Category: Berita Utama

Menarik, Bupati James Beri Dukungan ROR-MOR untuk Pilwako Manado

Bupati James Sumendap (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Setelah batal maju dalam momentum Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado 2020, James Sumendap, SH, Bupati Minahasa Tenggara (Mintra) ternyata punya kesamaan visi beberapa politisi lainnya. James yang adalah Ketua DPC PDIP Mitra itu menyampaikan terima kasih kepada simpatisan yang telah rela dan setia mendukung dirinya maju di Pilwako Manado 2020.

”Dengan ini saya menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada simpatisan yang ada di Manado dan saya mohon maaf atas pernyataan-pernyataan saya yang membuat para calon merasa gelisah atau terganggu akibat dari opini-opini yang terbangun selama ini,” kata Sumendap.

Jebolan Aktivis GMNI itu bahkan membuka siapa figur yang dinilainnya layak memperjuangkan visi politik dan program yang dibawanya untuk warga Kota Manado. Tidak hanya itu, James menyebutkan dua nama yang dinilainya punya kemiripan dengannya untuk melayani warga Manado.

”Semoga mimpi saya bisa terwujud apabila Wali Kota Manado dapat merealisasikan progaram-program paling tidak “sedikit sama” dengan ada di Minahasa Tenggara. Kalau ditanya siapa yang bisa merealisasikan mimpi saya itu, ada pada ROR-MOR. Mereka berdua adalah pasangan yang mungkin dapat merealisasikan mimpi-mimpi saya di Kota Manado. 3R for Manado, dan salam Gladiator,” ujar James kepada Suluttoday.com, Senin (9/12/2019).(*/Amas)

James Sumendap Putuskan Tidak Maju di Pilwako Manado, Ada Apa?

James Sumendap (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Konstalasi politik di kancah Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado 2020 bakal memanas. Sejumlah nama dari kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mulai digembar-gemborkan akan keluar dan direkomendasi Partai berlambang Moncong Putih ini. Menariknya, James Sumendap, SH, Bupati Minahasa Tenggara (Mitra), juga Ketua DPC PDIP Mitra malah memilih jalan lain.

Politisi senior yang awalnya cukup ramai diperbincangkan dan didorong maju sebagai calon Wali Kota Manado, ternyata memberi kejutan. Saat diwawancarai Suluttoday.com, Senin (9/12/2019), melalu WhatsApp menyampaikan telah mengurungkan niat bertanding di Manado. Alasannya, Bung James sapaan akrab Sumendap dirinya masih mengabdi kepada warga Mitra.

”Setelah membaca situasi di Kota Manado dengan perhitungan matang. Jabatan saya di Minahasa Tenggara masih 3 tahun 10 bulan. Masa jabatan saya berakhir 25 September 24, sementara Pilkada serentak tahun 2024. Dari hitungan matematika jabatan saya di Kota Manado kalu menjadi Wali Kota hanya kurang dari 4 tahun. Oleh karena itu saya memutuskan tidak maju dalam hajatan pemilihan Wali Kota Manado,” ujar Bung James.

Tidak hanya itu, Sumendap menambahkan bahwa untuk kepentingan politik kedepan biarkan dinamika demokrasi berjalan sebagaimana adanya. Menurutnya saat dirinya tidak maju di Pilwako Manado bukan berarti karir politiknya akan tamat. Bung James optimis kedepan akan ada hal-hal positif yang akan dilaluinya.

”Untuk agenda politik kedepan biarlah waktu yang akan mengiringi proses politik dari hari ke hari, sampai waktu yang akan datang. Pilkada Manado bukan akhir dari sebua perjuangan, tapi ini adalah awal dalam lompatan-lompatan keatas di masa yang akan datang,” tutur Bupati Mitra dua periode ini. (*/Amas)

Bertarung di Boltim, Suhendro Boroma Datangi Sekretariat Partai Golkar

Suhendro Boroma saat mendaftar (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Tensi politik di Pemilihan Bupati (Pilbup) Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tahun 2020 bakal kencang. Betapa tidak, para kompetitor yang bertarung terhitung memiliki basis kekuatan tinggi, lihat saja hadirnya Suhendro Boroma.

