Category: Berita Utama

Hebat, Jokowi Presiden Sukses

Bung Amas (FOTO Suluttoday.com)

Penulis : Bung Amas, Pegiat Literasi

PEMERINTAHAN Jokowi dua periode memang menampilkan ciri tersendiri. Di era ini kita sering menjumpai dualisme. Terjadi dualisme partai politik, konfilik yang dipicu secara internal. Bahkan sampai merembet ke organisasi kepemudaan, kemahasiswaan. KNPI dan HMI sebut saja diantaranya. Keterbelahan atau polarisasi di tingkat pusat begitu telanjang.

Ketika Jokowi menjadi Presiden, kita menemukan pula pembubaran organisasi. Sebut saja, HTI dan juga FPI. Kedua organisasi ini seperti diketahui merupakan elemen ormas yang giat mengkritik pemerintahan Jokowi. Tidak hanya itu, pemerintahan Jokwi juga cukup membangun jarak dengan kalangan umat Islam. Terlebih umat Islam yang memiliki afiliasi gerakan dengan HRS. Atau berbau Anies cs.

Pemerintahan yang harusnya mengakomodasi friksi di tengah masyarakat. Untuk kepentingan mengintegrasikan. Malah, turut mengambil posisi membelah masyarakat. Peran menjadi magnet, sekaligus mewadahi konflik masyarakat terutama entitas partai politik. Seperti terabaikan. Pemerintah Jokowi malah sibuk memupuk konflik kepentingan.

Rupanya pemerintah perlu membuka paradigma baru tentang pembangunan. Agar mereka, kelompok politik dan elemen masyarakat yang berbeda kepentingan dapat terfasilitasi. Tidak menyumbangkan pikiran dan tindakan untuk memperbesar konflik kepentingan. Peran melahirkan rekonsiliasi politik, kelihatannya belum dibangun Jokowi.

Bergabungnya Prabowo masuk ke Kabinet Jokowi-Ma’ruf, bukan berarti mengakhiri konflik kepentingan politik. Kini konflik kepentingan malah dirawat, terformulasi dalam situasi yang berbeda. Tergambar dalam interaksi yang ramah dan penuh saling hormat, harmoni. Citra itu dapat dilihat dalam koalisi nasional yang dibangun PDI Perjuangan – Partai Gerindra. Relasi kepentingan itu belum benar-benar mengakar.

Kemungkinan terjadi perpecahan kongsi atau koalisi terjadi. Sebelum Pilpres atau Pemilu 2024 kemauan bersama berpeluang terbelah. Hal itu sejalan dengan watak Jokowi yang selalu bermain aman dalam percaturan politik. Presiden Jokowi tidak berkarakter menjadi juru damai. Nampak, Jokowi kekurangan cara menjadi pemberi solusi yang baik dalam pertarungan kepentingan.

Indonesia mengalami jalan mundur. Di tangan Jokowi sejumlah prahara terjadi. Rencana Ibu Kota Negara dipindahkan juga sampai sekarang belum jelas. Kemunduran yang paling terasa ialah hutang di Negara ini makin bertambah. Hingga akhir Desember 2020 Indonesia tercatat memiliki utang sebesar Rp. 6.074,56 triliun. Dibanding 2019 nilai utang Indonesia meningkat Rp. 1.296 atau 27,1 persen.

Terbaru, diakhir Januari 2021 utang Indonesia sudah menembus Rp. 6.233,14 triliun. Makin hari makin meningkat. Jokowi termasuk Presiden pencetak utang dan beban kepada masyarakat yang terkenal. Bukan prestasi kesejahteraan yang dicetak malah utang. Begitu memalukan. Inilah kegagalan nyata Jokowi sebagai Presiden Indonesia.

