Category: Berita Utama

DEMOKRASI CINTA KASIH, Sebuah Jalan Sunyi Mencari Pemimpin

Amas Mahmud (FOTO Suluttoday.com)

KITA menghendaki demokrasi yang sejuk, damai, moralis dan tanpa konfrontasi. Jalannya sering kali ditempuh dan kita temui yakni dengan politik yang dipenuhi jargon, kata-kata kiasan, bahkan sindiran, tapi substansi yang sering kita temui adalah demokrasi penuh intrik atau permufakatan jahat. Jalan inilah yang perlu diterangi, diberikan cahaya lebih jernih lagi, bahkan model demokrasi kita harus berbalut cinta kasih.

Demokrasi bukan hanya alat mencapai tujuan dengan politik praktis yang penuh kompromistis, salahnya lagi kompromistis yang dibangun diatas niat buruk mengabaikan kepentingan publik. Lalu kepentingan pribadi dan kelompok didahulukan, padahal demokrasi tidak sejahat itu. Sudah selayaknya demokrasi dibentuk diatas bangunan (fundamen) nilai cinta dan kasih, sehingga segala perbedaan pendapat, perbedaan metode perjuangan tidak dipandang sebagai suatu kejahatan yang perlu dimusuhi.

Kesalah-pahaman dalam konteks demokrasi sejatinya mampu dibungkus atau disolusikan dengan pikiran dingin, musyawarah mufakat yang mengedepankan kekeluargaan, pendekatan persuasif. Bukan melulu mengandalkan kekuasaan, mengandalkan koneksi, saling adu power yang akhirnya tak ada ruang sedikit pun untuk cinta kasih. Semua dipandangnya sebagai konfrontasi, bahkan konsensus yang dibangun hanya karena dorongan kepentingan sesaat (vested interest).

Betapa celakanya kita berdemokrasi hanya mengedepankan gengsi, ego dan kompetisi seperti itu. Yang pada akhirnya meredupkan semangat kolaboratif, saling memberikan pandangan positif, edukasi serta cara-cara terpuji untuk melahirkan pembangunan komprehensif makin jauh dari harapan kita semua. Demokrasi itu sebetulnya bukan tentang tarung harga diri, atau semacam kita berada dalam ‘meja judi’ atau bukan pula kita taruhan judi ‘sabung ayam’. Hendaknya demokrasi itu mewujudkan keteraturan sosial, bukan sebaliknya.

Itu berarti, kita setidaknya memerlukan semacam ‘demokrasi rekreatif’ yang mendatangkan kenyamanan bersama dalam iklim demokrasi yang bermutu. Cinta kasih tidak sekedar menjadi materi khutbah para Ustad, Pendeta, Ulama, atau tokoh agama lainnya diatas mimbar ibadah, tapi jangkauan dan kekuatannya universal. Sebetulnya cinta kasih bisa kita adopsi untuk menyuburkan ruang politik kita agar dinamis, hidup, humanis, dan juga membawa kita untuk mengingat sang khalik. Jangan terus-terusan demokrasi dijalankan dengan rasionalitas, pendekatan yang logis, matematis, dan ilmiah lalu dibagian lain kita mengabaikan cinta kasih atau kasih sayang.

Dapat disebut demokrasi cinta kasih merupakan jalan sunyi dalam upaya kita mencari pemimpin, apalagi jelang Pemilu 2019 ini. Terutama Pilpres yang mulai menyedot perhatian, menguras pikiran publik untuk berfikir yang berat-berat tentang perdebatan verbal visi-misi pasangan Capres Republik Indonesia dalam membangun Negara. Tidak semua politisi dan negarawan memang secara sadar menentukan dengan melakukan politik dan memaknai demokrasi dengan kerangka cinta kasih, bila ada persoalan yang mungkin dianggap pelik sekalipun, selesaikan melalui pendekatan cinta kasih.

