Category: Hukum Kriminal

Polda Sulut Cegat Rombongan Wanita Cantik Diduga Hendak Dijual ke Papua

perdagangan-wanita-suluttoday

Ilustrasi wanita diamankan

MANADO – Polda Sulut mengamankan 7 wanita cantik dalam perjalanan menuju pelabuhan Bitung. Mereka diduga korban perdagangan perempuan (trafficking), yang akan diberangkatkan ke Kota Biak, Papua sebagai pekerja sex.

Sebelum menggagalkan aksi tersebut, anggota Sub Gasum Polda mendapat informasi dari warga bahwa sejumlah wanita cantik sedang dipersiapkan untuk diberangkatkan ke Papua.

“Kita dapat info dari masyarakat,” kata Kepala Seksi Turjawali Sabhara Polda Sulut, Kompol Max Sambodeside.

Diawal pengembangan, anggotanya mengamankan seorang wanita berinisial DT alias Desti, di Kelurahan Sumalangka Kecamatan Tondano, Minahasa, Senin (2/6/2014) dini hari, sekitar pukul 03.00 WITA.

“Keterangan darinya, ada dua kelompok wanita dari Tondano dan Kelurahan Karombasan akan diberangkatkan dengan menggunakan mobil sewaan. Mereka nantinya bertemu di Manado,” ujar Sambodeside di Mapolda Sulut.

Di Manado, anggota polisi tidak berhasil menggagalkan aksi tersebut, karena rombongan wanita cantik ini telah mengarah ke Kota Bitung. Polsek Bitung Timur pun dikoordinasikan untuk melakukan pencegatan.

Upaya ini membuahkan hasil. Mereka berhasil dicegat di jalan saat menuju Pelabuhan Bitung. Seorang wanita muda yang diduga sebagai germo, YT alias Yenny (27), warga Kelurahan Karombasan Kecamatan Wanea berhasil diamankan.

“Juga disita uang saku mereka sebesar Rp 4,5 juta yang akan digunakan dalam perjalanan,” kata Sambodeside.

Yenni mengelak akan menjual enam wanita yang dibawanya, karena keinginan mereka sendiri untuk bekerja di Biak. Apalagi mereka memang sudah pernah bekerja disana dan telah mempunyai suami.

“Kita tanya kalau dorang (mereka) suka kerja. Semua terima tawaran, apa itu salah?” Kilahnya.

Lanjut Yenny, mereka mau bekerja untuk menambah penghasilan suami agar bisa menafkahi keluarga. Rencananya mereka akan naik kapal motor (KM) Lambelu. “Orang tua mereka juga tahu ikut saya untuk bekerja di Biak,” tandasnya.

Sementara pengakuan seorang korban, Sheren mengatakan, Yenny mengajaknya untuk dipekerjakan di salah satu cafe ternama di Kota Biak. Namun, untuk gaji belum disebutkan, karena nantinya akan dibicarakan setelah tiba.

“Memang dijanjikan gaji besar, jadi saya ingin mencoba. Apalagi memang sudah pernah kerja di cafe,” tutur ibu satu anak ini.
(bk/ar)

4 TV Swasta Nasional dan Media Cetak Kecipratan Uang Anas Urbaningrum

sidang-terdakwa-anas-urbaningrum

JAKARTA – Banyak hal mengejutkan dalam surat dakwaan yang dicantumkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tercantum dalam surat dakwaan itu, ada aliran uang dari hasil korupsi Anas dalam mengatur proyek-proyek pemerintah kepada media massa nasional.

Mengacu pada dakwaan, Anas disebut menerima setoran sebesar lebih dari Rp 84,5 miliar dari Muhammad Nazaruddin, sebagai biaya persiapan pencalonan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada Kongres PD 2010 di Bandung, Jawa Barat.

Dengan uang itu, Anas membayar biaya publikasi di sejumlah media massa nasional terkait pencalonan sebagai Ketua Umum PD pada 2010.

Media massa yang kecipratan uang Anas terdiri dari stasiun televisi swasta nasional dan media cetak, yaitu RCTI, TV One, Metro TV dan Jawa Pos Group.