Jokowi hebat, menjadi Presiden sukses. Dimana ia mencetak hutang yang diwariskan untuk pemerintahan berikutnya. Jokowi sukses menjadikan anak-anaknya Kepala Daerah. Sedih rasanya harapan masyarakat terhadapnya pupus. Belum lagi disektor kebijakan publik. Banyak problemnya, ekspektasi masyarakat tak sesuai realita. Tidak terkendalinya korupsi yang dilakukan Kabinetnya. Mungkin karena Jokowi tidak melibatkan KPK dalam menyeleksi Menteri-Menterinya. Jebol akhirnya, Jokowi menampung koruptor. Buktinya ada 2 Menteri terlibat korupsi, memalukan.

Sinergitas PDI Perjuangan Dinanti Masyarakat Sulut

Adrian Yoro Naleng (Foto Suluttoday.com)

Penulis : Adrian Yoro Naleng, Penulis Buku OD-SK Moving Forward

Cinta dan Sinergi adalah dua kata yang membayangi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Sulawesi Utara sejak kontestasi kekuasaan Pilkada 2020 sampai 2024 nanti. Sebab, tepat hari Minggu 13 Desember 2020 saat telah terkonfirmasi kemengan telak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dalam Pilkada serentak 9 Desember 2020 di Sulawesi Utara (Sulut), Ibu Megawati Soekarno Putri (Bu Mega) melalui Sekjen Hasto Kristianto, menitipkan salam hangat untuk warga Sulawesi Utara, lebih khusus pemilih PDI-P “Makase So bapilih, torang samua cinta Sulawesi Utara, Torang samua basudara”.

Mendahului pesan Cinta Bu Mega, kata Sinergi telah menjadi kata sakti kandidat, Tim pemenangan atau bahkan pendukung PDI-P di berbaggai kabupaten/kota yang dipakai untuk meyakinkan pemilih bahwa kandidat dari PDI-P membawa harapan sinergitas politik antar level pemerintahan (Pusat-Provinsi-Kabupaten). Kini pilkada telah usai, kontestan pemenang Gubernur-Wakil Gubernur, Bupati-Wakil Bupati serta Walikota-Wakil Walikota yang hampir seluruhnya dari PDI-P, sebagian telah dilantik.

Karena itu kita bertanya bagaimana dengan pesan Cinta dan Sinergi PDI-P? Bagaimana kita memahami pesan cinta dan sinergi tersebut dalam narasi politik? Dan bagaimana cinta dan sinergi diwujudkan dalam relasi pemerintahan yang kompleks dan politis sehingga dapat menghasilkan buah yaitu kesejahteraan rakyat? Tulisan singkat ini berupaya mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang diawali dengan memaknai cinta dan sinergi dalam politik, kemudian mendiskusikan bagaimana sinergi dikonstruksi sebagai model tata kelola pemerintahan yang kompleks dan politis. Sehingga pada akhirnya kita bisa menagi buah dari pesan cinta dan sinergi yang ditebar untuk masyarakat Sulawesi Utara.

Cinta dan Sinergis: Perspektif Politik

Suara Cinta PDI-P yang sejuk melalui Bu Mega bagi warga Sulut tentu bukan cinta personal. Suara Cinta itu penting dimaknai dalam trajektori kontestasi kekuasaan. Sebab, kita seperti baru mengangkat kepala dari sungai kontestasi Pilkada langsung yang berisiko dan menakutkan. Dengan mata telanjang kita menyaksikan sampah-sampah perpecahan mengapung akibat perbedaan pilihan. Sinisme dan fitna begitu kental mengalir mengikuti alur kontestasi.

Sebagian besar kekuatan jeraring sosial yang fundamen termasuk organisasi keagamaan juga ikut menanggung rembesan air kotor kontestasi. Bersamaan dengan itu, risiko kesehatan akibat Pilkada di masa pandemi Covid-19 mengintai semua pihak yang terlibat, yang efeknya sampai kini masih kita rasakan. Dalam trajektori kontestasi kekuasaan tersebut, pesan Cinta PDI-P menemukan relevansi yang sangat mendasar. Karya akademik Eleanor Wilkinson yang diberi judul On love as an (im)properly political concept, menjelaskan bahwa cinta dalam politik sangat dibutuhkan.