Pasati demokrasi kita tidak ramai, tidak pula ribut seperti saat ini. Sebab, bila demokrasi dimulai dengan keributan, maka harganya relatif mahal. Beda tentunya dengan demokrasi yang ‘senyi’ jauh dari perdebatan, ‘keributan’ namun tetap teguh mengedepankan nilai-nilai kolektif, persaudaraan, jalan tersebut selain hemat juga tidak merusak citra demokrasi kita. Kita tentu tidak mau dicitrakan sebagai penganut demokrasi yang memilih jalan anarkis sebagai satu-satunya pendekatan, tidak mau dilabelkan sebagai Negara yang merayakan demokarsi dengan hura-hura atau huru-hara yang menyimpang dari rel demokrasi.

Stigma negatif tersebut seharusnya dihilangkan, guna melahirkan proses demokrasi yang ‘sehat bugar’, dalam situasi yang kian meresahkan hati ini, ternyata kita harus mengambil jalan sunyi dengan menjalani demokrasi cinta kasih. Bila saat ini banyak politisi, negarawan dan masyarakat diarahkan untuk sibuk pada politik pragmatis, politik pesta, politik transaksional, maka demokrasi cinta kasih mesti menjadi jalan alternatif yang progresif memajukan demokrasi kita. Demokrasi tak boleh dieskpresikan dengan emosionla kebencian, sentimen destruktif, karena hal ini akan mendatangkan mudharat demokrasi, jauh dari peradaban kemanusiaan yang kita rindukan.

Dimana dalam skenario mencari hal inti dalam demokrasi, maka semua stakeholder harus dibuat bijak. Menjadi agen yang menyangga terlaksananya tahapan demokrasi yang tidak heboh dengan riak-riak semata. Demokrasi Indonesia kita harapkan melahirkan generasi atau prodak yang ramah, toleran, bukan masyarakat yang senang marah-marah, reaksioner saat menerima perbedaan pendapat. Demokrasi itu dapat mewadahi, mengakomodasi segalama macam model dan jenis kepentingan, tidak melahirkan dominasi tunggal, pemaksaan kehendak dan sikap dominasi berlebihan dari satu kelompok masyarakat tertentu terhadap yang lain.

Demokrasi itu tidak melahirkan kebisingan, keributan, apalagi pertikaian. Karena yang dituju demokrasi adalah kesejahteraan dan cita-cita bersama, maka ia juga harus dibangun atas semangat kebersamaan, berdiri diatas kepentingan semua golongan, tidak memandang perbedaan atau mendistingsi satu golongan masyarakat dengan golongan lainnya. Masyarakat harus menang dalam perayaan atau hajatan demokrasi, bukan elit partai politik, pengusaha dan aktor politik serta kelompok berkepentingan yang menang, lalu rakyat dijadikan budak demokrasi. Jangan kemudian demokrasi berhasil melahirkan masyarakat berperadaban rendah, inilah yang patut dihindari kita semua.[***]

 

 

 

______________________________

Penulis Amas Mahmud, S.IP Sekretaris DPD KNPI Manado

Meriahkan HUT KORPRI dan PGRI Pemkot Manado Gelar Jalan Sehat

Suasana jalan sehat yang dipimpin Sekda Kota Manado (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-47 Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), Hari Guru dan HUT ke-73 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tahun 2018, Jumat (16/11/2018), diperingati Pemerintah Kota Manado dengan menggelar jalan sehat dan senam bersama di lapangan Sparta Tikala Manado.

Kegiatan jalan sehat bersama yang diikuti ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Tenaga Harian Lepas (THL) di jajaran Pemkot Manado tersebut, dilepas Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Manado Micler CS Lakat SH MH mewakili Wali Kota DR GS Vicky Lumentut dengan start dan finish di lapangan Sparta Tikala.