Om Edo begitu Suhendro akrab disapa, menyampaikan setelah dirinya kukuh ikut bertarung, ia langsung mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Bahkan, beberapa partai politik besar pun ikut melirik figur yang dikenal dekat dengan rakyat ini.

Buktinya, akhir pekan kemarin Om Edo memenuhi undangan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Senin (9/12/2019) siang, pria yang juga Presedium KAHMI Sulut terpilih ini, penuhi undangan Partai Golkar.

Om Edo didampingi Suardi Hamza, Afandy Basso, tiba di Kantor DPD Partai Golkar di bilangan Jalan Martadinata. Setibanya di kantor partai berlambang pohon beringin itu, figur Om Edo disambut pengurus DPD I Partai Golkar Sulut, Feryando Lamaluta dan Alfian Walintukan.

Selanjutnya, melakukan prosesi pendaftaran sebagai bakal calon Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Usai menyerahkan berkas pendaftaran, Om Edo yang juga menjabat Direktur Utama Jawa Pos Grup, memberikan apresiasi kepada partai Golkar yang telah mengundangnya sebagai salah satu bakal calon Bupati Boltim, yang akan diseleksi menjadi calon untuk bertarung di pesta lima tahunan rakyat Boltim.

“Tentu saya berterima kasih kepada Partai Golkar. Atas kepercayaan ini, dan saya berkomitmen dengan sepenuhnya untuk rakyat Boltim tercinta, saya akan memajukan Boltim tercinta,” tutur Om Edo menutup. (*/Redaksi)

Bertarung di Pilwako Manado, Faisal Salim Setia Masuk Melalui PAN

Pengambilan formulir bakal calon Wakil Wali Kota Manado (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Satu per satu bakal calon Wali Kota dan bakal calon Wakil Wali Kota Manado bersikap. Menunjukkan ketertarikan, keseriusan untuk bergabung di partai politik tertentu. Minggu (8/12/2019), Faisal Salim, SE bakal calon Wakil Wali Kota Manado memilih mendaftar di DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Manado. Kesungguhan itu ditandai dengan pengambilan formulir yang dilakukan Faisal, melalui Gilang Ramadhan Hiola selaku Liaison officer (LO).

Sebagai penghubung, Gilang ditugaskan mengambil forumlir pendaftaran calon di Sekretariat DPD PAN Manado. Gilang diterima langsung Tim Pilkada PAN, Iqbal Anshari. Menurut Gilang, saat diwawancarai media ini bahwa keseriusan Faisal Salim untuk maju dalam kontestasi Pilwako Manado 2020 adalah untuk melakukan perubahan di Manado.

”Saya ditugaskan Bang Faisal Salim untuk mengambil formulir bakal calon Wakil Wali Kota Manado. Dan Alhamdulillah disambut baik, Tim Pilkada PAN Manado. Selaku tim Faisal Salim, kami telah bersiap untuk mengatur waktu pemasukan formulir. Dalam waktu dekat tentunya, kita akan padati Sekretariat DPD PAN Manado. Bang Faisal akan datang mengembalikan formulir yang telah diisi dengan didampingi pendukung tentunya. Terima kasih kepada Tim Pilkada PAN yang menerima kami dengan ramah, dan penuh kegembiraan,” ujar Gilang.

Tidak hanya itu, kata Gilang pihaknya akan melakukan pertemuan bersama tim untuk menetapkan waktu yang tepat dalam pemasukan formulir. Lanjut Gilang saat ditanya soal apakah akan ada konvoi dengan memobilisasi massa sebanya-banyaknya?, Gilang menanggapi santai, malah menuturkan pihaknya punya kejutan untuk mengatur model pengembalian formulir nantinya.