Cinta telah diteorikan sebagai cara untuk membangun kembali komunitas yang terpecah, dan Cinta potensial untuk mengatasi perbedaan, sebab Cinta menentang kekerasan dan dominasi. Lebih jauh dalam buku Love and Politics, Eszter Kováts mengurai bahwa Cinta adalah perasaan komunal yang mendalam. Cinta dalam politik jauh dari “masalah pribadi” yang menyangkut dua orang yang sedang jatuh cinta. Cinta adalah tautan penghubung yang berharga bagi komunitas.

Karena itu Cinta mendorong emansipasi dan transformasi pembangunan yang melibatkan dan untuk semua pihak. Meskipun Cinta adalah kekuatan yang mengikat individu-individu yang berbeda dan terpecah menjadi sebuah gerakan kolektif yang lebih tangguh, kita perlu memikirkan ambivalensi pesan cinta PDI-P dalam politik yang dinamis, karena bagaimanapun cinta bisa menyenangkan tetapi juga bisa menyakitkan. Cinta dalam politik bisa bertahan lama tetapi juga bisa hanya sasaat, atau cinta dalam relasi pemerintahan yang multy level bisa ekspansif tetapi juga bisa berkontraksi.

Maka untuk menjaga kehangatan pesan Cinta PDI-P, kata Sinergi yang sejak awal menjadi tool dalam marketing dan strategi politik, harus mampu “bermetamorfosis” sehingga dapat memfasilitasi komitmen PDI-P untuk terus berjuang bersama rakyat, dan mampu membersihkan suangai imajiner kontestasi kekuasaan, dan mengeringkan pakaian masyarakat yang basah oleh air kotor dari sungai imajiner itu. Kata Sinergi adalah kata yang dipinjam dari bahasa Latin “synergia” yang menggabungkan dua akar kata yang diturunkan dari bahasa Yunani yaitu “syn-” yang berarti “bersama”, dan “ergon” yang berarti “bekerja”.

Kata Sinergi pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada abad ke-17, yang digunakan oleh para teolog untuk merujuk pada kerja sama antara kehendak manusia dan kasih karunia Allah. Tetapi baru pada akhir abad ke-20 Kata sinergi kemudian menjelma menjadi kata yang sangat terkenal di bidang pengembangan kepribadian dan organisasi. Stephen R. Covey adalah salah satu penulis yang mentransformasikan kata Sinergi melalui buku International best-seller-nya “The Seven Habits of Highly Effective People” dimana sinergi menurut Covey adalah salah satu ciri manusia efektif.

Dalam literatur Ilmu politik kontemporer, kata sinergi muncul dan popular digunakan sebagai kritik terhadap sistem dan model pemerintahan hirarki tradisional diakhir abad ke-20. Model organisasi hirarki tradisional dianggap bermasalah dimana fitur-fitur yang dijadikan alat organisasi pemerintahan untuk bekerja lebih efektif, tidak dapat berfungsi secara maksimal karena over control dan dominasi.

Pada saat bersamaan, pemerintahan hirarki tidak dapat menyelesaikan masalah yang kompleks di ruang publik, sehingga pemerintah membutuhkan berbagai pihak untuk bersinergi. Dari sinilah muncul apa yang disebut sebagai tata kelola (governance) yang dalam penerapannya biasa kita temukan menggunakan konsep kunci seperti Good Governance, New Public Management, Inter-governmental relations, Multy level governance dan self-steering atau non-self-steering atau tata kelola jaringan.

Metamorfosis Sinergi: Membangun Tata Kelola jaringan

Pemahaman Cinta dan Sinergi dalam ruang politik adalah sebuah interpretasi atas narasi. Dan sebuah narasi hanya dimaksudkan untuk menghidupkan akal dan menguji ide dalam wacana. Yang jauh lebih penting dari itu adalah komitmen moral untuk mewujudkan cinta melalui kerja sinergis sehingga rakyat menikmati buah cinta itu. Sebab bersinergi dalam ruang kekuasaan dengan berbagai aktor, melalui relasi politik dalam jaringan pemerintahan yang kompleks juga potensial mengakibatkan pemerintahan tidak lagi kuat sebagai sebuah sistem kekuasaan di level pemerintahan tertentu.