Senam pagi di Lapangan Sparta Tikala (FOTO Ist)

Mengitari beberapa ruas jalan di Kota Manado, ASN dan THL terlihat riang. Selain Sekda Lakat yang ikut dalam jalan sehat bersama, tampak pula sejumlah pejabat Pemkot Manado serta Camat dan Lurah se-Kota Manado. Usai jalan sehat, perayaan HUT ke-47 Korpri, Hari Guru dan HUT ke-73 PGRI yang mengangkat tema ”Korpri: Melayani, Bekerja dan Menyatukan Bangsa” itu, dilanjutkan dengan senam Poco-Poco bersama di lapangan Tikala.

”Kegiatan ini untuk menyemarakan HUT Korpri dan HUT PGRI, semua ASN sampai THL ikut meramaikan acara ini, mulai dari jalan sehat sampai senam di lapangan Tikala. Tentunya, lewat kegiatan ini akan semakin memotivasi para aparatur pemerintah di Pemkot Manado untuk meningkatkan etos kerja,” kata Sekda Kota Manado ini. (*/Redaksi)

WALI KOTA GSVL: Ayo, Rohaniawan Lawan Berita Hoax

Wali Kota GS Vicky Lumentut ketika sambutan (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Wali Kota Manado DR GS Vicky Lumentut, Jumat (16/11/2018), mengajak rohaniawan dan tokoh agama di Kota Manado untuk ikut melawan berita-berita menyesatkan yang dapat menimbulkan kesenjangan dan ketidaknyaman masyarakat.

”Lewat kesempatan ini, saya selaku Walikota Manado mau mengajak kepada para pemimpin agama, para rohaniawan yang ada di Kota Manado, mari kita lawan berita-berita yang tidak benar atau berita-berita hoax yang sekarang ini marak di media sosial. Kita jaga kota kita ini agar tetap aman, tetap menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antar umat beragama,” tutur Wali Kota Vicky Lumentut, dalam sambutannya.

Pada acara Tatap Muka Pemerintah Kota (Pemkot) Manado bersama Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama (BKSAUA), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan pimpinan golongan agama se-Kota Manado ini dilaksanakan di ruang Serbaguna Kantor Walikota.

Ditambahkan Vicky Lumentut bahwa berita-berita hoax sangat berbahaya dan dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat serta mengganggu kerukunan dan keharmonisan hidup umat beragama di Kota Manado.

”Saya banyak belajar dari kehidupan masyarakat di Turki, ketika saya diberi kesempatan berkunjung ke sana. Di negara tersebut, hubungan antar umat beragama sangat baik. Mereka saling menjaga nilai-nilai dan situs-situs keagamaan yang ada, dan mereka tidak suka dengan berita-berita di media sosial yang menghina atau menjatuhkan agama lain. Makanya, saya sangat terkesan dan berharap ini pula ada di Manado,” ujar Walik Kota yang akrab disapa GSVL ini.

Lanjut Wali Kota Manado dua periode ini menanggapi merespon usulan BKSAUA Kota Manado melalui Ketua Presidium Pdt Roy Lengkong STh, agar dicanangkannya Manado sebagai Kota Berdoa.

”Saya rasa usulan dari BKSAUA ini sangat baik bagi kita semua. Sehingga, kita perlu cari waktu untuk melaksanakan kegiatan pencanangan ini. Karena bagi saya, semakin banyak orang berdoa untuk kota ini, saya yakin Kota Manado akan selalu dijaga dan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa dari berbagai cobaan,” kata Wali Kota Vicky Lumentut, seraya menyampaikan selamat ulang tahun ke-60 kepada Ketua BKSAUA Manado Pdt Roy Lengkong STh.

Melalui kesempatan itu pula, Wakil Walikota Mor Dominus Bastiaan SE menyerahkan piala kategori layanan darurat Best Emergency Service Center in the World 2018, yang diraih Call Center Manado Siaga112 dalam ajang Contact Center World Global 2018, di Praha, Republik Ceko, kepada Wali Kota GSVL.

