan dilindungi HAM.

Humanisme rupanya menjadi tereduksi, tergiring menjadi terisolir dari rasionalitas berdemokrasi. Sebetulnya, paket humanisme – demokrasi bagai satu koin mata uang yang tidak bisa didikotomikan. Karena masing-masing bagian ‘muka’ atau ‘kamar’ punya keunggulan, nilai serta kelebihan-kelebihan tersendiri. Jalan lurus demokrasi harus ditegagkkan, demokrasi berjalan dengan kompas hukum.

Bukan politik yang menjadi panglima demokrasi, melainkan regulasi. Demokrasi yang secara fitrawih semangatnya dilahirkan atas kolektifitas, sakit rasanya jika menyimpang dalam tahapan proses. Jelang Pemilu 2019, ada tontonan dimana kewarasan publik yang sering ‘dipermalukan’, diproklamirkan dan ‘dipelopori’ Bang Rocky Gerung, salah satunya adalah wujud bahwa masih ada harapan kita menyematkan demokrasi melalui percakapan yang sehat.

Rasionalitas publik harus dijunjung memang, tak boleh rakyat dididik mentolerir kesalahan-kesalahan, apapun itu dan darimana pun itu. Kaum rasional harus berani tampil dengan segala resiko, cacian, sinisme dan stigma-stigma buruk. Jika semua menjadi resiko melahirkan akal sehat, tak mengapa anggaplah mereka yang mendorong kekritisan publik ini sebagai kaum ‘jihadis’.

Setelahnya, demokrasi tidak perlu terus-menerus diletakkan sebagai dekorasi, atau barang tersier yang kemudian terus memproduksi penyembahan figuritas. Mengkultuskan kebijakan-kebijakan yang sebetulnya dapat dievaluasi atau didebatkan, itulah kedunguan yang nyata. Ruang dialektika demokrasi perlu dihidupkan secara fleksibel dan longgar. Bila publik diarahkan untuk sekedar hanya menerima argumentasi, maka tidak akan bermutu demokrasi kita, biarkan dialektika dan dinamika demokrasi dibingkai dalam semangat argumentasi yang mendidik.

Terakhir, progres demokrasi sejatinya melahirkan rakyat yang berperadaban tinggi, bukan rakyat yang penuh emosi dan intoleran. Saling menuding, serta klaim kebenaran, yang satu merasa paling toleran lalu menuding yang lain tidak toleran. Skema itulah yang sebenarnya membuat demokrasi tereduksi, menjadi bias, menjauhkan kita semua dari peradaban demokrasi yang ideal. [***]

 

_________________________

Penulis Amas Mahmud, S.IP Sekretaris DPD KNPI Manado

Pemain Film ‘Arwah Goyang Karawang’ Jadi Caleg di Kota Manado

Juwita Setyarini, M.IKom (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Meningkatnya para artis menjadi politisi merupakan suatu fenomena dalam kancah politik dan juga selaras dengan spirit demokrasi kita yang tidak diskriminasi pada warga Negara Indonesia. Kondisi tersebut memberikan deskripsi bahwa struktur politik kita begitu dinamis, dan masyarakat selaku konstituen makin diberikan banyak pilihan untuk memilih siapa wakil rakyat yang menurut mereka tepat.

Salah satunya aktris cantik Juwita Setyarini, M.IKom atau yang akrab disapa Ririn, pemain sejumlah film diantaranya film Arwah Goyang Karawang ini memilih untuk jadi Calon Anggota Legislatif (Caleg) di DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Ririn, Kamis (14/2/2019), mengatakan dirinya tertarik masuk ke dunia politik karena bertekad mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Saya terjun di politik merupakan pilihan sadar, dan inilah keterpanggilan kemanusiaan. Bagaimana saya bisa mengabdi atau bermanfaat bagi masyarakat. Saya juga kuliah ambil Ilmu Komunikasi biar ada sangkut pautnya dengan cita-cita saya ketika menjadi politisi. Semoga ada kebaikan-kebaikan yang saya dapat perbuat,” ujar politisi kelahiran 1989 ini pada Suluttoday.com.