Kita harus jujur, bahwa ruang kekuasaan yang sekarang dikendalikan oleh PDI-P di level pemerintahan Provinsi dan sebagian besar kabupaten/kota di Sulawesi Utara merupakan ruang yang bermanfaat secara ideologis sekaligus menggiurkan. Tetapi ada banyak contoh lain yang dapat disebutkan dimana kejahatan politik justru terjadi dalam ruang kekuasaan itu. Besarnya legitimasi kekuasaan untuk mengendalikan struktur birokrasi dan jaringan dalam relasi kekuasaan, seringkali dimanfaatkan untuk membajak kepentingan rakyat tanpa peduli pada kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

Ruang itu juga sering digunakan untuk membangun kolusi merampok hak rakyat, tanpa peduli rakyat kesulitan mengakses kebutuhan dasarnya. Ruang itu juga dijadikan tempat oligarki berkumpul (para oligark dan elit) untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri dengan memangkas apa yang semestinya di dapatkan oleh rakyat dari proyek-proyek pemerintah. Dan dalam banyak kasus, kemiskinan, ketimpangan, kesenjangan dan layanan publik yang buruk di daerah justru disebabkan oleh pemimpin pemerintahan yang suka tebar pesona cinta dan vokal munyuarakan perjuangan bersama rakyat tetapi abai mengurus ruang kekuasaannya.

Saya menyebut contoh kegagalan pengelolaan ruang kekuasaan ini bukan supaya orang menjadi pesimis atau putus asa, tapi untuk mengingatkan kita semua bahwa untuk mencapai perubahan yang berarti, kita harus memulai dengan penilaian jujur tentang di mana keberadaan kita sekarang dan bagaimana komitmen moral pemimpin pemerintahan untuk membangun sinergi. Maka langkah PDI-P untuk melakukan metamorfosis Sinergi dari marketing politik menjadi tata kelola jaringan penting dilakukan.

Sinergi dalam tata kelola jaringan pemerintahan adalah sebuah kemampuan leadership dan komitmen moral untuk membangun jaringan pemerintahan yang multi-level, menghidupkan relasi partisipatoris aktor publik, swasta, dan masyarakat, termasuk individu, kelompok, organisasi, dan organisasi politik dalam satu paket kebijakan. Jadi sinergi bukan saja sinergi vertikal antar level pemerintahan, tapi juga sinergi horisontal bersama elemen-elemen masyarakat. Apakah ini hal yang Sulit diwujudkan? Tentu tidak.

Studi evaluasi kualitatif yang Lembaga Kajian Pemerintahan dan Strategi Pembangunan (LKPSP) lakukan dalam satu periode pemerintahan Pak Olly Dondokambey dan Pak Steven Kandouw (ODSK) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur menjunjukan praktik tata kelola jaringan pemerintahan yang sangat baik. ODSK berhasil mensinergikan visi, kepentingan dan kekuasaan pemerintah pusat (yang dominan) dengan Provinsi dan Kabupaten Kota, mengarahkan partai politik, mengakomodasikan kepentingan swasta, menggerakan birokrasi untuk berinovasi, membangun gotong royong dengan tokoh agama dan masyarakat.

Hasilnya, progesifitas ekonomi dan kemajuan diberbagai bidang dapat dinikmati masyarakat (Kami memberi catatan khusus saat Pandemi). Karena itu penting ditegaskan bahwa kunci keberhasilan membangun sinergi untuk mengelola jaringan pemerintahan terletak pada kredibilitas moral politik dan kapasitas leadership yang mampu mengintegrasikan kepentingan aktor dalam jaringan pemerintahan melalui paket kebijakan pemerintahan.