Wali Kota Manado, Wawali Manado dan Sekretaris Daerah Kota Manado saat menerima penghargaan (FOTO Ist)

Agar diketahui, Piala tersebut diperoleh Kota Manado setelah melewati kompetisi yang diselenggarakan Contact Center World di Jakarta, kemudian mewakili Indonesia pada tingkat Asia Pasific di Macau, Cina dan terakhir mewakili Negara-Negara kawasan Asia Pasific pada tingkat dunia di Praha.

Tatap muka Pemkot Manado dan pimpinan golongan agama tersebut, diakhiri dengan penyerahan insentif pemerintah secara simbolis kepada rohaniawan. Turut hadir Sekretaris Daerah (Sekda) Manado Micler CS Lakat SH MH, para anggota presidium BKSAUA Kota Manado serta ratusan pimpinan umat beragama se-Kota Manado. (*/Redaksi)

Pemkot Manado, UNIMA dan PMI Salurkan Bantuan untuk Palu

Tim pemkota Manado, PMI Manado dan UNIMA saat berada di Kota Palu (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Kepedulian terhadap insiden bencana alam di Sulawesi Tengah (Sulteng) terutama Kota Palu, Donggala dan Sigi terus mengalir dari pemerintah Kota Manado. Jumat (16/11/2018), pemerintah Kota Manado bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Manado dan Universitas Negeri Manado (UNIMA) membawa bantuan ke Kota Palu.

Sekedar diketahui, penyerahan bantuan tersebut dilakukan langsung Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Manado sekaligus Ketua PMI Manado dan Rektor UNIMA Prof DR Julyeta PA Lumentut Runtuwene MS DEA, kepada korban bencana Palu, Donggala dan Sigi secara simbolis.

Didampingi Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Manado Drs Sammy Kaawoan, Prof Paula sapaan akrab isteri tercinta Wali Kota DR GS Vicky Lumentut ini melihat dari dekat kondisi korban bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi Palu, Donggala dan Sigi di camp pengungsian.

”Kita sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Kota Palu termasuk di Kabupaten Donggala dan Sigi. Sehingga, bantuan kemanusiaan kita kumpulkan terjus baik dari pemerintah Kota Manado, dari PMI dan dari UNIMA serta bantuan lainnya dan kita bawa ke Palu untuk diberikan kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana disini,” kata Prof Paula.

Penyerahan bantuan dari Rektor UNIMA didampingi Kadis Sosial Kota Manado (FOTO Ist)

Prof Paula dan rombangan bertemu dan bertatap muka dengan Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah Drs Moh Hidayat Lamakarate MSi di Kantor Gubernur Sulteng, Jalan Sam Ratulangi Palu. Seperti diketahui, sejak terjadinya bencana di Provinsi Sulawesi Tengah, Pemkot Manado telah mengirimkan empat kali bantuan kemanusiaan melalui jalur darat.

Bantuan juga dibawa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun diantar langsung bersama rombongan pejabat Pemkot dan relawan. Bantuan yang diberikan Pemkot Manado berupa bahan makanan, pakaian dan obat-obatan serta tenaga medis dan sukarelawan. (*/Redaksi)

Tingkatkan Budaya Literasi, HMI Cabang Manado Gelar Training Jurnalistik

Amas Mahmud saat memaparkan materi (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Organisasi kemahasiswaan estra kampus yang dikenal selalu memelihara tradisi literasi yaitu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis yang juga menjadi nafas serta ciri khas dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), eskalasinya terus dijaga. Kamis (15/11/2018), bertempat di Sekretariat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Manado, pengurus HMI Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Manado menggelar kegiatan HMI Training.