“Terdakwa membayar biaya siaran live (langsung) Metro TV sebesar Rp 2 miliar, serta biaya siaran di TV One dan RCTI sebesar Rp 4,5 miliar,” kata Jaksa Trimulyono Hendradi, saat membacakan dakwaan Anas di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (30/5/2014).

Hendradi melanjutkan, Anas disebut menghabiskan Rp 13 miliar untuk iklan politik. Dari jumlah itu, dia membayar ongkos pembuatan iklan politik dengan judul ‘ANAS untuk Demokrat 1’ sebesar Rp 3,2 miliar kepada M. Ichsan Loulembah dari PT Impact Indonesia. Dana itu atas pemberian Nazaruddin.

Sementara itu, Anas rela menggelontorkan Rp 8,5 miliar kepada grup media Jawa Pos dan surat kabar Rakyat Merdeka. Ongkos itu dibayar sebagai biaya komunikasi media.

Menurut perhitungan jaksa, setidaknya Anas menghamburkan Rp 20 miliar buat menyokong pencalonan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam Kongres PD di Bandung pada 2010.
(dbs/rr)

KPK Tetapkan Status Tersangka di Akhir Masa Jabatan Walikota Makassar

20140507-232231.jpg

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dalam kerjasama kelola dan transfer PDAM kota Makassar tahun 2006 sampai tahun 2012.

“Terkait penyelidikan tindak pidana korupsi dalam kaitan kerjasama rehabilitasi kelola, transfer untuk instalasi pengelolaan PDAM antara pemerintah kota Makassar dan pihak swasta tahun 2006-2012 menetapkan IAS selaku Wali Kota Makassar waktu itu sebagai tersangka,” kata Juru Bicara KPK, Johan Budi SP, Rabu (7/5/2014).

Ilham diduga melakukan penyalahgunaan kewenangan terkait kontrak kerjasama tersebut. Sehingga merugikan negara atau menguntungkan orang lain, koorporasi atau diri sendiri.

“Dari perhitungan sementara akibat perbuatan IAS dalam kaitan kerjasama kelola dan transfer tersebut, negara diduga mengalami kerugian sampai Rp 38,1 miliar,” ungkap Johan.

Karena itu, Ilham dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Penetapan tersangka terhadap Ilham tersebut tepat di hari terakhir yang bersangkutan menjabat sebagai Wali Kota Makassar periode 2009-2014.

Terkait kasus tersebut, pada tahun 2012, Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) telah mendalami temuan penyimpangan senilai Rp 500 miliar di PDAM Kota Makassar. Di antaranya, dugaan penyimpangan kerjasama PDAM Makassar dengan PT Traya dengan nilai kerugian PDAM hingga 31 Desember mencapai Rp 38,1 miliar. Akibatnya, hal itu membebani masyarakat dengan adanya kenaikan tarif air PDAM.

Atas dasar itu, dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas pengelolaan PDAM Kota Makassar ini, BPK merekomendasikan Dirut PDAM Makassar menarik kembali dana Rp 38.168.668.888,39 dari PT Traya Tirta Makassar dan mendistribusikan langsung air bersih ke pelanggan di perumahan Bukit Baruga.

(bn/rr)

Bentrok Warga di Dumoga Pecah Lagi, Kali Ini Imandi vs Tambun

bentrok-warga-ilustrasi

ilustrasi

BOLMONG – Bentrok warga kembali terjadi di Dumoga, Bolaang Mongondow. Kali ini giliran warga desa Imandi terlibat baku serang dengan warga desa Tambun Kecamatan Dumoga, Sabtu 26/04/2014 malam. Pertikaian itu berlangsung hingga keesokan harinya, Minggu.

Kedua kubu terlibat aksi saling serang di daerah perbatasan kedua desa. Sebelumnya, kejadian serupa terjadi antara desa Ikhwan dan Doloduo.

Sedikitnya sejak dalam sepekan lalu telah terjadi 3 kali konfrontasi yang berujung saling serang dimana warga dipersenjatai ragam benda maut seperti tumbak, parang, panah wayer dan senapan angin.

