Category: Hukum Kriminal

Polisi Gagalkan ‘Pengiriman’ 6 Gadis Cantik dari Manado ke Kendari

suluttoday-manado-kendariManado – Polisi menggagalkan dugaan percobaan perdagangan manusia (trafficking). 7 wanita dan seorang sopir diamankan saat menunggu keberangkatan di Bandara Sam Ratulangi Manado, pagi tadi.

Para korban yang diamankan adalah GP alias Gaby (21), warga Dendengan Dalam Kecamatan Paal Dua, YR alias Yani (21) dan IF alias Inka (20), warga Kairagi Dua Kecamatan Mapanget, WS alias Wina (19) dan AL alias Afi (19), warga Malalayang Kecamatan Malalayang dan AM alias April (25), warga Girian Kota Bitung.

Dua orang lainnya yang ikut ditangkap adalah MW alias Mario (20), warga Winangun Kecamatan Malalayang, sopir yang mengantar para korban ke bandara, serta SR alias Sherly (33), warga Kelurahan Malalayang Satu Timur Kecamatan Malalayang, yang bertindak sebagai mami alias perekrut.

Terbongkarnya kasus dugaan trafficking ini berawal dari Tim Reserse Baca Selengkapnya

Sinyo, Buronan Kasus Ekstasi Jakarta Tertangkap di Mokupa

buronan-narkobaMANADO – Tim satuan reskrim narkoba Polres Metro (Polrestro) Jakarta-Barat bekerja sama dengan Direktorat Narkoba Polda Sulut berhasil menangkap seorang buronan bernama Zaenal Rachman alias Sinyo.

Sinyo dibekuk sekitar pukul 12.30 Wita pada Rabu (6/8/2014) di rumah kerabatnya di Jalan Trans Sulawesi Lingkungan 11 Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara (Sulut).

Tidak hanya Sinyo, penyidik juga membawa istrinya Aminah dan diperiksa sebagai saksi kasus narkoba jenis ekstasi. “Sudah dibawa untuk diperiksa,” kata Direktur Dit Narkoba Polda Sulut, Kombes Pol Krisno Siregar, Jumat (8/8/2014).

Saat melakukan pengejaran terhadap Sinyo, tim dari satuan reskrim narkoba Polrestro Jakbar menurunkan personilnya berjumlah enam orang masing-masing 1 orang perwira menengah, 3 orang perwira pertama dan 2 orang anggota dibawah pimpinan Kompol Shinto Silitonga.

Dari penangkapan tersebut, petugas pun mengamankan 1 unit Ipad warna putih, 1 unit HP Nokia, 1 unit BlackBerry Gemini Hitam dan sebuah dompet.

Zaenal Rachman ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 5 April 2014. Dia merupakan kasir atau staf bagian pembukuan yang mencatatkan jumlah ekstasi yang diedarkan di Diskotik Stadium dan hasil penjualan ekstasi harian.

Dia pun melarikan diri ke Sulut sejak April 2014. Menurut Krisno, pola pekerjaan dari Zaenal yaitu dengan cara mendapatkan ekstasi dari seluruh bandar dan setelah itu mencatat jumlah barang haram tersebut.

Setelah diterima, Zaenal kemudian mengelompokan perpaketnya 25 sampai 100 butir dan kemudian mendistribusikan ke para pengedar.

“Tiap pukul 05.00 Wib, para pengedar melaporkan hasil penjualan ekstasi yang berhasil diedarkan. Tersangka kemudian mencatatkan kembali dan setelah itu, uang hasil penjualan narkoba diberikan kepada para bandar,” urainya.

Tersangka sendiri dikenakan pasal 114 subsider Pasal 112 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
(tr/rr)

BNNK Tangkap Bandar Sabu di Manado

MANADO – Peredaran narkoba di Sulawesi Utara (Sulut) belakangan ini mulai meresahkan. Badan Nasional Narkotika Kota (BNNK) Manado terus lakukan koordinasi dengan Direktorat Reserse (Ditres) Narkoba Polda Sulut untuk menghentikan pergerakan edaran barang haram itu.

Berbagai upaya terus dilakukan guna mengungkap peredaran narkoba di Sulut dan sejauh ini membuahkan hasil.

Beberapa waktu lalu BNNK dan Ditres menciduk dua orang yang membawa enam paket sabu beserta timbangan elektronik yang digunakan untuk menimbang barang haram tersebut.

“Sudah kami sita semuanya untuk dijadikan barang bukti,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Sulut Komisaris Besar Krisno Siregar.

Pengungkapan tersebut berawal dari penangkapan yang dilakukan oleh pihak BNNK Manado yang dikomandani Ajun Komisaris Besar Ely Sopacoly. Pihaknya mendapatkan informasi bahwa LS alias Lucky (46) dan IR alias Epi (33), keduanya warga Kelurahan Dendengan Dalam, Kecamatan Tikala, pernah menggunakan sabu pada 19 Juli.

Petugas kemudian mendapatkan informasi bahwa ternyata Lucky merupakan oknum PNS di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sulut dan Epi berprofesi sebagai pekerja di salon mobil. Barang haram tersebut milik Epi dengan berat 0,5 gram dan kemudian dijual ke Lucky seharga Rp 1,7 juta.

Lucky dan Epi kemudian menikmati barang haram tersebut di dalam mobil yang diparkir di kawasan Dendengan Dalam.