Dengan sub tema: Pelatihan Jurnalistik dan Administrasi, para pembicara yang dihadirkan diantaranya; Ifan A.R. Umanahu Sekretaris Umum HMI Cabang Manado dan Sekretaris DPD KNPI Manado, Amas Mahmud, yang juga jurnalis. Dalam sambutan pembukaan training Ketua Umum HMI-MPO, Sahlan Abarang menyebutkan pentingnya pelatihan ini dilaksanakan agar kader-kader HMI Cabang Manado mengenali dan mengetahui apa itu jurnalistik, sekaligus makin paham hal ihwal adminstrasi organisasi.

”Ini merupakan program pengurus Cabang, dimana program HMI Training memberikan kesempatan kepada seluruh kader dari lintas Komisariat dan juga pengurus Cabang untuk ikut menimbah dan menambah ilmu. Atau melakukan simulasi menulis tentang jurnalistik dalam pelatihan ini. Selain itu kegiatan juga akan diberikan sesi untuk pembahasan terkait administrasi yang akan disampaikan Sekretaris HMI-MPO Cabang Manado. Untuk materi jurnalistik nanti dibahas Kanda Amas Mahmud, yang merupakan jurnalis sekaligus Sekretaris DPD KNPI Manado,” ujar Sahlan mahasiswa Fakultas Hukum Unsrat Manado ini tegas.

Suasana dalam semangat kebersamaan (FOTO Suluttoday.com)

Sebagai pembahas pada segmen pertama, Amas menyentil sejumlah peran penting yang diperlukan seorang jurnalis. Menurut jebolan FISPOL Unsrat Manado ini tantangan jurnalis dari waktu ke waktu juga mengharuskan jurnalis tersebut meningkatkan kemampuannya. Hal yang juga penting menjadi catatan dalam mengembangkan semangat menulis pun disampaikan pemateri.

”Selain mengenali kerangka atau metode penulisan jurnalistik, kita perlu mengetahui bahwa jurnalis itu pekerjaan mulia. Ia harus mampu adil, berpihak pada kebenaran, profesional, menjalankan tugas sebagai media atau perantara, sehingga demikian dalam tugas-tugas jurnalistik para jurnalis diwajibkan patuh pada Undang-Undang jurnalistik, kaidah penulisan jurnalistik, kode etik jurnalis. Pedoman yang menjadi semacam rujukan jurnalis harus benar-benar konsisten dijalankan, selanjutnya dari beragam tantangan maka jurnalis perlu tiap saat meningkatkan kapasitasnya. Untuk skema menulis ala jurnalis sendiri harus berdasar pada 5W1H, kemudian kiat memulai menulis, prinsipnya yang perlu dipegang ialah harus berani memulai menulis, mengetahui apa yang ditulisnya dengan ritme dan pola yang sistematis,” kata Amas yang pernah menjadi Ketua Umum Jurnalis Online (Jarod) Manado itu.

Kompak, para pengurus KOHATI HMI Cabang Manado (FOTO Suluttoday.com)

Selanjutnya Sekretaris Umum HMI-MPO Manado Irfan menyampaikan materi terkait atribut, karakter, model, ‘kodefikasi’, atau penanda dari suatu administrasi dalam organisasi itu perlu dikenali. Karena tidak bisa sembarangan administrasi organisasi itu begitu pentingnya, sehingga dari administrasi organisasilah yang tergambarkan bagaimana wajah dan wibawa organisasi itu terlihat.

”Kader HMI harus dibekali, dikenalkan tentang administrasi HMI karena dalam surat-menyurat HMI itu tidak sembarang. Mulai dari kop surat, warna, logo, model surat, spasi, dan seterusnya sampai pada teknis yang detail juga HMI sangat jelih memperhatikan ini. Administrasi di HMI menggambarkan kewibawaan, citra dan tertibnya HMI, tidak asal-asalan urusan administrasi di HMI, itu sebabnya pelatihan ini harus kita lakukan, bagi peserta pelatihan yang tidak memahami kita berikan ruang untuk bertanya,” tutur Ifan, Kamis (15/11/2018). (*/Redaksi)

Foto bersama usai diskusi (FOTO Suluttoday.com)

iklan1