Pihak kepolisian setempat yang mendapat dukungan personil dari Polres Bolmong bersenjata lengkap turun ke lokasi pertikaian dan berjaga-jaga di perbatasan setelah memukul undur dua kubu yang bertikai.

Dalam pertikaian itu jatuh korban diantara kedua belah pihak akibat terjangan peluru yang menyalak dari senapan angin milik warga. Seorang petugas kepolisian bahkan dilaporkan ikut kena.

Informasi yang terangkum dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa, pertikaian itu dipicu oleh kasus perkelahian dimana seorang pemuda desa Tambun melakukan penikaman terhadap pemuda warga desa Imandi.

Polisi sedang mengusut kasus tersebut akan tetapi emosi warga sulit dikendalikan sehingga seperti sebuah kebiasaan di wilayah Dumoga, konsentrasi massa cepat menggurita dan aksi balas dendam yang melibatkan warga lain cepat membuat tawuran pecah.

Diperoleh juga keterangan dari desas-desus yang beredar dikalangan warga bahwa peristiwa balas dendam yang melibatkan massa dari warga Imandi tersebut dipicu karena warga menuding pihak kepolisian setempat lambat memproses dan mengusut kasus penikaman yang dilakukan pemuda warga Tambun.

Akibatnya warga Imandi yang kecewa buntut dari sangkaan bahwa lambannya pengusutan, membuat warga mengambil jalan pintas untuk mencari sendiri pelaku penikaman di desa Tambun.

Sejak Sabtu malam hingga Mingga kemarin, aparat kemamanan terus bersiaga di wilayah perbatasan kedua desa yang saat ini kondisinya relatif terkendali.
(lb/rr)

Dipaksa Minum Cap Tikus Hingga Mabuk, Siswi SMP Diperkosa 6 Temannya

Pemerkosaan

BOLSEL – Lima orang pemuda diamankan anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Pinolosian, Jumat (25/4/2014) sekitar pukul 03.00 WITA. Kelimanya digerebek karena diduga memperkosa Gemini (nama samaran), siswi SMP asal Desa Lungkap, Kecamatan Pinolisian Tengah, Kabupaten Bolmong Selatan, pada Sabtu (19/4/2014) lalu.

“Lima pelaku yakni KM, NS, YL dan GG sudah diamankan di Polsek Pinolosian. Sementara satu pelaku FG masih buron dan dalam pengejaran anggota,” kata Kapolres Bolmong AKBP Hisar Siallagan .

Kejadian itu, kata Hisar, terjadi pada hari Sabtu di Desa Linawan Kecamatan Pinolosian dan baru dilaporkan pada Rabu (23/4).

Kronologis kejadian
Hari Sabtu Sekitar pukul 19.30 WITA, Gemini dijemput oleh FK di Desa Tolotoyon Kecamatan Pinolosian.

Gemini diajak jalan bersama tersangka lainnya. Setelah di bawa ke pantai Desa Linawan, Gemini dipaksa minum minuman keras jenis Cap tikus, tangannya ditahan.

“Tangan korban dipegang oleh dua pelaku dan dipaksa suruh minum. Setelah mabuk satu persatu baju termasuk celana korban dilucuti,” kata Hisar seperti dalam laporan BAP korban.

Korban yang mulai mabuk disuruh baring setelah itu di bawa ke pantai Dami Desa Kombot dalam keadaan mabuk dan disetubuhi secara bergantian oleh para pelaku.

Usai digagahi, Gemini ditinggalkan hingga ditemukan oleh masyarakat di jembatan Torosik dalam keadaan tidak sadar dan langsung dilarikan ke Puskesmas Adow.

“Korban telah divisum dan lima pelaku sudah diamankan,” ujar Hisar.

Penggerebekan pelaku dilakukan di sejumlah tempat berbeda. FK diamankan di Desa Mongondow Kota barat, NM dan YL di tangkap di Desa Tanoyan, sedangkan GG dan FK menyerahakn diri. Sementara satu pelaku lainnya yakni FG masih buron.
(tco/rr)

iklan1