Category: Politik

GAWAT, Dugaan Praktek Kotor Pilwako Manado Dilakukan PPK Malalayang

Berlangsungnya buka kotak suara setelah Pleno (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 mulai terindikasi dilumuri praktek kotor. Pasalnya, terjadi money politik, bagi-bagi beras serta bujuk rayu terhadap pemilih mewarnai praktek politik kita di tahan air. Hal itu diharapkan ketegasan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Di Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado, rangkaian indikasi pelanggaran juga mulai tercium aromanya.

Seperti terjadi setelah pelaksanaan Pleno di Kecamatan. Dimana Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Malalayang diduga kuat membuka kotak suara, tanpa melibatkan saksi lainnya. Pembukaan kotak suara juga dilakukan di Kantor Camatan Malalayang dan mendapat protes keras dari saksi pasangan calon Wali Kota Manado, Nomor Urut 4. Padahal, buka kotak diluar pelaksanaan Pleno merupakan tindakan pelanggaran.

”Kan melanggar aturan, kenapa kalian Panwas diam. Sudah selesai rapat Pleno dari kemarin kenap kalian buka kotak lagi. Aturan dari mana itu?, kalau ada edaran tunjukkan?. Jangan alasan perintah dari atas?, kalian Panwas wasit, kenapa buka kotak ulang membuka plano dan foto-foto dari. Teman-teman PPK silahkan berikan jawaban, ini pidahan,” kata Vivie Sanggor Koordinator Kecamatan tim Kampanye Daerah dari pasangan calon Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene dan Dr. Harley Alfredo Benfica Mangindaan, tegas.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Selasa (15/12/2020), kepada Koordinator Divisi Humas dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Manado, Taufik Bilfaqih, mengatakan akan membahas hal tersebut di tingkat Pleno Kota Manado. Akan dilakukan evaluasi terhadap jajaran PPK dan Panwascam. Bawaslu juga akan melihat potensi pelanggaran yang terkait.

”Pastinya akan dibahas di Pleno Manado. Akan dievaluasi dari jajaran PPK dan Panwascam. Sekaligus akan dilihat potensi pelanggaran apa terkait hal ini. Dipastikan akan dimintai keterangan,” ujar Taufik tegas.

Ketua KPU Kota Manado, Jusuf Wowor saat dimintai tanggapan disertai video, terkait protes yang dilayangkan saksi PAHAM (Paula Harley Manado), dan proses buka kotak ilegal, mengatakan akan mengecek kejadian memalukan tersebut ke jajarannya.

”Sorry bro, kita cek dulu teman-teman PPK. Thx infonya,” ucap Wowor melalui WhatsApp, Selasa (15/12/2020) pagi ini.

(*/Amas)

Playing Victim, Hoax dan Lelucon yang Tidak Lucu serta “Dosa Politik”

Abid Takalamingan (Foto Istimewa)

Oleh : Abid Takalamingan, S.Sos,MH, Ketua BAZNAS Sulawesi Utara

Salah satu cara seseorang menghadapi sebuah peristiwa atau masalah adalah dengan mengambil peran sebagai, baik secara sadar maupun tidak. Hal inilah yang disebut dengan playing victim. Menurut pakar, cara ini biasa dilakukan oleh mereka yang merasa takut atau tidak berani menghadapi dan mengakui keberadaan amarah dalam dirinya.

Di politik cara ini biasa digunakan, terutama dengan maksud untuk memainkan emosi masyarakat (konstituen) agar orang kasihan terhadap dirinya dan akhirnya terlibat secara emosional untuk melakukan pembelaan terhadap si korban. Kalau playing Victim memiliki dasar rasional yang kuat biasanya cara ini akan berhasil tapi jika tidak maka playing Victim akan kelihatan seperti lelucon dan akhirnya makin “blunder”.

Dalam kasus pilwako Manado playing Victim sepertinya coba dimainkan oleh kelompok tertentu. Dalam catatan saya paling tidak itu dapat dilihat pada dua hal yang terjadi jelang pencoblosan atau jelang memasuki masa tenang.

Yang pertama ; tuduhan bahwa ada aktor atau pihak-pihak yang melakukan penyebaran kebohongan tentang calon boneka sehingga isu itu coba digoreng tapi tak jadi sajian yang enak dimata publik karena aktor atau pihak yang dimaksud tak bisa diidentifikasi dan mmg tdk bisa karena tidak ada (hoax).