Ditambahkannya lagi, Ririn mengajak segenap politisi untuk berkompetisi dengan penuh kegembiraan. Politisi menurutnya harus mengasah kepekaan dan punya keberanian mengedepankan kepentingan masyarakat dengan tanpa membedakan latar belakang sosial, agama, status ekonomi dan embel-embel kelas sosial lainnya.

”Kesadaran politisi bagi saya perlu terus diasah, walaupun semua politisi punya dasar telah berbuat bagi orang lain. Setidaknya, dilingkungan sekitar dan keluarga ia telah berbuat sesuatu yang bermanfaat. Artinya, perbuatan positif itu menjadi modal politisi agar lebih memperkuat lagi kontribusinya kepada masyarakat secara luas,” tutur Ririn, Caleg dari Partai Gerindra Nomor Urut 3 untuk Dapil Kota Manado ini tegas. (*/Redaksi)

Warga Sulut Rayakan 3 Tahun OD-SK

Gubernur Olly dan Wakil Gubernur Steven (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Tak terasa, hari ini, Selasa 12 Februari 2019, Gubernur Olly Dondokambey, SE dan Wakil Gubernur Drs. Steven O.E. Kandouw (OD-SK) sudah memimpin Sulawesi Utara selama 3 tahun. Ada banyak kemajuan dan prestasi yang telah diraih. Tak sedikit pula tantangan yang harus dihadapi. 

Untuk mensyukurinya, di hari istimewa ini, Pemprov Sulut  menggelar Pesta Rakyat di Halaman Kantor Gubernur sekaligus sebagai penutup dalam rangkaian berbagai acara yang diselenggarakan dalam memperingati 3 tahun kepemimpinan OD-SK.

Sebelumnya, kegiatan yang dimulai pukul 14.00 Wita ini akan diawali dengan penampilan tari kabasaran mengiringi kedatangan Gubernur Olly dan Wagub Kandouw menuju tenda utama. Selanjutnya digelar ibadah syukur yang dipimpin Ketua BPMS GMIM Pdt Hein Arina dan doa bersama oleh lima tokoh agama. Kemudian pertunjukan kesenian daerah seperti masamper dan tarian kabela ikut mewarnai perayaan 3 tahun OD-SK memimpin Sulut.

Pada hajatan ini juga dilakukan penyerahan bantuan dan penghargaan oleh Gubernur Olly kepada sejumlah organisasi dan instansi, diantaranya bantuan hibah bagi 20 organisasi kemasyarakatan, penyerahan penghargaan kepada Pimpinan Silk Air atas kerja sama melayani selama 25 tahun Manado-Singapura. 

Pada kesempatan tersebut Gubernur Olly didampingi Wagub Kandouw menyerahkan bantuan kepada korban bencana dan melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Sulut dengan PT. SMI.

Sebelum diakhiri dengan atraksi hiburan, ramah tamah dan doorprize bagi masyarakat, ASN dan THL akan dilakukan penyerahan buku OD-SK 3 Tahun Kepemimpinan kepada jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat serta meniup lilin pada kue ulang tahun oleh Gubernur Olly, Ketua TP PKK Sulut, Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan, Wagub Kandouw dan Wakil Ketua TP PKK Sulut Kartika Devi Kandouw-Tanos. (*/Cat)

Hadiri Pesta Adat Tulude, Ini Harapan Indah Djaman Caleg DPRD Manado

Ibu Indah Djaman Mandiri bersama Vivi George Caleg DPR RI Dapil Sulut (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Perhatian politisi perempuan yang maju di pentas politik lokal Kota Manado, Mustika Indah Djaman Mandiri, SH tidak hanya pada dimensi kesejahteraan, keamanan, agama, sosial, dan ekonomi saja. Lebih dari itu, Indah sapaan akrab politisi cantik ini juga peduli pada eksistensi kebudayaan daerah. Menurutnya peninggalan leluhur perlu dilestarikan, tidak sekedar menjadi warisan sejarah.

”Tradisi yang diwariskan para leluhur kita harus dipelihara, apalagi yang sifatnya positif seperti pengembangan eksistensi seni dan budaya. Salah satunya seperti pelaksanaan pesat Adat Tulude, kita tidak boleh mengabaikan pertumbuhan serta keberadaannya, bagaimana kita menjaga kearifan lokal atau peninggalan leluhur tersebut. Pesta adat Tulude harapan saya harus terus dilestarikan dari generasi ke generasi,” kata Indah jebolan Fakultas Hukum Unsrat Manado ini, Minggu (10/2/2019) saat diwawancarai Suluttoday.com.