”Kita atura sebaik mungkin. Yang pasti format yang telah kita gagas berbeda dengan bakal calon Wali Kota atau bakal calon Wakil Wali Kota Manado lainnya. Tinggal kita matangkan di rapat nantinya. Soal konsep pendaftaran, kita mash merahasiakan. Akan ada kejutan bagi warga Manado tentunya. Yang pasti semua pendukung Faisal Salim gembira mengantar beliau,” tutur Gilang sambil tersenyum.

Gilang dan Iqbal saat berjabat tangan (FOTO Ist)

Untuk diketahui, Faisal sendiri merupakan Keteua BM PAN Kota Manado. Pengurus DPW PAN Sulawesi Utara Utara. Meski atas berbagai undangan terhadap dirinya untuk hadir mengikuti seleksi dari partai politik lain, ia malah mengurungkan niat. Dan loyal mendaftar dan mengikuti mekanisme PAN dimana secara genetika politik, menjadi rahim Faisal Salim dilahirkan. (*/Redaksi)

Runtuhkan Politik Patron Klien, Oligarki Kekuasaan Merusak Demokrasi

Amas Mahmud (FOTO Suluttoday.com)

KEKUASAAN bisa digunakan untuk melegitimasi orang lain. Sehingga mereka yang tidak punya kewenangan formal menjadi punya power. Disegani, dihormati dan paling minimalnya mereka yang di luar kekuasaan itu, punya kemampuan mempengaruhi kebijakan. Disinilah pintu masuk politik patron klien bergerak mengintervensi. Praktek ini akan tumbuh subur bila bangunan demokrasi kita terbuka seperti sekarang. Era reformasi memberi ruang atas hal semacam itu. Dimana barter kepentingan sudah menjadi hal lumrah, bukan menjadi tabu atau bukan pula seperti sesuatu yang suci.

Betapa tidak, cara-cara perkawanan atau geng politik juga punya manfaat tersendiri. Karena dari persahabatan itu menjadi modal menciptakan gerbong politik yang kuat. Resikonya, jika salah satu dari anggota geng itu mencapai posisi puncak karir politik. Maka, gerbongnya akan diselamatkan. Dengan cara apapun itu, politisi penganut patron klien memang punya loyalitas yang tinggi. Mereka yang berada dalam barisan perjuangan akan diberikan porsi. Mulailah dengan bagi-bagi jatah kekuasaan.

Seperti pembagian hasil rampasan perang. Jika ada simpul-simpul yang terlupakan dan belum disentuh, jatahnya tidak diberikan misalnya, otomatis ini menjadi benih keretakan. Problem politik, munculnya pertengkaran kepentingan berikutnya. Aspek negatif itulah yang membuat politik patron klien dianggap berbahaya, menjerumuskan demokrasi. Penilaian yang digunakan pun menjadi subyektif, tendensius dan cenderung bersifat monopoli.

Ya, kalau sudah sentralistik berarti praktek itu bertabrakan dengan semangat demokrasi. Kejelekan politik patron klien lainnya yaitu pengamanan kebijakan begitu tertutup, pelibatan peran-peran strategis hanya kepada kelompok-kelompok itu saja. Tahap distribusi kebijakan menjadi mandek. Sehingga makin bermunculanlah Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN). Bahkan, jika tidak dihentikan berpotensi menjadi penyakit menular. Gerbong ini bila retak, akan saling menghasut, menggembosi satu dengan lainnya, dan terlahirnya perang kepentingan.

Pihak tertentu, birokrat atau masyarakat umum yang sebetulnya punya kompetensi diberi kesempatan memegang jabatan publik di pemerintahan pun tertutup kesempatannya. Dipagari dengan kelompok-kelompok yang mengaku pejuang, punya kontribusi terhadap patron yang menang. Rotasinya akan berbentuk pengelolaan pemerintahan yang sentralistik, tidak sehat. Konflik kepentingan malah terpelihara. Sebab, dari konflik kepentingan itu, ada kelompok tertentu yang mengambil manfaatnya.

