Category: Politik

35.000 Tanda Tangan Warga Sulut Untuk Dukung Prabowo-Hatta

dukungan-prabowo-hatta-suluttoday

ist

MANADO – Capres-Cawapres Prabowo-Hatta mendapat dukungan dari sebuah ormas asal Sulawesi Utara (Sulut), yang terdiri dari pelaku usaha kecil, simpatisan, dan persaudaraan.

Dengan menamakan diri Gardu Prabowo, ormas itu memberikan puluhan ribu tandatangan untuk mendukung Prabowo-Hatta. Hal ini tampak di Rumah Polonia, markas dukungan pasangan capres-cawapres nomor urut satu.

“Dengan jujur, dengan tulus, kami 35.000 orang dari Sulawesi Utara mendukung dan mendoakan Prabowo untuk memenangkan Pilpres 2014 dan menjadi presiden Indonesia mendatang,” kata koordinator Gardu Prabowo, Lady Sual di Rumah Polonia, Jl Cipinang Cempedak, Jakarta Timur.

Menurut Lady, deklarasi dukungan sudah dilakukan di Manado, Sulut. Namun ia merasa kurang afdhol jika tidak dilakukan di Jakarta juga.

“Deklarasi ini sebenarnya sudah diadakan di Manado. Tapi kami ingin menyampaikan secara fisik 35.000 tanda tangan ini ke Jakarta,” kata Lady.

Di balik dukungan itu, Gardu Prabowo ini ingin Prabowo-Hatta memperhatikan dan mendukung kemajuan UMKM, khususnya di Sulawesi Utara. Ribuan tanda tangan dalam puluhan ribu lembar kertas itu akhirnya diserahkan ke perwakilan tim pemenangan Prabowo-Hatta, Sutrisno dan Didi Haryanto.
(dbs/rr)

ICW, IBC, IPC Ingatkan Kepala Daerah Pendukung Capres-Cawapres Jangan Gunakan Fasilitas Negara

Pegawai Negeri Sipil. (ist)

Pegawai Negeri Sipil. (ist)

Suluttoday.com – Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Indonesia Budget Center (IBC) serta Indonesia Parliementary Center (IPC) mencatat sebanyak 26 kepala daerah mulai dari tingkat wali kota, bupati hingga gubernur, tercatat menyatakan dukungannya terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden peserta Pemilu 2014.

Akan hal ini, Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Abdullah Dahlan mengatakan keterlibatan kepala daerah dalam proses politik pemilu presiden (pilpres) perlu mendapatkan pengawasan ketat dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) karena dicurigai dapat menyalahgunakan wewenangnya untuk memobilisasi perangkat kerja daerah.

“Kami minta kepala daerah tak gunakan fasilitas negara, anggaran dan struktur birokrasi. Keterlibatan sejumlah kepala daerah tentunya memberikan ruang terseretnya struktur dan jajaran birokrasi untuk digunakan sebagai mesin pemenangan. Dengan menggunakan pengaruh struktur kekuatan yang masih dimiliki sangat mungkin politisasi birokrasi akan terjadi, potensi penyalahgunaan wewenang. Deklarasi dan bentuk dukungan pun telah dilakukan oleh sejumlah pejabat daerah tersebut,” imbuhnya pada pekan lalu.

Ditambahkan, berdasarkan pemilu legislatif (pileg) ditemukan adanya upaya mobilisasi jajaran pegawai negeri sipil (PNS) di daerah untuk mendukung peserta Pemilu tertentu oleh kepala daerah bersangkutan. Oleh karenanya masa kampanye pilpres sekarang juga dipandang akan berimplikasi pada hal yang sama.

“Meskipun keikutsertaan mereka tak dilarang namun sudah sepatutnya kepala daerah terus mengutamakan kepentingan rakyat dan tidak mengerahkan struktur pemerintahan dan rakyatnya untuk memenangkan calon yang didukung,” tukasnya.

 