Suasana ramai, warga Nusa Utara berkumpul (FOTO Suluttoday.com)

Indah yang juga ikut menghadiri kegiatan Adat Tulude pada, Jumat (8/2/2019) di Kelurahan Pandu tersebut selaku warga Nusa Utara sangat mengapresiasi pesta Adat yang digelar. Ditambahkannya lagi, secara fungsi sosial Tulude menjadi wahana mempersatukan warga Singihe Talaud yang ada di Kota Manado.

Indah foto bersama warga Pandu (FOTO Suluttoday.com)

”Pesta Adat Tulude adalah pementasan budaya tradisional masyarakat Sangihe Talaud yang merupakan media komunikasi tradisional yang berisikan ungkapan syukur kepada Tuhan atas pemeliharaan dan penyertaan dalam kehidupan sehari-hari. Pesta Adat Tulude didalamnya mengandung nilai etika, moral, patriotik, religius dan Seni Budaya yang mengakar dari kearifan lokal,” ujar Indah Caleg dari Dapil Tuminting – Bunaken dan Bunaken Kepulauan Nomor Urut 6 yang diusung Partai Demokrat Kota Manado ini. (*/Redaksi)

Mustika Indah Djaman Mandiri, SH (FOTO Suluttoday.com)

Temu Pimpinan Relawan Jokowi-Amin Se-Sulut, BRANI Gelorakan Semangat Bekerja

Benny Rhamdani saat memberikan materi (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Sekitar ratusan orang pendukung (relawan) pasangan calon Presiden 01 (Joko Widodo-Ma’ruf Amin), Sabtu (9/2/2019) menghadiri pertemuan yang digagas Direktur Kampanye Tim Kampanye Nasional (TKN), Benny Rhamdani di Hotel Aston Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Pertemuan khusus yang dihadiri para pimpinan tim relawan Jokowi-Amin ini berjalan lancar, yang dihadiri 72 tim relawan.

Brani sapaan akrab Senator Benny dalam sesi sambutan menyemangati para relawan. Menurut Brani, relawan harus menyatu dalam satu semangat bersama yakni memenangkan Jokowi-Amin, karena hanya dengan bersatu dan menjalankan slogan kerja nyatalah, kata Brani kemenangan untuk Jokowi-Amin dapat terealisasi.

”Hanya dengan mengintegrasikan semua elemen kekuatan dan potensi relawan Jokowi-Amin maka kita akan merebut kembali kemenangan. Walaupun saat ini, kecenderungan pemilih di Sulawesi Utara sebagaimana survey, posisi kita masih diatas. Namun, jangan bereuforia dengan itu, teruslah bekerja dan bekerja untuk kemenangan Jokowi-Amin di Sulawesi Utara,” ujar Brani yang juga Ketua DPP Partai Hanura ini.

Slogan bekerja dan menang menggema di pertemuan relawan Jokowi (FOTO Suluttoday.com)

Tidak hanya itu, politisi vokal yang juga mempunyai bakat sebagai pemain bola kaki ini berjanji akan memberikan kejutan untuk warga Sulawesi Utara disaat tanggal 17 April 2019 nantinya. Beberapa permintaan relawan, diantaranya terkait atribut juga direspon dengan baik Brani, politisi senior ini juga menyampaikan optimismenya terhadap kemenangan Jokowi-Amin di tingkat Nasional.

Para pimpinan Relawan saat mendengarkan ceramah politik Brani (FOTO Suluttoday.com)

”Walau berdasarkan tren dan kalkulasi politik bahwa kita (Paslon 01) akan menang, tapi tetaplah giat melakukan konsolidasi pemenangan. Jangan biarkan Sekretariat menjadi sepi, jangan lewatkan waktu-waktu yang tak lama lagi Pemilu 2019 ini dengan duduk dan diam, silahkan turun terus dibasis-basis rakyat. Ajak rakyat memilih Jokowi-Amin, karena dengan metode kampanye turun langsung menyapa rakyat itulah yang signifikan menarik suara di TPS nantinya,” kata Brani menutup. (*/Redaksi)

iklan1