Politisi memang kebanyakan begitu. Bermental melahirkan konflik, lalu tak punya kemampuan menawarkan solusi. Senang bermain di air yang keruh. Dari dinamika seperti itu, kadang mereka mendapatkan manfaat untuk mencari nafkah. Ruang demokrasi kita menjadi carut-marut. Kehilangan bentuknya yang demokratis. Zona politik kita menjadi tidak tertib, penuh gelombang pertentangan dan penghianatan. Ketika melacak banyaknya pemimpin kita di daerah maupun secara Nasional yang lamban melahirkan kesejahteraan, kebanyakannya energi mereka habis dengan mengurus konflik-konflik internal.

Konflik antara geng juga patut diperhitungkan. Jangan dikira gampang saja mengatasi sesama anggota tim saling sikut dan gunting dalam lipatan, tidak mudah mengurus mereka. Ketika salah pengaturan, akan menjadi boomerang, bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Yang efek ledakannya akan mengorbankan patron itu sendiri. Lalu, gerbong politik berantakan, hancurlah karir politik dan planning yang dirancang.

Politik patron klien juga secara positif dapat mengantar seorang politisi menjadi berhasil mengapai kekuasaan. Namun, kesuksesan itu ada diklaim. Pemimpin akan menjadi seperti boneka. Sulit melahirkan kemandirian kepemimpinan. Dari politik patron klien mengalirlah politik balas budi. Tumbuhnya politik kompensasi, yang secara manusiawi tidak salah. Muncullah istilah take and give, tidak ada makan siang gratis dalam politik.

Padahal kalau digali, tujuan politik adalah pelayanan. Bukan dilayani, bukan memberi dengan harapan mendapatkan balasan. Politik modern merendahkan martabat politik yang utuh. Nilainya yang universal disayat, dibuat menjadi parsial. Wajah politik sekedar sebagai sarana memberi dan menerima. Kau memberi, lalu kau akan dapat apa, hal inilah yang terlalu dominan dalam percakapan dan aktualisasi politik kita. Sungguh miris.

Kekuasaan itu dipergilirkan. Kemudian, kekuasaan itu tidak sekedar dibagi. Melainkan dilaksanakan. Karena kekuasaan itu amanah dari Tuhan untuk kita. Seseorang yang berkuasa diberikan kelebihan oleh Tuhan yang melayani orang lain. Waktu belajar, waktu mendengar, waktu melayani lebih banyak ketimbang masyarakatnya. Bukan kesenangan, kemewahan yang dipamerkan. Atau, bukan pula lebih banyak waktu tidurnya, waktu marah-marah pada masyarakat ketimbang melayani.

Tidak mudah menjadi pemimpin yang yang sukses. Menjaga keseimbangan, dihormati, dicintai, dan betul-betul menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin itu fitrahnya manusia dan memang orientasi utama mengapa manusia itu diciptakan. Di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) juga seperti itu, harapan masyarakat tentang standar kepemimpinan yang sebetulnya tidak muluk-muluk. Tapi karena tarikan politik kadang membuat pemimpin itu tidak fokus menjalankan kepemimpinannya.

Pemimpin politik itu tugasnya melayani. Tidak menambah masalah ditengah masyarakat. Kemunculan politik patron klien di Sulut bertanda bahwa pemerintahan maupun struktur inti di partai politik tergerogoti sistem demokrasinya. Pendekatan musyawarah mufakat sering diabaikan. Rapat dan cara pengambilan keputusan hanya sekedar formalitas, ditengah jalan keputusan bersama ditelikung. Kedigdayaan politik patron klien tidak boleh diremehkan.

Kita berharap dominasi politik patron klien dihilangkan berlahan. Dengan pertimbangan kita memasukkan politisi yang benar-benar teruji. Punya kemampuan, tau cara kerja dan memiliki niat tulus bekerja untuk memajukan masyarakat. Jangan memberi ruang kepada politisi yang punya akal bulus dan banyak modus, karena nanti masyarakat yang menderita. Tumbuhkan praktek politik yang profesional, demokratis, jauhkan sikap diskriminatif dalam berpolitik. Dengan begitu, capaian atau cita-cita bersama yang hendak kita gapai dalam politik bisa terwujud. [**]

 

 

_____________________________

Catatan : Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

iklan1