Oleh karena itu, sebagai tanda kepemimpinan yang terbangun dalam satu gerbong ideologis dan perjuangan maka pemimpin pemerintahan dari PDI-P di Kabupaten/Kota harus mampu membangun tata kelola jaringan sebagai jalan untuk bersinergi dan gotong royong sekaligus menunaikan tanggung jawab ideologis. Sebab dengan sinergi dan gotong-royong pemimpin akan menggerakkan elemen masyarakat untuk berjuang bersama dan mengawal kerja politik ideologis yang membumi untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya. Dari situlah kita akan menemukan bahwa Cinta dan Sinergi memiliki makna yang aktif, dinamis sekaligus ideologis bagi PDI-P.

Cinta dan Sinergi buka kata-kata tanpa makna. Ia harus mewujud dalam tata kelola jaringan untuk menghasilkan kebijakan yang mensejahterakan masyarakat. Karena hanya dengan begitu, masyarakat akan memahami bahwa Cinta dan Sinergi PDI-P bukanlah jalan politik yang semata-mata hanya untuk meraih kekuasaan, tetapi Cinta dan Sinergi akan nyata dan bersatu dengan rakyat dalam bahasa kemanusiaan. Masyarakat Sulawesi Utara menanti buah cinta yang menyenangkan bukan yang menyakitkan, buah cinta yang bertahan lama bukan yang datang sesaat di musim Pemilu tiba. Salam…

 

________________________

Penulis juga merupakan Sekretaris Eksekutif Lembaga Kajian Pemerintahan dan Strategi Pembangunan (LKPSP)

Mendagri Perintahkan Gubernur Sulteng Segera Lantik Sofyan Ablit

Sofyan Kaepa, SH dan Ablit, SH (Foto Istimewa)

JAKARTA, Suluttoday.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak tahun 2020 mencapai tahapan pelantikan. Proses pelantikan tentu dilakukan kepada mereka yang menang dalam kompetisi, 9 Desember 2020. Salah satunya di Kabupaten Banggai Laut Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Bupati dan Wali Bupati terpilih yakni Sofyan Kaepa, SH dan Ablit Ilyas, SH telah bersiap untuk dilantik.

Selanjutnya, Sofyan-Ablit yang menang di Pilkada Banggai Laut (Balut) itu, Rabu (24/2/2021) terinformasi sudah berada di Kota Palu untuk menanti pelantikan. Pada Surat Kementerian Dalam Negeri, yang dimaksudkan untuk penyempaian keputusan Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur Sulteng, Selasa (23/2/2021) bersifat segera digelarnya pelantikan Bupati Balut.

Dalam lampiran Keputusan Mendagri Nomor: 131.72-295 tahun 2021 tentang pengesahan pengangkatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah hasil Pilkada 2020 di Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sulteng. Tercamtum nama Sofyan Kaepa dan Ablit dalam lampiran yang ditandatangani Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian.

Keputusan tersebut ditetapkan di Jakarta, Senin (22/2/2021). Berdasarkan salinan surat yang ditujukan kepada Gubernur Sulawesi Tengah, Menteri Dalam Negeri memerintahkan dua hal. Yang pertama, melaksanakan pelantikan kepada saudara Sofyan Kaepa, SH dan saudara Ablit, SH sebagai Bupati dan Wakil Bupati Banggai Laut masa jabatan tahun 2021-2026 sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Kedua, menyampaikan laporan dan Berita Acara pelantikan kepada Menteri Dalam Negeri C.q Direktur Jenderal Otonomi Daerah. Yang bertandangan, atas nama Menteri Dalam Negeri Drs. Akmal Malik, M.Si, Direktur Jenderal Otonomi Daerah.

Di tempat terpisah, Kepala Bagian Fasilitasi Kepala Daerah dan Hubungan Antara Lembaga Biro Otonomi Daerah Provinsi Sulteng, Rifki Anata membenarkan bahwa pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Banggai Laut akan dilaksanakan Jumat (26/2/2021). Bony begitu Rifki akrab disapa mengingatkan soal teknis pelantikan diatur sesuai protokol kesehatan.