Setelah mengumpulkan informasi tersebut, BNNK kemudian melakukan penangkapan , Kamis (24/7/2014) siang sekitar pukul 15.00 Wita. Lucky disergap di dekat rumahnya saat sedang mengemudikan mobil Avanza putih. Dari tangannya polisi menyita 1 paket sabu.

Saat ditangkap Lucky tidak melakukan perlawanan. Setelah diinterogasi, Lucky mengaku barang itu dipasoknya dari Epi. Shbu itu dijual seharga Rp 3,5 juta untuk satu paket.

Setelah menangkap Lucky, BNNK kemudian mengejar Epi dan berhasil menciduknya sekitar pukul 19.00 di kawasan parkir Multimart Ranotana.

BNNK yang telah berhasil menangkap Lucky dan Epi, kemudian melakukan koordinasi dengan Ditres Narkoba Polda Sulut. Polda kemudian melakukan pengembangan dan dalam waktu yang singkat, di bawah koordinasi Ajun Komisaris Besar Frits Katiandagho, sang bandar, BH alias Bobby (38), warga Kanaan Karombasan, Kecamatan Wanea, diciduk.

Dia ditangkap keesokan harinya, sekitar pukul 11.00. Saat ditangkap Bobby sempay melakukan perlawanan. Lelaki bertubuh tambun itu sempat mengambil parang dan mengancam akan membunuh para petugas. Untung saja, Ipda Stenly S berhasil membujuknya dan tersangka akhirnya lempar handuk.

Barang bukti berupa sabu lima paket yang sempat dibuang ke selokan, berhasil disita. Tak hanya itu, petugas juga mengamankan uang tunai Rp 7,6 juta.

Krisno menjelaskan, para tersangka dikenakan Pasal 114 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan denda minimal Rp 1 miliar, subsider Pasal 112 ayat (1) dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun dan dendan minimal Rp 800 juta.

(tr/rr)

Kasus Panah Wayer di Manado, Kapolresta Nyatakan Perang

polresta-panah-wayer

MANADO – Menyusul maraknya temuan kasus senjata tajam (sajam) panah wayer di Manado, pihak Polresta Manado akan mengambil langkah tegas terhadap pelaku dan pembuat senjata tersebut.

Kapolresta Manado, Kombes Sunarto berjanji akan mengambil tindakan tegas dan berjanji tidak akan main-main terhadap kasus ini, bahkan Sunarto menyatakan perang kepada pelaku panah wayer.

“Kita akan ambil tindakan tegas terhadap pelaku ini. Kita tidak main-main. Tiap malam kita terus melakukan patroli untuk memberikan rasa aman terhadap warga,” ucap Sunarto, Rabu (18/6/2014).

Ia pun berharap Kejaksaan dan Pengadilan memberikan hukuman maksimal kepada para pelaku senjata tajam, khususnya kasus panah wayer.

Ia berharap pelaku kasus panah wayer dijerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan hukuman minimal 5 tahun.

Sebelumnya diberitakan, Polresta Manado berhasil membekuk dua orang yang diduga pembuat panah wayer di Kelurahan Banjer, Kecamatan Tikala.

Kedua orang itu adalah NT (23) warga Teling Atas Manado dan BR (21) warga Kelurahan Banjer Manado.

Dari kedua orang tersebut ditemukan sejumlah barang bukti berupa, besi atau kawat potongan yang ujungnya sudah digepengkan dengan palu dan tinggal dibuat lancip sebanyak 41 buah.
(tr/rr)

Akil Bilang KPK Maunya Dia Dihukum Mati

Akil Mochtar saat menjalani sidang perdana

Akil Mochtar saat menjalani sidang perdana

JAKARTA – Terdakwa mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar akan menghadapi tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus dugaan suap pengurusan sengketa pilkada di MK.

Mantan anggota DPR itu mengaku siap, bahkan seandainya ia dituntut hukuman mati. “Ya siap aja dihukum mati, itu kan maunya KPK,” kata Akil di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta, Senin (16/6/2014).

Akil mengatakan, hukuman yang dijatuhkan kepada setiap terdakwa harusnya mempertimbangkan dari berbagai sudut dan fakta di persidangan. Peradilan, kata dia, juga harus bebas dari intervensi dari
siapa pun.

“Hukuman jangan atas kemauan siapa-siapa. Maunya Bambang (Bambang Widjojanto), maunya Samad (Abraham Samad). Memangnya ini pengadilan jalanan,” kata mantan Politisi Partai Golkar ini.

Kuasa hukum Akil, Adardam Achyar menambahkan, pihaknya berharap jaksa dapat adil dalam menjatuhkan tuntutan. “Harapannya objektif, adil, dan ringan,” kata Adardam.

Akil didakwa menerima suap atau janji dari berbagai sengketa pilkada yang berperkara di MK, di antaranya sengketa Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 dan Pilkada Kabupaten Gunung Mas,
Kalimantan Tengah 2013.

Sebelumnya, soal tuntutan Akil, Ketua KPK Abraham Samad memberi isyarat bahwa eks Ketua MK tersebut akan dituntut dengan hukuman yang berat, sampai pidana penjara seumur hidup. “Mungkin
antara 20 tahun sampai seumur hidup,” ujarnya.

Dia mengatakan, yang jelas tuntutan jaksa kepada Akil sesuai dengan pasal yang disangkakan. Namun, Samad belum bisa memastikan besaran tuntutan hukuman itu.

“Makanya saya bilang, toleransinya itu antara 20 tahun dan seumur hidup. Jadi di situ kisarannya,” kata Samad.
(les/ar)

iklan1