Potongan postingan Abid di Facebook (Foto Suluttoday.com)

Kedua ; menyebarnya beberapa spanduk dengan teks yang sama atas nama seorang tokoh, ini juga jadi lucu karena tak ada logika yang bisa menghubungkannya, dimana rakyat tak merasa melakukan akhirnya “blunder”.

Lepas dari sebuah strategy mempengaruhi bahkan bermaksud mengalihkan opini untuk menaikan elektabilitas plying Victim yang tidak dibangun dengan dasar ilmu dan pemahaman yang kuat akhirnya menjadi sekedar sebuah lelucon yang tidak lucu. Selebihnya menurut hemat saya ini adalah politik kotor menghalalkan segala cara demi tercapai suatu maksud dan tujuan demi keuntungan kelompok sekalipun harus berdusta.

Saya tak lagi bicara soal dosa karena dalam fiqh siyasah wilayah hitam putih terlalu sempit dibandingkan wilayah abu-abu atau ijtihadiah. Tapi silahkan berkesimpulan masing-masing dalam kasus playing Victim dalam pilwako Manado. Apakah ini dosa dalam politik?. Wallahu’alam.

Pilkada 2020, “Harta Karun” yang Mungkin Terlewatkan

Haryanto Antho (Foto Istimewa)

Perhelatan nasional rekruitment kepemimpinan berskala lokal yang bertajuk Pilkada Serentak 2020 telah berakhir dengan berbagai dinamika bawaannya.

Ada yang menang dengan prosentase menakjubkan pun juga ada yang belum menang dengan presisi prosentase yang sungguh tipis.

Tentu kesemua hasil tersebut adalah “keinginan” rakyat pemilih. Persoalan strategi onde-onde, ongol-ongol atau hamburger yang diterapkan para konsultan maupun timses itu adalah persoalan lain, yang sedikit banyak punya korelasi terhadap capaian prestasi pendulangan suara.

Hiruk-pikuk Pilkada, dengan berbagai atraksi kreatif maupun konvensional untuk merebut suara pemilih patut diapresiasi positif, layer ini adalah sebuah bagian penting dalam sebuah proses demokrasi, walau memang, yang kerapkali dilupakan oleh para pihak pendukung maupun pengusung kandidat adalah bagaimana merebut hati pemilih. (Saya teringat dengan strategi konsolidasi hati nurani, yang sering disentil senior saya ketika berkiprah di organisasi mahasiswa).

Fenomena “kalah maar untung” pun sebaliknya “untung maar kalah”, adalah ekses dari sebuah fase akhir dari perhelatan kontestasi politik yang sering tidak terhindarkan.

Kondisi ini, memang, kerap terjadi akibat persoalan internal yang belum atau tidàk tuntas. Ini pun sangat lumrah terjadi, dan bukan sebuah fenomena ajaib atau baru.

Tapi menurut hemat saya, mengevaluasi atau mencermati hasil Pilkada, bukan hanya sekadar kenapa bisa menang atau mengapa sampai kalah. Tapi yang terpenting dari itu, adalah, bagaimana kedepannya.

Tentu, untuk yang menang, pasti akan merumuskan strategi untuk bisa melanggengkan “kekuasaan” dengan berbagai -mungkin- infrastruktur politik yang telah dipunyai sebelumnya dan bisa saja akan ada infrastruktur baru yang diperoleh, saat meraih kemenangan itu.

Sementara yang Kalah pun, tak harus larut dalam saling menyalahkan (semoga tidak) dan bersedih yang berlarut-larut, tapi terpenting adalah belajar dari kegagalan saat ini. Karena saya yakin, dengan strategi yang diterapkan, bukannya lemah tapi bisa jadi lawan sedikit lebih kuat saja.

Tapi fokus saya bukan persoalan hasil Pilkada. Tapi, menurut hemat saya Pilkada kali ini meninggalkan “harta Karun” (baca :peluang) yang sangat besar, dan dapat di petik hasilnya pada perhelatan politik 2024, bagi orang-orang yang memahaminya.

Salah satu “harta Karun” itu adalah ke depan akan terjadi pergesaran aktor politik, baik ketokohannya maupun angkatan (usia).