‘’Bahwa dalam ruangan tidak lebih dari 25 orang. Cukup Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang dilantik serta rohaniawan. Kemudian terkait teknis pelantikan, ranahnya Biro Humas Pemprov Sulteng. Mereka yang tentukan. Begitu hasil rapat virtual, Rabu (24/2/2021) siang tadi,’’ kata Rifki.

(*/Amas)

BP2MI Bersinergi, Gelar Sosialisasi di SMK 6 Kota Manado

Kepala BP2MI Manado ketika menyampaikan sosialisasi (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Unit Pelaksana Teknis (UPT) BP2MI Manado bersinergi dengan SMK 6 Manado untuk penempatan Care Worker ke Jepang Selasa tanggal 16 Februari 2021, UPT BP2MI Manado kembali mensosialisasikan peluang kerja sebagai Care Worker ke Jepang lewat program SSW, yang kali ini dilaksanakan di SMK 6 Manado.

Sosialisasi yang diadakan atas prakarsa dari SMK 6 ini, dihadiri oleh ± 60 peserta dari jenjang kelas 11 jurusan Keperawatan. Kepala UPT BP2MI Manado, Hendra Makalalag langsung turun untuk memberikan materi terkait peluang dan persyaratan yang dibutuhkan untuk bekerja ke Jepang sebagai Care Worker.

Ditemui ditempat pelaksanaan acara, Kepala UPT BP2MI Manado menyebutkan bahwa peluang kerja ke Jepang sebagai Care Worker ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh anak muda Sulawesi Utara. UPT BP2MI Manado menggandeng Yayasan Mulia Mandiri Abadi dalam sosialisasi peluang kerja ke luar negeri khususnya Jepang.

”Peluang kerja ke Jepang sebagai Care Worker melalui program SSW adalah program antara pemerintah Jepang dan pemerintah Indonesia untuk itu harus dimanfaatkan dengan baik karena legalitas program ini tidak perlu diragukan lagi. Untuk Care Worker sendiri, pemerintah Jepang memerlukan sekitar ±60.000 calon pekerja yang dibagi dengan negara-negara Asia lainnya. Untuk itu Indonesia menargetkan untuk menempatkan sekitar 20% dari kuota yang ada,” ujar Makalalag.

Lebih lanjut Hendra menegaskan bahwa calon pekerja asal Indonesia adalah calon pekerja yang banyak diminati oleh perusahaan-perusahaan di Jepang.

”Calon pekerja asal Indonesia termasuk unggul dibanding calon pekerja dari negara lain. Hal ini dikarenakan orang Indonesia terkenal ramah, rajin dan pekerja keras sehingga banyak disukai oleh para pemberi kerja di negara Sakura karena sangat cocok untuk ditempatkan sebagai Care Worker,” tutur Makalalag.

Suasana sosialisasi UPT BP2MI Manado (Foto Istimewa)

Tidak hanya itu, Makalalag juga menyebutkan bahwa gaji sebagai Care Worker di Jepang terbilang fantastis.

”Gaji untuk jenjang pemula saja bisa berada di angka Rp. 20 jutaan/bulan. Belum termasuk lembur dan bonus tahunan. Tidak hanya itu, ijin tinggalpun terbilang cukup lama yaitu 5 tahun. Jadi bisa dibayangkan berapa penghasilan yang bisa didapat dalam kurun waktu 5 tahun si pekerja bekerja di Jepang,” ujar Makalalag.

Kepala BP2MI Manado ini berkomitmen mendorong seluruh peserta yang ada dalam sosialisasi ini untuk mendaftarkan dirinya untuk ikut dalam program SSW.