Adapun ke-26 kepala daerah yang tercatat sebagai pendukung capres-cawapres adalah sebagai berikut:
1. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Ketua Timses Prabowo-Hatta)
2. Gubernur Riau Annas Maamun (mendukung Prabowo-Hatta)
3. Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin (mendukung Prabowo-Hatta)
4. Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno (mendukung Prabowo-Hatta)
5. Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola (mendukung Prabowo-Hatta)
6. Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin (mendukung Prabowo-Hatta)
7. Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya (timses Jokowi-JK)
8. Gubernur Kalimantan Barat Cornelis (timses Jokowi-JK)
9. Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak (mendukung Prabowo-Hatta)
10. Gubernur Bali Made Mangku Pastika (mendukung Prabowo-Hatta)
11. Gubernur Jawa Tengah (timses Jokowi-Jusuf Kalla)
12. Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang (timses Jokowi-JK)
13. Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Sudarto (mendukung Prabowo-Hatta)
14. Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Achmad Diran (timses Jokowi-JK)
15. Wakil Gubernur Kalimantan Timur Mukmi Faisyal (mendukung Prabowo-Hatta)
16. Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta (mendukung Prabowo-Hatta)
17. Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf (mendukung Prabowo-Hatta)
18. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (mendukung Prabowo-Hatta)
19. Wali Kota Cimahi Atty Suharti (mendukung Prabowo-Hatta)
20. Wali Kota Bogor Bima Arya (mendukung Prabowo-Hatta)
21. Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman (mendukung Prabowo-Hatta)
22. Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail (mendukung Prabowo-Hatta)
23. Bupati Bandung Dadang M. Nasser (mendukung Prabowo-Hatta)
24. Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum (mendukung Prabowo-Hatta)
25. Bupati Indramayu Ana Sofanah (mendukung Prabowo-Hatta)
26. Bupati Purwakarta Deddy Mulyadi (mendukung Prabowo-Hatta)

(bs/jk)

Sementara, 21 Kepala Daerah Mendukung Prabowo-Hatta 5 Kepala Daerah Jokowi-JK

(ist)

(ist)

Suluttoday.com – Baru-baru ini, Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Indonesia Budget Center (IBC) serta Indonesia Parliementary Center (IPC) mencatat sebanyak 26 kepala daerah mulai dari tingkat wali kota, bupati hingga gubernur, tercatat menyatakan dukungannya terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden peserta Pemilu 2014.

 

Adapun Kepala Daerah yang yang mendukung capres-cawapres nomor urut 1 Prabowo-Hatta :

1. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Ketua Timses Prabowo-Hatta)

2. Gubernur Riau Annas Maamun (mendukung Prabowo-Hatta)

3. Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin (mendukung Prabowo-Hatta)

4. Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno (mendukung Prabowo-Hatta)

5. Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola (mendukung Prabowo-Hatta)

6. Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin (mendukung Prabowo-Hatta)

7. Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak (mendukung Prabowo-Hatta)

8. Gubernur Bali Made Mangku Pastika (mendukung Prabowo-Hatta)

9. Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Sudarto (mendukung Prabowo-Hatta)

10. Wakil Gubernur Kalimantan Timur Mukmi Faisyal (mendukung Prabowo-Hatta)

11. Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta (mendukung Prabowo-Hatta)

12. Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf (mendukung Prabowo-Hatta)

13. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (mendukung Prabowo-Hatta)

14. Wali Kota Cimahi Atty Suharti (mendukung Prabowo-Hatta)

15. Wali Kota Bogor Bima Arya (mendukung Prabowo-Hatta)

16. Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman (mendukung Prabowo-Hatta)

17. Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail (mendukung Prabowo-Hatta)

18. Bupati Bandung Dadang M. Nasser (mendukung Prabowo-Hatta)

19. Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum (mendukung Prabowo-Hatta)

20. Bupati Indramayu Ana Sofanah (mendukung Prabowo-Hatta)

21. Bupati Purwakarta Deddy Mulyadi (mendukung Prabowo-Hatta)

 

Adapun Kepala Daerah yang yang mendukung capres-cawapres nomor urut 2 Jokowi-JK :

 

1. Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya (timses Jokowi-JK)

2. Gubernur Kalimantan Barat Cornelis (timses Jokowi-JK)

3. Gubernur Jawa Tengah (timses Jokowi-Jusuf Kalla)

4. Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang (timses Jokowi-JK)

5. Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Achmad Diran (timses Jokowi-JK)

 

(bs/jk)

Upayakan Pengarahan, Kasus Babinsa Cederai Reformasi TNI

Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI. (ist)

Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI. (ist)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suluttoday.com – Upaya pengarahan oknum anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang mengarahkan pilihan politik masyarakat ke pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tertentu yang terjadi di sejumlah daerah berpotensi mencederai reformasi di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal ini di katakan oleh Juru Bicara Tim Pemenangan pasangan Jokowi – Jusuf Kalla, Anis Baswedan.

“Sejak direformasi, TNI dan Polri bekerja keras untuk membenahi diri dan menjauhkan diri dari keterlibatannya di politik praktis. Kami memberikan apresiasi yang tinggi atas hal itu,” kata Anies di Jakarta, Sabtu (7/6).

Anis secara tegas menyatakan ketidasetujuannya atas keterlibatan anggota Babinsa, yang secara sengaja mengarahkan masyarakat untuk memilih pasangan capres-cawapres tertentu pada Pilpres 9 Juli mendatang.