Generasi Old (sebelum Milenial) mungkin akan bergeser kiprahnya, sementara generasi 90an yang adalah generasi transisi antara generasi Old dan Milenial, mungkin masih bisa eksis, walau akan berhadapan dengan generasi yang melek teknologi.

Tapi generasi Old pun, akan sangat punya pengaruh signifikan lewat saran-saran brilian berdasar pengalamannya.

Dalam konteks ini, apakah generasi transisi bisa membaca tanda-tanda zaman ini? Saya punya keyakinan, mereka bisa berdasar pengalaman lapangan. Belajar dari kegagalan adalah hal yang sangat penting menuju kepada kesempurnaan. Bukan mengulangi lagi kesalahan yang sama.

Karena generasi Milenial, “hampir” menguasai lini-lini strategis dalam hal penjangkauan konstituen (YouTube, Instagram, FB bahkan Tik-Tok, adalah sarana komunikasi para milenialis).

Yang jadi pertanyaan penting hari ini adalah, apakah generasi transisi menyadari keadaan ini? Saya pun yakin, pasti sadar. Cuma yang jadi persoalan, kesadaran atas keadaan ini hanya sampai diketahui saja atau ada “action” brilian untuk mengarungi perubahan zaman demi menjangkau keberhasilan di 2024 nanti? Wallahu alam bissawab.

Kualifikasi dan kualitas personal tentu sangat dibutuhkan pada pertarungan nanti, tapi bukan menjadi lengah atau santuy, tapi kualitas tersebut bisa dijadikan srana membangun jaringan yang menopang perencanaan ke depan.

Di era 2024, nanti, mengandalkan kekuatan dan kemampuan personal saja belum cukup, dibutuhkan kolaborasi positif tanpa syarat dan simbiosis mutualisme, bukan kolaborasi untuk mendominasi. Sehingga keteraturan ritme perjuangan akan tetap terjaga dan terkontrol fluktuasinya.

Pun juga, terlalu mengandalkan komunitas yang belum bisa move on (dalam hal strategi dan taktik) setali tiga uang juga, dengan pengandalan kualitas personal.

Komunitas yang telah terbangun harus senantiasa diperbaharui tata kelolanya (manajemen), strategi dan taktiknya, pola dan skema pergerakan mengikuti perkembagan zaman yang begitu cepat berubah ini. Jika tidak, sama saja jalan di tempat.

Dimanakah letak “harta Karun” Pilkada 2020 itu? Mari kita cari bersama, Kawan.

Saya hanya bisa menghayal saja, disela-sela menyelesaikan sebuah Novel karya George R.R Martin yang berjudul A Game of Thrones (Perebutan Takhta) dengan secangkir kopi tubruk yang tentu menambah lebar perambahan imajinasi saya tentang harta Karun Pilkada 2020 itu.

**

Dari Bilangan Jl. W.R. Supratman

Sabtu, 12 Desember 2020 (bertepatan dengan Hari Belanja Online Nasional)

Tukang Bekeng Kopi

Ciptakan Perdamaiaan Umat, Junjung Tinggi Nilai Kemanusiaan Usai Pilkada 2020

Rusmin Hasan Aktivis HMI (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Rusmin Hasan Aktivis, HMI Cabang Tondano

Kepada para pemenang Pilkada 2020 untuk tidak terlalu euforia merayakan kemenangan berlebihan, rayakan kemenangan secara etis dan sewajarnya saja. Kemenangan dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) sesungguhnya merupakan wujud kemenangan seluruh rakyat. Karena itu, siapa pun yang menang dalam Pilkada serentak yang dilakukan pada hari ini. Rabu, 9 Desember 2020 harus memberikan penghormatan kepada rakyat sebagai pemegang kedaulan tertinggi.

Dan ciptakan iklim politik yang berlandas pada nilai kemanusiaan, perdamaian merupakan cita-cita dan salah satu nilai kemartabatan yang ada dalam semua masyarakat beradab. Keadaan nan damai merupakan salah satu syarat untuk menjalin kerja sama strategis. Kemenangan itu, sudah menjadi keniscayaan Ilahi yang tak bisa dinaifkan. Ajaklah semua elemen untuk saling kerja sama untuk mewujudkan perdamaiaan antar sesama. Dan kepada tim sukses dan para simpasitas untuk saling memaafkan dan mengikhlaskan secara lapangan dadah.