”Persyaratan untuk melamar sebagai Care Worker cukup mudah yaitu minimal berusia 18 tahun, memiliki ijasah SMA/SMK, dan mempunyai kemampuan berbahasa Jepang setara N4. Karenanya setelah lulus bisa langsung mendaftarkan diri untuk ikut program SSW. Untuk kemampuan bahasa tidak perlu khawatir karena kini di Sulawesi Utara sudah ada beberapa lembaga pelatihan yang bisa memfasilitas,” kata Makalalag.

(*/Amas)

Alm DR SHS di Mata DR Harley Mangindaan

Dr Harley Mangindaan saat bersama Alm. Dr SHS (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Masyarakat Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) diselimuti kabut duka dengan meninggalnya, Dr. Sinyo Harry Sarundajang (SHS). Figur yang dikenal sebagai Gubernur Sulut 2 periode itu telah meninggalkan kita semua. Kenangan, kiprah dan kontribusi yang diberikannya tidak sedikit untuk warga Sulut.

Sosok politisi senior yang pernah menjadi Gubernur Maluku dan Maluku Utara itu di Dr. Harley Mangindaan adalah sebagai figur yang luar biasa. Harley Mangindaan, Wakil Wali Kota Manado periode 2010-2015 ini menyampaikan turut berbelasungkawa yang dalam. Dan merasa kehilangan tokoh negawaran hebat seperti SHS.

”Turut berduka, dan tentu kami sekeluarga merasa kehilangan atas kepergian Om Sinyo. Beliau sangat berjasa terhadap kemajuan Sulawesi Utara. Sosok yang menjadi teladan, sekaligus guru buat saya dan bahkan kita semua warga Sulawesi Utara. Almarhum (Alm) merupakan sosok pemimpin yang luar biasa, tapi selalu sederhana,” kata Harley Mangindaan, Sabtu (13/2/2021).

Harley menuturkan dirinya yang wajib selesaikan studi Strata 3 (Doktor) di Universitas Hasanuddin Makasar, memiliki keheranan dikala itu tentang Indonesia dalam posisi strategis di mata Dunia khususnya Asia. Begitu beruntung tentu, tambah Harley dirinya bersentuhan dan meminta bimbingan SHS.

”Dasar tersebut di angkat juga dari Gelar Magister Sains Marketing yang di dapati pada Universitas Indonesia. Daftar pustaka yang pertama di baca adalah “geopolitics, SHS” di gabungkan dengan pemahaman tentang Strategi Marketing pariwisata Kota Manado (2000), maka muncullah judul Geotourism,” ujar Harley.

Ketika itu Ai Mangindaan, sapaan akrab Harley bertemu khusus dengan Alm SHS untuk permisi akan melakukan Studi merinci apa yang sudah di ciptakan tersebut. Seperti dikisahkannya. Pada saat itu Alm Om sinyo, begitu sapaan akrab SHS bagi Ai Mangindaan, menyapa “Ai, kita bimbing pa ngana sampai klar, dan jangan sungkan sungkan diskusi, walau saya padat tamu tp ngana kita prioritas, maju terus nyong, jago ngana”.

”Foto tersebut adalah sejarah bahwa Alm Om Sinyo sangat perhatikan generasi penerus Sulut. Dan Ai pun menyerahkan materi disertasi kepada semua penguji, promotor dan juga promotor eksternal. Desertasi berjudul geotourism holistic: ‘Peningkatan daya saing kekayaan sumber daya warisan dan buatan dengan cara mengintegrasikan manajemen destinasi, pembangunan infrastruktur serta fasilitas pendukung dengan memperbaiki kondisi situasional secara holistik’. Dipresentasikan Ai Mangindaan,” tutur Bang Ai Mangindaan.

Untuk diketahui, lokus penelitiannya desertasi tersebut adalah di Kota Manado, Minahasa Utara dan Bitung, hasilnya, ODSK pun menjadikan konsep berpikir bangun Sulut berdasarkan fakta empiris Harley Mangindaan, 2014 lalu.

”Trimakasih om Sinyo yang telah mempertajam generasi bangsa. Tuhan memberkati dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan,” kata Bang Ai menutup.

(*/Amas)

iklan1