“Kami minta keseriusan semua pihak menyikapi persoalan ini. Kami mendengar laporan bahwa ada oknum Babinsa yang terlibat dalam penggiringan dan pengarahan atas pilihan politik masyarakat,” ujar Anies.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Tim Pemenangan pasangan Jokowi-JK yang juga Sekjen DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo. Dia mengecam keras keterlibatan anggota Babinsa dalam pengerahan massa untuk memilih pasangan capres – cawapres tertentu.

“Presiden telah mengingatkan TNI dan Polri bersikap netral. TNI harus menghindari kepentingan politik praktis,” papar Tjahjo.

Dikatakan, apabila terbuka adanya keterlibatan oknum anggota Babinsa yang mengarahkan masyarakat dalam menentukan pilihan politik, maka yang bersangkutan harus dievaluasi. “Jangan cederai Pilpres ini,” kata Tjahjo. (bs/jk)

 

Gerindra Inginkan Sarundajang Jadi Ketua Tim Sukses Prabowo-Hatta

Prabowo-Hatta-Deklarasi-2
MANADO – Setelah mengusung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai Capres-Cawapres, Gerindra menginginkan Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang memimpin tim sukses di Bumi Nyiur Melambai.

Pasangan Capres dan Cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa berkeinginan para kepala daerah menjadi tim suksesnya. Sebelumnya mereka telah meminta Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.

Sekretaris DPD Gerindra Sulut, Melki Suawah, membenarkan keinginan tersebut. Keinginan Gerindra Sulut pun sangatlah wajar karena menurut Melki, SHS punya historis dengan partai berlambang Burung Garuda itu.

Melki mengungkapkan, ketika mencalonkan diri sebagai Gubernur pada 2010, SHS diusung oleh Partai Demokrat dan beberapa partai, termasuk Gerindra. “Jadi wajar ketika Prabowo mencalonkan diri, maka SHS diminta untuk menjadi ketua tim pemenangan Prabowo-Hatta,” katanya.

Prabowo memang mengenal sosok SHS. Bahkan ketika pada perayaan Natal 2012 di Sulut atau tepatnya di Manado Convention Center (MCC) dan saat itu Prabowo hadir, SHS bercerita tentang perkembangan Sulut ke Ketua Dewan Pembina Gerindra itu.

Tidak berhenti sampai di situ, menurut Melki pada saat perayaan Natal tersebut, SHS sempat mengatakan bahwa dirinya wajib melaporkan perkembangan daerah Sulut ke Prabowo.

“Menurut SHS saat itu karena Gerindra merupakan satu di antara partai pengusung ketika SHS maju sebagai calon Gubernur,” ungkapnya.

Gerindra Sulut pun sangat besar keinginanya agar SHS menjadi ketua tim pemenangan karena Prabowo sudah sempat bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Dan SBY mempersilakan para kadernya, termasuk SHS untuk mendukung Prabowo-Hatta.

“Jadi dengan alasan itu kami Gerindra di Sulut sangat menginginkan SHS menjadi ketua tim pemenangan Prabowo-Hatta di Sulut,” ucapnya.

Namun demikian, lanjutnya, keinginan tersebut pun tak bisa dipaksakan karena hal itu semua tergantung SHS. Terkait hal itu, SHS belum bisa dihubungi.

Sementara itu, dari Jakarta dilaporkan, capres Joko Widodo mengaku pusing dan kelelahan usai menjalani beragam tes kesehatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (22/5/2014). Ia menghadapi 520 soal pertanyaan tentang kejiwaan. Dalam satu sesi, ia menggambar bangunan besar, menyerupai istana presiden.

Bagi Gubernur DKI Jakarta ini, sesi yang paling membuatnya kelelahan ialah tes kejiwaan. “Capek saya, disuruh mengisi jawaban atas 520 pertanyaan,” tutur Jokowi.

Belum lagi, panitia tes kesehatan memintanya menggambar sebagai salah satu uji kejiwaan. Jokowi mengakui, ia lantas menggambar rumah saat sesi tersebut. “Saya gambar rumah besar, kelihatannya seperti istana (kepresidenan),” tuturnya lantas ketawa tergelak.

Usai menjalani tes kesehatan, Cawapres Jusuf Kalla akhirnya mengaku dalam tes psikologi yang mengharuskan ia menggambar sesuatu, ia juga menggambar rumah.

Mantan Wakil Presiden RI itu mengaku lebih pede menjalani tes kali ini, dibandingkan dua test sebelumnya sejak pemilihan presiden (pilpres) 2004 lalu.

“Mungkin lebih baik ini, karena tidak ada (beban) pikiran,” katanya.

Saat ditanya apakah karena mendampingi Jokowi ia merasa lebih tenang dibandingkan ia mendampingi Susilo Bambang Yudoyono (SBY) pada pilpres 2004 lalu, JK hanya tertawa.
(tr/rr)

iklan1