Saling merangkul dan menjaga kekeluargaan antar sesama serta merawar silaturahim yang sebelum pilkada mungkin ada yang sedikit renggang silaturahim untuk menjunjungi tinggi nilai perdamaiaan sebagai perekat identitas sosial budaya sebagai masyarakat yang beradap. Siapa saja yang akan menjadi pemenangan atau pemimpin kepala daerah bupati & wakil bupati atau walikota serta wakil walikota dihasil pengumuman KPUD setiap daerah masing” dialah pemimpin kita bersama. Bagi yang menang pilkada, saya perlu ingatkan bahwa menjadi kepala daerah adalah alat bukan tujuan.

Bila menjadi kepala daerah adalah tujuan, maka Anda telah mencapai garis finish. Namun, sebaliknya menjadi kepala daerah merupakan start awal dari kiprah Anda lima tahun ke depan untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan seluruh warga masyarakat di daerah Anda. Satu detik setelah Anda dilantik menjadi kepala daerah roda pemerintahan berada di pundak Anda, Anda harus berhenti berbicara (kampanye/pencitraan) jalankan tugas dan tanggun jawab sebaik-baiknya, sekuat tenaga, jangan mengeluh apalagi ada kata tidak siap.

Rakyat cukup cerdas dan akan mengawasi serta menagih janji-jani politik Anda baik pada saat berkampanye turun ke daerah maupun pada saat debat publik. Pilkada sudah selesai, andalah pemenangnya. Anda akan memasuki kehidupan baru dengan tanggung jawab baru. Ini adalah awal dari perjalanan panjang Anda selama lima tahun ke depan, kuatkan hati Anda karena langit tidak selalu cerah dan ombak tidak selalu tenang. Sambil menunggu dilantik segera konsolidasikan tim Anda rumuskan program kerja 100 hari pertama, setahun pertama sampai tahun kelima.

Diawal awal masa kepemimpinan jangan pernah sedikitpun berfikir untuk kelanjutan kekuasaan atau pilkada berikutnya. Ciptakan keadilan hukum bagi seluruh Rakyat untuk merealiasiakan amanat UU 1945. Semoga narasi sederhana ini, bisa menjadi edukasi politik kepada rakyat serta para kompetitor pilkada 2020 untuk menjaga nilai etis, kemanusiaan serta menjunjung tinggi nilai perdamaain antar sesama usai pilkada 2020 kali ini. Aamin

Menang Lagi, ODSK Raih 58,44% Suara Jauh Tinggalkan Penantang

Firman ketika memaparkan data (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pemaparan hasil quick count (hitung cepat) yang disampaikan Konsultan Citra Indonesia (KCI) – LSI Denny JA, Rabu (9/12/2020), menempatkan Olly Dondokambey-Steven Kandouw, selaku petahana Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) sebagai pemenang. Calon Gubernur Nomor Urut 3 tersebut meraih suara yang signifikan, seperti yang dilansir media ini.

Olly Dondokambey dan Steven Kandouw atau yang disingkat ODSK mengungguli perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulut 2020. Berdasarkan hasil quick count yang dirilis pada Rabu (09/12/2020), ODSK menang telak atas dua paslon lainnya.

”Tak terkejar, kemenangan petahana begitu telak. Yakni menang dengan meraihan suara 58,04 persen. Saingan terdekat ODSK yaitu paslon Christiany Eugenia Paruntu-Sehan Salim Landjar (CEP-SSL) meraih 33.03 persen. Sedangkan Vonny Anneke Panambunan-Hendry Runtuwene di urutan terakhir dengan 8,95 persen,” ujar Firman, selaku Supevisor Riset KCI, di Swissbell Hotel Manado.

Lanjut disampaikan Firman, bahwa sampel dalam quick count adalah Pilgub Sulut sebanyak 310 TPS dari total 5.809 TPS di Sulut, dengan margin of error (MoE) sebesar 1 persen.

”Sesuai data yang masuk 98,1 persen totalnya masih ODSK yang unggul. Sedangkan tingkat partisipasi pemilih di Sulut mencapai 79,89 persen,” kata Firman.

(*/Redaksi)

iklan1